
Setelah selesai mempersiapkan semua perlengkapan lamaran, mereka pun bergegas untuk bersiap-siap melaksanakan sholat Magrib, dan setelah sholat Magrib berjama'ah di masjid selesai barulah mereka kembali mempersiapkan diri untuk pergi acara lamaran.
"Rey, kamu pakai baju yang ini ya sayang." Mama Rita memberikan baju kemeja berlengan panjang dan bermotif batik kepada Reyhan, warnanya terlihat begitu soft.
"Aku pakai yang ini saja ma." Jawab Reyhan sambil menunjukan baju kemeja hitam yang ada di tangannya.
"Enggak-enggak yang ini saja sayang, biar senada dengan yang lainnya." Ujar mama Rita.
Reyhan pun terlihat memperhatikan pakaian yang di kenakan oleh mamanya, dan ia pun melihat bahwa warna bajunya memang sama namun pakaian mama Rita terlihat lebih terang warnanya. Reyhan pun mengambil baju yang ada di tangan mamanya dan setuju untuk memakai baju yang di berikan kepadanya itu.
Rangga dan Nazwa masih terlihat memasukan kotak-kotak seserahan yang berisi perlengkapan sholat hingga kue dan juga buah-buahan itu ke dalam bagasi mobil, di bantu oleh Umi dan Abi Nazwa, setelah semuanya selesai mereka pun bersiap untuk pergi.
"Rey, kamu di belakang ya, biar papa yang nyetir." Ujar papa Reyhan.
"Biar Reyhan saja pa." Jawab Reyhan.
"Sudah gak apa-apa, kamu di belakang aja, papa lagi kepengen nyetir ni, kamu juga pasti capek kan, nyetir dari Jakarta ke sini?" Jawab papanya.
"Ya sudah pa." Jawab Reyhan yang memang masih merasa sedikit lelah, dan hanya di balas senyuman oleh papanya.
Mereka semua pun berangkat dan meninggalkan halaman pondok menuju kediaman calon wanita yang akan di pinang.
Mobil terus berjalan menuju desa tetangga, perasaan Reyhan mulai tidak enak karena mengingat jalan itu menuju rumah mertua Aisyah, namun ia masih terlihat cuek dan diam saja, tapi ketika mobil mulai berhenti di halaman rumah yang bulan lalu pernah ia kunjungi hampir setiap hari itu, barulah Reyhan nampak gusar dan mulai berfikir menerka-nerka.
Di dalam hati ia bertanya-tanya siapakah yang akan di lamar? Ataukah mereka hanya sekedar mampir untuk menjemput seseorang dari rumah itu untuk ikut pergi melamar, atau ada hal penting lainnya.
"Ayo turun Rey." Ujar papanya yang terlihat mulai bergegas turun dari mobil. Reyhan masih tampak diam saja.
"Rey, ayo turun sayang." Mama Rita mengejutkan Reyhan yang dilihatnya melamun.
Reyhan pun segera keluar dari dalam mobil, dan saat melihat yang lain telah membawa perlengkapan seserahan, Reyhan baru sadar bahwa mereka telah sampai di tempat yang akan di adakan lamaran. Tapi, lagi-lagi Reyhan berfikir dengan keras, siapakah yang akan dilamar dan siapa yang akan melamar.
Reyhan berfikir Aisyah kah yang akan di lamar? Jika memang benar, itu artinya ia benar-benar harus ikhlas melepaskannya dan menganggap ini sudah takdir bahwa mereka tidak berjodoh. Tapi jika orang lain yang di lamar, maka siapakah orang itu? Karena se pengingat Reyhan, Nadia tidak lagi memiliki adik perempuan atau laki-laki.
Dan Reyhan pun masih menyimpan satu tanda tanya besar, yaitu siapakah yang akan melamar? Karena tidak mungkin si pelamar sudah berada di dalam sana, sedangkan seserahan pun mereka yang membawanya.
"Rey, ayo nak." Ujar mamanya lagi.
Reyhan tersadar dari lamunannya, ia pun menjadi bingung melihat semua orang tampak sedang memperhatikannya dengan tersenyum.
