
Pak Gunawan tiba di bandara setelah satu minggu berada di luar negeri, ia merasa mungkin Anton sedikit banyak sudah menyadari semua kesalahannya, apa lagi ia mendapat kabar dari istrinya yang selalu menelpon dan memberikan informasi tentang Anton, mengatakan bahwa Anaknya itu telah mengakui kesalahannya dan terlihat begitu terpukul atas kepergian Zahwa.
Pak Gunawan meninggalkan bandara setelah supir pribadinya datang menjemput, dan mereka pun segara menuju rumah kediamannya. Pak Gunawan disambut oleh istrinya, namun Anton tidak terlihat menyambutnya juga, karna tidak mengetahui kepulangan ayahnya hari ini.
"Di mana Anton ma.?" tanya pak Gunawan kepada istrinya.
"Dia sedang berada di kamarnya pa." jawab istrinya.
"Apa saja yang terjadi selama papa tidak dirumah ma.?" tanyanya lagi. Dan istrinya terlihat menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Mereka berjalan menuju sofa, dan terlihat mendudukkan tubuh mereka.
"Sarah telah menggugat cerai Anton pa." ucap mama Melinda. Pak Gunawan terlihat menunduk setelah mendengar ucapan istrinya.
"Papa juga mendapat kabar dari Rahmat, bahwa sekarang Zahwa tidak berada di rumah kedua orang tuannya, dia sedang berada di sebuah pesantren ditempat pamannya." ucap pak Gunawan, menceritakan tentang keberadaan Zahwa.
"Pa, bagaimana kalau Zahwa juga menginginkan perpisahan dengan Anton, mama tidak ikhlas pa kalau sampai itu terjadi, mama sangat menyayanginya pa." ucap mama Melinda, dan terlihat air matanya menetes.
"Ma kita berdo'a saja agar Zahwa tidak melakukan itu semua, papa yakin Zahwa tidak akan bertindak ceroboh ma." pak Gunawan merangkul istrinya, dan membiarkan istrinya itu bersandar dalam dekapannya.
"Pa kalau begitu segera berikan alamat rumah pak Rahmat kepada Anton, agar ia bisa segera menemui Zahwa dan membawa menantu kita pulang." iya terlihat berusaha untuk membujuk suaminya itu.
__ADS_1
"Hmm, iya ma." jawab pak Gunawan.
Saat makan malam, Anton sama sekali tidak keluar dari kamarnya, ia tidak bernafsu walau sudah terasa lapar, sungguh dirinya sangat merindukan istrinya Zahwa, namun ia tidak bisa berbuat apa apa selain menunggu papanya pulang, karna Anton sama sekali tidak mengetahui tentang kepulangan papanya. Ia bisa saja pergi ke kampung halaman Zahwa, namun Anton tidak mengetahui dimana alamat pasti orang tua Zahwa, berkeliling pun mungkin hanya akan membuang waktu dan sia sia, hingga mau tidak mau ia terpaksa harus menunggu kedatangan papanya pulang.
Saat pagi hari, Anton berniat turun dari kamarnya, dan menuju meja makan untuk sarapan, dari kejauhan ia nampak melihat sosok papanya sedang duduk di meja makan bersama sang mama, Anton pun tersenyum dan sedikit berlari untuk menghampiri kedua orang tuanya, tapi ketika merasa bahwa Anton sedang mendekat ke arah mereka, dengan seketika pak Gunawan bangun, ia seakan akan tidak memperdulikan Anton, dan ingin segera beranjak pergi.
"Pa." Panggil Anton yang melihat papanya beranjak dan akan segera pergi. Namun pak Gunawan tidak menghiraukan panggilan anaknya.
"Pa tunggu sebentar pa." panggil Anton lagi dengan mempercepat langkahnya ingin berusaha menghentikan papanya. Mau tidak mau pak Gunawan menghentikan langkahnya ketika Anton sudah berada di hadapannya.
"Ada apa An.?" tanya sang papa.
"Untuk apa.? Untuk mempermalukan dirimu disana, kau sudah terlalu banyak melukainya An, biarkan ia tenang disana."ucap sang papa lagi.
"Anton mohon pa." ucap Anton, ia terlihat menjatuhkan diri dihadapan papanya, ia tidak mau menyerah dan terus berusaha membujuk papanya agar mau memberikan alamat rumah orang tua Zahwa.
Melihat Anaknya yang sudah berderai air mata, pak Gunawan pun jadi tidak tega melihatnya, apa lagi penampilan Anton yang terlihat benar benar sudah tidak karuan, membuat ayahnya merasa bahwa kali ini Anton benar benar terpukul atas kepergian Zahwa, dan sepertinya Anton memang bersungguh sungguh ingin mengharapkan Zahwa kembali. Pak Gunawan mengangkat tubuh Anton agar kembali berdiri.
"Berdirilah, papa akan memberikan alamat Zahwa." ucap pak Gunawan, ia merasa bahwa kini Anton bersungguh sungguh ingin memperbaiki rumah tangganya dengan Zahwa, karna selama ini Anton tidak pernah melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan sesuatu, tapi kali ini Anton sampai memelas dan bersujut dihadapan papanya untuk mendapatkan alamat rumah kedua orang tua Zahwa.
__ADS_1
Pak Gunawan pun mengambil sebuah kertas dan pulpen, lalu menuliskan alamat orang tua Zahwa, ia tersenyum saat memberikan alamat tersebut kepada Anton, dan Anaknya itu pun nampak begitu bahagia menerima secarik kertas yang berisi alamat tersebut.
"Pergilah, temukan Zahwa disana, meminta maaf dan bermohonlah dengan bersungguh sungguh, agar kau bisa membawa kembali istrimu." ucap papanya.
"Iya pa, aku akan berusaha agar bisa membawa istriku kembali pulang.''jawab Anton, dan pak Gunawan pun pergi meninggalkan Anton.
Melihat kejadian dan usaha Anak laki lakinya, mama Melinda pun jadi terharu, ia bisa melihat kesungguhan dari putranya itu, dan tak terasa air mata pun membasahi pipinya, Mama Melinda pun mendekatinya.
"An, sarapan lah dulu untuk mengisi perut mu, dari semalam kamu belum makan nak, setelah itu bersiap siaplah untuk menjemput istri mu." ucap mamanya.
"Iya ma, Anton sudah tidak sabar ingin bertemu Zahwa."ucap Anton dengan tersenyum dan meneteskan air mata. Dan mamanya hanya mengangguk dengan tersenyum kepada putranya itu.
Anton segera menuju meja makan untuk sarapan, bahkan kali ini Anton terlihat begitu banyak memakan sarapannya. Ia pasti sudah sangat merasakan kelaparan, namun rasa itu kalah dengan rasa rindunya hingga bisa menahan dirinya untuk tidak memakan apapun sama sekali. Melihat Anaknya yang makan begitu lahap hati mamanya jadi sangat sedih, karna bisa merasakan bagaimana menderita putranya selama beberapa hari ini.
Setelah sarapan Anton membersihkan dirinya dan bersiap siap untuk menuju kampung halaman istrinya itu, ia pun berpamitan dengan mamanya dan terlihat memeluk mamanya sebelum akhirnya pergi.
"Do'a kan Anton ma, semoga Zahwa mau kembali padaku." pinta Anton kepada mamanya.
"Mama selalu mendo'akan yang terbaik nak untuk kalian, hati hati di jalan nak." jawab sang mama.
__ADS_1
Anton pun menyalami mamanya dan pergi menaiki mobilnya dan segera melaju keluar dari gerbang rumahnya, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang pergi meninggalkan kota menuju kampung halaman Zahwa.