
Saat tiba di rumah sakit, Rangga segera dilarikan ke ruang UGD untuk mendapatkan tindakan, sementara itu terlihat Nazwa dan tante Rita menunggu di ruang tunggu.
Kepanikan tampak jelas terlihat di wajah mereka, bahkan tante Rita terlihat menangis di dalam rangkulan Nazwa yang berusaha menenangkannya.
"Bu, sebaiknya ibu menghubungi bapak dan den Reyhan dulu." ujar sopir yang ikut menghantar Rangga.
"Iya, saya lupa." ucap tante dalam tangisannya, karena panik membuatnya lupa untuk menghubungi suaminya dan juga Reyhan yang tengah berada di kantor papanya.
Tante Rita meminjam ponsel milik Nazwa, karena ia lupa untuk membawa ponselnya, lalu tante Rita pun segera menghubungi suaminya dan memberitahu keadaan Rangga.
Setelah tante Rita selesai menghubungi suaminya, dokter yang menangani Rangga pun keluar dari ruang UGD.
"Dok, bagaimana keadaan Rangga dok?" tanya tante Rita yang segera bangkit dan menghampiri dokter itu saat melihatnya keluar dari ruang UGD.
"Rangga akan segera di pindahkan keruang ICU, nyonya tolong ikut keruangan saya dulu." ujar dokter itu kepada tante Rita.
"Baik dok." jawab tante Rita.
"Nazwa, tolong temani Rangga, tante akan segera kembali menemui mu." ujar tante Rita.
"Iya tante." jawab Nazwa.
Tante Rita segera menemui dokter di ruangnya, sementara itu Nazwa tampak kembali melinangkan air mata saat Rangga keluar dari ruangan UGD menuju ruangan ICU tidak sadarkan diri.
"Mas, bagun mas, mas Rangga kenapa?" ucap Nazwa saat brankar Rangga akan segera masuk keruang ICU.
"Nona, sebaiknya tidak mengganggu pasian dulu ya." ujar perawat yang membawa Rangga, ia berbicara dengan begitu lembut karena mengerti akan perasaan Nazwa.
Rangga pun di bawa masuk kedalam, dan setelah memasangkan monitor dan berbagai alat lainnya untuk memantau keadaan Rangga, perawat perawat itu pun keluar dari ruangan Rangga.
"Suster, sebenarnya apa yang terjadi kepada mas Rangga?" tanya Nazwa yang mencoba mencari informasi.
__ADS_1
"Maaf nona, sebaiknya nona tanyakan saja kepada dokter ya." jawab perawat itu dengan tersenyum. Perawat itu tidak ingin memberikan informasi yang mungkin saja salah, itulah sebabnya ia memberitahu Nazwa untuk bertanya langsung kepada dokter yang menangani Rangga.
Perawat itu pun pergi setelah memberi penjelasan kepada Nazwa, dan tidak berselang lama terlihat Reyhan pun datang bersama dengan papanya.
"Nazwa, apa yang terjadi?" tanya Reyhan yang segera menghampiri Nazwa, namun karena tidak mengetahui apa apa Nazwa yang tengah berlinang air matapun hanya terlihan menggelengkan kepalanya pelan.
Karena tidak mendapat jawaban dari Nazwa, Reyhan pun mencoba melihat Rangga melaui kaca ruangan itu.
"Dimana mama mu?" ucap papa Reyhan mencoba mencari istriny yang tampak tidak ada di sekita ruangan itu.
"Tante sedang menemui dokter di ruangannya." jawab Nazwa pelan.
Dan tidak begitu lama, akhirnya tante Rita pun datang menuju ruangan ICU setelah dirinya selesai berbicara kepada dokter.
"Mah, apa kata dokter, bagaimana keadaan Rangga ma?" tanya suaminya yang segera menghampiri istrinya, ia pun merangkul tante Rita dan mambawanya duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan ICU.
"Pah, Rangga pa." ucap tante Rita dengan menangis.
"Tante, ada apa sebenarnya?" Nazwa pun terdengar ikut berbicara mencoba mencari tahu tentang keadaan calon suaminya itu.
Tante Rita pun memalingkan wajahnya saat mendengar suara Nazwa, dan air mata kesedihan pun tampak berlinang lebih desar saat tante melihan wajah kesedihan Nazwa. Tante Rita tampak tidak tega untuk memberitahu keadaan Rangga kepada Nazwa, namun bagaimana pun Nazwa harus mengetahui segalanya.
Tante Rita pun terlihat membelai wajah Nazwa, dan dalam kesedihannya ia memaksakan dirinya untuk memberikan senyuman kepada Nazwa, mencoba untuk memberikan ketenangan kepada Nazwa.
"Dokter bilang kondisi Rangga sudah sangat buruk, dokter akan segera melakukan operasi jantung untuk Rangga, tapi dokter tidak bisa menjamin untuk kesalamatan Rangga." jawab Tante Rita.
Mendengar ucapat tante Rita, membuat Nazwa seperti tersambar petir di siang hari, ia pun mencoba meminta penjelasan yang lebih jelas kepada tante Rita, karena ia masih tidak mengerti atas apa yang terjadi kepada calon suaminya itu.
