
"Nazwa jangan tinggalkan aku, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku mencintai mu sayang." Ucap Rangga memohon kepada istrinya.
"Mas Reyhan, aku mohon biarkan Nazwa bersama ku, aku janji akan membahagiakannya, aku tidak akan pernah membuatnya menderita." Kali ini ia terlihat memohon kepada kakak sepupunya.
"Rangga, bukankah dulu kamu yang meminta aku untuk menjaganya, biarkan Nazwa bersama ku, akan ku bawa dia ketempat yang lebih indah." jawab Reyhan dengan tersenyum.
"Aku mohon jangan mas, aku tak bisa hidup tanpa istriku, aku berjanji akan menjaganya dengan semua kemampuanku." air mata Rangga mulai jatuh berlinang.
Dengan senyuman manis di bibir Reyhan dan Nazwa , terlihat bayangan mereka pergi menjauhi Rangga.
"Nazwa, jangan tinggalkan aku, jangan pergi Nazwa jangan pergi." Rangga terlihat bergumam dengan matanya yang terpejam, kata kata yang keluar dari bibirnya terdengar sedikit keras, hingga membuat tante Rita pun mendengarnya.
"Rangga bangun sayang, kamu kenapa, Rangga." tante Rita berusaha membangunkan keponakannya itu yang tengah tidur siang dan mengigau.
"Astaghfirullah hal azim." Rangga bangun dari tidurnya sambil beristighfar.
"Kamu kenapa sayang, ada apa?" tanya tante Rita yang kini duduk di tepi tempat tidur Rangga.
"Tadi Rangga mimpi buruk tante." jawab Rangga.
"Minum dulu sayang." tante Rita memberikan segelas air putih yang ada diatas nakas.
Rangga mengambil dan langsung meminum air yang diberukan tantenya.
"Gimana, sudah lebih tenang?" tanya tante Rita.
"Iya tante." jawab Rangga sambil meletakkan gelas kembali keatas nakas.
"Reyhan kemana ya, kok belum sampai juga, satu jam yang lalu mereka bilang sudah dalam perjalanan pulang." ujar tante Rita.
"Tante sudah coba telpon mas Reyhan?" tanya Rangga yang juga mulai merasa cemas kembali.
"Sudah, tapi tidak diangkat." jawab tante Rita.
"Aku coba telpon Nazwa dulu tante." ujar Rangga, dan tante Rita pun mengangguk.
Rangga mengambil ponselnya yang berada diatas nakas, dan mencoba menghubungi nomer telpon istrinya, namun sudah dua kali mencoba, tetap tidak ada jawaban dari istrinya.
"Gimana Rangga?" tanya tante Rita.
"Tidak ada jawaban tante." ujar Rangga yang semakin merasa cemas. Ia pun teringat akan mimpi buruknya.
"Mungkin saja mereka mampir ke toko kue ya, tadi soalnya tante minta di belikan kue." tante Rita yang mulai merasakan kecemasan Rangga, mencoba membuatnya tenan dengan mengalihkan pembicaraan.
"Mudah mudahan tidak terjadi apa apa tante." ujar Rangga.
__ADS_1
"Iya sayang." jawab tante Rita.
Usai berbicara dengan Rangga, tante Rita pun berpamitan kepada Rangga untuk keluar, dan baru saja tante Rita akan keluar dari dalam kamar Rangga, tiba tiba ia menerima telepon dari nomer ponsel Reyhan.
"Nah, akhirnya kamu telpon mama juga Rey." ujar tante Rita saat melihat nama penelpon di ponselnya.
Tante Rita menggeser panggilannya, dan menjawab panggilan dari putranya itu.
"Hallo, assalam'mualaikum Rey, kamu dimana sayang?" tanya tante Rita.
"Hallo selamat siang nyonya, apa ini dengan orang tua Reyhan?" jawab orang asing yang menghubungi tante Rita menggunakan ponsel Reyhan.
"Iya benar saya mamanya, anda siapa ya, dimana anak saya?" tante Rita pun merasa cemas dan bingung karena ternyata bukan Reyhan yang menghubunginya.
Malihat raut wajah tantenya yang cemas, Rangga pun turun dari tempat tidurnya dan mendekati tante Rita yang masih berada di dalam kamarnya.
"Siapa tante?" tanya Rangga, dan tante Rita memberi jawaban dengan menggeleng.
"Maaf nyonya ini dari kepolisian, putra anda mengalami kecelakaan bersama seorang perempuan, dan kini sudah berada di rumah sakit Sejahtera dengan keadaan kritis." jawab si penelpon yang ternyata adalah seorang polisi.
"APA? Anak saya kecelakaan?" tante Rita yang terkejut, berteriak hingga memenuhi ruangan kamar Rangga.
"Kecelakaan tante?" Rangga yang mendengar perkataan tantenya ikut terkejut. "Siapa yang kecelakaan tante?" tanya Rangga ingin mengetahui lebih jelas.
"Reyhannn." tante Rita kembali berteriak memanggil nama putranya dengan menangis histeris.
Rangga pun menyentuh dadanya, dangan wajah yang mulai tampak pucat.
