Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 148


__ADS_3

Satu jam sebelum makan siang, Anton terlihat keluar dari dalam toko kue milik Zahwa, tanpa berpamitan kepada istrinya itu, Anton pergi menuju restoran untuk membeli berbagai macam menu makanan untuk mereka makan bersama. Dan setelah hampir setengah jam, ia kembali ke tempat istrinya berada dengan membawa kantung plastik berisi berbagai menu makan siang.


"Assalam mualaikum." ucap Anton.


"Waalaikum salam." Zahwa pun menoleh melihat suaminya. "Mas?" bola mata Zahwa membulat sempurna saat melihat suaminya, ia terkejut karena melihat kedua tangan Anton yang sudah penuh dengan kantung belanjaannya.


"Mas tadi habis beli menu untuk makan siang, kita makan bersama disini saja ya." ujar Anton sambil menjulurkan barang bawaannya.


Zahwa pun dengan segera mencuci tangannya lalu segera mendekat kepada suaminya dan mengambil semua makanan yang di beli oleh Anton.


"Lin bantu mba dong." pinta Zahwa kepada Lina.


"Ya mba." jawab Lina, lalu dengan segera membasuh tangannya dan membantu Zahwa untuk mempersiapkan makan siang mereka.


"Mas beli ini juga?" tanya Zahwa dengan tersenyum, sambil menunjukan susu untuk ibu hamil kemasan siap minum kepada Anton.


"Iya sayang, tadi mas mampir sebentar ke supermarket." jawab Anton dengan tersenyum, meski tidak terlalu memperhatikan secara detail, namun Anton tahu bahwa Zahwa selalu meminum susu ibu hamil secara rutin untuk menambah nutrisi bayi mereka di dalam kandungan.


"Terima kasih mas." jawab Zahwa, ia tidak menyangka kalau Anton akan seperhatian itu terhadap dirinya.


Bahagia? tentu saja hal itu tengah dirasakan oleh Zahwa, perubahan sikap dari Anton benar benar merubah kehidupan Zahwa saat ini, dari yang awalnya selalu menderita saat baru menjadi istri Anton, tapi kini berubah penuh kebahagiaan, kehangatan dalam rumah tangganya.


Usai mempersiapkan makan siang mereka, Zahwa pun segera mengambilkan makanan untuk suaminya, lalu setelah memberikan makan siang untuk suaminya Anton, Zahwa pun memanggil lima orang karyawanya yang berada di dalam toko itu untuk makan bersama.


Selesai dengan urusan makan mereka, Zahwa dan yang lain pun bergiliran untuk melaksanakan sholat Dzuhur, sedangkan Anton memilih untuk sholat Dzuhur di masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari toko milik Zahwa.


***


Tepat tengah hari, Mobil yang di kendarai oleh Rangga dan juga Reyhan akhirnya tiba di pondok pesantren yang ada di pedesaan milik ayah Nazwa, sebelumnya mereka sempat berhenti untuk membeli berbagai macam buah tangan berupa kue dan juga buah buahan, bahkan mereka juga sempat berhenti untuk makan siang di tempat Anton dan Zahwa pernah singgah, atas petuntuk yang di berikan oleh Nazwa.


Setelah nemarkirkan mobil mereka, Nazwa pun segera keluar dari dalam mobil, lalu diikuti oleh yang lainnya melangkah menuju rumah kediaman orang tua Nazwa yang berada di sekitaran pondok psantren itu.


Nazwa berjalan setengah berlari, saat melihat kedua orang tuanya yang terlihat berada di depan rumah untuk menyambut kedatangan Nazwa dan yang lainnya.


"Assalam mualaikum, abi, umi." ucap Nazwa lalu segera menghampiri kedua orang tuanya, Nazwa mencium tangan abi dan uminya, dan dengan segara memeluk uminya begitu erat.


"Waalaikum salam." jawab kedua orang tuanya. Kerinduan yang sudah mendalam di hati anak dan orang tuannya itu akhirnya bisa terobati, setelah keberangkatannya bersama dengan Zahwa dan juga Anton, Nazwa memang belum pernah pulang ke kampung halamannya itu.

