Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 166


__ADS_3

Nazwa yang saat itu keluar dengan membawa semangkuk bubur yang baru saja ia buat dan ingin menghampiri suaminya, mesara heran melihat kesedihan yang tampak terlihat dari jauh, saat tante Rita memeluk suaminya.


Perlahan ia berjalan mendekat, dan saat langkah kakinya mulai disadari oleh tante Rita dan Rangga, mereka pun melepaskan pelukan satu sama lain, tante Rita terlihat mencoba menyeka air matanya.


"Ada apa tante?" Nazwa mencoba bertanya, ingin mengetahui hal apa yang membuat kesedihan antara tante dan suaminya.


"Tidak apa apa sayang, tante hanya merasa senang dan terharu melihat kalian berdua bahagia." jawab tante Rita memberikan alasan palsu, karena tidak ingin Nazwa ikut sedih dan menambah kepedihan Rangga.


"Aku juga sangat bahagia tante." jawab Nazwa dengan tersenyum, ia pun tidak menaruh kecurigaan.


"Sini sayang." tante Rita mengulurkan tanganya, merangkul pinggang Nazwa dan menyuruhnya duduk diantara Rangga dan dirinya.


"Nazwa, jangan pernah tinggalkan keluarga ini ya, apa pun yang terjadi." ujar tante Rita.


"Itu tidak akan mungkin tante, selama Rangga masih bagian dari keluarga ini, selama itu juga aku akan berada di dalam keluarga ini." jawab Nazwa dengan tersenyum.


"Terima kasih sayang." tente Rita memberikan pelukan penuh kasih sayang kepada menantunya itu.


Melihat kejadia yang ada di hadapannya, hati Rangga terasa sangat sedih, ia pun membayangkan jika suatu hari nanti ia meninggal, apakah Nazwa masih akan seperti ini kepada keluarganya.


Nazwa mulai menyuapi Rangga suap demi suap, dan saat itu juga tante Rita berpamitan untuk masuk kedalam rumah, sunggu ia tidak sanggup melihat keharmonisan Rangga dan Nazwa yang ada dihadapannya, karena tante Rita juga membayangkan jika suatu saat nanti Rangga akan meninggalkan mereka semua.


***


Kegelapan mulai menyelimuti malam, selesai melaksanakan sholah Isya, Nazwa dan Rangga pun membaringkan tubuh mereka diatas tempat tidur.


"Nazwa." terdengar Rangga memanggil lembut nama istrinya itu.


"Iya mas." Nazwa menjawab sambil membalikan tubuhnya menghadap Rangga.


"Kamu belum tidur?" tanya Rangga lagi.


"Belum, mas juga belum tidur?" tanya Nazwa.


"Belum." menjawab sambil tersenyum. "Mas boleh bertanya sesuatu?"


"Tentu saja mas." jawab Nazwa dengan tersenyum.


"Apa kamu bahagia berada ditengah tengah keluarga ini?"


"Tentu saja mas, aku sangat bahagia berada di keluarga ini." jawab Nazwa.


"Kalau begitu bisa mas minta sesuatu kepada mu?" ucap Rangga.


"Apa itu mas?" Nazwa pun terlihat bingung dengan pertanyaan suaminya.


"Jangan pernah tinggalkan keluarga ini, apa pun yang terjadi dengan ku nanti." ujar Rangga.


"Mas kenapa bicara seperti itu?" Nazwa merasa sangat sedih dengan ucapan suaminya.

__ADS_1


"Tidak apa apa, mas hanya tidak ingin kehilangan kamu." Rangga pun menjawab sembarang, agar Nazwa tidak bersedih.


"Itu tidak akan mungkin mas, kita akan selalu bersama, selamanya" jawab Nazwa dengan sungguh sungguh.


"Terima kasih." jawab Rangga dan Nazwa pun tersenyum.


"Nazwa." Rangga kembali memanggil nama istrinya.


"Iya mas." kembali menjawab dengan senyuman.


"Bisa aku meminta hak ku?" tanya Rangga.


Pertanyaan yang sangat mengejutkan bagi Nazwa, namun itu adalah kewajibanya sebagai seorang istri, sejak menikah mereka memang belum pernah melakukan hubungan sebagai suami istri dikarenakan kondisi Rangga.


Nazwa terlihat tidak mampun menjawab pertanyaan suaminya karena perasaan malu yang langsung menerpa dirinya, ia pun terlihat menundukan kepalanya sambil mengangguk pelan.


Rangga berusaha mendekat lalu perlahan ia memeluk istrinya, ini pertama kalinya tubuh mereka saling berdekatan dan memberikan kehangatan satu sama lain. Awalnya Nazwa merasakan sangat canggung saat berada dalam pelukan Rangga, namun semakin lama ia semakin merasakan kenyamanan di dalam pelukan Rangga.


