
Akhirnya mereka pun tiba dirumah orang tua Anton, dengan Segera Zahwa turun dan mengambil semua paperbag yang berisi oleh oleh di kursi mobil bagian belakang.
"Sini biar mas bantu bawakan." ucap Anton sambil mengambil semua paperbag yang ada di tangan istrinya.
"Terima kasih mas." ujar Zahwa.
Dengan segera keduanya masuk kedalam rumah orang tuanya.
"Assalammualaikum." ucap Zahwa dan Anton bersamaan.
"Waalaikum salam." Jawab mama Melinda dengan senyuman hangat dipipinya saat menyambut kedatangan anak dan menantunya.
"Ma." Zahwa mendekat, menyalami, lalu memeluk mertuanya itu.
"Kalian sudah pulang,? mama dengar kalian akan menghabiskan waktu cukup lama di Bali." tanya mamanya saat telah melepaskan pelukan hangat mereka.
"Tidak ma." jawab Anton sambil mendekat dan menyalami orang tuanya.
"Mas Anton sepertinya kurang sehat ma, jadi kami putuskan untuk pulang lebih cepat. Oh ya ma, ini ada sedikit oleh oleh untuk mama dan papa." Zahwa pun memberikan paperbag yang mereka bawa.
"Terima kasih sayang." ujar mamanya, dan menerima pemberian dari menantunya itu.
"Apa kamu sedang sakit An.?" tanya mamanya lagi.
"Tidak ma, mungkin aku hanya kelelahan. Oh ya, di mana papa ma.?" tanya Anton yang tidak melihat keberadaan papanya.
"Papa mu sedang mandi An, kebetulan papa baru pulang dari kantor, sepertinya papa mu sibuk sekali akhir akhir ini, mama jadi kasihan." jawab mamanya.
"Ya begitulah papa ma, mama tahu dari dulu kan, kalau papa memang pekerja keras, dan kalau bisa semua pekerjaan dia handle sendiri." ujar Anton sambil merangkul mamanya.
"Iya An, mama bangga kepada papa, tapi kadang mama khawatir karna dia tidak kenal lelah, dan tidak memperdulikan kesehatanya." jelas mamanya lagi.
"Kita do'a kan saja ya ma, semoga papa selalu dalam lindungan Allah dan selalu di berikan kesehatan." ujar Zahwa.
"Aamiin." jawab Anton dan mamanya bersamaan.
Mereka pun duduk di sofa ruang keluarga, melanjutkan obrolan mereka sedikit, karna tidak berapa lama suara Adzah magrib pun berkumandang.
Zahwa dan mama mertuanya segera menunaikan sholat di dalam kamar mereka masing masing karna ingin lebih khusuk, sedangkan Anton dan papanya pergi ke masjid terdekat untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Setelah selesai melaksanakan sholat, Zahwa kembali turun kebawah, dan bersamaan dengan mama mertuanya yang keluar dari dalam kamar.
"Za, apa Nazwa sudah memiliki pekerjaan sekarang.?" tanya mamanya saat mereka duduk bersama kembali di ruang keluarga.
"Alhamdulillah sudah ma, dan ternyata Nazwa melamar pekerjaan di prusahaan mas Anton, dia sudah berkerja di sana beberapa hari ini." jawab Zahwa.
"Syukurlah kalau begitu, tadinya mama berniat untuk meminta papa agar menerimanya di prusahaan papa, jika ia belum mendapatkan perkerjaan." ujar mama Melinda.
"Trima kasih ma." jawab Zahwa. Lalu terdengar suara salam dari pintu utama, di tengah pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Assalammualaikum." ucap Anton dan papanya yang baru sampai dari masjid secara bersamaan, bereka pun segera masuk dan menghampiri istri mereka.
"Waalaikim salam." jawab Zahwa dan mama mertuanya.
"Sudah pulang, kalau begitu kita makan malam sekarang ya." ujar mama Melinda.
"Oke ma." jawab Anton sambil mengangkat jari jempolnya kehadapan wajahnya sendiri, membuat semua orang yang ada disana tertawa karna tingkahnya.
Zahwa pun mengikuti mertuanya untuk melihat makan malam mereka di meja makan, sedangkan Anton dan papanya menuju kamar masing masing unuk mengganti kain sarung yang mereka pakai saat sholat.
Setelah semuanya berkumpul di meja makan, mereka pun segera menyantap hidangan makan malam mereka dengan di selingi obrolan ringan.
"Za, apa kamu selalu rutin memeriksakan kandungan mu sayang.?" tanya mama Melinda.
"Alhamdulillah iya ma." jawab Zahwa dengan wajahnya yang sedikit memerah karna menahan maku, ia sedikit merasa canggung membicarakan soal kehamilannya jika di hadapan mertuanya.
"Syukurlah sayang, mama selalu berdoa agar kalian selalu sehat dan dipermudahkan saat persalinan mu nanti."
"Aamiin, terima kasih ma."
"Sama sama sayang."
"Pa, ma, calon cucu kalian ini berjenis kelamin laki laki." ujar Anton berbicara dengan penuh semangat. Namun hal itu lagi lagi membuat Zahwa merasa malu.
"Oh ya, syukurlah An, dia akan menjadi generasi penerus keturunan Wijaya." ucap papanya bangga.
