
Hari hari pun berjalan masih seperti biasannya, sebisa mungkin Anton membagi waktunya dengan adil dan setiap istri mendapat giliran secara bergantian, sungguh Anton tidak pernah merasa jenuh untuk selalu bolak balik, dari rumah istri tua menuju rumah istri muda, dan juga sebaliknya.
Anton bermalam di rumah Zahwa sebelum keberangkatannya ke singapura, ia pun menyarankan Zahwa untuk bermalam di rumah orang tuannya selama kepergiannya, karna ia merasa khawatir meninggalkan Zahwa seorang diri dirumah, namun Zahwa menolaknya, setelah pindah rumah Zahwa merasa lebih nyaman berada di rumahnya sendiri, meski ia hanya ditinggal sendiri.
"Za, bagaimana kalau kau bermalam di rumah mama saja salama kepergian Ku." ucap Anton menyarankan istrinya.
"Tidak perlu mas, aku di rumah saja, lagi pula mas kan cuma pergi dua hari disana." tolak Zahwa.
"Tapi mas menghawatirkan mu dirumah sendirian Za." kali ini entah mengapa Anton merasa berat untuk meninggalkan Zahwa, namun ia juga merasa tidak enak karna sudah menerima ajakan Sarah.
"Tidak apa apa mas, kita kan bisa saling memberi kabar mas." Zahwa tersenyum senang karna ia merasa bahwa suaminya itu sedang sangat menghawatirkannya, bukan kah GR itu biasa, tapi mungkin tidak untuk Zahwa, ia benar benar sedang merasa berbunga bunga atas sikap suaminya itu yang kini mulai terlihat banyak perubahan dari sebelumnya.
"Hmm, Baiklah kalau begitu minta saja nanti salah satu karyawan mu untuk menemani mu dirumah." perintah Anton, kali ini dia benar benar tidak ingin meminta Reyhan yang menemani istrinya itu.
''Iya mas" ucap Zahwa dengan senyumannya.
Akhirnya Anton dan Sarah tiba di singapura, Sarah mulai sibuk mempersiapkan fashion show yang akan ia selenggarakan dengan di bantu oleh suaminya itu.
Acara pun berjalan dengan sangat baik dan berjalan sesuai rencana yang di inginkan oleh Sarah.
__ADS_1
Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar hotel tempat mereka menginap, berbaring di atas kasur melepaskan lelah yang mereka rasakan karna bekerja seharian, entah mengapa tiba tiba Anton teringat dengan ucapan Zahwa tentang pendapatnya soal cinta saat acara peresmian travel papanya, dan Anton pun tertarik untuk kembali membicarakannya dengan Sarah, meminta pendapat perempuan itu, Anton berfikir mungkin Sarah mempunyai Jawaban yang sama baiknya dengan Zahwa.
"Sayang, aku ingin bertanya pada mu."ucap Anton sambil menoleh kan kepalannya, melihat Sarah yang Berbaring di sampingnya.
"Tanya apa sayang.?" tanya Sarah penasaran.
"Aku mempunyai seorang teman prempuan lebih tepatnya seorang rekan ku. Dia sangat mencintai pasangannya sampai ia mempunyai perinsip bahwa cinta adalah sebuah pengorbanan tulus untuk orang yang kita cintai, pada hidup dan matinya, maka ia tidak akan merasa rugi. Menurut mu gimana.?" tanya Anton mengulangi ucapan istri pertamannya, namun ia tidak ingin memberitahu Sarah tentang si pemegang prinsip itu, karna Anton menginginkan jawaban yang benar benar keluar dari hati dan fikiran Sarah.
"Sayang, ada yang bilang cinta itu buta, dan ada yang bilang kalau cinta itu harus realistis,
tergantung pada prinsip orang masing masing. Memang ada sih orang yang buta karna cinta, sampai sampai ia rela melakukan apapun demi orang yang dia cintai, meski pun ia tersakiti." ujar Sarah sambil membalikkan badannya menghadap Anton.