__ADS_1


"Assalam mualaikum." ucap kedua orang tua Reyhan, yang juga di ikuti oleh Rangga dan Reyhan.


"Waalaikum salam." jawab kedua orang tua Nazwa.


Mereka pun saling bersalaman dan memperkenalkan diri, dan setelahnya kedua orang tua Nazwa pun mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumah kediaman mereka.


Tiba di dalam rumah, abi Nazwa mempersilahkan Rangga dan yang lainnya untuk duduk di bentangan karpet yang telah mereka persiapkan untuk menyambut kedatangan Rangga dan keluarganya.


"Ayo silahkan duduk, maaf ya beginilah keadaan rumah Nazwa, sangat sederhana." ujar Abinya.


"Tidak apa apa, terima kasih Ustad." ujar papa Reyhan dengan tersenyum.


"Ini ada sedikit oleh oleh." ujar tante Rita yang terlihat menyerahkan buah tangan mereka kepada ibu Nazwa dengan tersenyum.


"Terima kasih, tidak perlu repot repot begini." jawab umi Nazwa juga dengan tersenyum.


"Tidak, ini tidak seberapa." jawab tante Rita lagi.


Dan tak begitu lama, keluarlah ibu dari Zahwa dengan beberapa orang santri perempuan sambil membawa minuman dan camilan untuk mereka.


"Wak disini?" tanya Nazwa dengan terkejut, lalu menyalami orang tua Zahwa itu.


"Umi yang meminta wak mu kemari, untuk membantu umi." jawab uminya.


"Zahwa menitip salam untuk wak." ujar Nazwa menyampaikan pesan dari kakak sepupunya.


"Waalaikum salam." jawab ibu Zahwa.


"Bagai mana keadaan mereka?" tanya waknya.


"Alhamdulillah semuanya baik wak." jawab Nazwa.


"Alhamdulillah, syukurlah." jawab ibu Zahwa lagi dengan tersenyum.


Setelah selesai menyiapkan camilan, ibu Zahwa kembali masuk, lalu tak berapa lama ia pun keluar kembali bersama suaminya ayah dari Zahwa, yang baru saja selesai melaksanakan sholat. Kedua orang tua Nazwa pun mempersilahkan mereka untuk mencicipi hidangan yang disajikan.


Karena semuanya tampak telah berkumpul, dan juga siap untuk mendengarkan maksud dan tujuan kedatangan mereka, akhirnya papa Reyhan yang menjadi wakil sebagai ganti orang tua Rangga pun, mulai membuka suara untuk menyampaikan niat dan tujuan mereka.

__ADS_1


"Sebelumnya kami memohon maaf, jika kedatangan kami mengganggu dan merepotkan ustad." ujar papa Reyhan.


"Tidak, kami tidak merasa direpotkan, kami merasa senang mendapatkan kunjungan dari kalian semua." jawab abi Nazwa dengan tersenyum.


"Maksud dari kedatangan kami kemari adalah untuk bersilaturahmi, dan mengenal lebih dekat lagi keluarga dari Nazwa." ujar papa Reyhan, dan kedua orang tua Nazwa pun terlihat mengangguk, menanggapi niat baik mereka.


Lalu setelahnya, papa Reyhan pun memperkenalkan dirinya dan juga istrinya yang bersetatus sebagai paman dan bibi dari Rangga, dan sedikit bercerita tentang orang tua Rangga yang telah meninggal dunia.


Usai dengan sedikit ceritanya, papa Reyhan pun mencoba memberikan isyarat kepada Rangga, dengan cara menganggukan kepalanya saat menatap Rangga, meminta agar Rangga untuk berbicara sendiri dan menyampaikan niat dan keinginanya secara langsung kepada kedua orang tua Nazwa.


