Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 161


__ADS_3

Nazwa keluar dari ruangan ICU Rangga dengan wajah yang sedikit lebih ceria, membuat semua orang sedikit bingung dengan tingkahnya. Maklum saja, disaat semua orang harusnya bersedih dengan kondisi Rangga, namun Nazwa malah terlihat seperti sedang berbahagia.


Nazwa segara mendekati orang tua Reyhan yang terlihat sedang duduk bersama dengan Anton dan juga Nazwa, ia segera menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Rangga itu kepada semua yang berada disini.


Sontak saja semua orang merasa terkejud dengan keinginan Nazwa, namun ia dengan segera memberikan penjelasan tentang alasannya menikah dengan Rangga sebelum operasi dilaksanakan.


Orang tua Reyhan tidak bisa melarang keinginan Nazwa, karena mereka juga sebenarnya menginginkan pernikahan Rangga dan Nazwa tetap segera terlaksana, namun keadaanlah yang memaksa pernikahan itu harus tertunda.


Karena kedua orang tua Reyhan telah manyatujui keinginan Nazwa, Zahwa pun terlihat berkata kepada Nazwa untuk menunggu kedua orang tuanya yang kebetulah sedang dalam perjalanan menuju Jakarta untuk menjenguk keadaan Rangga, agar Nazwa bisa langsung meminta restu dan persetujuan dari orang tuanya.


Siang hari menjelang, kedua orang tua Nazwa mengabari putri mereka bahwa mereka telah tiba di Jakarta, dan setelah Nazwa memberitahu alamat rumah sakit tempat Rangga dirawat, kedua orang tua Nazwa pun segera meminta sopir taksi yang mereka tumpangi untuk menghantar ke rumah sakit yang ada di alamat.


Saat tiba dirumah sakit, Nazwa dan yang lainnya segera menyambut kedatangan orang tuanya, dan terlihat mereka secara bergilir bersalaman kepada kedua orang tua Nazwa. Cukup lama berada di dalam peluka uminya, air mata yang tumpah dari Nazwa pun menambah suasana semakin haru.


"Yang sabar ya." ujar uminya dengan membelai lembut kepala putrinya, dan Nazwa terlihat menganggukan kepala pelan.


Abi Nazwa menyempatkan diri untuk masuk ke dalam kamar rawat Rangga, setelah melihat keadaan Rangga kurang lebih selama sepuluh menit, ia kembali keluar karena tidak ingin mengganggu Rangga yang tengah beristirahat, dan berkumpul di ruang tunggu bersama yang lain.


Setelah semua tampak hening dalam fikiran mereka masing masing, Nazwa pun membuka suara untuk berbicara kepada orang tuanya, ia menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Rangga sebelum operasi Rangga dilaksanakan.


Tidak ingin membuat putrinya kecawa dan makin merasa sedih, apa lagi mengikat suatu hubungan kedalam ikatan pernikahan itu juga adalah hal yang baik, akhirnya orang tua Nazwa pun menyetujuinya. Meski kedua orang tua Reyhan telah menyampaikan kenyataan pahit yang mungkin akan terjadi setelah operasi, Nazwa pun tetap tidak ingin membatalkan keinginannya dan menerima apapun yang terjadi nanti setelah pernikahan mereka.


Karena semuanya telah setuju, mereka pun sibuk mengurus pernikahan Nazwa, dibantu oleh Anton dan juga Reyhan mengurus berkas berkas persyaratan, akhirnya pernikahan Nazwa dan Rangga dapat di laksanakan ke esokan harinya. Papa Reyhan juga berusaha untuk menemui dokter yang menangani penyakit Rangga, lalu meminta izin kepadanya untuk melaksanakan ijab qobul diruangan Rangga.


Meski awalnya dokter sempat menolak karena alasan kesehatan Rangga, tapi akhirnya papa Reyhan berhadil meyakinkan dokter untuk memberi izinnya, dengan beralasan bahwa itu perminta Rangga, dan jika menolaknya maka Rangga akan semakin sakit. Akhirnya dengan terpaksa dokter memberikan izin, dan juga akan ikut berada diruangan ICU Rangga selama prosesi ijab qobul dilaksanakan agar bisa memantau kesehatan Rangga.

__ADS_1


Pagi ini Nazwa terlihat lebih cantik dengan balutak kebaya pernikahan sederhananya, ia tampak tersenyum saat melihat bayangan dirinya di dalam cermin. Zahwa yang membantu Nazwa untuk memoles sedikit make up pun memuji kecantikan adiknya itu.


