
Usai makan siang di sebuah restoran itu, Rangga dan Nazwa memutuskan untuk pulang kerumah, dan saat dalam perjalanan menuju rumah kediaman Anton, Rangga tiba tiba merasakan sesak di dadanya, bahkan wajahnya tampak terlihat pucat.
Rangga yang tiba tiba menyentuh bagian dadanya, membuat Nazwa merasa khawatir apa lagi saat ia melihat wajah Rangga yang berubah menjadi pucat pasi. Rangga pun menepikan mobil yang sedang ia kendarai, lalu Rangga menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudi.
"Mas, mas Rangga kenapa mas?" Nazwa terlihat begitu panik.
"Tidak apa apa Nazwa, nafas ku hanya terasa sedikit berat." jawab Rangga.
"Kita kerumah sakit ya mas." ujar Nazwa lagi, dan kali ini buliran bening tampak mulai menetes di matanya.
''Tidak perlu, sebentar lagi juga baikan, kita singgah ke masjid yang ada di depan sana saja ya, mas ingin beristirahat, kebetulan sebentar lagi waktu Dzuhur tiba." ujar Rangga sambil melihat jam yang ia pakai ditanganya.
"Iya mas." jawab Nazwa, terdengar begitu berat, karena berusaha menahan kesedihan yang ia rasakan.
"Jangan menangis Nazwa, mas akan semakin merasa sakit kalau melihat mu bersedih." ujar Rangga dengan tersenyum.
Nazwa yang mendengar candaan Rangga pun merasa malu, perlahan senyuman manis pun terlihat di ujung bibirnya.
Dengan perlahan Rangga membawa mobilnya menuju masjid yang hanya berjarak seratus meter dari tempatnya berhenti itu. Dan saat mobil mereka memasuki halam masjid, adzan pun terdengar berkumandang.
Rangga dan Nazwa segera turun, lalu mereka segera mengambil wudhu ke tempat masing masing yang telah tersedia. Perasaan khawatir masih menyelimuti hati Nazwa, terlihat sekali ia begitu gelisah dan tampak tidak tenang melihat kondisi Rangga.
Usai melaksanakan sholat di masjid yang mereka singgahi, Rangga terlihat beristirahat sedikit lebih lama disana, ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar rasa sesak di dadanya dapat sedikit teratasi.
Ya Allah ada apa dengan ku, apa mungkin sekarang waktunya, ijinkan aku untuk merasakan kebahagiaan ini ya Allah, meskipun hanya sebentar saja. Gumam Rangga di dalam hatinya.
Rangga terus berdzikir, ia pula terdengar melantunkan surat surat pendek yang ia hafal dengan berulang kali. Dan, kebesaran Allah pun dapat ia rasakan, seketika rasa sesak didadanya terasa sedikit demi sedikit menghilang, lalu setelah ia benar benar merasa membaik, Rangga pun segera menemui Nazwa yang terlihat masih mengenakan mukenanya, dan juga sedang berdzikir.
Sadar akan kehadiran seseorang di dekatnya, Nazwa yang menutum matanya pun, perlahan membuka mata, dan saat melihat Rangga yang telah berada disampingnya dengan tersenyum, Nazwa pun membalas senyuman Rangga.
"Mas Rangga." panggil Nazwa dengan tersenyum, Nazwa terlihat sedikit terkejut melihat wajah Rangga yang tidak lagi tampak pucat, dan terlihat lebih segar.
"Kita pulang sekarang." ajak Rangga.
__ADS_1
"Hmm." jawab Nazwa sambil menganggukan kepalanya. Nazwa pun lantas melepas dan merapikan kembali mukena yang memang di sediakan di masjid itu.
Rangga dan Nazwa segera menuju mobil, dan setelah keduanya berada didalam mobil, Rangga pun segera mengemudikan mobilnya dan menghantarkan Nazwa pulang.
"Tidak mampir dulu?" tanya Nazwa saat mereka telah sampai di halaman rumah Anton.
"Tidak, sepertinya mas butuh istirahat dirumah." jawab Rangga dengan tersenyum. Nazwa pun nengangguk mengerti.
"Kalau begitu mas hati hati, segera kabari aku kalau sudah sampai dirumah." ujar Nazwa.
"Iya, kamu tidak usah khawatir." jawab Rangga.
Nazwa pun segera turun, ia masih terlihat berdiri di halaman rumah itu sampai bayangan mobil yang dikendarai Rangga tidak lagi terlihat olehnya.
