
Di depan pintu utama gedung kantornya, Nazwa tampak berdiri sambil memutar kepalanya kekanan dan kekiri, ia tampak tengah mencari sesuatu ia area parkiran dari tempatnya berdiri.
"Non, sedang mencari sesuatu, atau sedang menunggu seseorang ya?" tanya security yang berjaga di pintu utama.
"Ah, ia pak saya sedang menunggu pak Rangga, sepertinya mobilnya tidak ada di parkiran ya pak, atau mungkin dia belum datang?" jawab Nazwa.
"Sepertinya pak Rangga memang belum datang non, tapu biasanya sebentar lagi juga pasti datang non." jawab Security itu dengan tersenyum. Seisi gedung itu memang sudah tahu tentang hubungan Rangga dan Nazwa.
"Iya, mungkin saja ya pak. Kalu begitu saya permisi masuk dulu pak." jawab Nazwa dengan sedikit tersenyum.
"Iya non." jawab security itu.
Lalu Nazwa pun melangkah masuk dengan hati yang masih begitu gelisah karena menghawatirkan Rangga yang belum juga datang.
***
Sementara itu di kediamanya, Rangga tampak masih lemah, bahkan untuk bangun saja ia merasa masih sulit karena tenaganya yang terasa masih sedikit lemah.
"Nazwa pasti menghawatirkan ku, aku harus menghubunginya." gumam Rangga pelan, sambil berusaha mengangkat tubuhnya untik bangkit dari tidurnya.
"Rangga, kamu sudah bangun?" tanya tante Rita yang tiba tiba membuka pintu kamar Rangga, mencoba untuk melihat keadaan keponakannya itu.
"Iya tante, aku mau kekantor." ujar Rangga sambil membuka selimutnya.
"Apa? Tidak tidak Rangga, kamu masih sakit sayang tante tidak izinkan kamu untuk pergi." ujar tante Rita sedikit kesar kepada Rangga.
"Banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan tante." Rangga mencoba memberi alasan.
"Apa pun alasanya Rangga kamu masih begitu lemah, tante akan meminta mas mu untuk memberitahukan kepada Anton, agar pekerjaan mu ada yang menggantikan." ucap tantenya dengan sedikit kesal.
"Tapi tante.."
"Rangga, kamu harus dengarkan ucapan tante kali ini, tolong sayang ini demi kesehatan dan kebaikan mu." ujar tante Rita dengan begitu lembut, membuat Rangga pun tidak tega untuk membuat tantenya itu terluka dengan sikapnya yang tidak patuh terhadap tantenya itu.
"Baiklah tante." jawab Rangga dengan tersenyum.
"Nah gitu dong, tante siapkan sarapan dulu ya." jawab Tantenya, lalu ia pun keluar dari dalam kamar Rangga.
Rangga terlihat mengambil ponselnya yang ada diatas nakas di samping tempat tidurnya dan mencoba mencari nama kekasih hatinya itu, ia berniat untuk menghubungi Nazwa dan memberitahu bahwa ia baik baik saja.
"Assalam'mualaiku mas." terdengar jawaban Nazwa saat menjawab panggilan telepon dari Rangga dan terdengar begitu lembut.
"Waalaikum salam." jawab Rangga.
"Bagaimana keadaan mas, mas baik baik sajakan? Hari ini aku tidak melihat mas di kantor." tanya Nazwa.
__ADS_1
"Alhamdulullah mas sudah baikan, hanya saja mas masih butuh banyak beristirahat jadi belum bisa masuk kerja hari ini." jawab Rangga mencoba menutupi rasa sakitnya.
"Syukurlah, kalau begitu mas istirahat saja, tidak usah fikirkan masalah pekerjaan." ujar Nazwa.
"Iyaa." jawab Rangga.
Aku hanya ingin berada di dekatmu Nazwa.
Batin Rangga yang tak mambu ia ucapkan secara langsung.
"Assalam mualaikum." ucap Nazwa sambil menutup telponya.
"Waalaikum salam." jawab Rangga.
Entah apa yang ada di dalam fikirannya, namun Rangga terlihat begitu bersedih, ia merasa sangat merindukan Nazwa dan selalu ingin berdekatan dengannya.
Tak lama tante Rita pun kembali terlihat masuk kedalam kamar Rangga, bersama dengan seorang pembantunya yang membawakan nampan berisi sarapan dan juga susu untuk Rangga.
Tante Rita duduk di tepi tempat tudur bersebelahan dengan Rangga yang juga duduk di tepi tempat tidurnya, tante mengambil sarapan Rangga dari pembantunya, dan berniat untuk menyuapi keponakannya itu.
"Biar Rangga sendiri tante." ujar Rangga dengan tersenyum, ia merasa tak enak hati selalu merepotkan tantenya itu.
