Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 152


__ADS_3

Hanya butuh tiga hari, Reyhan pun mampu menyelesaikan desain toko kue milik Zahwa dan juga desain rumah untuk di kampung Nazwa, terkadang Reyhan pun mengerjakan desain itu sampai larut malam agar segera selesai. Dan setelah meyakini bahwa hasil desainnya itu cukup bagus, Reyhan pun segera menemui Anton untuk memberikan gambar desain toko untuk istrinya itu.


"Wah ini keren sekali Rey, Aku tahu kamu pasti bisa." ucap Anton dengan tersenyum, ia begitu senang melihat gambar desain yang diberika oleh Reyhan karena sangat indah menurutnya.


"Tidak perlu memuji ku." jawab Reyhan yang sedang bersandaran di sofa didalam ruangan Anton, wajahnya tampak kusut karena kurang tidur.


"Kalau begitu aku akan menghubungi kontraktor untuk segera merenovasi toko Zahwa, aku yakin dia pasti suka dengan desain ini." ujar Anton.


"Hmm lakukanlah." jawab Reyhan, lalu ia pun memberingkan tubuhnya diatas sofa, lalu dalam hitungan detik ia pun mulai terlelap.


Sepertinya dia lelah sekali. Fikir Anton saat menatap wajah sahabatnya itu, ia pun membiarkan Reyhan untuk beristirahat, sementara ia menghubungi seorang kontraktor dan memintanya untuk datang ke kantornya, sambil menunggu kedatangan seorang kontraktor yang sudah lama ia kenal, Anton pun kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Kurang dari satu jam menunggu akhirnya kontraktor itu pun datang, dan saat memasuki ruangan Anton, wajahnya tampak sedikit bingung karena melihat Reyhan yang tertidur pulas di ruangan kerja Anton.


"Selamat siang pak Anton." sapanya.


"Selamat siang juga pak, silahkan kita duduk disini saja." Anton pun mengajak untuk duduk di kursi kerjanya, karena tidak memungkinkan duduk disofanya yang di tiduri Reyhan.


"Bukankah dia pak Reyhan, ada apa dengannya." tanya kontraktor itu, yang memang mengenali Reyhan juga sebagai sahabat Anton.


"Iya pak benar, dia sedang kelelahan karena saya memintanya untuk menbuat sebuah desain toko." jawab Anton.


"Oh..begitu. Ngomong ngomong, ada apa bapak meminta saya kemari?" tanya kontraktor itu dengan tersenyum.


"Begini pak, saya ingin merenovasi toko kue milik istri saya, dan ini desainnya yang sudah dibuatkan oleh Reyhan." jawab Anton sambil menyodorkan lembaran gambar desain.


"Wah ini cantik sekali, kalau sudah jadi saya yakin tempat ini akan kelihatan elegan." puji kontraktor itu.


"Itulah sebabnya saya meminta dia untuk mendesainnya." jawab Anton dengan senyum di wajahnya.


"Kapan rencananya saya harus memulai pekerjaan ini pak Anton?" tanyanya lagi.


"Secepatnya, saya ingin secepatnya bapak mengerjakannya, karena saya ingin secepatnya juga memberikan kejutan kepada istri saya." jawab Anton.


"Baiklah, kalau begitu besok saya akan mulai mengerjakannya." jawab kontraktor itu.


"Oke baiklah pak, saya akan segera memberitahu karyawan yang bekerja di toko istri saya." jawab Anton.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu." ia pun bangkit dari kursinya dan menyalami Anton.


"Terima kasih pak, saya tungga hasilnya." ucap Anton.


"Sama sama pak Anton, saya pastikan akan selesai secepatnya." jawabnya dengan tersenyum, lalu setelah itu ia pun keluar dari dalam ruangan kerja Anton.


Anton kembali melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu jam istirahat tiba, dan saat jam makan siang tiba, ia pun berusaha untuk membangunkan Reyhan.


"Rey, rey, bangunlah." ucap Anton sambil sedikit mengguncang lengan Reyhan.


"Hmm." Reyhan pun sedikit membuka matanya, dan saat melihat wajah Anton, secepat kilat ia bangkit dari pembaringannya.