"Sayang, aku itu hanya berfikir realistis, karna aku tidak mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenali." ucap Sarah, dan itu membuat Anton sangat terkejut.
Selama ini Anton berfikir bahwa Sarah akan memiliki cinta yang besar dan tulus kepadanya melebihin Zahwa, karna Zahwa yang selalu ia sakiti saja bisa punya cinta sebesar itu sampai rela berkorban untuknya, apa lagi Sarah yang sangat ia cintai. Namun ternyata fikiran Anton salah besar tentang semua itu.
"Sayang kalau menurut ku teman mu itu terlalu lebai dalam urusan cinta. Coba saja kalau ia di hianati, pasti dia tidak akan sanggup. Sudah ah aku mau tidur, Capek.?" ucap Sarah, sambil menarik selimut dan berbalik memunggungi Anton.
"Hmm, tidurlah." jawab Anton.
__ADS_1
Malam semakin larut namun Anton masih saja tidak bisa tidur, ia masih saja mengingat ingat semua ucapan Sarah tentang cinta, dan pendapat Sarah tentang Zahwa yang terlalu lebai dalam urusan cinta.
Menurut Anton ucapan Sarah tentang Zahwa itu sangatlah salah, Karna merasa cinta Zahwa sangatlah tulus kepadannya dan tidak lebai seperti apa yang di ucapkan Sarah. Terbukti dengan sudah berapa kali ia menyakiti bahkan juga menghianati istri pertamannya itu, namun Zahwa tetap bertahan dan masih terus memperjuangkan rumah tangganya sampai saat ini.
Anton pun berfikir bagaimana kalau semua keadaan ini berbalik, Sarah yang berada di posisi Zahwa, apa mungkin istri mudanya itu masih akan mencintainnya dan berjuang seperti Zahwa, atau mungkin malah Sarah akan pergi meninggalkannya. pertanyaan pertannyaan itu pun terus menghantui fikiran Anton, hingga membuatnya jadi merasa pusing
Anton pun jadi sangan merindukan Zahwa, sekelebat bayangan wajah istrinya itu selalu bermunculan di kepalannya, Anton pun memilih untuk keluar hotel menikmati pemandangan dari atas balkon yang ada di dalam kamar hotel. Anton mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya dan berusaha menghubungi Zahwa.
"Assalamualaikum mas." ucap Zahwa saat menerima telpon dari suaminya itu.
"Waalaikum salam. Apa kau sudah tidur Za.?" tanya Anton.
"Hmm iya mas, jam berapa ini.?" tanya Zahwa dengan suara serak khas tidurnya di seberang sana.
"Jam sebelas Za, maaf mas cuma mau bilang besok mas pulang ke rumah, dan mas minta kamu untuk memasakkan mas sesuatu." ucap Anton, sebenarnya iya bingung harus berbicara apa, namun karna rasa rindu memaksa dirinya untuk menghubungi Zahwa.
"Pasti mas, tapi bukannya tadi sore mas sudah memberitahukan ku ya lewat chat WhatsApp.?" tanya Zahwa dengan heran, karna ia ingat benar bahwa suaminya itu sudah memberitahunnya.
"Oh iya mungkin mas lupa, ya sudah tidurlah lagi, semoga kau mimpi indah, Selamat malam." ucap Anton lalu mematikan ponselnnya secara cepat, ia tidak sadar bisa mengucapkan kata semesra itu terhadap Zahwa, hingga membuat dirinya merasa malu.
__ADS_1
Di atas tempat tidurnnya Zahwa pun merasa bingung, ia memukul pipinya pelan memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi karna tidak percaya bahwa suaminnya akan mengatakan hal semanis itu. Berulang kali Zahwa mencoba melihat kembali panggilan masuk di ponselnnya, untuk memastikan bahwa tadi benar benar suaminya yang menelpon dirinya.