Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 144


__ADS_3

Di rumah kediaman Reyhan, Rangga terlihat sedang makan malam bersama dengan om dan juga tantenya, sedangkan Reyhan sendiri tidak nampak bersama mereka, karena ia sedang menghadiri acara pesta pernikan Sarah, sebagai bekas pacar sahabatnya tentu saja Reyhan mengenal Sarah dengan baik.


Rangga memberanikan diri untuk berbicara kepada om dan tante yang telah ia anggap sebagai orang tuanya itu, dan ia juga sangat berharap om dan tantenya tidak akan merasa keberatan jika di mintai tolong untuk mendampinginya menemui kedua orang tua Nazwa.


"Om, tante, bisa Rangga bicara dengan om dan tante setelah makan?" tanya Rangga di sela sela makan mereka, sambil melihat kedua orang yang sedang makan bersamanya itu secara bergantian.


"Tentu saja Rangga." jawab om nya itu dengan tersenyum.


"Apa ada masalah?" tanya tante Rita sedikit menyelidiki.


"Tidak ada tante, nanti Rangga akan jelaskan setelah kita selesai makan." jawab Rangga.


"Baiklah." jawab tantenya sambil melemparkan senyuman di bibirnya.


Setelah makan malam mereka usai, Rangga kini terlihat duduk di sofa ruang keluarga bersama dengan om dan tantenya, kali ini tante Rita lah orang pertama yang membuka suara, karena rasa penasaran membuat dirinya tak sabar untuk mengetahui apa yang ingin di sampaikan oleh keponakannya itu.


"Bicaralah Rangga, ada apa sayang, apa kamu sedang ada masalah?" tanya tante Rita dengan rasa penasaran.


"Tidak tante, tidak ada masalah, aku hanya ingin meminta bantuan om dan tante, jika kalian tidak keberatan." ujar Rangga dengan sedikit rasa cemas.


"Minta bantuan om dan tante? Ada apa Rangga bicara yang jelas, katakan apa yang harus om dan tante mu ini bantu?" kali ini pamanyalah yang bertanya, dan ikut penasaran.


Rangga menundukkan kepalanya karena merasa khawatir akan membebani om dan tantenya, tapi selain kepada mereka berdua kepada siapa lagi ia akan meminta bantuan, akhirnya Rangga mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.


"Om, tante, sebenarnya aku ingin meminta bantuan om dan tante untuk menemaniku menemui kedua orang tua Nazwa di kampunya, aku berniat untuk meminangnya." ujar Rangga. Om dan tantenya saling melempar tatapan, lalu senyum bahagia pun kini terpancar dari wajah mereka.


"Apa kamu benar benar sudah siap dan yakin Rangga?" tanya om nya lagi.


"Insya Allah om, insya allah aku sudah siap." jawab Rangga dengan tegas. "Maaf jika aku merepotkan om dan tante, tapi hanya om dan tante yang aku punya dan tempat ku untuk meminta bantuan." ujar Rangga dengan rasa sedih.


Tante Rita merasa terharu dengan ucapan Rangga, hatinya merasa sakit saat mendengar Rangga berbicara seperti itu. Tante Rita pun bangkit dari duduknya, dan bergeser untuk duduk disamping Rangga.

__ADS_1


"Kenapa berbicara seperti itu Rangga, kamu tidak pernah merepotkan kami, kamu tahukan kalau kami sudah menganggap mu seperti anak kami sendiri selama ini, jangan pernah bicara seperti itu lagi, om dan tante tidak akan pernah merasa keberatan, dan kami pasti akan menemani mu untuk melamar Nazwa." ujar tante Rita sambil mengusap rambut Rangga.


"Rangga, om akan mendukung apapun setiap langkahmu, asalkan itu hal baik untuk dirimu." lanjut om nya itu.


"Terima kasih om, tante. Aku akan beritahu kapan waktu yang tepat untuk keberangkatan kita, karena Nazwa sendiri masih akan bicara dengan kedua orang tuanya." ujar Rangga.


"Baiklah, om dan tante akan menunggu kabar dari kalian." jawab tante Rita, lalu ia pun menatap dan memberikan senyuman kepada suaminya.


Usai berbicara kepada om dan tante, Rangga pun terlihat menuju kamarnya, ia merasa sangat senang karena mendapat dukungan penuh dari orang tua Reyhan itu. Rangga meraih ponsenya dan mencoba melihat mungking saja ada pesan dari Nazwa, tapi ternyata tidak ada satu pun pesan masuk di dalam ponsenya.


