
Usai melaksanakan sholat magrib, Anton mulai sibuk mempersiapkan makanan untuk istrinya, bahkan ia juga memesan beberapa makanan via online, untuk menambah nafsu makan Zahwa.
"Mas, untuk apa memesan makanan sebanyak ini.?" tanya Zahwa yang melihat beberapa jenis makanan yang ada di atas troli dan sudah tertata rapi di hadapanya.
"Ini semua untuk mu sayang, masih ingatkan kalau kak Anita menyarankan kamu untuk makan yang banyak, agar keadaan mu dan anak kita semakin membaik." jawab Anton.
"Tapi tidak perlu membeli sebanyak ini mas, kan sayang kalau tidak habis, mubazir." ujar Zahwa lagi.
"Tidak apa apa sayang, nanti mas akan bagikan kepada suster ya, sekarang ayo buka mulut." ujar Anton sambil menyodorkan sendok yang sudah terisi nasi dan juga lauknya. Dan Zahwa pun menerima dengan senang hati setiap suapan yang diberikan oleh Anton.
Setelah menyuapi istrinya, Anton juga segera memberikan vitamin yang sudah di berikan oleh Anita, terlihat sekali ia merawat istrinya dengan sangat baik.
"Istirahatlah sayang." Anton mengusap kening lalu mencium istrinya.
"Mas, lebih baik mas pulang dan beristirahat dirumah, aku tidak apa apa disini sendiri." ujar Zahwa.
"Mana mungkin mas meninggalkan kamu sendiri sayang." jawab Anton, ia terkejut dengan ucapan istrinya itu.
"Aku tidak apa apa sendiri mas, lagi pula disini banyak suster yang bisa membantu jika aku membutuhkan sesuatu."
"Tidak, tidak, mas akan selalu disamping mu, sampai kamu benar benar sehat."
"Aku hanya tidak tega melihat mas tidur seperti itu, mas pasti lelah bukan.?''
"Jangan difikirkan itu sayang, asalkan bersama mu tidur seperti apapun bagi mas sama saja." Anton mengusap lembut wajah istrinya.
"Kalau begitu tidurlah bersama ku disini mas." ujar Zahwa dengan tersenyum.
"Apa kamu yakin Sayang.?" tanya Anton, dan Zahwa pun mengangguk.
Anton berdiri dan mulai naik ke atas tempat tidur Zahwa, ia pun memeluk istrinya dan mengusap lembut kepala Zahwa, hingga istrinya itu tertidur dengan pulas.
Tok tok tok..
Terdengar suara ketukan dari luar, Anton yang mendengarnya pun segera beranjak dari tempat tidur istrinya dan membuka pintu.
__ADS_1
"Pa.!" Sapa Anton saat melihat ternyata papanya lah yang sedang berdiri di hadapannya. Anton sengaja menghubungi papanya dan meminta orang tuanya itu untuk menemuinya di rumah sakit, untuk membicarakan perihal permintaan Zahwa yang ingin membebaskan mama Sarah.
"Ada apa An, kenapa kamu meminta papa kemari, apa terjadi sesuatu dengan Zahwa.?" tanya pak Gunawan, setelah mendapatkan pesan melalui ponselnya, pak Gunawan memutuskan untuk segera menuju rumah sakit, karna ia khawatir terjadi sesuatu terhadap menantunya.
"Tidak pa, Zahwa baik baik saja. Ada yang ingin Anton katakan pa, tapi sebaiknya kita tidak bicara disini." ujar Anton.
"Baiklah, kalau begitu kita keruangan papa saja." ajak pak Gunawan.
Anton pun menutup pelan pintu ruangan istrinya, agar tidak mengganggu tidur Zahwa. Lalu ia pun menyusul papanya yang telah melangkah pergi dahulu menuju ruangannya.
Setibanya didalam ruangan papanya, Anton segera duduk di hadapan papanya dan segera menyampaikan keinginan istrinya kepada pak Gunawan.
"Pa, Zahwa meminta agar mama Sarah di bebaskan." ucap Anton.
"Apa! Apa papa tidak salah dengar An.?" tanya pak Gunawan, ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari ucapan putranya.
"Iya pa." jawab Anton lagi berusaha meyakinkan papanya dengan apa yang baru saja ia ungkapkan.
"Tapi kenapa An, apa alasannya.? lagi pula dia memang pantas mendapatkan hukuman atas perbuatanya itu." jelas pak Gunawan.
Pak Gunawan terlihat menarik nafasnya dalam dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan, ia masih tidak percaya atas permintaan menantunya itu.
