
Sejak pagi Anton sudah berniat untuk menelpon sahabatnya Reyhan, namun karena ia sedang terburu buru untuk pergi ke kantor, Anton pun akhirnya mengurungkan niatnya itu dan berfikir akan menelpon Reyhan setelah ia berada di kantor saja.
"Nazwa, kamu yakin sudah mau pergi kekantor, memangnya kamu tidak capek?" tanya Zahwa saat mereka tengah melakukan sarapan bersama.
"Tidak Za, banya pekerjaan yang harus aku selesaikan." jawan Nazwa.
"Kalau masih capek sebaiknya kamu tidak perlu kekantor dulu, bukankah ada yang lain yang bisa membantu mu menyelesaikan pekerjaan mu." kali ini Anton yang memberikan saran.
"Tidak apa apa mas, lebih baik aku saja yang mengerjakan." jawab Nazwa.
"Nanti kamu sakit lho, pernikahan mu tidak lama lagi, masa calon pengantin sakit." ujar Zahwa sambil mengguraui sepupunya itu.
"Kamu tenang saja ya, aku pasti baik baik saja." jawab Nazwa lagi.
"Ya sudah deh terserah kamu saja." Zahwa pun menyerah untuk memperingati Nazwa.
Usai sarapan bersama, Anton pun berpamitan kepada istrinya dan berjanji akan pulang secepatnya setelah pekerjaannya selesai.
"Sayang mas berangkat dulu ya, kamu baik baik dirumah ya." ujar Anton.
"Iya mas, mas hati hati ya." jawab Zahwa.
"Iya sayang, mas akan pulang secepatnya setelah pekerjaan mas selesai.'' ujar Anton lagi.
"Iya mas." Zahwa pun menyalami suaminya, dan Anton mencium kening istrinya.
Nazwa juga ikut berpamitan dengan Zahwa, lalu seperti biasa ia menumpang mobil kakak iparnya itu untuk pergi ke kantor.
***
Di kediaman Reyhan, Rangga juga sudah terlihat begitu rapi dengan setelan jas kerjanya, ia pun terlihat sedang sarapan sendiri di meja makan, karena penghuni lain dirumah itu tampaknya sedang bangun kesiangan, akibat kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh kemarin.
Dan saat telah selesai sarapan dan berniat untuk pergi, tante Rita yang baru saja keluar dari dalam kamarnya pun menyapa Rangga.
"Rangga kamu mau kemana sudah rapi sekali sayang?" tanya tante Rita.
"Kekantor tante, ada apa tante?" Rangga kembali bertanya karena merasa bingung dengan pertanyaan tantenya.
"Tapi sayang, apa kamu tidak lelah, sebaiknya kamu istirahat saja dulu nanti kamu malah sakit Rangga, pernikahan mu tidak lama lagi lho." peringat tante Rita.
"Tidak apa apa tante, banyak pekerjaan yang hatus aku selesaikan, tante tidak usah khawatir." Rangga pun mengusap lembut lengan tantenya, berusaha mengusir kekhawatiran tantenya.
"Ya sudah deh, tapi kamu hati hati ya sayang.'' ujar tante Rita lagi.
"Iya tante." jawab Rangga, ia pun menyalami tantenya lalu pergi meninggalkan tantenya itu.
Di dalam kamarnya, Reyhan yang terlihat masih tertidur, tiba tiba di bangunkan oleh panggilan masuk di ponsenya, ia pun meraih ponselnya itu lalu berusaha untuk melihat si penelpon dengan mata sedikit terbuka.
"Anton? ada apa dia menelpon sepagi ini?" gumam Reyhan, ia pun berusaha bangun dari tidurnya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.
"Ada Apa An?" tanya Reyhan dengan suara serak khas bangun tidurnya.
__ADS_1
"Rey, aku ingin minta bantuan mu, tolong kekantor ku sekarang ya." ujar Anton.
"Memangnya ada apa?" tanya Reyhan lagi.
"Nanti saja aku jelaskan, ini menyangkut Zahwa." jawab Anton lagi.
"Zahwa, ada apa dengan dia? Kalian bertengkar lagi?" Reyhan berbicara dengan sedikit keras, bahkan kini dirinya tampak sedikit menegang setelah mendengar ucapan Anton mengenai istrinya itu.
"Tidak bukan begitu.'' jawab Anton, yang mendengar kepanikan Reyhan.
''Bicara yang jelas." ucap Reyhan lagi.
"Aku akan menjelaskannya nanti, setelah kita bertemu." jawab Anton.
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu, nanti aku akan segera kesana." jawab Reyhan.
"Ya, baiklah." ucap Anton lalu memutus sambungan telponya.
"Ada apa sebenarnya, tumben sekali dia meminta bantuan ku untuk urusan mengenai istrinya, bukankah dia masih suka cemburu dengan ku." gumam Reyhan lagi sambil menggelengkan pelan kepalanya, lalu ia pun bangkit diri tempat tidurnya dan pergi menuju kamar mandi yang berada di kamarnya itu.
Selesai mandi Reyhan segera turun dan menuju meja makan untuk sarapan, di sana ia bertemu dengan kedua orang tuanya yang juga tengah memakan sarapan mereka.
"Kamu mau kemana Rey sudah rapi begitu?" tanya mamanya.
"Pergi ke kantor Anton ma." jawab Reyhan.
"Ada perlu apa?" kali ini papanya yang ikut bertanya.
"Mengenai istrinya, ada apa dengan istrinya, kamu tidak melakukan kesalahan lagi kan Rey?" tanya tante Rita bertubi tubi menghujani Reyhan, ia takut jika putranya itu berbuat ulah dalam hubungan rumah tangga Anton dan Zahwa lagi.
