Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 137


__ADS_3

Melihat Rangga yang mulai berjalan dan menjauh darinya, Nazwa pun bangkit dari kursinya, dan mencoba untuk berbicara kepada Rangga.


"Apa bapak benar benar menyukai saya.?" tanya Nazwa, dan Rangga pun menghentikan langkahnya karena mendengar ucapan dari Nazwa yang menanyakan tentang perasaanya itu.


"Lalu apa itu salah. Apakah salah jika saya menyukai dan mencintai kamu.?" tanya Rangga tanpa membalikan tubuhnya.


Tubuh Nazwa terasa bergetar, ia tidak menyangka hal ini benar benar terjadi, Nazwa selama ini yang selalu merasa bahwa hal itu tidak mungkin, kini malah sebaliknya, seorang manajer tampan dan mapan itu ternyata memang menyukainya.


Nazwa berusaha untuk mengotrol dirinya, dan mencoba untuk menjawab pertanyaan Rangga, ia tidak ingin atasannya itu merasa kecewa kepadanya.


"Tidak, itu tidak salah, hanya saja keluarga kami tidak mengizinkan, kedekatan antara pria dan wanita tanpa setatus hubungan yang jelas, atau apa pun itu bentuk kedekatan lainnya." jawab Nazwa.


"Lalu.?" tanya Rangga, kini ia terlihat membalikkan tubuhnya dan menatap kearah Nazwa.


"Jika bapak benar benar menyukai saya, maka temui orang tua saya dan mintalah izin kepada mereka untuk mengenal saya lebih jauh, dan menuju hubungan yang lebih serius. Saya tidak ingin membuat dosa dengan berpacara, dan saya juga tidak ingin bermain main dalah urusan cinta saya." Nazwa terlihat berbicara dengan begitu tegas, dan membuat Rangga merasa tertantang, tapi hal inilah yang ia suakai.


Nazwa menundukan kepalanya karena merasa malu, ia merasa tidak pantas berucap seperti itu kepada atasnnya, apa lagi Rangga hanya mengatakan bahwa ia menyukainya, bukan mencintainya, seperti apa yang di ucapkan Nazwa.


"Baik, kalau kamu memang sudah siap, aku akan menemui orang tua mu. Akan aku katakan kepada mereka, bahwa aku mencintai mu" jawab Rangga.


Mendengar ucapan Rangga, Nazwa kini semakin terkejut, ia tidak menyangka bahwa Rangga bersedia melakukan apa yang ia ucapkan, Nazwa mengangkat kepalanya dan matanya pun terlihat membulat sempurna menatap Rangga yang kini terlihat berjalan menjauh darinya.


"Astaghfirullah apa yang sudah aku katakan, ini tidak bener benar terjadikan, aku yakin ini cuma mimpi." Nazwa bergumam pelan, dan bertanya kepada dirinya sendiri, lalu ia pun mencubit pelan tangannya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini semua nyata.


"Aauu..sakit, ternyata ini bukan mimpi, ini benar benar terjadi." gumam Nazwa lagi dengan pelan.


"Hey, apa kamu ingin tinggal disini.?" tanya Rangga yang tiba tiba telah berada dihadapan Nazwa lagi.


Karena melihat Nazwa tidak beranjak dari tempatnya, Rangga pun kembali menghampiri Nazwa untuk mengajaknya kembali ke hotel mereka, tanpa menjawab Nazwa pun segera melangkah mengikuti Rangga menuju mobil mereka, dengan perasaan yang tidak menentu.


Di dalam mobil, Nazwa dan Rangga tampak membisu, tidak ada yang berbicara diantara mereka, bahkan Nazwa membuang wajahnya dengan menatap keluar kaca mobil yang ada di sampingnya, sedangkan Rangga tampak begitu fokus mengemudi kendaraan yang sedang ia bawa.

__ADS_1


Setelah tiba dihotel Nazwa dan Rangga segera menuju kamar mereka masing masing, Nazwa menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya, sambil bergumam gumam pelan menyalahkan dirinya sendiri.


"Apa yang sudah aku katakan, kenapa aku bisa berbicara seperti itu kepada pak Rangga, pak Rangga pasti berfikir yang tidak tidak tentang diri ku sekarang." gumam Nazwa, lalu ia pun bangkit dari tidurnya, dan berjalan mondar mandir sendiri.


"Ya Allah berikanlah hamba petunjuk, semoga apa yang terjadi adalah yang terbaik untuk hamba." ucapnya lagi.


