Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 93


__ADS_3

Matahari mulai kembali menyinari bumi, sentuhan lembut dari sinar mentari pagi kini sudah mulai terasa menghang di kulit tubuh.


Di dalam kamarnya Anton masih tampak terdiam tanpa suara, ia memperhatikan gerakan istrinya yang mulai merapikan semua peralatan mereka.


Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Anton meminta Zahwa untuk mengemasi pakain mereka, dan mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Jakarta dengan jadwal penerbangan siang hari.


Anton masih saja merasa gelisah dengan mimpi buruknya, dan menurutnya kepulangan mereka akan menjadi keputusan yang tepat, karna mengingat Zahwa sudah tau tentang keberadaan Sarah yang satu hotel dengan mereka.


Anton tidak mau kalau istrinya itu nanti akan merasa tidak nyaman dan Sarah melakukan tindakan yang tidak ia inginkan, entah mengapa Anton memiliki pemikiran seperti itu.


"Mas, kenapa melamun.?" tanya Zahwa, ia berjalan mendekati suaminya yang tengah duduk di sofa sambil memperhatikan dirinya.


"Tidak apa apa sayang. Za, mas minta maaf ya karna tidak bisa mengajak mu untuk berlama lama liburan." ucapnya sambil menatik lengan istrinya lalu mengusap lembut punggung tangan Zahwa.


"Tidak masalah mas, masih ada hari esok, semoga saja kita bisa pergi lain waktu." jawab Zahwa dengan tersenyum.


"Terima kasih sayang, mas hanya khawatir hal buruk terjadi dengan mu, aku tidak mau sampai kehilangan kamu." ucap Anton lagi.


"Tidak perlu khawatir begitu mas, kita serahkan saja semuanya kepada Allah ya, mohon perlindungan kepadanya." jawab Zahwa.


Anton dan Zahwa pergi meninggalkan hotel, ia pun menghubungi orang kepercayaannya untuk mengatakan bahwa mereka akan segera kembali ke Jakarta, dan meminta orang tersebut untuk mengurus kendaraan yang telah mereka pakai selama berada di Bali.


Sebelum sampai di bandara, Anton terlebih dahulu mengajak istrinya itu untuk makan siang di sebuah restoran, dan setelahnya mereka pun mampir ke beberapa toko ya mereka lewati, untuk membeli beberapa macam oleh oleh. Setelah merasa cukup dengan oleh oleh yang di beli, mereka pun kembali melaju menuju bandara.


Setibanya di bandara, Anton menyerahkan kunci mobil dan mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang mengurus kendaraannya selama di Bali, lalu Anton dan Zahwa pun memasuki bandara dan dilakukan pemeriksaan terhadap mereka.


Tidak seperti saat pertama kali akan melakukan perjalanan dengan pesawat, kali ini Zahwa terlihat sudah tampak lebih tenang dan santai naik pesawat untuk yang kedua kalinya. Keduanya pun duduk di kursi mereka dan terlihat memakai seatbelt nya masing masing, kini Zahwa pun sudah mengerti bagaimana cara memakai benda tersebut.


Saat dalam penerbangan, Zahwa selalu memperhatikan suaminya, ia bisa melihat dengan jelas, nampak masih ada ke khawatiran yang dirasakan oleh Anton.


"Mas." panggil Zahwa.


"Iya sayang.?"


"Bagaimana kalau kita pergi ke rumah mama saja setelah tiba di jakarta." ujar Zahwa, ia merasa mungkin suaminya itu butuh orang orang terdekatnya untuk mengusir rasa ke khawatiran Anton.


"Hmm, iya sayang." jawab Anton dengan tersenyum. ''Za.?" panggil Anton.


"Iya mas."


"Berjanjilah satu hal kepada ku." ucapnya menggantung.

__ADS_1


"Apa itu mas.?" tanya Zahwa dengan rasa penasaran.


"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan aku." ucap Anton bersungguh sungguh.


"Kenapa mas berbicara begitu.? apa mas masih meragukan aku.?" tanya Zahwa dengan senyam dibibirnya.


"Tidak sayang, aku hanya berusaha meyakinkan diriku, bahwa kamu akan selalu bersama mas dalam keadaan apapun, sekarang sampai selamanya." ucap Anton lagi.


"Selama nafas masih berhembus, dan Allah pun mengizinkan, selama itu aku akan selalu berusaha untuk tetap setia menemani dan selalu berada disamping mu mas, dalam keadaan suka maupun duka." kawab Zahwa, dan Anton pun tersenyum senang mendengan ucapan istrinya.


"Terima kasih sayang."


"Aku yang seharusnya berterima kasih mas, karna kamu bisa menerima aku disisi mu sekarang ini." ujar Zahwa.