Semuanya pun bersiap untuk pergi kerumah sakit. Tepat pukul sepuluh pagi, mereka semuanya telah berkumpul di ruangan ICU Rangga, dengan bantuan dokter dan yang lain, Rangga pun dibantu agar bisa duduk diatas tempat tidurnya, kebahagiaan pun tampak jelas di wajah Rangga, terlihat dari caranya yang begitu bersemangat untuk mempersiapkan diri.


"Bagaimana, apa semuanya sudah siap?" tanya penghulu yang akan menikahkan Rangga dan Nazwa.


"Siap pak penghulu." jawab papa Reyhan.


"Mari kita mulai." ujar penghulu itu lagi.


Penghulu itu pun memerintahkan Abi Nazwa dan juga Rangga untuk saling berjabat tangan, lalu dengan bantuan darinya, abi Nazwa pun mulai mengucapkan ijab.


"Rangga Chandra."


"Saya."


"Saya terima nikahnya Nazwa Alia dengan mas kawin tersebut dibayar kontan." jawab Rangga dengan begitu lantang juga.


"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.


"Sah."


"Sah."


"Sahh.."

__ADS_1


"Alhamdulillah hirobbal aalamiin." ucap penghulu, lalu ia pun membacakan do'a, dan di aamiin kan oleh yag lain.


Selesai sudah prosesi ijab qobul pernikahan Rangga dan Nazwa, kini mereka telah sah menurut hukum dan agama sebagai suami istri. Rangga memasang cincin yang merupakan salah satu bentuk mas kawin kepada Nazwa, lalu ia pun mencium kening istrinya itu untuk pertama kalinya.


Penghulu menyerahkan buku nikah dan berkas lainnya kepada Nazwa, dan setelahnya ia pun pergi meninggalkan rumah sakit. Dengan bantuan dokter, Rangga kembali berbaring diatas tempat tidurnya untuk kembali beristirahat.


Setelah selesai membersihkan riasan dan mengganti bajunya, Nazwa kembali duduk menemani Rangga di dalam ruang ICU, kini dirinya tinggal seorang diri karena yang lainnya memutuskan untuk pulang. Nazwa juga sempat berpesan kepada Zahwa, ia meminta agar Zahwa membantuk membereskan pakaiannya, karena setelah menikah ia akan tingga di rumah tante Rita untuk sementara waktu.


Di dalam ruangnnya, Rangga dan Nazaa terlihat saling menatap, senyum kehangatan saling mereka suguhkan.


"Nazwa, terima kasih masih menerima aku dengan keadaan seperti ini, aku fikir kamu akan meninggalkan ku jika tahu tentang keadaan ku ini." ujar Rangga.


"Mas, aku tidak akan pernah meninggalkan mu dalam keadaan apapun, aku mencintaimu tulus dari dalam hati ku, dan bukan karena memandang fisik mu. Aku ingin selalu berada disamping mu." jawab Nazwa.


"Terima kasih Nazwa, tapi jika suatu hari aku pergi meninggalkan mu, apa kamu masih mau mengunjungi makam ku?" tanya Rangga.


"Sssttt, mas bicara apa? Jangan bicara seperti itu, aku tidak mau mendengarnya, mas pasti akan sembuh." jawab Nazwa meyakinkan, meski ia tahu oprasi Rangga belum tentu akan berhasil, tapi Nazwa tidak mau putus asa dan berhenti berharap.


"Aku mencintai mu, benar benar mencintai mu, aku berharap kamu tidak akan pernah melupakan ku sampai kapan pun, karna aku tidak akan pernah melupakan kamu." tangan Rangga perlahan bergerak naik keatas wajah Nazwa, dan mengusapnya dengan lembut menggunakan ibu jarinya.


"Mas, jangan bicara begitu lagi ya, aku juga sangat menyayangi mu, dan tidak akan melupakan mu, sampai kapan pun." jawab Nazwa dengan suara yang terdengar berat, karena menahan kesedihannya.


"Seandainya umurku tidak panjang, aku berharap kamu mau membuka hati mu untuk mas Reyhan." ujar Rangga lagi, dan ucapannya ini sungguh membuat Nazwa terkejut.


"Kita baru saja menikah hari ini mas, jadi jangan pernah bicara seperti itu." jawab Nazwa dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Aku minta maaf, aku hanya tidak ingin membuatmu sedih berlarut larut." jawab Rangga.


"Kamu pasti akan sembuh, dan kita akan hidup bahagia selamanya." jawab Nazwa, ia pun meletakan kepalanya diatas lengan Rangga, lalu dengan lembut Rangga membelai kepala istrinya itu.


__ADS_2