"Aku masih disini?" tanya Reyhan, dan Anton menjawab sambil menganggukan kepalanya, lalu senyuman pun terlihat nampak dibibirnya karena merasa lucu dengan tingkah Reyhan.


"Mau makan siang diluar?" tanya Anton menawari sahabatnya.


"Ah tidak perlu, aku belum mandi, aku mau pulang saja." jawab Reyhan.


"Baiklah, kalau begitu aku juga pulang saja." jawab Anton, lalu kembali ke meja kerjanya untuk mengambil tas.

__ADS_1


"Aku pulang." Reyhan berpamitan sambil melangkah keluar dengan kondisinya yang masih berantakan dan sedikit lesu karena bangun tidur. Sedangkan Anton terlihat merapikan meja kerjanya sebelum pulang.


Saat sedang berjalan ingin menuju pintu utama gedung itu, tanpa sengaja Reyhan pun bertemu dengan Rangga dan Nazwa yang tapak ingin keluar juga dari sana.


"Mas Reyhan." panggil Rangga, ia sedikit bingung melihat penampilan kakaknya itu.


"Rangga, Nazwa." Reyhan balik menyapa mereka dengan senyuman.


"Mas kenapa kemari? Penampilan mas juga berantakan sekali, mas baru bangun tidur?" tanya Rangga yang kebingungan.


"Mas habis bertemu dengan Anton, dan tadi mas ketiduran di ruangannya." jawan Reyhan.


"Ohh." jawab Rangga mengerti.


"Kalian mau kemana, mau makan siang diluar ya?" tanya Reyhan kepada Rangga dan Nazwa. Dan tak lama Anton pun muncul dihadapan mereka, bahkan ia ikut berkumpul melihat Reyhan masih disana.


"Iya mas, rencananya kita juga mau mencari baju pengantin untuk persiapan pernikahan, kebetulan sudah tidak ada pekerjaan lagi, tapi kita sendiri masih bingun mau cari dimana yang bagus." jawab Rangga.


"Ohh..kalau begitu kalian ke butik Sarah saja, mingkin dia bisa membantu kalian." jawab Reyhan.


"Sarah?" tanya Rangga sedikit bingung, karena tidak mengenal nama yang disebutkan kakaknya itu.


"Iya Sarah, mantan..." belum juga selesai Reyhan melanjutkan ucapannya, tiba tiba ia menghentikan kata katanya, karena meliht wajah Anton yang sepertinya kesal saat Reyhan mengatakan mantan. "Maksud ku teman kuliah mas dulu." sambung Reyhan mengalihkan pembicaraan, karena tidak mau membuat Anton kesal.


"Iy mas, aku mengenalinya." jawab Nazwa yang juga menyadari bahwa kakak iparnya itu seperti tidak suka mendengar nama Sarah.


"Nah baguslah, aku akan kirim alamat butiknya nanti dengan kalian." jawab Reyhan.


"Baiklah mas, nanti kami akan coba kesana." jawab Nazwa dengan tersenyum.


Usai Reyhan berbicara kepada adik sepupunya itu, Rangga pun meminta izin kepada Anton untuk pergi keluar bersama Nazwa, dan setelah Anton memberikan izin mereka pun membubarkan diri, lalu pergi menuju arah tujuan mereka masing masing.


"Ini tempatna?" tanya Rangga kepada Nazwa.


"Sepertinya benar mas." jawab Nazwa.


"Dari alamat yang di berikan mas Reyhan sih benar." ucap Rangga.


"Kalau begitu ayo kita masuk dulu, dan tanya kepada pegawainya disana." jawab Nazwa lagi.


"Baiklah, ayo kita turun jawab Rangga." sambil membuka pintu mobil.


Mereka pun segera turun bersamaan dari dalam mobil, lalu melangkah menuju butik dan masuk kedalam.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu penjaga toko.


"Kami ingin membuat gaun pernikahan, bisa kami bertemu dengan ibu Sarah?" tanya Nazwa.


"Oh, baiklah, silahkan tunggu sebentar saya akan memanggilak beliau." ucap pegawai itu sambil mempersilahkan Rangga dan Nazwa duduk di sofa.


Ia pun melangkah menuju ruangan Sarah, sedangkan Rangga dan Nazwa terlihat duduk disofa yang ada diruang tunggu itu.


Tok tok tok...


"Masuk." jawab Sarah.


