Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 113


__ADS_3

Perjalanan singkat membawa mereka pada sebuah prusahaan yang melakukan kerja sama bersama prusahaan mereka. Setelah mobil berheti di tempat parkir, Rangga dan Nazwa terlihat turun dari mobil dan berjalan menuju gedung prusahaan, namun Nazwa meminta izin kepada Rangga untuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu.


"Maaf pak, apa saya bisa minta izin sholat dulu.?" tanya Nazwa.


"Hmm, ini juga sepertinya masih jam istirahat." ujar Rangga yang melihat jam tangannya.


"Tapi dimana musholahnya ya.?" gumam Nazwa yang juga masih dapat terdengar oleh Rangga, ia terlihat memutar mutar kepalanya mencoba mencari keberadaan masjid ataupun musholah di lingkunga prusahaan itu.


"Maaf mba, msholahnya ada disebelah sana, mari saya hantarkan." ujar sopir yang telah membawa mereka.


"Terima kasih pak." jawab Nazwa dengan tersenyum, lalu ia pun mengikuti langkah sopir itu dengan ditemani Rangga yang ingin melaksanakan sholat juga.


Mereka pun sampai di musholah, Rangga dan Nazwa terlihat melaksanakan sholat dengan terpisah, dan setelah selesai mereka kembali berjalan menuju ruang metting di dalam gedung itu, karna kebetulan jam istirahat pun telah selesai.


Selama perjalanan menuju ruangan metting, mereka melewati ruangan terbuka tempat para karyawan bekerja, di ruangan itu banyak sekali wanita yang terpesona akan ketampanan Rangga, bahkan ada diantara mereka yang berani menggodanya dengan cara melambaikan tangan, bahkan berpura pura batuk untuk mencari perhatian Rangga.


Rangga yang tidak tahan dengan ulah para karyawati itu, akhirnya menghentikan langkahnya, hal itu membuat Nazwa yang berjalan di belakangnya merasa bingung, dan akhirnya Nazwa pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya juga mengikuti Rangga.


Merasa bahwa Nazwa juga ikut berhenti dibelakangnya, akhirnya Rangga memutar tubuhnya dan memerintahkan Nazwa berjalan di sampingnya.


"Kemarilah." bisik Rangga pelan.


"Ada apa pak.?" tanya Nazwa bingung, ia pun berbicara sedikit pelan mengikuti gaya bicara atasannya itu.


"Sudah kemari, berdiri disampingku." ujar Rangga.


"Oh iya, baik pak." Nazwa yang masih merasa bingung pun dengan segera melangkahkan kakinya dan berdiri disamping Rangga.


"Ayo jalan." ujar Rangga lagi, dan Nazwa hanya mengangguk sambil melangkahkan kakinya mensejajari Rangga.


Kali ini Rangga berjalan dengan sedikit tersenyum dan bahkan ia pun terlihat lebih merapatkan dirinya di dekat Nazwa.


"Apa mereka sepasang kekasih.?"

__ADS_1


"Atau mereka sudah menikah.?"


"Yahh, padahal tampan sekali."


"Aku tidak apa apa kalau harus jadi istri keduanya."


Terdengar suara suara kesal dari para karyawan yang melihat kedekatan Rangga dan Nazwa, mereka berucap sesuka hati dengan nada yang kuat, hingga dapat di dengar oleh Rangga dan Nazwa.


Tak lama berselang, Rangga dan Nazwa tiba di ruang metting, dan mereka disambut oleh pihak prusahan itu, lalu mereka pun masuk didalam ruangan dan bertemu dengan para petinggi prusahaan itu lainnya.


***


Di dalam ruang perawatan Zahwa, kini sudah nampak sepi, kedua orang tua mereka telah kembali pulang, begitu juga dengan Reyhan.


Setelah pemeriksaan yang dilakukan dokter Anwar dan juga Anita, Zahwa terlihat baru bisa memejamkan matanya, sedangkan Anton masih terus memandangi istrinya, ia masih tak rela meninggalkan istrinya itu seorang diri di dalam ruang perawatan, Anton hanya terlihat keluar jika ia ingin melaksanakan sholatnya, sesekali ia menciumi tangan Zahwa bahkan membelai perut buncit istrinya.


Wajah Anton juga kadang terlihat berubah merah padam karna menahan emosinya, kala ia membayangkan wajah dan perbuatan dari mama Sarah, ia benar benar masih menyimpan amarahnya didalam hati.


Sudah terlalu banyak penderitaan mu sayang, bahkan kamu harus menerima pelampiasan dari dendam orang lain karna ulahku, maafkan aku sayang. Anton menciumi tangan istrinya, hal itu pun membuat istrinya terbangun dari tudurnya.


"Tidak apa apa mas." jawab Zahwa dengan tersenyum.


"Mas minta maaf ya, ayo tidur lagi."


