Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 103


__ADS_3

Sarah, papanya dan juga Rudi akhirnya tiba di kantor polisi, mereka pun bertemu dengan mama Sarah, mamanya segera berhambur kehadapan putrinya itu, dan segera memeluk Sarah dengan air mata yang mengalir.


Mungkin karna tidak bisa tidur semalaman didalam sel, prempuan paru baya itupun terlihat begitu kusam, dibagian matanya terdapat lingkaran hitam yang menandakan bahwa ia kurang tidur semalaman, dan juga terdapat bintik bintik merah dikulitnya akibat gigitan nyamuk.


"Mama.!" panggil Sarah saat melihat mamanya yang segera berlari memeluknya.


"Sarah tolong mama na, tolong mama." air matanya kali ini benar bener adalah air mata penyesalan.


"Duduk dulu ma." jawab Sarah sambil menuntun mamanya itu untuk duduk di bangku ruang besuk.


"Sarah mama tidak mau lagi tidur didalam sana nak, mama mohon tolong mama." pinta mamanya.


Sarah yang begitu sedih dan tidak tega melihat kondisi mamanya saat ini, akhirnya juga ikut menangis, ia terlihat menggengam kedua tangam mamanya itu dengan erat, dan juga memeluk mamanya itu.


"Iya ma Sarah akan berusaha, tapi Sarah tidak bisa berjanji bisa membebaskan mama dari sini, mungkin Sarah hanya bisa mengurangi masa hukuman untuk mama." ucap Sarah dalam tangisnya.


"Tolong nak, mama tidak sanggup berlama lama disini. Tolong temui keluarga pak Gunawan nak, dan minta mereka untuk membebaskan mama." rengeknya lagi.


"Sarah akan carikan pengacara, supaya hukuman mama bisa diringankan. Tapi untuk saat ini rasanya aku belum sanggup ma, untuk menemui keluarga Anton untuk meminta maaf dan meminta mereka meringankan hukuman mama, karna Sarah takut mereka pasti akan mengusir Sarah ma." jelasnya.


"Mama mohon Sarah bantu mama." tangis sesengukan dari ibunya pun membuat Sarah makin sedih.


"Sarah akan usahakan ya ma, tapi maaf Sarah tidak bisa janji ma." jawabnya, dan Sarah kembali memeluk mamanya itu.


***

__ADS_1


Anton yang terlihat hanya duduk menemani istrinya, akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang ICU tempat kamar Zahwa dirawat, mamanya segera menghampirinya dan membawa Anton untuk duduk di kursi yang ada di depan ruang tunggu.


"Nak, mama sudah bawakan makanan untuk mu, kamu makan dulu ya dan beristirahat di kamar khusus kakak mu." ucap mama Melinda kepada Anton.


"Tidak ma, aku tidak lapar." jawab Anton dengan sedikit menggelengkan kepalanya.


"Nak Anton, ibu tau kamu pasti sangat sedih melihat kondisi Zahwa seperti itu nak, tapi kamu juga harus tetap menjaga kondisi kesehatan mu nak, ibu yakin kalau Zahwa tau kondisi mu seperti ini, dia akan semakin sedih dan itu bisa membuat dirinya akan semakin lemah nak." ujar bu Ningsih mencoba membujuk Anton.


Anton pun mengangkat wajahnya saat mendengar ucapan mertuanya dan ia


pun menoleh menatap ibu mertuanya itu.


"Bu, aku minta maaf karna tidak bisa menjaga Zahwa dan anak ku bu, kalau Zahwa sudah sembuh seperti sedia kala, tolong jangan pisahkan kami bu, aku berjanji akan menjaganya lebih baik lagi." ucap Anton yang segera meraih kedua tangan mertuanya dan air matanya jatuh membasahi pipi.


Ia ingat benar bahwa ibu mertuanya itu sempat tidak mengizinkan Zahwa untuk kembali lagi kepadanya dulu, bahkan bisa dikatakan bahwa bu Ningsih sebenarnya tidak begitu menyetujui perjodohan mereka, dan kini Zahwa kembali menderita setelah berada bersamanya.


Anton hanya menganggu mendengarkan ucapan ibu mertuanya itu, kemudia mama Melinda berusaha mengajak Anton menuju kamar khusus Anita, dan disana Anton pun membersihkan dirinya lalu mama Melinda terlihat menyuapi Anton dengan nasi yang telah dibawakannya dari rumah, meski pun Anton merasa apa saja yang masuk kedalam mulutnya terasa hambar, tapi ia harus tetap memakan nasi itu demi kesehatanya juga.


Setelah Anton dan mama Melinda kembali keruangan Zahwa, dokter Anwar dan Anita pun datang bersamaan untuk memeriksakan kondisi Zahwa dan bayinya, mereka segera masuk dan melaksanakan tugas mereka untuk memeriksa kondisi Zahwa.


