
Anton tidak bisa tidur semalaman, ia mencoba memejamkan matanya namun bayangan wajah Zahwa selalu datang dan menghantuinya. Pagi hari, ia terlihat sudah mengemudikan mobilnya menuju toko milik Zahwa, di sana Lina dan teman temannya yang sedang bersih bersih merasa terkejut dengan kedatangan Anton yang pagi sekali.
Anton pun keluar dari mobil dan mendekat ke arah Lina. Perempuan ini yang paling dekat dengan Zahwa fikirnya, jadi ia pasti tahu dimana keberadaan Zahwa.
"Bisa aku berbicara dengan mu Lin.?" tanya Anton saat mendekati semua karyawan yang tadinya terlihat berkumpun menjadi satu saat melihat kedatangannya.
"Baik pak." ucap Lina, lalu memberi aba aba kepada yang lain agar menyingkir dan masuk kedalam toko.
"Lin, kamu adalah salah satu orang yang paling dekat dengan Zahwa, jadi kamu pasti tahu dimana keberadaan istri ku itu.?" tanya Anton, ia sedikit bebicara dengan tegas, agar Lina bisa melihat bahwa ia sedang berbicara dengan serius.
"Kemarin sore mbak Zahwa memang menghubungi saya pak, dia bilang ingin pulang kampung dalam waktu yang tidak ditentukan, jadi dia meminta saya untuk menjaga toko ini." Lina berbicara dengan sedikit rasa takut, karna melihat keadaan Anton yang berantakan, jadi ia merasa bahwa laki laki itu akan melakukan apa pun jika ia salah berbicara.
"Apa kamu tahu dimana kampung tempat orang tuannya.?" tanya Anton lagi.
"Mbak Zahwa memang sering menyebut nama kampungnya pak, namun saya tidak mengetahui alamat jelas rumah orang tua mbak Zahwa pak." jelas Lina.
Anton terlihat makin prustasi mendengar ucapan Lina, ia pun pergi meninggalkan perempuan itu tanpa berpamitan, namun Lina memakluminya karna tahu bahwa sekarang Anton sedang merasa terguncang atas kepergian Zahwa.
Anton pun melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Ia berfikir bahwa harapan satu satunya adalah papanya, karna pak Gunawan tidak mungkin tidak mengetahui keberadaan rumah orang tua Zahwa, bahkan papanya lah yang telah menghantarkan istrinya itu untuk pulang ke rumahnya.
Saat tiba di rumah orang tuanya, Anton segera berlari memasuki rumah dan berteriak mencari keberadaan papanya.
"Pa, papa, pa dimana pa.?." teriak Anton sambil mondar mandir mencari keberadaan papanya.
"Papa mu tidak ada nak." sahut sang mama yang terlihat mendekati putranya itu.
"Dimana ma, apa papa sudah berangkat ke kantor.?" tanya Anton lagi.
__ADS_1
"Papamu sudah berangkat kebandara pagi sekali, ada perkerjaan yang harus ia selesaikan nak, dan papa akan kembali lagi dalam waktu satu minggu." ucap mamanya.
Anton pun terlihat mulai menangis lagi mendengar ucapan mamanya, harapan satu satunya itu pun kini sudah pupus, Anton berusaha menghubungi papanya untuk meminta alamat rumah orang tua Zahwa, namun papanya sama sekali tidak merespon panggilan atau chat dari Anton.
Mamanya pun ikut sedih melihat keadaan putranya itu, namun ia juga tidak bisa berbuat apa apa. Ia membantu Anton untuk berjalan menuju kamarnya dan menyuruh Anton agar membersihkan tubuhnya.
"Nak bersabarlah, ibu yakin Zahwa akan kembali kepada mu, sekarang kamu harus renungi semua kesalahan yang telah kamu lakukan kepadanya, jadi kan semua ini sebagai pembelajaran untukmu dan meminta maaflah ke pada allah atas semua perbuatan mu itu, memohon padanya agar kau dan Zahwa kembali di persatukan." mama Melinda beruhasa menasehati Anaknya itu, lalu membiarkan Anton berada dikamarnya sendiri.
Setelah keluar dari dalam kamar dan kembali menutup pintu kamar Anton, air mata mama Melinda pun kembali berderai, ia merasa tidak sanggup melihat keadaan Anton, baru di tinggal Zahwa dalam waktu sehari ia sudah terlihat tidak berdaya. Bagaimana mungkin jika harus menunggu papanya kembali setelah satu minggu.