Sementara itu, di tengah jalan Rangga memutuskan untuk pergi kerumah sakit, ia ingin memeriksakan keadanya dan memastikan kondisinya baik baik saja.
Sampai dirumah sakit, Rangga mengirimkan pesan kepada Nazwa, mengatakan kalau dirinya telah sampai dirumah, meski ia tahu kalau ia salah karena berbohong, namun ia melakukan itu agar Nazwa tidak merasa khawatir dengannya.
***
Satu minggu pun berlalu setelah kejadian itu, kondisi Rangga terlihat mulai cukup baik, ia berkerja seperti biasanya meski ia harus meminum obat obatan untuk tetap menjaga kesehatanya, dan itu tanpa sepengetahuan Nazwa karena Rangga tidak ingin membuatnya merasa khawatir.
Suatu malam Rangga terlihat melamun di balkon yang ada di dalam kamarnya, ia tampak berdiri di sisi pagar penghalang balkon itu dan melihat kearah langit yang tinggi dan juga indah karena ditaburi banyak bintang.
Aku tidak ingin menyakitinya dengan menggoreskan kesedihan di dalam hidupnya, tapi aku juga tidak sanggup untuk kehilangan dia. Nazwa, kenapa dirimu harus hadir di dalam hidupku, kenapa aku sangat mencintai mu. Rangga hanyut dalam fikiranya, sampai ia meneteskan air mata.
Terhitung mulai esok hari, pernikahan Rangga dan Nazwa akan di langsungkan tujuh hari lagi, kesibukan kesibukan persiapan pernikan mereka pun telah dirasakan oleh kedua calon mempelai, mulai dari fitting baju hingga persiapan lainnya.
***
"Mas, pernikah Nazwa tinggal menghitung hari lagi, tapi aku belum mempunyai kado untuknya, menurut mas baiknya aku berikan Nazwa apa ya?" tanya Zahwa sambil memilihkan kemeja yang ada di dalam lemari pakaian untuk suaminya itu pergi kekantor.
"Terserah kamu sayang, kamu tinggal bilang saja kado apa yang akan kamu berikan, nanti biar mas yang belikan." jawab Anton sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tapi aku belum menemukan ide yang bagus mas." jawab Zahwa lagi.
"Ya sudah, bagai mana kalau kita belikan saja rumah atau mobil." jawab Anton dengan santainya.
"Itu berlebihan sekali mas." jawab Zahwa yang merasa terkejut, ia juga tidak mau jika harus memberatkan suaminya dengan membeli hadiah yang begitu besar kepada Nazwa.
"Lalu apa menurut mu yang bagus?" tanya Anton sambil memakai baju yang di berikan oleh istrinya itu.
"Aku belum tahu mas, kita bicarakan saja nanti ya, nanti aku juga coba cari hadiah apa yang bagus dan cocok untuk pernikahan Nazwa." jawab Zahwa.
"Baiklah terserah kamu saja sayang. Oh ya, hari ini sepertinya toko kue mu selesai di renovasi, bagaimana kalau nanti siang kita coba lihat kesana." ujar Anton memberitahukan Zahwa.
"Iya mas boleh juga, aku sudah tidak sabar rasanya ingin tahu seperti apa toko sekarang." jawab Zahwa sambil memasangkan dasi di kerah baju suaminya itu.
"Kalau begitu bersiap siap saja, nanti siang mas akan menjemput mu saat jam makan siang." jawab Anton.
"Iya mas." mengangguk menyetujui ucapan suaminya.
Anton dan Zahwa pun turun kelantai bawah untuk sarapan, dan seperti biasa saat tiba di meja makan merek bertemu dengan Nazwa yang sudah terlebih dahulu berada di meja makan untuk sarapan.
"Na, kamu masih masuk kerja?" tanya Zahwa.
"Iya Za." jawab Nazwa.
"Memangnya kalian tidak kerepotan mengusur acara pernikahan sambil berkerja seperti itu?" ujar Zahwa lagi.
"Insya Allah tidak Za, rencananya nanti siang saat jam istirahat, aku dan mas Rangga akan menyempatkan diri pergi kebutik tempat memesan gaun untuk fitting baju.'' jawab Nazwa dengan tersenyum.
"Kalian bisa ambil cuti sampai pernikahan kalian selesai, untuk pekerjaan aku bisa minta yang lain untuk membantu mengurusnya." ujar Anton kepada Nazwa.
"Terima kasih mas, akan aku bicarakan nanti dengan mas Rangga." jawab Nazwa.
Dan setelah mereka selesai sarap, Anton dan Nazwa pun pergi menuju kantor.
__ADS_1