Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 149


__ADS_3

Sesuai kesepakatan bersama, pernikah Rangga dan Nazwa pun akan dilaksanakan di Jakarta, karena mengingat teman dan rekan bisnis Rangga yang tentunya lebih banyak disana dan tidak memungkinkan bagi mereka akan hadir jika pernikahan Rangga dan Nazwa di laksanakan di kampung halaman Nazwa, yang memang terbilang cukup jauh dari kota.


Kedua orang tua Nazwa pun setuju, karena mereka tidak ingin membuat putri semata wayang mereka itu kecewa, apa lagi di Jakarta mereka bisa singgah dan tinggal di rumah Zahwa selama persiapan pernikahan, Anton dan Zahwa pun tentu tidak akan merasa keberatan.


Karena tidak memungkinkan akan kembali hari itu juga ke Jakarta, kedua orang tua Nazwa pun menyarankan agar Rangga, Reyhan, juga kedua paman dan bibinya untuk bermalam dulu di kampung mereka, dan semuanya pun menyetujui saran kedua orang tua Nazwa itu.


"Wah pemandangannya indah sekali." ujar Reyhan saat melihat pemandangan di sekitaran pondok pesantren itu.


"Mas Reyhan mau berkeliling?" tanya Nazwa yang juga berada di dekat Reyhan bersama Rangga.


"Boleh. Ayo Rangga." jawab Reyhan terlihat begitu antusias.


"Ayo mas, biar saya temani." jawab Nazwa, ia pun berpamitan kepada aminya, lalu setelahnya mereka pergi untuk berkeliling kampung, sedangkan kedua orang tua Reyhan memilih untuk beristirahat di kamar yang telah disedia kan orang tua Nazwa.


Reyhan terlihat berjalan terlebih dahulu, sedangkan Rangga dan Nazwa berjalan beririgan dibelakan Reyhan.


"Wah benar benar pemandangan yang indah, sejuk lagi, aku jadi ingin punya rumah disini." ujar Reyhan saat mengelilingin kampung dan melewati beberapa rumah penduduk disana.


Maklum saja jika Reyhan mempunyai keinginan seperti itu, mengingat kota Jakarta yang penuh dengan polusi dan juga kebisingan yang di timbulkan oleh kendaraan.


"Kalau begitu buat saja mas, hitung hitung sebagai tempat tinggal saat kita liburan, mungkin lebih enak liburan di kampung." jawab Rangga.


"Kamu benar Rangga, kalau begitu kita buat rumah saja disini ya, aku akan membeli tanah disekitaran sini, jadi ketika liburan kita bisa kemari, apa lagi kaliankan sebentar lagi menikah, jadi bisa kalian tempati saat pulang kampung." jelas Reyhan lagi, Nazwa dan Rangga pun tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan saat mendengarkan ucapan Reyhan yang begitu penuh dengan semangat.


"Nazwa." panggil Rangga.


"Iya mas." jawab Nazwa sambil menoleh melihat Rangga di sebelahnya.


"Menurut mu bagaimana? Apa kamu setuju dengan usulan mas Reyhan?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Aku setuju setuju saja mas, kebetulan di seputan sini masih termasuk tanah milik abi, jadi kita tinggal meminta izin kepada abi, dan tidak perlu membeli tanahnya." jawab Nazwa.


"Kalau begitu kita perlu bicara kepada abi, jika abi mengizinkan mas akan segera membuatkan mu rumah disini, dan semoga saja bisa diselesaikan dengan cepat, jadi kita bisa bulan madu disini saja." ucap Rangga dengan tersenyum.


Mendengar ucapa Rangga, Nazwa pun tersipu malu, ia menundukan wajahnya dan sedikit tersenyum. Reyhan yang ikut mendengar ucapan Rangga pun merasa kesal mendengarnya, ia pun bersikap seolah olah tengah marah kepada mereka.


"Aku yang memberikan saran, kenapa jadi kalian yang memanfaatkan rencana ku. Niat ku membuat rumah disini, itu sebagai tempat kita untuk liburan, kenapa jadi kalian berniat untuk menjadikannya sebagai tempat untuk bulan madu." ucap Reyhan dengan panjang kali lebar, hal itu tentu saja hanya sebagai candaannya, untuk mengguraui adik sepupunya itu, namun ocehan Reyhan mampu membuat Rangga dan Nazwa terkekeh mendengarnya.


Setelah puas berkeliling, akhirnya mereka bertiga pun memutuskan untuk kembali ke rumah Nazwa.


"Assalam mualaikum.'' ucap mereka bertiga, saat tiba di depan rumah Nazwa.


"Walaikun salam." jawab kedua orang tua Nazwa dan juga kedua orang tua Zahwa yang terlihat sedang ingin berpamitan.


"Wak mau pulang?" tanya Nazwa yang melihat kedua paman dan bibinya yang telah bersiap untuk pulang.