"Pasti pa." jawab Anton. Dan Zahwa pun tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah suaminya.
Selesai dengan obrolan panjang mereka, Anton pun menyusul istrinya di dalam kamar.
"Sudah tidur sayang." tanya Anton yang melihat Zahwa telah berbaring di atas tempat tidurnya.
"Belum mas." Jawab Zahwa yang terlihat kembali bangun dan duduk di tempat tidurnya.
"Mas mau sholat dulu, jika kamu lelah lebih baik segera tidur." ucap suaminya sambil membelai lembut pucuk kepala istrinya.
"Iya mas."
Anton pun pergi ke kamar mandi untuk berwudu, lalu setelahnya dengan segera ia melaksanakan sholat. Selesai dengan sholatnya, Anton kembali ke atas tepat tidurnya dan ia mendapati istrinya yang ternyata juga belum tidur.
"Belum tidur.?" tanya Anton lagi.
" Belum." jawab Zahwa tersenyum
"Sayang, terima kasih ya." ucap Anton sambil mendekatkan diri kepada Zahwa.
"Untuk apa mas." tanya Zahwa merasa bingung, karna ia merasa tidak melakukan hal apapun.
"Karna sudah mengajak aku untuk kerumah mama dan papa, aku sudah jarang sekali berbicara dengan papa semenjak kejadian itu." ujar Anton yang mengingat dirinya memang terasa jauh karna jarang berbicara kepada orang tuanya saat kepergian Sarah, karna ia lebih sering mengurung diri dikamar, dan jarang sekali berbicara.
__ADS_1
"Iya mas sama sama, mulai saat ini sampai seterusnya, mas harus lebih sering berbicara dengan mama dan papa. Terbukalah kepada kedua orang tua mas, karna mereka selalu ada solusi untuk anaknya yang dalam kesulitan." ujar Zahwa sambil tersenyum.
"Iya sayang kamu benar. Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan istri seperti mu sayang, aku benar benar beruntung allah telah membukakan mata hati ku." jawab Anton.
"Aku pun ingin mengucapkan terima kasih banyak mas, karna kamu sudah menerima kehadiran ku di dalam hidup mu."
"Iya sayang. Ayo tidur, kamu pasti sangat lelah seharian tidak beristirahat." ujar Anton, lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Zahwa yang telah berbaring disampingnya. Anton pun memberi kecupan lembut di dahi istrinya, dan ikut tidur disamping istrinya.
Saat tengah malam, Anton kembali terbangun dari tidurnya, entah mengapa ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, Anton sedikit bingung karna saat membuka mata kamarnya terasa begitu gelap gulita.
"Kenapa gelap sekali, apa sedang mati lampu?" ujarnya pelan.
"Dimana Zahwa?" gumamnya lagi, saat tidak menemukan istrinya disampingnya.
Anton mencoba berdiri dan berusaha untuk mencari ponselnya, ia berniat untuk menghidupkan senter di ponselnya karna ingin mencari keberadaan istrinya.
Dari pintu balkon kamarnya Anton melihat seperti ada sinar cahaya terang disana, ia pun berusaha mendekati sumber sinar cahaya itu.
"Zahwa, apa itu kamu sayang." ucap Anton saat melihat seorang wanita berpakaian putih serta rambut panjang tergerai, dan tampak mengeluarkan cahaya putih
Saat ia membalikkan tubuhnya, Anton pun dapat melihat dengan jelas istrinya yang tengah tersenyum dengannya.
"Ada apa sayang, kenapa kamu disini, ini sudah larut malam, ayo kita tidur." ujar Anton.
"Mas, aku ingin beristirat sebentar saja, boleh kan?" tanya Zahwa dengat tersenyum.
"Maksud mu sayang.? Kita beristirahat di dalam ya." jawab Anton dengan perasaan bingung.
Namun saat Anton mendekat dan ingin menggenggam tangan istrinya, tiba tiba tubuh Zahwa menghilang bagaikan asap putih yang melebur dan terbang oleh tertiupan angin.
"Zahwa, dimana kamu sayang." teriak Anton.
"Zahwa." Anton berputa putar mencari keberadaan istrinya.
"Zahwa." Anton pun terus berteriak.
Tapi tiba tiba saja tubuhnya kembali seperti terguncang.
"Mas, mas bangun mas, istighfar mas." ucap Zahwa sambil berusaha membangunkan suaminya.
"Astaghfirullah hal'azim." ucap Anton, ia pun mengangkat tubuhnya dan berusaha untuk duduk.
"Mas mimpi buruk lagi ya.?" tanya Zahwa.
"Iya sayang." jawab Anton lalu menarik istrinya kedalam pelukannya.
"Istighfar ya mas, semoga itu semua hanya mimpi sebagai bunga tidur, dan bukan pertanda buruk apa pun." ujar Zahwa.
"Mas minta kamu jangan pernah pergi meninggalkan mas ya sayang." ucap Anton, dan air mata pun tampak keluar dari matanya dan menetes mengenai pipi Zahwa yg ada di dalam dekapannya.
__ADS_1
"Insya allah mas, aku akan selalu berada disisi mu." jawab Zahwa, dan ia pun dapat merasakan kegelisahan suaminya.
"Ayo kita tidur lagi mas." ucap Zahwa, lalu mereka pun melanjutkan tidur mereka.