Saat hampir sampai di depan pintu, papa mertua Aisyah nampak keluar dan menyambut mereka dengan senyuman. Di saat itu Reyhan terlihat panik, keringat mulai membasahi keningnya, ia mengingat kembali semua kejadian saat itu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ucap Abi Nazwa yang pertama sekali memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab laki-laki paruh baya yang sudah berdiri di ambang pintu itu dengan senyuman menyambut mereka.
Setelah semua selesai saling bersalaman, kini giliran Reyhan untuk bersalaman kepada kakek Agra muridnya dulu. Karena teringat semua kejadian tempo hari, Reyhan pun merasa ragu, ia terlihat hanya mematung saja, sampai akhirnya papanya kembali menyadarkannya dari lamunan.
"Rey." Papanya memegang bahu Reyhan dan memberikan isyarat agar Reyhan menyalami papa dari Nadia itu.
__ADS_1
Reyhan pun mendekat dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman, dan ketika tangan keduanya sudah saling bersalaman papa Nadia pun melemparkan senyuman kepada Reyhan, lalu ia menggenggam tangan Reyhan dengan kedua tangannya. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya, hanya saling melempar senyuman, namun perasaan Reyhan saat itu sungguh sangat kacau.
Mereka pun di persilahkan masuk, dan duduk di ruang keluarga yang nampak sudah lapang karena tidak ada lagi kursi atau pun sofa yang biasa Reyhan lihat di ruangan itu, hanya terbentang permadani lebar yang sepertinya memang sengaja di siapkan agar semuanya bisa duduk bersama. Di sana juga terlihat Firman dan juga kedua orang tua Aisyah yang menyambut kedatangan mereka.
Beberapa saat kemudian, setelah semua orang berkumpul dan duduk di ruangan itu, Aisyah pun keluar bersama Nadia yang tampak tersenyum berjalan mendekati ruangan tempat semua orang berkumpul. Aisyah nampak mengenakan pakaian yang senada dengan Reyhan, dan juga make up sederhana tapi mampu membuatnya semakin Cantik, Aisyah dan Nadia juga terlihat duduk bersama di sana bersama yang lainya.
Reyhan pun takjub dengan penampilan Aisyah yang ada di hadapannya, jantungnya terasa berdetak lebih kencang dan tidak dapat dikendalikan, tidak bisa di bohongi bahwa ia masih sangat mengharapkan Aisyah, namun saat mengingat kata-kata Aisyah saat itu, maka hilanglah semua harapannya, wajah Reyhan nampak murung, seketika ia langsung menundukkan pandanganya.
Semakin kuatlah dugaan Reyhan bahwa Aisyah lah yang akan dilamar, kini ia benar-benar berusaha untuk ikhlas melepas wanita pujaannya untuk kesekian kalinya. Tapi masih ada satu hal yang menjadi pertanyaan Reyhan, yaitu siapakah pria yang akan melamar Aisyah, karena sedari tadi ia belum melihatnya, dan kenapa pula pikirnya keluarganya harus hadir di acara lamaran Aisyah itu?
Suasana hati Reyhan sudah nampak gerah, ingin rasanya ia pergi, dan tidak perlu menyaksikan acara lamaran yang akan membuatnya terluka itu, namun karena acara sudah akan di mulai dengan percakapan antara papanya dan juga ayah kandung Aisyah yang juga hadir di sana, akhirnya ia memutuskan untuk tetap berada di sana, dan mencari tahu siapakah yang akan melamar Aisyah.
Percakapan papa Reyhan pun sudah panjang lebar dan mengatakan keperluan mereka ke rumah itu, namun Reyhan masih saja berfikir siapa pria yang akan melamar Aisyah karena sampai saat ini tak kunjung datang, sampai akhirnya ia mendengar papanya berucap, bahwa tujuan mereka datang ke rumah itu adalah melamar Aisyah untuk putranya yaitu Reyhan.