Karena merasa kebingungan, Nazwa pun pergi menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, ia mencoba merelaksasi tubuh dan fikirannya dengan memancurkan air sower tepat diatas kepalanya..


***


Saat tiba di rumahnya, Anton dan Zahwa kembali memeriksa perlengkapan bayi yang telah dihantarkan kerumah mereka, setelah merasa semuanya lengkap, Anton pun memanggil kedua pembantunya, dan meminta mereka untuk membantu memindahkan perlengkapan itu, ke dalam kamar kosong yang ada di sebelah kamar mereka.


"Bik, tolong bantu saya memindahkan peralatan itu ke atas ya." ujar Anton kepada kedua pembantu yang telah dipanggilnya.


"Baik tuan." jawab mereka dengan tersenyum, mereka juga merasa senang karena sudah tidak sabar menunggu kelahiran Zahwa.


"Mas biar aku bantu juga ya." ujar Zahwa.


"Iya nyonya biar kami saja, sebaiknya nyonya beristirahat saja di kamar." ujar pembantunya dengan tersenyum.


"Terima kasih ya bi." jawab Zahwa.


Karena tidak ingin membuat suaminya marah, Zahwa pun segera menuju lantai atas, namun ia tidak masuk ke dalam kamarnya, melainkan masuk kedalam kamar kosong yang akan menjadi kamar untuk anaknya.


"Nanti kita atur semuannya bersama ya sayang, agar ruanga ini jadi terlihat lebih bagus untuk anak kita." ujar Anton saat dirinya telah berada dikamar itu juga, dengan membawa beberapa barang ditangannya.


"Iya mas, terima kasih ya mas." jawab Zahwa dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya.


"Sama sama sayang. Oh ya, kamu tidak coba hubungi Nazwa.?" tanya Anton kepada istrinya.


"Astaghfirullah hal'azim, aku lupa mas. Kalau begitu aku hubungi Nazwa dulu ya mas." ujar Zahwa.

__ADS_1


"Iya Sayang." jawab Anton.


Zahwa pun mencoba menghubungi adik sepupunya itu, untuk mengetahui keadaan Nazwa disana.


"Assalam mualaikum." terdengar ucapan Nazwa dari seberang sana, saat menerima telepon dari Zahwa.


"Waalaikum salam. Maaf aku mengganggu mu Na, aku cuma inhin tahu keadaan mu disana." ujar Zahwa.


"Alhamdulillah aku dan pak Rangga sampai dengan selamat, dan kami semua baik baik saja Za" jawab Nazwa.


"Alhamdulillah kalau begitu, jangan lupa makan dan jaga dirimu baik baik." ujar Zahwa kepada adiknya, ia selalu saja berusaha menjadi kakak yang baik untuk Nazwa, dan selalu saling menasehati.


"Iya kakak ku yang baik dan sholeha." jawab Nazwa.


"Aamiin, ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu, assalam mualaikum." Zahwa menutup sambungan telponya.


"Waalaikum salam." jawab Nazwa.


Setelah selesai meletakkan semua perlengkapan bayi ke dalam kamar kosong itu, kedua pembantu itu pun berpamitan dan segera menuju kamar mereka, sedangkan Anton dan Zahwa juga segera menuju kamarnya, lalu membersihkan diri mereka yang terasa lengket akibat keringat.


***


Usai melaksanakan sholat magrib di dalam kamar hotel tempatnya menginap, Nazwa terlihat duduk melamun di kursi sofanya, ia terlihat begitu gelisah, karena masih memikirkan perkataan yang ia ucapkan kepada Rangga.


"Kenapa aku bisa berbicara seperti itu kepada pak Rangga, pak Rangga pasti berfikir yang tidak tidak tentang ku sekarang." gumam Nazwa.


Saat sedang bergumam sendiri bel pintu Nazwa berbunyi, menandakan ada seseorang yang datang ke kamarnya. Nazwa pun dengan segera menuju pintu untuk melihat siapakah yang telah membunyikan bel kamarnya.


Saat membukan pintu, tampaklah Rangga yang telah berdiri di depan pintu kamar hotel Nazwa, dengan setelan pakaian santainya, namun masih membuat Rangga tampak tampan.


"Ayo kita makan malam diluar." ujar Rangga. Sedangkan Nazwa terlihat hanya mengangguk, lalu masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tas dan ponselnya. Mereka pun pergi menuju sebuah restoran mewah yang tidak begitu jauh dari hotel mereka.

__ADS_1


__ADS_2