"Iya nak, kami tidak bisa berlama lama disini." jawab ayah Zahwa.


"Aamiin, terima kasih bi, insya allah salamnya akan saya sampaikan." jawab Nazwa.


"Kalau begitu kami permisi dulu. Assalam mualaikum." ujar paman dan bibinya yang bersamaan mengucap salam.


"Waalaikum salam." jawab mereka juga bersamaan.


"Hati hati wak." teriak Nazwa, lalu di jawab dengan lambayai tangan oleh kedua orang tua Zahwa.


Mereka menaiki ojek yang terdapat di kampung itu sampai kejalan raya, baru setelahnya mereka menaiki angkutan umum untuk sampai kerumah mereka.


Selepas kepergian orang tua Nazwa, abi Nazwa pun mempersilahkan Rangga dan Reyhan untuk beristirahan di tempat yang telah mereka sediakan, sedangkan Nazwa membantu umi dan pembantu mereka untuk mempersiapkan makan malam. Usai membantu uminya, Nazwa pun mendekati abinya yang tengah bereda di kursi di tempatnya biasa membaca kitab suci Al-Qur'an dan berbagai buku lainnya, sambil membawakan secangkit teh.

__ADS_1


"Abi." sapa Nazwa.


"Hmm." jawab abinya, lalu menoleh melihat putrinya yang datang dengan secangkir teh.


"Nazwa bawakan teh untuk abi." ujar Nazwa.


"Terima kasih nak, ayo duduk sini." ujar abinya lagi. Nazwa pun mengangguk, lalu ia terlihat duduk di kursi yang ada di dekat abinya.


"Abi, apa Nazwa bisa bicara sesuatu?" tanya Nazwa.


"Tentu saja, bicaralah." jawab abinya dengan tersenyum manis kepada putrinya itu. Ia pun menutup buku yang sedang ia baca, lalu mulai mendengarkan setiap kata yang akan di ucapkan oleh putrinya itu.


"Abi, mas Rangga ingin meminta izin membangun sebuah rumah di sekitaran sini, rumah yang akan dijadikan tempat kami tinggal saat berliburan kemari. Apa abi mengizinkan, atau Nazwa akan bicara dengan mas Rangga untuk membayar tanah yang akan ia bangun abi." ujar Nazwa, ia terlihat begitu gugup di depan abinya, karena takut abinya tidak memberikan izin.


Setelah mendengarkan ucapan putrinya, abi Nazwa pun terlihat tertawa kecil, ia paham sekali dengan putrinya itu, jadi ia bisa tahu bahwa putrinya itu sedang merasa khawatir tidak mendapatkan persetujuan darinya.


"Tidak perlu membayarnya, silahkan bangunlah rumah impian seperti yang kalian inginkan, biar nanti abi yang urus suratnya suratnya." ucap abinya, membuat Nazwa merasa lega.


"Nazwa abi hanya ingin berpesan kepada mu, jika nanti abi telah tiada, jangan pernah kamu jual tanah yang telah abi hibahkan untuk pondok pesantren ini, biarkan pula warga yang meminjam sawah untuk mereka menanam padi, sungguh abi tidak akan meridhoi jika kamu menjadi manusia yang tamak." ucap abinya itu, dan Nazwa pun mengangguk memahami ucapan abinya.


"Iya abi, Nazwa berjanji tidak akan pernah menjual apa yang telah abi hibahkan untuk pesantren ini, apapun yang terjadi suatu hari nanti." jawab Nazwa, abinya pun kembali tersenyum setelah mendengar ucapan putrinya itu.


"Nazwa kamu juga harus ingat nak, tidak mudah untuk membangun sebuah rumah tangga, kamu harus membentengin diri mu dengan keimanan dan juga kesabaran yang kuat, jangan pernah gegabah dalam mengambil keputusan, dan saat mengambil keputusan kamu harus memikirkan segala hal yang mungkin saja bisa merugikan orang lain." pesan sang ayah.


"Iya bi, Nazwa akan ingat selalu pesan abi" jawab Nazwa.


"Patuhi setiap perintah suami mu, jika itu benar dan sesuai dengan syariat agama, kamu boleh membantah jika apa yang ia katakan atau tindakannya menyimpang dari ajaran islam, tapi jangan pernah kamu tinggalkan dia dalam keadaan sesat, sebagai seorang istri kamu wajib untuk memperingatkan suami mu membawanya ke jalan yang benar, begitu juga sebaliknya." sambung abinya.


"Iya bi." jawab Nazwa lagi.

__ADS_1


"Tapi sepertinya nak Rangga laki laki yang baik dan bertanggung jawab, dia pasti bisa membimbing mu." ucap abinya lagi memuji, membuat Nazwa tersipu malu karna ternyata orang tuanya menyukai laki laki pilihanya.


__ADS_2