Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 69


__ADS_3

Anton begitu senang mendengar ucapan istrinya yang kini telah memaafkan dirinya, tanpa berfikir panjang Anton segera melepaskan pelukannya dan turun dari tempat tidur itu, ia pun berdiri dihadapan Zahwa.


"Sayang ayo kita pulang." terdengar ucapannya begitu bersemangat, ia berusaha menarik pelan tangan istrinya itu, namun Zahwa malah menjadi bingung melihat tingkah suaminya itu.


"Eeehh mau kemana mas.?" tanya Zahwa lalu berusaha untuk berdiri pula, berhadapan dengan suaminya.


"Pulang sayang, kerumah kita." ucap Anton lagi penuh semangat.


"Mas, aku kan cuma bilang memaafkan mu, bukan berarti aku ikut pulang bersama mu sekarang." ucap Zahwa menggoda suaminya, meski ia merasa ingin tersenyum namun Zahwa berusaha untuk menahannya.


Dan Anton yang mendengar ucapan Zahwa barusan, seakan akan seperti sehabis tersengat listrik, tubuhnya kembali lemas dan terasa tidak berdaya lagi, dia yang sudah berdiri dengan semangatnya dan berniat membawa istrinya pulang, kini kembali terbanting duduk di tempat tidur itu kembali.


"Jadi, apa kah kamu tidak ingin kembali bersama ku Za.?" ucap Anton bergetar dan dengan jantung yang berdetang terasa sangat lemah.


"Iya mas." ucap Zahwa, dia benar benar merasa geli melihat ekspresi wajah suaminya, namun Zahwa berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa dihadapan Anton dan menunjukkan wajah biasa saja.


"Lalu bagaimana dengan rumah tangga kita Za, apa kamu tidak bisa memaafkan ku setulus hatimu sayang, mas mohon Za beri mas satu kali lagi kesempatan, aku berjanji akan memperbaiki semuanya." Ucap Anton dan kini lagi lagi dia berderai Air mata.

__ADS_1


Melihat suaminya menangis, hati Zahwa menjadi tidak tega, dan akhirnya Zahwa kembali duduk disamping suaminnya yang sedang tertunduk dan terisak. Zahwa menarik pelan tangan suaminya, dan menyatukan lagi jemari jemari mereka.


"Mas, aku kan belum selesai bicara, makanya jangan dipotong dulu dong ucapan ku." ucap Zahwa dengan tersenyum. Lalu Anton mengangkat kepalanya dan menatap bola mata istrinya.


"Maksud mu.?" ucap Anton penasaran. Dan Zahwa sedikit terkekeh melihat ekspresi suaminya, ia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi ketika Zahwa melihat wajah suaminnya yang terlihat menyedihkan itu.


"Aku kan bilang tidak mau ikut mas pulang sekarang, bukan tidak mau ikut mas pulang kerumah. Mas sebentar lagi akan masuk waktu maghrib, jadi mau tiba jam berapa kita di Jakarta.? lagi pula ibu dan ayah pasti tidak akan mengizinkan kita kembali sekarang, karna melihat keadaan mu yang masih seperti ini, apa kamu tidak lelah mas seharian mengemudi.?" Zahwa berbicara dengan tersenyum manis. Dan lagi lagi ia melihat wajah Anton yng kembali ceria, Anton memeluk Zahwa kembali merasa senang dengan ucapan istrinya, ia merasa lega dengan perkataan Zahwa barusan karna itu berarti istrinya bukan ingin meminta berpisah darinya.


"Maaf sayang, tadi mas sempat berfikir kalau kamu tidak lagi mau kembali kerumah kita." ucap Anton lalu melepaskan pelukannya ia menggenggam tangan istrinya dan menatap kedua bola mata Zahwa.


"Mas terlalu bersemangat dan merasa sangat bahagia sayang, hingga tidak berfikir kalau hari sebentar lagi mulai gelap." ucap Anton tersenyum.


"Emmm, baiklah sayang kita kembali lusa." ucap Anton dengan tersenyum dan mencubit lembut dagu istrinya.


"Alhamdulillah terima kasih mas." ucap Zahwa begitu senang. Dan karna mungkin merasa ikut senang, Zahwa merasa ada gerakan gerakan anak mereka di dalam perutnya.


"Masss." panggil Zahwa sedikit terkejut dan dengan segera menarik tangan Anton lalu meletakkan di perutnya. Anton pun dapat merasakan gerakan di dalam perut Zahwa.

__ADS_1


"Apa ini sayang, kenapa dengan perut mu, kenapa seperti ada yang bergerak di dalam sana.?" Anton merasa bingung, tapi dia juga heran kenapa Zahwa terlihat begitu senang.


"Mas itu anak kita, dia tumbuh dengan baik dan sehat di dalam sana dan sudah bisa bergerak gerak, biasanya bayi di dalam kandungan ibunya akan merasakan prasaan apa yang sedang di rasakan ibunya, entah itu senang atau sedih, dan dia akan bergerak ikut menunjukkan reaksinya." ucap Zahwa dengan tersenyum senang.


Anton pun ikut senang bukan main, ia turun dan duduk dihadapan perut istrinya, beberapa kali ia terlihat mengusap dan menciumi perut Zahwa.


"Terima kasih sayang, meski hidup bersama ku begitu sulit dan menyakitkan, tapi kamu masih mau bersedia mengandung anak ku." ucap Anton kepada istrinya.


"Mas, kehamilan adalah sesuatu yang sangat dinantikan seorang wanita setelah dia menikah, bagi kami ini adalah anugerah terbesar dan terindah yang di berikan Allah kepada kami para ibu. Jadi jangan bicara seperti itu ya." ucap Zahwa dengan tersenyum. Anton pun kembali duduk disamping Zahwa, pelan ia menarik kepala istrinya dan meletakkan di dada bidangnya.


"Terima kasih sayang." ucap Anton lalu mencium pucuk kepala istrinya yang ada dipelukannya.


"Mas, nanti kalau kita sudah kembali ke Jakarta, tolong hantarkan aku kerumah Sarah ya, aku ingin meminta maaf dengannya, aku benar benar merasa bersalah dengan Sarah atas tindakan ku waktu itu mas."pinta Zahwa yang masih berada dalam dekapan Anton.


Deg.


Hati Anton terasa bergetar, ia terkejut mendengar permintaan istrinya itu, Anton merasa bingung harus berkata apa, jika Zahwa tahu bahwa Sarah telah menggugat cerainya mungkin Zahwa akan makin merasa bersalah. Anton pun terdiam dan tak bisa menjawab permintaan istrinya itu.

__ADS_1


"Mass, kenapa diam.?" tanya Zahwa, lalu mendongakkan lepalanya melihat wajah suaminya.


"Iya sayang, nanti mas hantarkan." ucap Anton sambil menatap istrinya. Ia masih merahasiakan perceraiannya dengan Sarah, karna tidak mau Zahwa merasa bersalah dan bersedih, dia berniat memberitahu Zahwa setelah mereka kembali ke Jakarta saja nanti.


__ADS_2