"Ini tidak mudah An, karna tindakan yang dilakukan mama Sarah adalah tindakan kriminal, karna ia dengan sengaja berniat untuk mencelakai Zahwa. Dan polisi tentu tidak akan membebaskanya begitu saja." jelas pak Gunawan lagi.
"Anton tahu pah, tapi Anton mohon tolong kabulkan keinginan Zahwa, aku tidak ingin membuatnya kecewa pa, Anton siap menjadi jaminannya kepada pihak kepolisian." ucap Anton lagi.
"Papa tidak bisa memberikan kepastian An, tapi papa akan usahakan, karna sebenarnya papa juga ingin ia di hukum seberat beratnya, perbuatan prempuan itu hampir saja membuat menantu dan cucuku kehilangan nyawa." jawab pa Gunawan.
"Iya pa, Anton mengerti, aku juga menginginkan hal yang sama, tapi Anton tidak ingin membuat Zahwa merasa bersalah terus menerus seperti ini pa."
"Baiklah An, papa akan berusaha untuk bicara kepada pihak kepolisian." ucap pak Gunawan. Dan dari rauh wajahnya, terlihat sekali bahwa Anton merasa senang dengan ucapan papanya.
"Terima kasih pah." ucap Anton dengan tersenyum lebar di wajahnya, ia tampak bahagia sekali karna bisa menyampaikan keinginan istrinya.
"Hmm, kalau begitu papa pulang dulu." ucap pak Gunawan, lalu mereka pun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Setelah menghantar papanya ke area parkir rumah sakit, Anton pun kembali ke dalam kamar perawatan Zahwa. Ia nampak begitu senang dengan ucapan papanya, hingga ia pun tak sabar untuk memberitahukan hal itu kepada istrinya.
Namun karna melihat Zahwa yang tertidur begitu pulasnya, Anton pun akhirnya mengurungkan niatnya itu untuk membangunkan istrinya, dan Anton memutuskan untuk memberitahukan hal itu kepada Zahwa setelah ia bangun saja.
***
Di dalam kamar hotelnya, Rangga tampak sedang menghubungi layanan room service yang ada dihotel itu, ia memesan makan untuknya dan untuk Nazwa, lalu Rangga juga meminta pelayan untuk menghantarkan makanan ke dalam kamar milik Nazwa.
Usai menyantap makanan miliknya, Rangga pun terlihat keluar dari dalam kamar hotel, ia menghubungi sopir yang biasa membawanya lalu meminta untuk dihantarkan ke suatu tempat, namun malam ini entah mengapa ia tidak berniat untuk mengajak Nazwa pergi bersamanya.
Sedangkan Nazwa, didalam kamarnya is nampak terkejut dengan makan yang datang, karna ia melihat makanan yang cukup mewah menurutnya dan dengan berbagai jumblah menu yang beragam.
"Subhanallah, ini makanan banyak sekali, sayang kalau tidak habis." ucap Nazwa kepada seorang pelayan yang membawa troli makanan ke dalam kamarnya.
"Maaf nona, ini atas permintaan pak Rangga." jawab pelayan laki laki itu.
"Kalau begitu saya ambil yang akan saya makan saja mas, sisanya silahkan ambil untuk mas nya saja, sayang kalau tidak di makan, mubazir." ucap Nazwa sambil tersenyum.
"Tapi nona." pelayan itu pun sedikit ragu terhadap ucapan Nazwa, karna ia takut akan dimarahi.
"Tidak apa apa mas, sayang kalau tidak termakan, nanti biar saya yang bilang kepada pak Rangga." ucap Nazwa lagi.
"Baik nona." jawabnya lalu menyerahkan troli makanan kepada Nazwa, dan membiarkanya mengambil makanan yang ia inginkan.
Setelah selesai mengambil makanannya, Nazwa pun menyerahkan kembali troli itu kepada pelayan.
"Nona kenapa dikit sekali, makanan ini masih begitu banyak.?" tanya pelayan itu lagi, melihat makan yang diambil Nazwa.
"Tidak mas, aku sudah cukup segini saja, silahkan di bawa saja." jawab Nazwa.
"Baiklah nona, kalau begitu saya permisi, terima kasih nona." ucap pelayan itu.
"Sama sama mas." jawabnya.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan kamar Nazwa, sedangkan Nazwa mulai menyantap makanannya.
__ADS_1
Kenapa pak Rangga memesankan makanan sebanyak itu, memangnya aku ini kerbau apa, dikasih makan kok sebanyak itu. Gerutunya sambil menyendoki makanannya.