
Siang hari Anton terlihat keluar dari kantor lebih awal, setelah selesai metting ia segera memutuskan untuk pulang kerumahnya karna menghawatirkan keadaan istrinya, ia juga sudah tidak sabar untuk memberitahukan berita tentang kebebasan mama Sarah kepada Zahwa.
Sesampainya dirumah Anton segera menuju kamarnya dengan sedikit berlari, ia benar benar sudah tidak sabar untuk melihat istrinya, saat membuka pintu kamarnya, Anton menemukan istrinya yang terlihat sedang duduk di atas sofa dangan sebuah buku tentang panduan ibu yang akan menghadapi proses persalinan secara normal di tangannya.
"Assalam mualaikum." ucap Anton sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Waalaikum salam. Mas sudah pulang.?" tanya Zahwa sambil menyalami suaminya.
"Hmm, kebetulan tidak ada pekerjaan yang begitu penting hari ini, dan mas ada kabar gembira buat mu sayang.?" ucap Anton dengan tersenyum.
"Kabar gembira, apa itu mas.?" Zahwa terlihat penasaran dengan ucapan suaminya.
"Kasih tahu gak ya." Anton mencubit lembut hidung istrinya.
"Mass.." Zahwa makin penasaran, karna Anton yang tidak segera memberi tahu kepada dirinya.
"Iya, mas akan beri tahu. Tapi kamu harus berjanji sesuatu dulu dengan mas." ucap Anton lagi, ia berniat untuk merencanakan sesuatu terhadap istrinya itu.
"Kenapa begitu mas. Kenapa aku harus menjanjikan sesuatu?" tanya Zahwa yang kini berubah menjadi bingung.
"Karna berita yang akan mas katakan, pastinya akan membuat mu senang, jadi mas menginginkan sesuatu sebagai imbalanya dan kamu harus mau memenuhi keinginan mas, oke..?" jawab Anton sambil mengedip ngedipkan kedua matanya.
"Memangnya mas mau aku melakukan apa.?" entah mengapa perasaan Zahwa merubah menjadi takut, dan ada rasa was was dihatinya, mungkin hal ini terjadi karna ia pernah merasa disakiti.
"Mas tidak akan memintamu untuk melakukan sesuatu, biar mas saja yang melakukanya." ucap Anton yang makin membuat Zahwa merasa kebingungan.
"Jadi maksudnya.?" Zahwa makin merasakan debaran jantung yang jauh lebih kencang, pikirannya pun sudah tak karuan, Zahwa takut jika suaminya itu berniat untuk berpoligami lagi.
"Sayangg..rasanya mas sudah lama sekali tidak.." Anton membelai lembut wajah istrinya, tapi tiba tiba ia menghentikan ucapannya. "Ah sudahlah, mungkin lebih baik lain kali saja sayang." Anton tiba tiba mengurungkan niatannya.
"Mas." Zahwa menarik lengan suaminya lalu menggenggamnya dengan erat. "Ayo katakan saja mas, selagi aku bisa memenuhinya maka aku akan melakukn apapun permintaan mas." ucap Zahwa lagi, hal itu membuat Anton terpaku dengan ucapan istrinya, ia benar benar masih tidak menyangka mempunyai seorang istri yang begitu patuh terhadap suaminya.
"Tidak sayang, mas hanya bercanda, bukanya kamu harus banyak beristirahat, dan mas tidak mau terjadi sesuatu dengan mu." jawab Anton lalu mencium tangan istrinya, namun karna mendengar ucapan suaminya itu, akhirnya Zahwa pun mengerti apa yang sebenarnya di inginkan oleh Anton.
__ADS_1
"Mas, biarkan aku melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri yang baik untuk mu ya." jawab Zahwa, ia merasa bahwa melayani suami adalah sebuah kewajiban baginya yang harus selalu ia penuhi kapan pun suaminya menginginkannya.
Anton makin terpaku mendengar ucapan istrinya, hasratnya pun terasa makin memuncak kala ia menatap mata istrinya yang begitu lembut, jantunnya berdebar tak menentu saat ia mendekati wajah istrinya dan merasakan hembusan nafas Zahwa yang membelai lembut di wajah Anton.
"Apa kamu yakin sayang.?" tanya Anton lagi, dan Zahwa hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
Tanpa disadari keduanya, akhirnya bibir mereka pun menyatu dan saling ******* satu sama lain, makin lama permainan Anton pun makin dalam hingga akhirnya mereka tenggelam dalam kenikmatan duniawi.