Rangga pun berniat untuk menghubungi Nazwa, ia ingin menanyakan tentang berita dari Nazwa yang meminta izin kepada kedua orang tuanya, sekaligus ingin menyampaikan berita baik dari om dan tantenya itu.


Namun saat mencoba menghubungi Nazwa, ternyata nomer ponsel wanita yang ia cintai itu sedang sibuk, mungkin saja karena saat itu Nazwa sedang berbicara kepada kedua orang tuannya.


"Telponnya sedang sibuk, mungkin ia sedang menghubungi kedua orang tuanya?" gumam Rangga pelan. "Sudahlah, lebih baik aku temui saja besok, dan bicara langsung dengannya, semoga saja Nazwa juga membawa kabar bahagia besok." gumam Rangga lagi, Ia pun meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.


Rangga duduk diatas sofa yang ada didalam kamarnya, lalu membuka labtob yang ada diatas meja, dan mulai menyelesaikan kembali pekerjaannya yang ia bawa pulang kerumah.


Seperti biasa pagi ini Anton, Zahwa, dan juga Nazwa terlihat sedang sarapan bersama di atas meja makan, dengan rasa malu Nazwa pun mencoba untuk berbicara kepada Zahwa dan juga kakak iparnya Anton, Nazwa ingin memberitahu niat Rangga pergi ke kampung halamanannya, dan sekaligus meminta izin kepada Anton untuk tidak masuk kerja nanti saat ia pulang kekantor.


"Za!" panggil Nazwa dengan sedikit gugup, ia sempat melempar tatapan sekilas melihat reaksi Anton saat dirinya memanggil Zahwa istrinya itu.


"Iya, ada apa Na?" tanya Zahwa yang langsung menoleh melihat kearah Nazwa.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu, sekalian ingin meminta izin dengan mas Anton." ujar Nazwa, yang lagi lagi berbicara dengan pelan dan ragu, lalu kembali menoleh sekilas melihat Anton.


"Meminta izin?" tanya Zahwa yang kini bergantian melihat suaminya.


"Iya." Nazwa mengangguk cepat.


"Memangnya kamu mau kemana?" Anton akhirnya buka suara untuk bertanya, setelah ia sejak tadi hanya cuek dengan ucapan Nazwa.

__ADS_1


"Rencananya, minggu depan mas Rangga dan aku akan pergi kekampung untuk bertemu dangan abi dan umi." jawab Nazwa. Sontak Zahwa pun merasa cukup terkejut, senyum indah langsung menghiasi wajahnya, begitu pun dengan Anton, namun ia hanya terlihat memberikan senyum tipisnya.


"Apa kamu serius Na?" tanya Zahwa.


"Iya Za, mas Rangga sendiri yang memintaku untuk memberitahu abi dan umi rencana keberangkatan kami minggu depan." jelas Nazwa.


"Syukur alhamdulillah, akhirnya Rangga benar benar menepati janjinya, selamat ya Na." ucap Zahwa dengan tersenyum.


"Terima kasih Za." jawab Nazwa juga dengan tersenyum.


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar Nazwa." ujar Anton yang juga terlihat tersenyum.


"Aamiin, terima kasih mas." jawab Nazwa.


"Oh ya, tapi kamu sudah memberitahu paman dan bibik kan Na?" tanya Zahwa kepada Nazwa.


"Iya Za, semalam aku sudah menelpon abi dan umi." jawabnya lagi.


"Lalu apa jawaban dari mereka?" tanya Zahwa lagi.


"Abi bilang mereka akan menerima Rangga dan keluarganya untuk datang ke rumah di kampung." jelas Nazwa.


"Syukurlah kalau begitu, tapi Na maaf ya aku sepertinya tidak bisa menemani mu untuk pulang ke kampung." ucap Zahwa dengan raut wajah sedihnya, karena tidak bisa menemani adik sepupunya itu.


"Tidak apa apa Za jangan khawatir, aku juga tidak ingin terjadi apa apa dengan mu nanti selama di dalam perjalanan." jawab Nazwa.


"Aku titip salam saja ya Na, buat ayah, ibu, paman, dan juga bibik." ujar Zahwa lagi.


"Iya Za, pasti akan aku sampaikan kepada mereka." jawab Nazwa dengan tersenyum.


Setelah selesai sarapan, Anton dan Nazwa pun berpamitan kepada Zahwa untuk berangkat pergi ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2