Cukup lama keduanya ada didalam sana melakukan pemeriksaan, bahkan mereka juga terlihat berdiskusi didalam ruangan itu, hingga akhirnya mereka berdua keluar dan segera menemui Anton dan yang lainnya.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok." tanya Anton, yang sekaligus dapat mewakili pertanyaan yang lainnya.


"Alhamdulilah, untuk keadaan istri anda kini kondisinya semakin membaik, dan bisa dikatakan dia sudah melewati masa kritisnya, hanya saja.." ucapan dokter Anwar pun terhenti, karna tiba tiba Anita menyentuh tangan dokter Anwar, memberikan isyarat kepada dokter untuk tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Hanya apa dok?" tanya Anton yang bingun karna dokter Anwar tak melanjutkan ucapanya, dan Anton pun menoleh ke arah kakaknya mencoba mencari penjelasan dari Anita.


"Dok, silahkan dokter kembali keruangan dokter, biar saya yang akan menjelaskanya kepada adik saya." ujar Anita yang menyuruh dokter Anwar untuk meninggalkan mereka.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu dok." ujar dokter Anwar yang terlihat begitu sopan terhadap Anita yang berperan sebagai kepala rumah sakit di tempatnya bertugas itu.


Anita pun mencoba mengajak Anton untuk duduk, agar bisa menjelaskan kondisi anak dan istrinya itu dengan tenang kepada adik dan orang tuanya.


"Begini An, kondisi bayi kalian sekarang ini sangat lemah, bahkan detak jantunya pun sudah tidak setabil, jika sampai besok Zahwa tidak sadarkan diri, maka kami terpaksa harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi kalian, karna kalau tidak segera di keluarkan kemungkinan bisa membuat nyawa Zahwa yang terancam." Anita menjelaskan dengan sangat pelan terhadap adiknya, karna ia tidak ingin membuat Anton semakin sedih.


"Kenapa bisa seperti itu kak." Anton mengusap wajahnya, dan kini terlihat air mata itu keluar lagi.


"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan keduanya nak.?" tanya bu Ningsih yang juga telah menangis.


"Tidak ada lagi yang bisa dilakukan bu, umumnya bayi di dalam kandungan sangat membutuhkan asupan makanan yang cukup, apa lagi di usia kandingan Zahwa yang sudah mulai memasuki usia 6 bulan. Biasanya sang ibu akan mulai memakan banyak makanan diusia kandungan seperti itu, karna kebutuhan bayi yang juga semakin kuat. Tapi sudah dua hari ini Zahwa tidak bisa memberi asupan yang cukup dan hanya mengandalkan air infus yang masuk, dan itu sangat jauh dari kebutuhan yang diperlukan bayi, apa lagi kondisi ibu yang juga sangat lemah, itu sangat berpengaruh terhadap kondisi bayinya." jelas Anita.


"Lalu apa tidak bisa dilakukan sesuatu An agar bayinya bisa selamat nak." tanya mama Melinda yang juga tampak begitu sedih, karna harapannya menimang bayi Anton seperti akan sia sia.


"Jika bayinya bisa dikeluarkan dalam kondisi sehat, maka ada kemungkinan bayi Zahwa untuk selamat dan tumbuh besar, tapi kemungkinan bayi tumbuh menjadi anak yang sempurna itu hanya 70 persen, karna lahir prematur diusia kandungan 6 bulan bisa saja membuat bayi akan mengalami kebutaan, ketulian, atau malah kelimpuhan, semua itu tergantun kondisi fisik sang anak." jelas Anita lagi.


Mendengar penjelasan Anita, membuat semuanya merasa bersedih, tak terkecuali pak Gunawan dan pak Rahmat. Meski tidak mengeluarkan air mata, namun wajah wajah kesedihan itu jelas tampak terlihat dari keduanya.


"Lalukan saja apa yang bisa dilakukan untuk Zahwa dan anak ku kak, selamatkan keduanya. Jika aku memang harus memiliki anak dengan kebutuhan khusus, aku sudah siap menerimanya, itu lebih baik dari pada aku harus kehilangan salah satu dari mereka." ujar Anton.


Tangis kesedihan pun makin terlihat dari raut wajah bu Ningsih dan mama Melinda, ucapan Anton membuat hati semuanya menjadi sangat pilu, karna tak menyangka bahkan Anton setegar itu dan siap menerima apapun kondisi anaknya asalkan bisa selamat.

__ADS_1


"Baiklah dek, kakak akan berusaha semampu kakak untuk menyelamatkan bayi mu, dan kini hanya mukjizat dari Allah yang bisa membantu kita dan membuat Zahwa segera sadar, agar tidak perlu mengeluarkan bayimu." rasa sedih sangat menusuk dihati Anita, saat memberikan penjelasan kepada adiknya, namun sebagai dokter, dia harus terlihat lebih tegar dari yang lainnya.


__ADS_2