"Maaf sebelumnya ustad, kedatangan saya kemari dengan membawa kedua paman dan bibi saya, tidak lain juga untuk meminta izin dan restu kepada ustad, karena saya berniat ingin melamar Nazwa untuk menjadi istri saya." ujar Rangga dengan tegas dan penuh keseriusan.


Sontak Nazwa pun merasa terkejut, seketika ia pun mengangkat wajahnya dan menatap Rangga dengan penuh keharuan, ia tak menyangka bahwa Rangga akan langsung melamarnya, karena sepengetahuan Nazwa tujuan mereka hanya untuk saling bersilaturahmi terlebih dahulu.


Setelah mendengarkan ungkapan dari Rangga, abi Nazwa pun segera ikut angkat bicara untuk memberikan jawaban, karena ia tidak ingin membuat Rangga merasa kecewa.


"Apakah nak Rangga sudah siap menerima kekurangan anak saya lahir dan batin?" tanya abi Nazwa.


"Isya allah saya sudah siap lahir dan batin menerima kekurang atau apapun itu dari putri ustad." jawab Rangga lagi dengan tegas. Dan ayah Nazwa pun tersenyum sambil menganggu pelan mendengar jawaban dan keseriusan Rangga, ia merasa bahwa Rangga benar benar tulus dengan niatnya itu.


"Nazwa! Bagaimana dengan mu nak, apakah kamu sudah siap menerima kekurangan nak Rangga." tanya abinya kepada Nazwa.


Nazwa pun menundukan wajahnya karena malu saat ditanya oleh abinya, namun Nazwa tetap memberikan jawaban yang membuat Rangga merasa bahagia.


"Insya allah abi, insya allah Nazwa juga sudah siap menerima mas Rangga lahir dan batin." jawab Nazwa. Abinya pun kembali mengannguk mendengarkan jawaban putrinya itu.


"Kalau begitu tidak ada masalah lagi, saya sebagai orang tua akan memberikan restu kepada siapapun laki laki yang datang melamar anak saya, jika laki laki itu juga di inginkan oleh putri saya, hanya saja saya ingin berpesan kepada mu nak Rangga." ujar abi Rangga masih menggantung, matanya pun menatap wajah Rangga yang juga tampak serius memperhatikan perkataan calon mertuanya.


"Nikahilah putriku sebagai istri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu ditutut bertanggung jawab atasnya. Dengannya dan bersamanyalah kamu beribadah kepada Allah. Bimbing istri mu menuju syurganya, agar berkah rumah tangga kalian." ujar abinya kepada Rangga, kali ini Rangga yang terlihat mengangguk mengerti dengan apa yang di sampaikan oleh abi Nazwa. Dan Reyhan juga terlihat antusias mendengarkan nasegat yang di katakan oleh orang tua Nazwa itu.


"Insya allah saya mengerti ustad, dan saya akan mengingat, juga menjalankan apa yang ustad katakan." jawab Rangga.


"Alhamdulillah." jawab abinya dengan kembali mengangguk.


Setelah mendapatkan restu dari kedua orang tua Nazwa, Rangga terlihat mengeluarkan kotak kecil berwarna merah berbentuk hati dari dalam kantong celananya. Lalu ia pun meminta tante Rita untuk menyematkan cincin itu ke jari manis Nazwa, karena Rangga belum bisa menyentuh Nazwa yang belum menjadi mahromnya.


Melihat benda kecil namun sangat berharga itu, Nazwa pun kembali merasa terkejut, karena lagi lagi ia sama sekali tidak mengetahui kapan Rangga membeli cincin itu. Usai tante Rita memakaikan cincin, Rangga terlihat kembali berbibaca kepada kedua orang tua Nazwa juga paman dan bibinya, ia menyampaikan keinginannya untuk segera menikahi Nazwa satu bulan kedepan.

__ADS_1


Mereka semua pun setuju dengan niat Rangga, agar tidak menimbulkan dosa dan juga fitnah, apa lagi Rangga dan Nazwa berkerja di tempat yang sama. Bukankah niat baik juga memang harus segera dilaksanakan.😊


__ADS_2