
Setelah berada di dalam ruangan metting hampir 2 jam, akhirnya Rangga dan Nazwa keluar dari ruangan itu bersama beberapa petinggi perusahaan lainnya, dan setelah berada di luar ruangan metting barulah mereka terdengar membicarakan hal hal pribadi dan lainnya.
"Pak Rangga.!" panggil seorang kliennya. Rangga pun menoleh dan melihat seorang yang berjalan mendekatinya.
"Pak Seno.!" ujar Rangga lalu mengulurkan tangannya kepada kliennya itu.
''Pak Rangga, tolong sampaikan salam ku kepada pak Anton, kami semua sudah mendengar prihal kecelakaan yang dialami istrinya, dan mohon maaf karena kami belum sempat untuk datang menjenguk." ujar pak Seno.
"Baiklah pak, beliau pasti mengerti, dan insya Allah saya akan sampaikan salam anda kepada beliau." jawab Rangga dengan tersenyum.
"Terima kasih pak Rangga. Oh ya, kalau boleh saya tahu apa dia calon istri anda pak? Kalian tampaknya begitu serasi." ujar pak Seno sambil tersenyum, ia pun menunjuk kepada Nazwa.
"Bapak bisa saja. Dia Nazwa staf saya di kantor." jawab Rangga, ia menoleh kepada Nazwa yang terlihat tertunduk menahan malunya.
Ya Allah kenapa jadi begini. Batin Nazwa, ia benar benar merasa malu dengan ucapan pak Seno.
"Dia sangan cantik pak, dan kalian tampaknya sangan cocok." ujar pak Seno lagi, tapi lagi lagi Rangga hanya menanggapi ucapan klien itu dengan tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak Rangga, sampai bertemu besok di lokasi." ujar pak Seno.
"Silahkan pak." jawab Rangga.
Setelah kepergian pak Seno, Rangga dan Nazwa melangkah keluar gedung dan menuju parkiran tempat mobil mereka berada. Sopir yang menghantar mereka pun datang menghampiri setelah melihat Rangga dan Nazwa berjalan menuju mobil.
"Apa bapak ingin saya hantar langsung menuju hotel pak.?" tanya Sopir itu kepada Rangga.
"Tidak pak, tolong hantarkan saya ke pusat perbelanjaan yang ada disini." ujar Rangga.
"Baik pak." jawab sopir itu, lalu mereka pun masuk kedalam dan pergi meninggalkan gedung prusahaan tempat mereka metting.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, dan tidak butuh waktu yang lama mereka pun sampai ke tempat pusat perbelanjaan yang ada disana. Rangga pun terlihat turun namun tidak dengan Nazwa, ia merasa tidak mempunyai kepentingan didalam mall itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk diam di dalam mobil saja.
__ADS_1
Melihat Nazwa yang tidak ikut turun, Rangga pun kembali menghampiri mobil dan mengetuk jendela kaca tempat dimana Nazwa duduk di dalam mobil itu, lalu Nazwa pun menurunkan kaca mobilnya.
"Apa kau ingin menunggu di dalam sini selama tiga jam.?" ujar Rangga sambil melihat jam yang ada di tangannya.
"Tiga jam.? Bapak mau ngapain didalam sana.?" tanya Nazwa, ia terlihat sedikit bingung oleh ucapan Rangga.
"Kau ingin ikut atau tetap tinggal disini menunggu ku tiga jam.?" ujar Rangga lagi.
Tanpa pikir panjang, dengan cepat Nazwa membuka pintu mobil lalu keluar, ia tidak ingin menunggu sia sia di dalam mobil itu dalam waktu yang cukup lama. Mereka pun berjalan memasuki mall, dan singgah dari toko ke toko lainnya.
Disalah satu toko pakaian pria, Rangga terlihat sedang memilih milih celana yang akan ia kenakan esok, saat mereka akan meninjau lokasi proyek. Tampak sekali dari raut wajahnya, ia terlihat bingung memilih celana yang akan ia kenakan.
Ditangannya sudah ada dua celana yang ia pegang, di sebelah tangan kanan ia memegang celana berwarna hitam dan di sebelah kiri berwarna kream, ia mengangkat dan menimang nimang manakah yang akan ia beli.