"Mas.!" panggil Zahwa, lalu menarik tangan suaminya dan menggenggamnya.


"Ada yang kamu butuhkan.?" tanya Anton.


"Iya mas, tapi aku rasa kamu tidak akan bisa memenuhi keinginan ku." ujar Zahwa.


"Kenapa bicara seperti itu sayang, apa yang kamu inginkan Sayang, mas janji mas akan memenuhinya." jawab Anton.


"Apa mas yakin, karna keinginan ku sedikit sulit.?"

__ADS_1


"Tentu saja, apa yang kamu inginkan? Tidak ada yang sulit bagi mas jika itu semua untuk mu. Katakan sayang, apa kamu menginginkan berlian atau yang lainnya, bilang saja." ucap Anton tersenyum lebar berusaha meyakinkan istrinya bahwa ia mampu memenuhi segala keinginan Zahwa, ia benar benar tidak ingin membuat istrinya itu kecewa.


"Maass, aku tidak menginginkan semua itu, aku hanya minta satu hal, dan aku harap kamu bisa memenuhinya." ucap Zahwa lagi.


"Baiklah mas akan penuhi apa pun itu, katakanlah." jawab Anton lagi.


"Aku ingin mas mencabut tuntutan terhadap mama Sarah." ujar Zahwa. Dan hal itu tentu saja membuat Anton terkejut.


Anton terlihat merubah wajahnya, yang tadinya tampak begitu percaya diri bisa memenuhi keinginan istrinya, kini malah terlihat pias, seperti orang yang telah lama menyimpan dendam.


Ia terlihat sedikit membanting tubuhnya bagian punggungnya pada bagian kursi yang ia duduki disamping tempat tidur Zahwa, ia juga sepertinya tidak ingin menjawab permintaan istrinya itu, apa lagi berniat memenuhi kemauan Zahwa.


"Mas, kenapa diam saja, mas mau kan menuruti permintaan ku.?" tanya Zahwa lagi.


"Bisakah kita tidak membahas ini sayang? atau ganti saja permintaan mu, apa pun itu akan mas kabulkan, tapi tidak dengan permintaan mu yang satu itu." Anton memajukan kembali tubuhnya mendekati Zahwa, lalu berbicara sambil mengusap lembut kening istrinya menggunakan ibu jarinya.


"Untuk saat ini, hanya itu yang aku inginkan mas." jawab Zahwa.


"Apa yang sedang ada di dalam fikiran mu sayang, aku bahkan tidak bisa mengampuni diriku sendiri, jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan kepada mu dan anak kita." ujar Anton.


"Mas, Allah masih melindungi aku dan anak kita, Allah juga bukan hanya memberiku kesempatan untuk hidup kembali, tapi juga menyadarkan ku akan semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Semua ibu akan melakukan hal yang sama mas, jika ia merasa putrinya telah tersakiti, selama ini aku mengira akulah yang paling tersiksa atas pernikah kita, tapi ternyata tidak mas, karena Sarah lah orang paling terzalimi." jelas Zahwa.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu sayang, bukan kamu penyebabnya, mas lah yang bersalah dan perpisahan pun Sarah yang menginginkannya." jawab Anton.


"Perpisahan tidak akan pernah terjadi mas, jika tidak ada pernikahan diantara kalian. Dan pernikahan itu aku lah yang menginginkannya, aku yang membujuknya agar mau nemerima permintaan mu saat itu, aku yang sudah membawa Sarah pada kehidupan rumah tangga yang rumit ini."


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri sayang, apa pun itu mama Sarah tidak pantas melakukan ini semua dengan mu Za."


"Aku akan selalu merasa bersalah mas, jika mas menolak permintaanku untuk membebaskan mama Sarah, aku sudah ikhlas menerima ini semua mas, mungkin ini teguran untuk ku agar tidak memikirkan diri sendiri, dan memperdulikan perasaan orng lain. Mass, aku pun akan melakukan hal yang sama jika anak ku tersakiti oleh orang lain, seorang ibu tidak akan pernah rela jika anaknya menderita." Zahwa sudah terlihat berlinang air mata, ia sangat berharap Anton mau mengabulkan permintaannya.


"Mas tidak mengerti sayang, terbuat dari apa hati mu ini, kamu tidak pantas sayang mendapatkan semua penderitaan ini." Anton mengangkan tangan Zahwa yang ada didalam genggamannya, lalu ia menciuminya dengan berlinang air mata pula.


"Aku mohon mas." ujar Zahwa lagi, ia merasa semakin sedih karna belum bisa membuat suaminya itu luluh, dan mau memenuhi keinginannya.

__ADS_1


"Mas akan coba bicarakan kepada papa dan mama sayang, mas tidak bisa putuskan ini sendiri." jawan Anton dan Zahwa pun mengangguk pelan, ia bisa mengerti bahwa suaminya tidak mungkin mengambil keputusan sebesar ini sendiri.


__ADS_2