"Tante tolong beri aku penjelasan yang lebih jelas, ada apa ini, kenapa dengan mas Rangga, sebenarnya mas Rangga sakit apa tante?" tanya Nazwa bertubi tubi, ia sungguh sudah tidak dapat mengontrol dirinya.
"Nazwa tolong tenangkan dirimu." ucap Reyhan, ia pun mencoba untuk membujuk Nazwa dan membantu Nazwa untuk duduk disamping mamanya.
__ADS_1
"Mas Reyhan, tolong beritahu aku, apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Rangga?" tanya Nazwa lagi kepada calon kakak iparnya itu.
"Tante akan beritahu kamu sayang, tapi sebelumnya tolong tenangkan dirimu ya." jawab tante Rita yang mulai kembali bicara, karena merasa kasihan terhadap Nazwa yang menangis tiada henti.
Nazwa pun mencoba menenangkan dirinya, mengontrol emosinya, lalu terlihat mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, ia terlihat tampak dudik lebih tenang menunggu tante Rita dan yang lainnya memberikan penjelasan kepadanya.
Reyhan terlihat duduk disamping Nazwa sedangkan papanya berdiri di dekat istrinya, dari raut wajah papanya tampak kecemasan yang amat sangat.
"Nazwa, sebelumnya tante minta maaf dengan mu sayang, karena tante terkesan menutupi dan tidak pernah meceritakan hal ini kepada mu." ujar tante Rita yang mencoba membuka suaranya.
"Tolong beri aku penjelasan tante, ada apa dengan mas Rangga?" tanya Nazwa lagi namun dengan nada bicara yang lebih renda, karena dirinya yang sudah sedikit lebih tenang.
Tante Rita pun menggenggam tangan Nazwa, lalu membawa tangan gadis cantik itu kedalam pangkuannya. Kehangatan genggaman tangan tante Rita pun dapat dirasakan oleh Nazwa dan dapat membuat dirinya jauh lebih tenang, namun entah mengapa Nazwa juga dapat merasakan tangan tante Rita yang bergetar.
"Nazwa, sebenarnya beberapa tahun belakangan ini Rangga terserang penyakit gagal jantung." ucap tante Rita yang membuat Nazwa sangat merasa terkejut.
"Gangal jantung tante?" tanya Nazwa mengulangi nama penyakit yang di derita oleh Rangga.
Tante Rita terlihat mengambil Nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan, ia pun mengangguk beberapa kali untuk memberikan jawaba kepada Nazwa atas pertanyaannya itu.
"Iya, semua ini berawal dari kecelakaan orang tua Rangga. Akibat kecelakaan yang dialami kedua orang tua Rangga, membuat dirinya jadi sangat syok, Rangga jadi sering menangis, melamun, dan tidak memperhatikan kesehatannya. Dokter bilang tekanan darah Rangga pun sering tidak normal, meskipun ia masih terbilang anak kecil. Hingga akhirnya saat menginjak usia dua puluh tahun, Rangga sering mengeluh kalau dadanya terasa sesak dan nyeri, Rangga juga sangat mudah merasa lelah." ujar tante Rita memberikan penjelasan.
"Om dan tante lalu membawa Rangga ke rumah sakit untuk di periksa, dan dokter pun mengatakan kalau Rangga terkena penyakit gagal jantung." ujar papa Reyhan yang nencoba ikut menjelaskan prihal penyakit Rangga kepada Nazwa.
"Kami selalu berusaha melarang Rangga untuk berkerja di perusahaan Anton, dan memintanya untuk membantu papa Reyhan saja, dengan begitu dia tidak akan berkerja terlalu berat, namun Rangga selalu menolaknya dengan mengatakan kalau dia harus terbiasa hidup mandiri. Akhirnya tante pun meminta Reyhan untuk membujuk Linda agar mau ikut berkerja di perusahaan Anton, dan membantu tante memperhatikan kesehatanya." sambung tante Rita.
"Kenapa mas Rangga tidak pernah mengatakan hal ini kepada ku tante." Nazwa sangat merasa kecewa, bukan karena ia menyesal memiliki seorang kekasih yang mengidap penyakit, namun ia kecewa karena Rangga tidak berterus terang denganya.
"Karena Rangga takut kehilangan mu." jawab Reyhan yang ikut bicara.
"Hari hari Rangga terlihat begitu menyenangkan saat bersama Linda, karena Linda adalah satu satunya perempuan yang dekat dengan Rangga, dia memang menutup diri dari seorang wanita, karena tidak ingin membuat orang disekitarnya bersedih dan mengkasihaninya. Sebagai seorang kakak sepupu Linda benar benar memperhatikan dan memahami Rangga, itu juga yang membuat Rangga merasa tidak memerlukan seorang perempuan lagi sebagai kekasihnya. Tapi saat Linda memutuskan untuk menikah dan meneruskan kehidupannya, Rangga kembali murung, bahkan dia bersikap sangat cuek dan dingin terhadap semua orang. Namun semua itu berubah saat ia bertemu dengan mu, kamu mampu membuat Rangga tersenyum kembali." jelas tante Rita, ia menggenggam tangan Nazwa dengan lebih erat, namun air mata pun masih terus mengalir dengan jelas dari matanya.
__ADS_1