Rangga menundukan kepalanya melihat Nazwa, dan saat melihat Nazwa yang terlelap dalam pelukannya, Rangga pun tersenyum bahagia.


Jika sekarang nyawaku harus kau ambil, aku siap ya Allah, aku hanya meminta agar engkau memberikanlah kebahagiaan kepada istriku ini kelak. Rangga.


Ke esokannya, Nazwa mengerjapkan matanya, dan ia tersadar bahwa ia masih tidur dalam dekapan Rangga.


Nazwa perlahan ingin menjauhkan tangan Rangga yang masih menempel di pingganya, namun gerakan Nazwa membuat Rangga pun terbangun.


"Mau kemana?" tanya Rangga berbisik di telinga Nazwa.


"Sebentar lagi ya." ujar Rangga lagi sambil mengeratkan kembali dekapannya.


Mendengar ucapan Rangga, Nazwa terlihat tersenyum dan tidak berusaha untuk menghindari pelukan Rangga yang kembali erat di tubuhnya.


***


Di kediaman Anton dan Zahwa. Setelah mereka selesai melaksanakan sholat subuh bersama, Zahwa mendadak merasakan perutnya yang terasa sedikit sakit dibagian perut bawahnya.


"Mas." panggil Zahwa.


"Iya." Anton menjawab sambil memalingkan wajahnya melihat Zahwa. "Sayang kamu kenapa?" Anton segera mendekati istrinya yang terlihat sedang menahan sakit.


"Sepertinya sudah waktunya mas, aku mulai merasa sedikit sakit di perutku." ujar Zahwa.


"Kalau begitu kita kerumah sakit sekarang ya, mas telpon kak Anita dulu." jawab Anton.


Ia segera mencari ponselnya dengan sedikit panik karena merasa khawatir kepada Zahwa.


"Ada apa An?" terdengar suara Anita.


"Kak Zahwa mau melahirkan." Anton langsung memberitahu kakaknya.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi, segera bawa ke rumah sakit. Kakak akan segera kesana." jawab Anita.


"Baik kak." Anton mematikan telpon, lalu melempar ponselnya, ia segera membantu Zahwa untuk bangun dan melepas mukenanya.


"Masih sakit?" tanya Anton lagi.


"Sedikit mas." jawab Zahwa.


"Kita kerumah sakit sekarang ya, mas akan minta bibik untuk menyiapkan perlengkapan bayi." ujar Anton. "Masih bisa berjalan?"


"Iya mas." jawab Zahwa.


Saat tiba di depan tangga, Anton merasa khawatir dengan istrinya, dengan segera Anton mengangkat tubuh istrinya kedalam gendongannya, dan segera menuju mobil.


Anton melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, sungguh ia merasa khawatir saat melihat wajah Zahwa yang meringis ketika rasa sakit itu datang.


Mereka tiba di rumah sakit dan langsung di sambut oleh suster yang telah di perintah oleh Anita, suster pun segera membantu Anton memapah Zahwa duduk di kursi roda, dan membawanya ke ruangan bersalin.


Genggaman tangan Anton tidak pernah lepas dari tangan Zahwa, Anton berusaha mengurangi rasa sakit Zahwa dengan mengusap lembut kening istrinya.


"Masih sakit." tanya Anton lagi.


"Engga mas." jawab Zahwa dengan tersenyum.


"Assalam'mualaikum." Anita masuk kedalam ruangan dengan tersenyum.


"Wa'alaikum salam."Jawab Anton dan Zahwa.


"Kakak priksa dulu ya." ujar Anita.


"Iya kak."


"An, tunggu diluar sana." perintah Anita.


"Tapi kak, aku harus menemani istriku." Anton terlihat kesal.


Anita terlihat menarik nafas dengan kasar, dan menggelengkan kepalanya.


"Sudah deh nurut aja." ujar Anita, dengan sedikit kesal.


Dengan perasaan yang sangat khawatir, Anton keluar dari ruangan bersalin, terlihat beberapa kali ia membalikan tubuhnya sebelum keluar dari pintu.


Setelah memeriksa Zahwa, Anita kembali memanggil Anton dan meminta adiknya itu untuk menemani istrinya Zahwa.


"An, temani Zahwa, waktu melahirkan masih cukup lama, bisa enam sampai sepuluh jam lagi." ujar Anita.


"Baik kak."


"Za, kalau masih memungkinkan, harus banyak bergerak dulu ya, untuk sekarang jarak kontraksi masih cukup lama, bisa lima sampai tiga puluh menit sekali datangnya." saran Anita.

__ADS_1


"Iya kak." jawab Zahwa.


__ADS_2