"Maaf mengganggu buk, ada tamu yang ingin bertemu, mereka bilang ingin membuat gaun untuk pernikahan." ucap pegawai Sarah.

__ADS_1


"Baiklah, mereka ada diluar?" tanya Sarah.


"Iya bu." jawab pegawainya itu.


Sarah pun bangkit dari kursinya dan melangkah keluar bersama pegawainya untuk menemui tamu yang dimaksudkan.


"Nazwa" Sarah sedikit terkejut melihat siapa tamunya, ia pub melemparkan senyuman lalu segera mendekat dan memeluk Nazwa. Ini pertemuan keduanya dengan Nazwa, namun Sarah tentu saja sudah mengenalinya, apa lagi bentuk wajah Nazwa dan Zahwa yang tidak jauh berbeda.


"Mba Sarah." jawab Nazwa.


"Apa kabar?" tanya Sarah.


"Alhamdulillah baik." jawab Nazwa.


"Bagaimana keadaan Zahwa." tanya Sarah lagi.


"Alhmdulillah mereka juga baik baik saja." jawab Nazwa.


"Syukurlah, oh ya ngomong ngomong apakah itu kamu yang ingin membuat baju gaun pernikahan?" tanya Sarah, yang melihat memang tidak ada orang lain selain Nazwa dan Rangga.


"Benar mba. Ini mas Rangga, calon suami ku." jawab Nazwa memperkenalkan Rangga kepada Sarah sambil tersipu malu.


"Wah selamat ya, kalian terlihat serasi sekali." jawab Sarah.


"Terima kasih mba." jawab Nazwa.


"Oh ya, rencananya pernikahan kalian mau bernuansa apa ni, dan kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Sarah.


"Rencananya beberapa minggu lagi mba, dan aku cuma ingin pernikahan bernuansa putih saja." jawab Nazwa sambil melihat kearah Rangga, dan Rangga pun tersenyum melihat Nazwa.


"Wah gak lama lagi dong, kalau begitu kita masuk kedalam saja ya, biar lebih enak ngobrolnya." ajak Sarah, lalu ia pun melangkah masuk dengan disusul oleh Nazwa dan Rangga.


Tidak perlu memakan waktu lama, akhirnya Sarah dapat menyimpulkan gaun yang cocok dengan nuansa pernikahan keinginan Nazwa dan Rangga, pesta yang akan bernuansa putih yang melambangankan kesucian, namun tetap ingin terlihat sederhana.


"Kalau begitu kami permisi dulu mba Sarah." ucap Nazwa berpamitan.


"Iya Nazwa, aku janji dalam waktu dua minggu baju pengantin kalian berdua pasti selesai." jawab Sarah dengan tersenyum manis.


"Terima kasih mba." jawab Nazwa, lalu ia pun menyalami Sarah dan mereka pun pergi meninggalkan butik milik Sarah.


Rangga dan Nazwa kembali menuju kantor, karena memang belum waktunya jam pulang, jadi mereka memilih untuk kembali saja ke kantor.


"Besok mas akan cari Wedding organizer, kamu mau ikut?" tanya Rangga sambil menoleh melihat Nazwa, saat mereka masih dalam perjalanan menuju kantor.


"Boleh." jawab Nazwa ia pun menoleh menatap Rangga, namun saat mengamati wajah calon suaminya itu Nazwa sedikit terkejut melihat Rangga yang terlihat pucat.


"Mas Rangga, mas baik baik saja?" tanya Nazwa.


"Iya, mas baik baik saja, ada apa Nazwa?" tanya Rangga yang bingun dengan pertanyaan Nazwa.


"Mas terlihat pucat sekali, sebaiknya kita pulang saja mas, tidak perlu kekantor lagi." ucap Nazwa khawatir.


"Mas hanya kelelahan, mungkin karena kurang tidur, sudah tidak perlu khawatir." jawab Rangga.


"Tapi mas.."


"Sudah tidak apa apa, nanti malam mas akan tidur lebih awal, agar besok kelihatan segar." jawab Rangga dengan tersenyum.

__ADS_1


Nazwa pun menganggukan kepalanya mendengar jawaban Rangga, namun dihatinya masih merasa khawatir, karena mengingat Rangga yang pernah pingsan karena kelelahan.


__ADS_2