"Rangga, Rangga, kamu tidak apa apa sayang?" tante Rita yang semula histeris, tersadar kembali saat melihat Rangga yang tampak pucat dan menahan sakit.
Tante Rita segera mematikan ponselnya dan membantu Rangga yang terlihat mulai ambruk kelantai dengan memegangi bagian dadanya.
Dengan perasaan kacau, tante Rita kembali panik, ia terlihat begitu kebingungan.
"Toloonngg, toloonngg, bikkk tolong bik." tante Rita berteriak dengan keras.
Saat pembantu dan juga sopir pribadinya tiba, tante Rita segera meminta bantuan untuk membawa Rangga ke rumah sakit Sejahtera tempat dimana Reyhan dan Nazwa di bawa.
Dengan perasaan yang sangat kacau, tante Rita berusaha menghubungi suaminya, dan juga Zahwa yang merupakan kerabat terdekat Nazwa.
Saat tiba dirumah sakit tim medis segera membantu menangani Rangga, sedangkan tante Rita berusaha mencari ruangan perawatan Reyhan. Dengan bantuan suster, tante Rita akhirnya menuju ruangan ICU tempat Reyhan berada.
"Reyhannn." tante Rita menangis histeris sambil memeluk putranya yang terbaring lemah dengan segala alat bantuan medis yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya.
"Nyonya tolong kendalikan diri anda, jangan buat pasien terganggu." ujar suster yang mencoba memperingati tante Rita dengan lembut.
__ADS_1
"Ini mama sayang, bangun nak." ujar tante Rita yang masih histeris.
Setelah puas menangis di dekat Reyhan, tante Rita pun seketika ingat akan Nazwa.
"Dimana Nazwa sus?" tanya tante Rita.
Suster yang mengerti bahwa yang dimaksud tante Rita Nazwa adalah teman Reyhan saat kecelakaan, langsung memberitahunya.
"Dia ada diruangan sebelah nyonya." ujar perawat itu.
"Terima kasih sus." ujar tante Rita.
"Nyonya, dokter berpesan agar keluarga pasien bisa menemuinya." ujar suster itu sebelum meninggalkan tante Rita.
"Baik sus."
Dengan tubuh yang lunglai tante Rita keluar dari ruangan Reyhan, dan saat tiba di depan pintu, ia pun betemu dengan siaminya yang baru tiba.
"Pah, Reyhan pa." ujar tante Rita.
"Mama tenang ma, Reyhan pasti baik baik saja." ujar suaminya berusaha menenangkan.
Usai melihat putranya, kedua orang tua Reyhan menemui dokter yang menangani Nazwa dan juga putra mereka.
"Putra bapak dan ibu mengalami kecelakaan yang sangat serius, kemungkinan untuk terselamatkan hanya 50 persen, namun itu hanya perkiraan dokter saja, semoga Allah memberikan keajaibanya untuk kedua pasien ya. Kami akan mengusahakan yang terbaik, dan mohon bantuan do'a bapak dan ibu." ujar dokter.
Tangis mama Reyhan pun semakin pecah, dan kali ini air mata papanya pun mulai terlihat berlinang, mereka pun saling berpelukan. Reyhan merupakan putra semata wayang mereka, membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada putra mereka tentu saja membuat mereka histeris.
Papa dan mama Reyhan tak menjawab sepatah kata pun yang dikatakan dokter, sampai akhirnya mereka keluar dan melihat Rangga di ruang perawatannya.
"Bagaimana keadaan Rangga dok?" tanya papa Reyhan kepada dokter yang kebetulan masih berada diruangan Rangga.
"Keadaannya sangat mengkhawatirkan, syok yang dialami pasien, membuat kerja jantunya memburuk." jawab dokter.
"Tolong upayakan pengobatan terbaik dok, saya akan bayar berapapun biayanya." ujar papa Reyhan.
"Baik pak, kami akan melakukan upaya semampu kami, dengan pengobatan terbaik yang kami punya." jawab dokter.
"Terima kasih dok."
Mama Rita dan suaminya mendekati Rangga yang terbaring tidak sadarkan diri, dengan air mata yang mengalir, mama Rita membelai lembut kepala keponakannya.
"Pah, apa salah ku sampai tuhan menghukum ku seperti ini, dalam waktu yang bersamaan musibah menimpak ketiga anak dan menantu kita bersamaan?" ujar mama Rita.
"Sabar ma sabar, papa tau ini sulit tapi kita harus tetap sabar. Sekarang yang mereka perlukan adalah do'a kita." suaminya pun mencoba memberikan kekuatan kepada istrinya, namun sebenarnya ia pun dalam keadaan rapuh.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Anton dan papanya datang kerumah sakit sejahtera untuk melihat Reyhan dan Nazwa yang mengalami kecelakaan, karena belum memungkinkan, Zahwa pun tak dapat ikut datang, meski sebenarnya Zahwa sangat ingin melihat adik sepupunya itu.
Mereka segera menemui mama dan juga papanya Reyhan untuk menanyakan kondisi ketiganya.