Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 135


__ADS_3

Nazwa terperanjak dari tidurnya, lalu ia melihat jam yang ada di ponselnya, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tepat pukul dua belas siang, Nazwa keluar dari kamarnya, dan secara bersamaan Rangga pun keluar dari dalam kamarnya.


Rangga melangkah terlebih dahulu dan disusul oleh Nazwa di belakangnya, mereka segera masuk kedalam mobil yang telah disediakan untuk mereka, namun kali ini mereka tidak memakai supir sebagai penghantar mereka, karena Rangga meminta untuk membawa mobil sendiri.


Rangga dan Nazwa menuju sebuah restoran, diamana mereka akan melakukan pertemuan dengan klien lainnya, karena mereka yang memilih datang lebih awal, jadi blum ada klien mereka yang datang.


Rangga dan Nazwa memutuskan untuk pergi ke musholah yang ada di samping restoran, kedatangan mereka bertepatan dengan suara adzan yang sedang berkumandang, hingga mereka memutuskan untuk melaksanakan ibadah terlebih dahulu sebelum makan.


Setelah selesai melaksanakan sholat, Rangga dan Nazwa kembali menuju restoran, lalu Rangga terdengar memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya dan juga Nazwa. Tidak lama berselang, klien Rangga terlihat datang, mereka hanya terlihat berjumblah dua orang dan semua adalah laki laki.


Saat tiba di meja mereka, Rangga terlihat berdiri dan pindah duduk di kursi yang ada di samping Nazwa, jika sebelumnya posisi mereka duduk berhadapan, kini menjadi bersebelahan. Setelah bersalaman dengan kedua klienya itu, ia mempersilahkan mereka untuk duduk, Rangga pun memanggil kembali pelayan restoran untuk menambah menu makanan mereka.


Rangga terlihat mulai berbicara dengan kliennya yang sudah sedikit berumur, sedangkan Nazwa hanya terlihat berdiam diri sambil memperhatikan pembicaraan atasannya itu, tanpa sengaja Rangga melihat kearah staf yang di bawa oleh kliennya, dan ia merasa sedikit aneh, karena staf laki laki itu terlihat menatap Nazwa dengan begitu dalam.


Kecantikan Nazwa memang tidak diragukan lagi, wajah yang terlihat lembut, dengan balutan hijab yang menutupi kepalanya, membuat Nazwa terlihat begitu cantik, wajar saja jika ada seorang lelaki yang melihatnya akan segera menyukainya, tapi hal itu ternyata membuat Rangga tidak nyaman, ia merasa tidak suka jika ada laki laki yang memperhatikan Nazwa seperti itu, apa lagi laki laki itu adalah orang asing.


Rangga yang merasa tidak senang, mencoba mendekat keadah Nazwa, dan ia pun terdengar membisikkan sesuatu kepada stafnya itu.


"Tundukan wajah mu." ujar Rangga.

__ADS_1


Mendengar ucapan Rangga tentu saja membuat Nazwa merasa bingung, ia terlihat menatap wajah Rangga, namun laki laki itu tampak sudah kembali asik berbicara tentang pekerja dengan klienya, dan tanpa sengaja Nazwa menoleh kepada staf laki laki yang ada dihadapannya, Nazwa mencoba untuk bersikap ramah dengan melempat senyuman kepada staf itu, namun karena merasa selalu diperhatikan Nazwa pun menjadi risih, dan tidak nyaman, ia segera menundukan kepalanya. Kini Nazwa pun menyadari untuk apa Rangga memintanya menundukan kepalanya.


Makanan yang dipesan pun tiba, mereka menghentikan sejenak obrolan tentang pekerjaan itu dan memutuskan untuk segera memakan makanan mereka setelah para pelayan meletakan makanan dengan rapi di atas meja.


Saat sedang makan staf itu terlihat masih saja memandangi Nazwa, hingga membuat Nazwa merasa tidak nyaman karena selalu diperhatikan, hal itu ternyata disadari juga oleh Rangga, ia tahu jika Nazwa sedang merasa tidak nyaman saat sedang makan.


Karena makan dalam keadaan yang tidak nyaman Nazwa pun tiba tiba tersedak dan hal itu membuat Rangga terkejud, Rangga segera memberikan Nazwa air putih yang ada di dekatnya, lalu ia juga terdengar berbicara hal yang tidak disangka sangka kepada stefnya itu.


"Sayang, pelan pelan saja." ujar Rangga, dan ucapannya itu membuat Nazwa terkejut.


"Wah, jadi kalian ini sepasang kekasih pak Rangga.?" tanya kliennya yang telah berumur itu, dan Rangga hanya terlihat menjawab dengan tersenyum.


Bukan tampa sebab Rangga tiba tiba berucap begitu, ia tahu bahwa Nazwa tidak nyaman dengan laki laki yang ada dihadapannya, hingga Rangga berinisiatif untuk mengatakan mereka berpacaran, agar laki laki itu berhenti untuk menatap Nazwa.


"Terima kasih pak." jawab Rangga.


Ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Nazwa, ia benar benar merasa bingung dengan ucapan Rangga, namun ia juga merasa senang atas ucapan manajernya itu. Usaha Rangga itu pun membuahkan hasil, staf laki laki itu tidak lagi terlihat memperhatikan Nazwa, setelah ia mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga barusan.


Usai makan mereka melanjutkan kembali obrolan mereka, bahkan kliennya mengajak Rangga untuk melihat lokasi pekerjaan proyek mereka yang hampir selesai.

__ADS_1


Di dalam mobil menuju lokasi, Nazwa terlihat diam saja, ia masih merasakan hal yang aneh didalam dirinya dan itu semua karena ucapan Rangga saat direstoran. Rangga pun menyadari hal itu, ia melihat Nazwa yang tampak melamun, dia tahu sikap Nazwa yang seperti itu pasti karena ucapannya.


Rangga membiarkan saja Nazwa terdiam dengan lamunannya itu, ia tidak ingin membuat Nazwa semakin tidak nyaman saat bersamanya.


Begitu sampai di lokasi, Rangga segera mencari lokadi pasrkir untuk mobilnya, dan setelah memarkirkan mobilnya, Rangga pun berniat untuk turun, namun saat melihat ke arah Nazwa, Rangga menyadari bahwa perempuan itu, masih belum sadar dari lamunanya.


"Nazwa, apa kau ingin berdiam diri disini saja.?" ujar Rangga. Namun anehnya tidak ada respon dari Nazwa.


Rangga pelambaikan tangannya tepat dihadapan wajah Nazwa, mencoba untuk menyadarkan Nazwa dari lamunanya itu.


"Nazwa.!" Rangga memanggilnya dengan sedikit keras.


"Maaf pak." sontak Nazwa merasa terkejut.


"Apa kamu sedang tidur dengan mata terbuka? Sejak tadi aku memanggil mu." tanya Rangga, dan Nazwa pun tertunduk malu.


"Maaf pak, saya melamun." jawab Nazwa.


"Ayo turun kita sudah sampai." ucap Rangga lagi, dan Nazwa pun turun dengan perasaan malu, ia pun berjalan sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Usai berkeliling dan melihat lihat pekerjaan yang hampir selesai, Rangga berpamitan kepada kliennya itu dan mengajak Nazwa untuk segera pergi.


Melihat suasana yang tampak masih cerah, Rangga pun memutuskan untuk pergi kepantai, ia ingin menikmati keidahan lautan disana dengan hamparan pasir putih dipinggirnya, dan juga menikmati indahnya matahari tenggelam.


__ADS_2