Sebenarnya kepergian papanya hanyalah sebuah alasan, karna ia ingin agar Anton menyadari kesalhannya dan tidak lagi menyakiti Zahwa.
***
Siang ini adalah jadwal keberangkatan Reyhan ke Amerika, namun karna peristiwa kemarin ia merasa tidak tenang untuk pergi sebelum menemui Anton dan mengetahui bagaimana kondisi rumah tangga sahabatnya itu.
Reyhan langsung menuju ruangan Anita, setelah sebelumnya ia menelpon dan menanyakan keberadaan perempuan tersebut.
Tok, tok, tok..
"Masuk." terdengar jawaban dari dalam ruangan itu.
"Assalamualaikum kak." ucap Reyhan setelah ia membuka pintu dan melihat keberadaan Anita di dalam ruangannya itu.
"Waalaikum salam, masuk Rey." ucap Anita. Dan Reyhan pun berjalan masuk mendekati Anita dan duduk di atas kursi yang ada di hadapan tempat duduk Anita.
"Bagaimana keadaan Anton kak.?" tanya Reyhan setelah mendudukkan tubuhnya di kursi.
__ADS_1
"Ya begitu lah, dia terlihat syok berat atas kepergian Zahwa." jelas Anita.
"Zahwa pergi, ke mana kak.?" Reyhan pun terlihat terkejut mendengar ucapan Anita.
"Hmm, ia ingin menenangkan dirinya di rumah orang tuanya untuk sementara waktu." ucap Anita menjelaskan lagi.
"Kak, maaf kan aku karna ulahku yang tidak bisa menjaga ucapan, akhirnya jadi begini." Reyhan terlihat sangat menyesal.
"Sudah lah Rey, mungkin kejadian ini memang seharusnya terjadi, agar Anton pun bisa menyadari kesalahannya, dan juga menyadari cintanya terhadap Zahwa, kita ambil hikmahnya saja ya atas kejadian ini." Anita berusaha menenangkan hati Reyhan, sebab ia tahu bahwa Reyhan akan merasa bersalah sekali atas kejadian ini.
"Lalu bagaimana dengan rumah tangga mereka kak.?" tanyanya lagi.
"Zahwa tidak mungkin akan bertindak ceroboh Rey, aku yakin ia pasti akan memaafkan Anton." ucap Anita, ia sangat yakin adik iparnya itu pasti tidak akan mengambil langkah dan keputusan yang salah.
Setelah berbicara panjang lebar, Reyhan pun berpamitan ke pada Anita karna ia akan segera berangkat ke Amerika, Anita berusaha untuk menghilangkan kekhawatiran yang ada di hati Reyhan, karna ia tidak mau Reyhan pergi dengan masih menyimpan beban atas kekacauan rumah tangga Anton dan Zahwa. Anita meyakinkan Reyhan bahwa rumah tangga Anton pasti akan membaik, dan Zahwa pasti akan segera pulang ke rumahnya. Mereka hanya ingin membuat Anton menyadari semua kesalahannya.
***
Di sebuah kampung, setelah melakukan perjalan selama tiga jam, akhirnya Zahwa dan ayahnya tiba di sebuah pondok pesantren milik pamanya. Zahwa di sambut oleh bibik dan juga sepupunya, mereka sangat senang dengan kedatangan Zahwa yang memang sudah sangat lama tidak berjumpa dengan mereka.
"Assalamualaikum Bik." ucap Zahwa lalu menyalami dan memeluk bibiknya itu.
"Waalaikum salam." Jawab sang bibik dan sepupunya bersamaan, ia pun membalas pelukan Zahwa dengan erat.
"Naz," panggil Zahwa kepada sepupunya dan mereka pun terlihat saling berpelukan.
Nazwa adalah sepupu Zahwa, anak dari paman dan bibiknya itu, mereka berdua seumuran hanya selisih beberapa bulan, sehingga terlihat seperti saudara kembar apa lagi didukung oleh wajah mereka yang sekilas memang terlihat sangat mirip.
__ADS_1
"Ayo masuk." Ajak bibiknya mempersilahkan Zahwa dan ayahnya untuk masuk. Dan mereka pun masuk ke dalam sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana namun begitu terlihat indah dan terasa sangat sejuk.