Anton berusah menggauli istrinya dengan penuh kelembutan, karna ia tidak ingin menyakiti Zahwa, apa lagi mengingat kondisi Zahwa yang belum sepenuhnya pulih, namun sebagai seorang laki laki yang normal sungguh ia tidak dapat menahan untuk tidak menyentuh istrinya itu, apa lagi saat menatap mata Zahwa yang begitu teduh, membuat hasratnya semakin memuncak.
Selesai dengan permainannya, mereka pun terlelab bersama, Anton menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang sama sama masih tidak mengenakan pakaian, lalu ia juga membaringkan tubuhnya dengan memeluk Zahwa.
***
Saat tiba dirumahnya, Sarah segera membawa mamanya kedalam kamar, dan meminta mamanya untuk segera membersihkan diri. Sarah juga meminta pembantunya untuk membeli makanan kesukaan mamanya di restoran dan menyiapkannya diatas meja makan.
Saat dimeja makan, mama Sarah juga terlihat memakan makananya dengan begitu lahap, tampak sekali ia sangat kelaparan, karna ia memang jarang sekali memakan jatah makanan yang diberikan kepadanya saat di dalam penjara.
"Mama kenapa nangis.?" tanya Sarah yang melihat dengan jelas air mata mamanya tumpah.
"Tidak apa apa sayang, mama cuma sedang merasa sangat bahagia bisa berkumpul dengan kalian lagi." jawab mamanya.
"Ma, sudah ya jangan nangis, nanti Sarah ikutan nangis ni." ucap Sarah, ia mengusap lembut lengan mamanya dan mendaratkan pelukan di tubuh mamanya.
"Ma, papa harap ini semua bisa jadi pelajaran berhaga untuk mama, ingat ma apa pun yang terjadi di dalam kehidupan kita, itu semua sudah takdir dari Allah, jadi kita tidak bisa menyalahkan siapa pun termasuk Zahwa." ucap papanya.
"Iya pa, mama minta maaf ya karna sudah membuat susah kalian, maafin mama ya Sarah." ucap mamanya sambil mengusap lembut kepala putrinya itu.
"Mama tidak perlu meminta maaf seperti itu kepada Sarah, Sarah tahu apapun yang mama lakulan itu semua karna mama tidak ingin melihat ku menderita, meski sebenarnya mama melakukan hal yang salah." jawab Sarah.
"Iya, mama cuma mau melihat mu bahagia sayang."
"Aku bahagia ma, aku sudah cukup bahagian sekarang, jadi mama tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi ya." jawab Sarah tersenyum. Lalu kecupan hangat seorang ibu pun mendarat di keningnya.
__ADS_1
"Iya Sayang." jawab mamanya.
***
Setelah membersihkan diri mereka, Anton terlihat kembali duduk disofa dengan memangku labtonya, lalu Zahwa pun mendekat dan duduk di samping suaminya itu.
"Mas." panggil Zahwa.
"Iya Sayang." menjawab sambil melempar senyuman kepada istrinya.
"Tadi bukannya mas bilang kalau ada kabar gembira untuk ku, apa bisa mas beritahu ku sekarang.?" tanya Zahwa.
"Emm, oke mas akan beri tahu, asalkan mas boleh minta lagi ya." jawab Anton, yang mencoba menggoda istrinya itu.
"Mana bisa begitu mas." Zahwa mencubil lembut pinggang suaminya, sedangkan Anton tertawa terbahak bahak melihat wajah Zahwa yang nampak terkejut.
"Mas cuma bercanda sayang." lalu Anton menarik tubuh istrinya dan mencium kening Zahwa.
"Bercandanya tidak lucu mas." jawab Zahwa yang lagi lagi dapat membuat suaminya itu tertawa kencang.
"Iya maaf sayang, ya sudah mas kasih tau ya. Sebenarnya mas itu cuma mau bilang, kalau mulai hari ini mama Sarah sudah bebas dari perjara." jelas Anton.
"Yang benar mas.?" tanya Zahwa lagi hampir tidak percaya.
"Iya sayang, papa sudah mengurus semuanya." jawab Anton
"Alhamdulillah hirobbil alamin. Terima kasih ya mas." bahagia tak terkira nampak jelas di wajah Zahwa
"Sama sama sayang."
"Aku senang mendengarnya mas. Oh ya, tolong ucapkan terima kasih juga kepada papa ya mas." ucap Zahwa.
"Iya sayang, nanti akan mas sampaikan kepada papa, Mas juga senang bisa buat kamu bahagia." Anton pun meranggkul istrinya dengan erat dan penuh kehangatan.
__ADS_1