"Tentu sayang, maaf atas ke khilafan ku selama ini, yang telah menyia nyia kan kamu."


"Iya mas." Anton pun menggenggam dan menciumi punggung tangan Zahwa.


Perjalanan yang hampir memakan waktu dua jam itu pun tiba. Kini Zahwa dan Anton telah berada di halaman parkir kendaraan di depan bandara, disana sudah ada orang dari perusahaan yang telah menyiapkan mobil untuk mereka.


Anton dan Zahwa segera memasuki mobil, dan kendaraan mereka pun dengan cepat meninggalkan bandara.


Mereka tiba dirumah, dan disambut oleh pembantu Zahwa, dengan segera pembantunya membantu Zahwa untuk mengambil koper dan juga menurunkan beberapa barang lainnya.


"Bi, ini ada beberapa oleh oleh untuk bibik." ujar Zahwa.


"Wah, trima kasih ya nya." Jawab mereka bersamaan dengan tersenyum senang.


"Iya bi sama sama, dan yang ini akan saya bawa kerumah mama, tolong disingkirkan ya bi." ucap Zahwa lagi.


"Beres nya, biar nanti bibi rapikan." ucapnya lagi.


"Terima kasih bi."


Zahwa mengambil paperbag lainnya, lalu pergi menuju kamar Nazwa, ia tahu bahwa saudarinya itu tentu tidak ada dirumah karna sedang bekerja. Zahwa meletakan paper bag berisi oleh oleh itu ke atas tempat tidur Nazwa, lalu keluar menuju kamarnya sendiri.


"Sudah selesai mas.?" tanya Zahwa yang melihat suaminya sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Iya sayang. Oh ya, apa kita jadi pergi kerumah mama.?" tanya Anton.


"Jadi dong, aku juga sudah rindu mas dengan mama." jawab Zahwa dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu bersihkan dirimu, lalu beristirahat lah dulu sebentar, agar kamu tidak terlalu lelah, kita akan berangkat setelah sholat Ashar." ujar Anton.


"Baik mas, aku mandi dulu ya." Zahwa pun terlihat masuk kedalam kamar mandi dan segera membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri, Zahwa kembali menuju lantai bawah untuk menemui pembantunya karna lupa mengatakan sesuatu.


"Bi." panggil Zahwa pada salah seorang pembantunya.


"Iya nya ada yang bisa saya bantu." jawabnya.


"Tidak bi, saya cuma mau bilang, tidak perlu masak terlalu banyak, karna malam ini aku dan mas Anyon berniat untuk makan malam di rumah mama." ujar Zahwa.


"Oh, iya nya." jawab pembantunya.


Setelah berbicara kepada pembantunya Zahwa pun kembali ke atas untuk menunaikan sholat Ashar, karna kebetulan Adzan pun telah berkumandang.


"Apa sudah siap berangkat sayang.?" tanya Anton saat melihat istrinya telah selesai melaksanakan sholat.


"Iya mas, tapi aku mau temui Nazwa sebentar ya, mungkin saja dia telah sampai rumah." ujar Zahwa.


"Iya sayang, ini memang sudah lewat waktunya jam pulang kerja." ujar Anton sambil melihat jam di tangannya.


"Kalau begitu mas tunggu dibawah ya."


"Iya mas." Jawab Zahwa.


Anton segera turun kebawah untuk menpersiapkan mobil, sedangkan Zahwa berniat untuk menunggu Nazwa.


"Assalammualaikum." ucap Nazwa yang kebetulan baru saja tiba.


"Waalaikum salam. Na." panggil Zahwa sambil berjalan menghampiri sepupunya itu, dan memeluknya.


"Kalian sudah kembali, kenapa cepat sekali.?" tanya Nazwa.


"Hmm, mas Anton sepertinya kurang sehat, jadi kami putuskan pulang cepat." ujar Zahwa.


"Oh ya Na, ada oleh oleh untuk mu dikamar. Aku dan mas Anton berniat untuk menginap dirumah mama malam ini." jelas Zahwa lagi.


"Ada apa memangnya Za.?" tanyanya bingung.


"Tidak ada apa apa, aku hanya merasa mungkin mas Anton akan merasa lebih baik jika bertemu dengan mama dan papa." jelas Zahwa.

__ADS_1


"Kamu baru saja sampai, sudah mau ninggalin aku lagi." ucap Nazwa manja dengan tersenyum, dan Zahwa pun tertawa pelan mendengar rengekan saudarinya itu.


Setelah berbicara dan berpamitan kepada Nazwa, Zahwa pun menghampiri suaminya dengan membawa beberapa paperbag ditangannya, setelah meletakkan semua oleh oleh di kursi belakan, mereka pun segera melaju menuju rumah orang tuanya.


__ADS_2