Seketika Reyhan terkejut, wajahnya nampak seperti orang yang kebingungan, ia bertanya di dalam hati, apakah papanya tidak salah berbicara? Lalu ia pun bertanya kepada papanya agar ia tidak salah paham dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Maksud papa apa?" Tanya Reyhan dengan terbata-bata.
"Melamar Aisyah, untuk mu Rey. untuk jadi istrimu." Jawab papanya dengan tersenyum.
Reyhan kembali terkejut tidak percaya, kata-kata Aisyah saat itu kembali seakan terdengar di telinganya, sungguh ia tidak ingin kejadian itu terulang untuk kedua kalinya, keluarnya pasti akan malu pikirnya jika Aisyah menolak lamaran dan melakukan hal yang sama di hadapan kedua orang tuanya. Reyhan nampak bangkit dari duduknya, dan ia pun mencoba untuk mengajak papa dan yang lainya pergi dari rumah itu.
"Pa, ma, ayo kita pergi." Ujar Reyhan sambil ingin melangkah menuju pintu. Namun dengan cepat Rangga bangkit dan berusaha mencegahnya.
Sementara itu, yang lain pun tidak kalah terkejut dengan sikap Reyhan, mereka semua bangkit dan ikut berusaha mencegah Reyhan. Namun berbeda dengan papa Nadia dan yang lainnya, mereka sudah tidak heran jika sikap Reyhan seperti itu, karena apa yang pernah di lakukan Aisyah pasti masih membekas di ingatan Reyhan.
Aisyah nampak mendekat dan memeluk Nadia, air matanya nampak keluar mengingat perbuatanya kepada Reyhan saat itu, sungguh ia tahu benar bahwa sikap kasarnya saat itu yang membuat sikap Reyhan jadi seperti saat ini.
"Untuk apa, untuk apa melakukan semua ini, kalian ingin di permalukan, aku mohon jangan permalukan diri kalian. Pa, ma, ayo pergi." Ucap Reyhan lagi, dan matanya pun mulai berkaca-kaca, sungguh ia tidak ingin rasa sakit dan juga malu yang ia rasakan saat itu, akan dirasakan oleh kedua orang tuanya pula hari ini.
Papa Nadia terlihat melangkah dan mendekati Reyhan.
"Nak Reyhan." Ucapnya pelan.
Reyhan pun menatap laki-laki paru baya yang menyebut namanya itu, dan saat papa Nadia semakin mendekat, Reyhan pun memalingkan wajahnya dan menunduk, sungguh ia tidak ingin ada kata kasar yang tidak enak di dengar keluar dari laki-laki yang mendekatinya itu.
"Nak, atas nama keluarga besar ku, aku mohon maafkan aku dan juga menantuku atas sikap kasar Aisyah saat hari itu." Ucap papa Nadia, ia memang lengan Reyhan, dan menariknya pelan agar Reyhan berhadapan dengannya, dan setelah mereka saling menghadap satu sama lain ia pun kembali berbicara.
"Aku tahu, menantuku Aisyah sebenarnya menyukaimu, namu karena rasa hormatnya kepada ku, ia pun menyembunyikan perasaannya, hingga ia sampai berlaku kasar kepada mu saat itu. Sebetulnya sejak kedatangan mu pertama kali ke rumah ini, aku sudah tidak menyukai mu, karena aku melihat Aisyah yang sudah terlihat akrab dengan mu, itu membuatku marah, rasa cinta dan sayang ku terhadap almarhum putraku membuat aku gelap mata dan terlalu mengekang Aisyah, karena aku tidak ingin putra ku kehilangan istrinya, saat ia kembali nanti." Air mata Papa Nadia sudah tidak dapat ia tahan saat mengingat almarhum putranya.
"Tapi, putri ku Nadia berkata benar, aku terlalu memikirkan kebahagiaan keluarga ku, sampai aku tidak sadar bahwa sebenarnya Aisyah sangatlah menderita di rumah ini dan menjadi korban dari keegoisan ku. Sejak saat itu aku berusaha untuk berdamai dengan takdir dan berusaha menerima kenyataan bahwa sebenarnya putra ku sudah tiada di dunia ini." Air mata mulai menangis deras, papa Nadia menundukkan kepalanya sambil menghapus air matanya.