"Enggak ma, Reyhan juga belum tahu ada masalah apa dengan Anton dan Zahwa, tapi yang pasti Reyhan tidak punya masalah apa apa dengan rumah tangga mereka." jawab Reyhan, ia berusaha meyakinkan orang tuanya itu karena tidak ingin membuat mamanya cemas, selama ini Reyhan memang sangat terbuka dengan mamanya, bahkan dalam hubungan cinta segitiganya terhadap Zahwa dan Anton.
"Syukurlah." jawab mamanya.
"Papa sarankan agar kamu jangan terlalu sering ikut campur dalam masalah rumah tangga mereka Rey, Anton itu sahabat mu sejak kecil, papa juga berteman baik dengan pak Gunawan, jadi jangan sampai hubungan ini hancur hanya karena kamu ikut campur hal yang seharusnya memang tidak boleh kamu campuri." ucap papa Reyhan.
"Iya pa, Reyhan mengerti." jawab Reyhan dengan tersenyum.
Mereka pun melanjutkan kembali sarapan mereka, lalu setelah selesai Reyhan pun berpamitan kepada papa dan mamanya untuk pergi menuju kantor Anton.
***
Setibanya disana, seperti biasa Reyhan langsung menuju ruangan direktur utama, tanpa perlu bertanya kepada resepsionis, karena dirinya memang sudah terbiasa keluar masuk gedung perusahaan itu dengan bebas untuk bertemu Anton sahabatnya.
Tok tok tok...
Reyhan mengetuk pintu ruangan Anton, meski ia bisa masuk sesukanya kedalam gedung itu, namun ia masih tau aturannya untuk masuk kedalam ruangan Anton dengan sopan.
"Masuk." jawab Anton.
Reyhan pun membuka pintu ruangan Anton sambil mengucapkan salam, dan setelah berada didalam Reyhan memilih duduk di sofa yang ada diruangan Anton, dan menyandarkan tubuhnya. Anton yang melihat sekilas pun kembali melanjutkan pekerjaannya dan setelah pekerjaannya itu selesai barulah dia menghampiri Reyhan.
__ADS_1
"Mau dibuatkan kopi?" tanya Anton.
"Hmm, boleh." jawab Reyhan. Anton pun segera menghubungi sekertarisnya dan meminta untuk dibuatkan dua cangkir kopi.
"Ada apa An, ada masalah apa?" Reyhan yang masih belum tahu tujuan Anton memintanya datang kekantor itu pun masih penasaran.
"Aku ingin meminta bantuan mu Rey." jawab Anton.
"Iya, tapi masalahnya apa dulu dong, cerita yang jelas." jawab Reyhan masih dengan bermalas malasan di tempat duduknya.
"Bantu aku untuk merenovasi toko kue milik Zahwa." jawab Anton.
"Renovasi?" Reyhan sedikit terkejut, lalu ia pun bangkit dari sandaranya dan mulai duduk dan bicara dengan serius kepada Anton.
"Iya, kamu hebat dalam mendesain, aku yakin toko kue Zahwa pasti akan semakin indah jika kamu yang merancangnya." jawab Anton.
"An, aku ini bukan arsitek, aku hanya hobi menggambar, kenapa kamu tidak membayar seorang arsitek saja." jawab Reyhan.
"Karena aku tahu gambar desain mu jauh lebih bagus." jawab Anton lagi.
"Tapi An." Reyhan sedikit ragu dengan kemampuanya, apa lagi jika menyangkut dengan Anton, dia tidak ingin membuat temannya itu kecewa dengan hasil kerja yang tidak memuaskan.
"Tolonglah Rey." jawab Anton lagi.
Saat sedang berusaha membujuk Reyhan, pintu ruangannya pun terketuk, Anton segera mempersilahkan OB yang datang dengan dua cangkir kopi di nampannya itu pun masuk, dan setelah meletakan kopi diatas meja yang ada dihadapan Reyhan dan Anyon, OB itu pun segera meninggalkan ruangan direkturnya dan kembali bekerja.
Setelah meminum kopi yang masih hangat itu, Anton pun kembali berbicara membujuk Reyhan untuk membuatkan desain toko milik istrinya.
"Aku merasa toko kue milik Zahwa yang sekarang sedikit kecil Rey, dan aku berniat membutkannya yang lebih besar, aku yakin kamu pasti mengerti selera tempat nongkrong kesukaan anak muda jaman sekarang." ujar Anton.
"Jadi maksud mu, ingin sekalian memjadikan toko kue Zahwa seperti cofe begitu?" tanya Reyhan.
"Benar Rey." jawab Anton.
"Baiklah, aku akan coba mendesainya." jawab Reyhan.
"Terima kasih Rey."
"Hmm.. Rencananya aku juga akan mendesain sebuah rumah untuk dikampung Nazwa." ujar Reyhan bercerita tentang rumah impiannya kepada sahabatnya itu.
"Oh ya?" ucap Anton.
"Tempat itu sangat indah, udara juga terasa sangat sejuk, aku rasa tempat itu sangat bagus untuk tempat liburan." jelas Reyhan lagi.
"Bagus dong, aku yakin desain mi pasti bagus." ucap Anton lagi.
"Ya semoga saja aku bisa membuat dua desain itu dengan cepat." jawab Reyhan.
"Aku yakin kamu bisa." jawab Anton.
Mereka pun kembali menikmati kopi yang masih tersisa, melanjutkan obrolan mereka mengenai bisnis dan desain toko Zahwa.
__ADS_1