Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 173


__ADS_3

Dari balik kaca, terlihat Umi Nazwa sedang memperhatikan dokter yang sedang menangani putrinya, ia bergumam memanggil nama putrinya, dan memohon kepada Allah agar segera mengembalikan kesehatan putrinya seperti sedia kala.


Sedangkan Abi Nazwa terlihat duduk di sebuah kursi tunggu, tasbih terlihat terus bergerak di tangannya, sambil memejamkan matanya ia bersholawat. Rasa lelah pasti sedang menghinggapi di sekujur tubuhnya, apa lagi sejak kedatangan mereka ke rumah sakit, sekali pun kedua orang tua itu bisa tidur dengan baik.


Tapi rasa lelah yang mereka rasakan masih tidak ada artinya di bandingkan kepedihan yang tengah mereka rasakan karena melihat putri mereka yang terbaring lemah.


Dokter terus memeriksa keadaan Nazwa, dan berharap pasiennya itu segera sadarkan diri. Jika dilihat dari medis, seharusnya pengaruh obat bius saat operasi sudah hilang, dan pasien mulai menunjukan kesadarannya.


Tiba tiba seorang perawat yang berada di dalam ruangan Nazwa dan ikut dengan dokter melakukan pemeriksaan, menyadari adanya gerakan jari jemari yang Nazwa coba lakukan.


"Dok, sepertinya pasien mulai sadar." Sambil menunjuk kearah jemari Nazwa yang bergerak pelan.


Dokter yang melihat pergerakan tangan Nazwa segera kembali memeriksa Nazwa.


"Alhamdulillah, pasien sudah mulai menunjukan respon." Ujar dokter.


Sementara itu, masih di tempatnya berdiri dari balik kaca. Umi Nazwa yang mengetahui gerakan putrinya tersenyum sambil meneteskan air mata melihat putrinya yang mulai sadar.


"Abi Nazwa Bi." Ia memalingkan wajahnya melihat suaminya yang tengah duduk di kursi.


Senyum dan tangis yang bersamaan membuat laki laki paruh baya itu langsung menyadari ada sesuatu yang terjadi. Ia pun segera bangkit dan mendekat kearah istrinya, berdiri di balik kaca.


"Sepertinya Nazwa mulai sadar Bi, Umi melihat gerakan jemarinya." Ujar sang istri.


"Alhamdulillahi robbal alamin." Sambil mengusap kedua tangan pada wajahnya.


Rasa hati pun tidak sabar menunggu dokter keluar dari ruangan dan menjelaskan keadaan putri mereka.


Hampir putus asa pun sempat mereka rasakan, namun kedua orang tua ini sangat yakin bahwa Allah akan menyelamatkan putri mereka. Dan keyakinan itu benar, dokter pun keluar lalu segera memberikan penjelasan tentang keadaan putri mereka yang sudah mulai memberikan respon meski belum sepenuhnya sadar.


"Bagaimana dok? Bagaimana keadaan putri saya?" Abi Nazwa terlihat begitu antusias bertanya.


"Alhamdullah, putri bapak dan ibu sudah mulai menunjukan respon, semua ini berkat Do'a bapak dan ibu." Jawab dokter sambil menunjukan senyum manisnya.


"Alhamdulillah, terima kasih dok."


"Iya pak. Tapi pasien belum sepenuhnya sadar, butuh waktu yang lama untuk pasien sadar sepenuhnya, benturan di kepalanya membuat kerja syarafnya sedikit lambat respon. Namun semuanya pasti akan baik baik saja pak, bu."


"Baik dok kami mengerti."


"Satu lagi. Saya harap bapak dan ibu dapat memberikan ketenangan saat pasien sudah siuman, jangan membuat suasana hatinya buruk dan berfikir terlalu keras, karena itu sangat berpengaruh buruk untuk kerja syaraf dan otaknya."


Dokter kembali memberikan penjelasan.


"Iya dok baik, kami akan mengingatnya."


"Kalau begitu saya permisi dulu, Dua jam lagi saya akan kemari lagi untuk memeriksakan keadaan pasien."


"Eem.. Maaf dok, apa kami boleh masuk?" Umi Nazwa seperti sudah tidak dapat menahan ingin melihat putrinya dari dekat.


"Silahkan buk, tapi jangan sampai mengganggu ketenangan pasien."


"Baik dok, terima kasih."


"Sama sama bu"

__ADS_1


Dokter pun berlalu pergi meninggalkan kedua orang tua Nazwa, dan setelahnya mereka pun bergilir untuk masuk melihat putri mereka.


***


Di ruangan ICU lainnya, terdengar isak kan tangis yang kembali pecah dari seorang ibu yang baru saja merasakan kebahagiaan atas kesadaran putranya, namun kembali meneteskan air mata saat melihat putranya meringis dan berteriak merasakan sakit yang ia rasakan.


Dokter memberikan suntikan obat bius dengan dosis rendah untuk meringankan rasa sakit yang Reyhan rasakan, dan juga agar dirinya bisa kembali tidur untuk menjaga kestabilan tubuhnya.


"Nyonya, bukankah saya sudah memperingatkan anda untuk tidak mengatakan hal hal yang bisa membuatnya tertekan?"


Dokter terlihat menunjukan amarahnya meski ia berbicara dengan nada yang rendah dan juga masih mengontrol emosinya, ia tahu mana mungkin seorang ibu ingin anaknya kembali merasakan kesakitan, namun hal itu ia lakukan agar orang tua pasien tahu bagaimana pentingnya mengontrol emosi pasien yang baru saja sadar dari masa kritisnya.