Reyhan yang sejak tadi masih terlihat diam dan mendengarkan ucapan laki-laki yang seumuran dengan papanya itu pun merasa iba, dan juga mulai terlihat berkaca-kaca.
"Terlepas rasa benciku karena kau menyukai Aisyah, sebenarnya aku tidak bisa bohong bahwa sebenarnya aku juga menyukaimu. Kau pria yang baik, kau terlihat bertanggung jawab, kau juga pria yang sopan, aku senang saat kau bersama cucuku dan membuatnya tertawa riang, namun kadang saat aku teringat putra ku, yang juga sangat menyayangi keponakannya ini, aku merasa takut, aku takut kau merenggut kebahagian dari rumah ini." Reyhan sedikit pun masih tidak bergeming, hatinya mulai luluh, alasan pengekangan terhadap Aisyah pun mulai ia ketahui, dan pada intinya papa Nadia hanyalah takut kebahagiannya akan hilang seperti menghilangnya nyawa putranya.
"Tapi hari ini aku tepis semua rasa takut ku itu, aku sadar bahwa putra ku memang sudah tiada, aku akan ikhlaskan Aisyah menantuku untuk mu, kau pria baik dan bertanggung jawab, kamu pasti bisa menjaganya, aku yakin Aisyah juga akan bahagia bersama mu. Aku akan semakin tersiksa dan tidak akan lepas dari rasa takut ku jika terus memaksakan ke inginkan ku ini." Ucap papa Nadia lagi.
Papa Nadia semakin mendekat ke arah Reyhan, ia menepukkan pelan kedua tangannya keatas bahu Reyhan, ia menatap mata Reyhan dengan lekat, lalu meminta maaf kembali kepada Reyhan dan memohon agar Reyhan mau menerima Aisyah, karena ia tahu bahwa Aisyah sebenarnya telah jatuh cinta kepada Reyhan.
__ADS_1
Reyhan yang sebenarnya masih sangat mencintai dan mengharapkan Aisyah itu pun menepis ke egoisan hatinya, menerima permohonan maaf Papa Nadia dan ia pun menerima Aisyah menjadi calon istrinya malam itu.
"Aku mohon kepada mu, maafkanlah aku juga Aisyah. Dan terimalah ia menjadi pendamping hidup mu nak." Ujar papa Nadia.
"Iya, aku sudah memaafkan kalian, dan aku juga akan menerima Aisyah menjadi istriku." Jawab Reyhan dengan hati yang senang namun bercucuran air mata kebahagiaan itu.
"Berjanjilah padaku kau akan membahagiakannya, dan tidak akan pernah meninggalkannya, dia sudah ku anggap seperti putri ku sendiri, aku sangat menyayanginya."
"Aku berjanji, aku akan berusaha membuatnya bahagia, dan menjaganya." Jawab Reyhan.
Semua orang tampak gembira dan senang mendengarnya, mata mereka pun ikut berkaca-kaca menyaksikan percakapan antara Papa Nadia dengan Reyhan, ke dua orang tua Aisyah juga tidak kalah bahagianya, putri yang mereka sayangin itu akhirnya bebas dan akan menjalani kehidupan barunya dengan normal.
Malam itu juga akhirnya langsung di tentukan kapan tanggal pernikahan antara Reyhan dan Aisyah akan di lakukan, dan setelah bermusyawarah, semuanya sepakat bahwa dua hari setelah lamaran akan di lakukan ijab kabul secara sederhana di kediaman Papa Nadia atas permintaannya, setelah kembali ke Jakarta barulah mereka akan melakukan Resepsi besar-besaran di gedung.
* * *
Setelah melakukan ijab kabul, Reyhan yang langsung memboyong Aisyah ke Jakarta ke esokan harinya pun mencoba meminta penjelasan kepada istri dan juga ke dua orang tuanya, karena sampai saat ini, ia masih di buat bingung bagaimana bisa tiba-tiba orang tuanya menyiapkan lamaran tanpa sepengetahuannya, padahal ia pun belum pernah menceritakan perihal Aisyah kepada ke dua orang tuanya, bahkan kepada Rangga dan Nazwa.