"Kalau menurut saya yang warna kream lebih bagus pak, dan cocok sekali dengan bapak." ujar Nazwa yang melihat Rangga tengah kebingungan. Namun bukannya menjawab Rangga malah terlihat meletakkan kembali kedua celana itu dan mengajak Nazwa pergi dari toko itu.
Nazwa pun terlihat menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Rangga, namun ia juga merasa malu karna tidak seharusnya ia memberikan saran padahal jelas jelas Rangga tidak memintanya.
Mereka kembali masuk ke salah satu toko dan kali ini Rangga terlihat memilih milih baju, lagi lagi Rangga tampak bingung dengan pilihanya, maklum saja karna selama ini memang Linda lah yang selalu menemaninya saat memilih pakaian.
Tak lama seorang pegawai toko pun datang, ia mendekati Rangga yang terlihat sedang memilih baju.
"Bagaimana pak, apa sudah ada yang cocok.?" tanya pegawai itu karna ia melihat Rangga sudah memilih dalam waktu yang cukup lama.
"Maaf saya belum bisa menemukan yang pas." ucap Rangga.
"Kenapa tidak minta dipilihkan dengan istrinya saja pak." ujar pegawai itu sambil menunju kepada Nazwa, dan hal itu tentu saja membuat Nazwa terkejut.
"Eeemm." Nazwa terlihat bingung, dan berusaha meluruskan ucapan penjaga toko itu. Namun belum sempat ia berbicara, penjaga toko itu kembali melontarkan pertanyaan.
"Bagaimana, menurut ibu lebih cocok yang mana dengan suaminya.?" ucap pegawai itu lagi dengan tersenyum.
__ADS_1
"Yang hitam, yang hitam lebih bagus." ujar Nazwa dengan sedikit terbata bata, ia masih merasa malu dengan ucapan pegawai itu.
Namun bukannya mengambil baju tersebut, Rangga malah mengembalikan lagi baju baju itu pada tempatnya, lalu memutuskan keluar dari toko itu.
Rangga masih tidak bisa menemukan baju yang pas untuk ia kenakan esok, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membeli pakaian yang akan ia kenakan malam ini saja, lalu setelahnya mereka kembali menuju parkiran dan meminta sopir menghantarkan mereka kembali ke hotel.
Selama di dalam perjalanan Rangga tampak diam saja, namun Nazwa masih merasa bingung dengan semua tindakan Rangga, karna sudah cukup lama di dalam mall namun hanya sedikit saja barang ia beli. Mereka pun tiba di hotel dan langsung masuk kedalam kamar masing masing.
"Benar benar pria yang aneh, apa sih yang ada didalam fikiran pak Rangga itu." Nazwa menggerutu kecil setalah masuk kedalam kamarnya, ia kembali mengingat semua kejadian di dalam mall.
"Astaghfirullah hal Azim, kenapa aku jadi kesal begini, ya Allah maafkan aku." ucapnya lagi.
Nazwa pun memutuskan untuk segera membersihkan dirinya, agar terasa segar dan fikirannya kembali jernih. Perjalanan hari ini benar benar membuatnya merasa lelah ditambah lagi dengan tingkah Rangga yang membuatnya merasa jengkel.
Setelah membersihkan dirinya Nazwa segera melaksanakan sholat Ashar, lalu sesudah sholat ia memutuskan untuk merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang sangan empuk itu, dan memejamkan matanya untuk mengusir rasa lelah yang menghampiri dirinya.
***
Anita kembali memeriksa keadaan bayi yang ada di dalam kandungan adik iparnya, ia pun merasa senang karna bayi dalam kandungan Zahwa telah menunjukan perubahan dan keadaannya pun kini semakin membaik.
"Alhamdulillah, kemajuannya sangat pesat, besok kita akan lakukan USG ya, untuk melihat perkembangan bayi kalian." ujar Anita.
"Alhamdlillah, terima kasih kak." jawab Zahwa dan Anton dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Ya sudah kalau gitu kakak pulang dulu ya, telpon kakak kalau kalian betuh sesuatu."
"Iya kak." jawab Anton.
"Za, jangan lupa vitaminnya di minum ya." ujar Anita lagi.
"Iya kak, terima kasih kak." jawab Zahwa dan Anita hanya menjawabnya dengan senyuman, lalu ia pun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1