"Yakin bisa sendiri sayang?" tanya tantenya yang melihat keadaan Rangga masih terlihat pucat dan lemah.
"Baiklah." tante Rita memberikan mangkuk sarapan Rangga yang berisi bubur ayam.
Rangga berusaha menghabiskan sarapannya dengan susah payah, karena apapun yang masuk kedalam mulutnya terasa hambar bagi Rangga. Dan setelah selesai mamakan sarapannya Rangga pun meminun obat yang telah disiapkan oleh tantenya.
"Terima kasih tante." ujar Rangga.
"Sama sama sayang." jawab tante Rita.
"Tante." Rangga berusaha memanggil kembali tante Rita yang terlihat akan keluar dari dalam kamarnya.
"Iya sayang, ada apa?" tanya tante sambil kembali menghampiri Rangga di tempat tidurnya.
"Aku ingin mencari WO untuk persiapan pernikahan ku dengan Nazwa, apakah tante punya teman atau kenalan?" ujar Rangga, ia terlihat berbicara dengan sedikit malu malu, namun karena kondisinya yang masih lemah hingga tak mungkin untuk pergi keluar, jadi ia memilih untuk meminta bantuan kepada tantenya itu.
"Ohh..tentu saja sayang, tante punya teman seorang WO dan tante yakin dia pasti bisa membuat suasana pernikahan mu sangat berkesan." jawab tante rita dengan tersenyum.
"Kalau begitu, bisa aku menemuinya tante?" tanya Rangga lagi.
"Tidak perlu sayang, biar tante yang minta dia kemari ya." jawab tante Rita.
"Terima kasih tante." jawab Rangga dengan senyum kebahagiaan di wajahnya.
__ADS_1
"Sama sama sayang." jawab tante Rita, lalu setelahnya ia pun pergi keluar untuk menghubungi temannya itu.
***
Sementara itu, di tempat kerjanya Nazwa terlihat tidak begitu bersemangat, berkali kali ia terlihat melamun dan melihat ponsenya, berharap mendapatkan pesan dari Rangga, sungguh ia sangat mengkhawatirkan laki laki yang telah membuatnya jatuh hati itu.
"Nazwa." terdengar suara panggilan itu dari Rina.
Nazwa pun menoleh melihat teman yang berusaha mendekatinya itu, sambil memberikan senyuman yang sedikit ia paksakan.
"Ada apa dengan mu Na, apa kamu sedang sakit, kamu tampak sangat tidak bersemangat hari ni Nazwa?" tanya Rina sambil mengamati wajah temanya itu.
"Tidak apa apa Rin, aku hanya mengkhawatirkan mas Rangga." jawab Nazwa.
"Ada apa dengan pak Rangga, Nazwa?" tanya Rina yang terlihat penasaran.
"Sepertinya dia sedang sakit, tapi mas Rangga berusaha menutupinya dari ku. Mas Rangga bilang kalau dia sudah membaik, tapi aku merasa mas Rangga sedang menutupi sesuatu." jawab Nazwa.
"Kita do'a kan saja yang terbaik, dan semoga pak Rangga baik baik saja." jawab Rina.
"Iya Rin." jawab Nazwa.
"Bagaimana kalau kamu pergi saja kerumahnya, di sana kamu bisa pastikan keadaan pak Rangga, jadi kamu tidak akan mengkhawatirkannya lagi Na." ucap Rina memberikan saran kepada Nazwa.
"Kamu benar juga Rin, kenapa tidak kepikiran oleh ku ya." ujar Nazwa.
"Itu biasa terjadi Na, ketika seseorang terlaku khawatir terhadap sesuatu." jawab Rina.
"Kamu benar Rin, terima kasih saran mu Rin." ujar Nazwa dengan sangat senang.
"Sama sama.." jawab Rina dengan bahagia karena merasa berhasil memberikan jalan keluar terbaik kepada teman kerjanya itu.
Saat jam pulang kantor tiba, Rina dan Nazwa tampak keluar bersama, lalu saat mereka telah berada di tempat parkir, Nazwa pun mencoba untuk menghubungi Zahwa untuk meminta izin kepada kakaknya itu.
"Assalam'mualaiku." ucap Zahwa di seberang sana.
"Waalaikum salam. Za, aku izin pulang terlambat ya, mas Rangga sepertinya sedang sakit dan aku berniat untuk menjenguknya di rumah mas Reyhan." ucap Nazwa.
"Ya sudah, kamu hati hati ya, salam untuk tante Rita Na." ujar Zahwa.
"Baik Za, Insya Allah akan aku sampaikan. Assalam mualaikum." jawab Nazwa.
"Waalaikum salam." lalu Zahwa menutup telepon mereka.
Nazwa pun pergi menuju kediaman Rangga dengan dihantarkan oleh Rina, sebelumnya mereka sempat membeli buah dan juga kue untuk ia jadikan buah tangan.
__ADS_1