Aisyah pun mulai bercerita, diawali dari pertengkaran Nadia dengan papanya, hingga mimpi didatangi Arga mantan suaminya didalam mimpi papanya, dan meminta papanya untuk mengikhlaskan kepergiannya, sampai permohonan maaf papa Nadia kepada dirinya dan juga ke dua orang tuanya, lalu papa Nadia mendatangi Abi Nazwa untuk meminta bantuan mencari Reyhan, karena dia tahu Aisyah masih mengharapkan Reyhan.
Dan setelah Aisyah selesai menceritakan semuanya, mama Reyhan pun ikut menceritakan bagaimana mereka bisa berinisiatif untuk mempersiapkan acara lamaran itu tanpa sepengetahuan Reyhan.
Kejadian-kejadian aneh Reyhan yang sering tidak sengaja di lihat oleh papanya, dan cerita dari Abi Nazwa yang sengaja menelpon untuk memberitahu apa yang di sampaikan oleh papa Nadia, membuat kedua orang tuanya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan penyebab sikap dingin Reyhan sepulang dari kampung Nazwa.
Orang tua Reyhan dan keluarga Aisyah pun akhirnya sepakat untuk mempersiapkan acara lamaran dengan dibantu Rangga dan Nazwa, sementara itu di kampung Nazwa, Ustaz Zakaria yang menjadi perantara dan penyambung lidah antar orang tua Reyhan dan keluarga Aisyah. Tentunya atas persetujuan Aisyah terlebih dahulu.
Diam-diam mama Rita di bantu oleh Nazwa dan juga Rangga membeli perlengkapan lamaran, mulai dari cincin hingga seserahan lainnya, dan berusaha menyembunyikannya dari Reyhan, karena dari awal mereka ingin menjadikan ini semua sebagai kejutan untuk Reyhan, meski awalnya Reyhan seperti tidak menerima cara mereka, namun akhirnya berakhir dengan kebahagian
"Nah jadi begitulah ceritanya Rey." Ujar mama Rita yang sudah panjang lebar bercerita kepada putra kesayangannya itu saat mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Kamu senang Rey?" Tanya papanya. Dan yang ditanya pun tersenyum malu dengan wajar tampak memerah.
"Pa, mah, Reyhan berterima kasih atas semua ini. Reyhan senang pa, Reyhan bahagia ma." Ujar Reyhan dengan tersenyum malu, ia pun merangkul istrinya Aisyah yang duduk disampingnya.
"Rangga, Nazwa, mas juga berterima kasih ya atas kerja keras kalian." Ujar Reyhan.
"Sama-sama mas, sudah seharusnya kita saling tolong menolong." Jawab Rangga. "Oh, ya jadi siapa ni antara kita yang akan berbulan madu di rumah baru?" Tiba-tiba pertanyaan itu dilontarkan Rangga, membuat Nazwa terkejut mendengar ucapan suaminya itu.
"Sepertinya kalian saja deh yang bulan madu di rumah baru itu." Ujar Reyhan.
"Mas serius?" Tanya Rangga tidak percaya, karena dulu mereka saling berebut siapa yang akan terlebih dulu bulan madu di rumah itu.
"Iya, meski pun kalian nanti yang pertama kali bulan madu di rumah itu, tapi mas sudah duluan menempatinya walaupun sendirian." Jawab Reyhan dengan tertawa senang karena merasa menang.
"Mas curang." Jawab Rangga.
"Gak dong. Sebenarnya suasana di sana sangat tenang dan menyenangkan, tapi mas ingin membawa Aisyah ke Bali saja setelah resepsi, biar lebih romantis gitu jalan-jalan di pantai." Jawab Reyhan sambil mencubit lembut hidung istrinya.
Aisyah tampak malu mendengar ucapan suaminya itu, wajahnya nampak kemerahan dan ia pun menyembunyikan wajahnya dengan sedikit menunduk, sedangkan ke dua orang tua Reyhan tampak tertawa senang melihat tingkah anak-anak mereka.
__ADS_1
T A M A T