"Maaf dok, tapi saya tidak bisa tidak mengatakan dimana papanya, karena Reyhan tahu papanya tidak mungkin menghilang dari sisinya di saat ia seperti ini."


Mama Rita mencoba memberikan penjelasan kepada dokter tentang apa yang baru saja terjadi.


Dokter pun menganggukkan kepalanya pelan, mencoba untuk menerima penjelasan yang di ungkapkan tante Rita, namun meski pun begitu dokter tetap saja kembali memperingati mama Rita untuk menjaga emosi Reyhan.


Setelah dokter pergi dari ruangan Reyhan untuk memeriksa pasien lain, ponsel mama Rita pun berdering, lalu dengan segera ia mengangkat panggilan masuk itu, yang tidak lain adalah suaminya yang sedang berada di luar Negeri.


"Assalammualaikum ma."


"Wa'alaikum salam pa."


Wanita itu mencoba untuk bersikap tenang dan mengontrol emosinya agar suaminya tidak merasakan kekhawatiran.


"Bagaimana kabar mama, mama baik baik saja bukan?"


"Alhamdullah mama baik pa, papa juga baik kan?"


"Iya ma. Gimana keadaan Reyhan ma dan juga Nazwa ma?"


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Ucapnya bersyukur dari seberang sana.


"Tadi Reyhan sempat menanyakan papa dan Rangga, setelah mama jelaskan Reyhan sempat sedikit terguncang pa, tapi dokter sudah memberinya obat penenang pa, dan sekarang Reyhan sedang beristirahat."


Mama Rita memberitahukan suaminya dengan jelas, karena tidak ingin menyembunyikan keadaan putranya yang sebenarnya.


"Ya Allah.. Maafkan papa ya ma, mama jadi kesusahan sendirian di sana." Merasa iba mendengan penjelasan istrinya, ia sudah dapat membayangkan betapa istrinya dilanda kepanikan.


"Pa, papa tidak perlu minta maaf begitu, mama baik baik saja disini. Tapi mama belum tahu bagaimana keadaan Nazwa, mama belum sempat melihatnya." Jelasnya.


"Hmm..iya ma, mama jangan lupa jaga kesehatan ya." peringat nya.


"Iya pa. Bagaimana keadaan Rangga pa?"


"Rumah sakit belum mendapatkan donor yang cocok untuk Rangga ma, tapi dokter mengatakan kemungkinan besar rumah sakit akan segera mendapat pendonor yang cocok minggu ini." Jelas papa Reyhan.


"Syukurlah pa. Papa jaga kesehatan juga ya."


"Iya ma."


Telpon pun berakhir.


***

__ADS_1


"Mas, kita jadi kan jenguk Nazwa dan mas Reyhan hari ini?"


"Iya sayang, kita tunggu mama sebentar ya buat jagain Azam selama kita pergi." Jawab Anton.


Azam Putra Wijaya, nama yang mereka berikan untuk putra mereka yang baru saja dilahirkan beberapa hari yang lalu.


Sesungguhnya di rumah Anton tidaklah kekurangan pembantu untuk menjaga putra mereka, bahkan Anton baru saja menyewa kembali jasa Babysitter untuk menjaga putranya, namun entah mengapa dia masih saja ragu jika putra mereka harus di tinggal sendiri tanpa pengawasan orang terdekatnya.


Mungkin karena rasa sayangnya terhadap putranya itu, terlebih lagi ini anak pertamanya membuatnya sangat protektif sekali.


Kurang dari setengah jam mama Melinda pun sudah datang, dengan sangat bersemangat ia langsung menuju kamar cucunya dan menghujaninya dengan ciuman hangat.


"Ma, aku dan Zahwa pergi dulu ya." Ujar Anton.


"Ya An, kalian hati hati ya."


"Iya ma, titip Azam ya ma." kali ini Zahwa yang berbicara.


"Iya sayang." Menjawab dengan tersenyum. "An kamu jagain Zahwa baik baik ya, dia kan baru saja melahirkan." Ujar mama Melinda mengkhawatirkan menantunya.


"Beres ma." Jawab Anton sambil menarik lengan Zahwa dan merapatkannya di sisinya.


Sebenarnya Anton sudah sering kali melarang Zahwa yang ingin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk adik sepupunya itu, mengingat kondisi Zahwa yang baru saja habis melahirkan beberapa hari ini.


Namun karena Zahwa yang selalu memaksa dan mengatakan bahwa dirinya baik baik saja, Akhirnya Anton pun mengizinkan, lagi pula ia tahu betul bagaimana rasa khawatiran istrinya itu terhadap Nazwa adik sepupunya.


Sesampainya di depan ruang rawat Nazwa, Zahwa langsung disambut pelukan hangat istri dari pamannya itu, yang langsung di iringi isakkan tangis di dekapannya.


"Bibi yang sabar ya, aku yakin Nazwa pasti akan baik baik saja." Ujar Zahwa sambil menghapus air mata bibinya itu dengan kedua ibu jarinya.


"Bagaimana perkembangannya paman?" Anton bertanya kepada paman dari istrinya.


"Alhamdulillah Nazwa sudah mulai sadar, walau pun ia belum bisa membuka matanya." Jawab Abi Nazwa itu.


"Syukurlah."


"An, bagaimana keadaan Rangga?" Tanya Abi Nazwa, menanyakan keadaan menantunya, karena sampai saat ini ia belum sempat menghubungi papa Reyhan yang menghantar Rangga ke luar negeri.


"Sampai saat ini Rangga belum mendapatkan donor paman, tapi pihak Rumah sakit akan memastikan Rangga mendapatkan donor yang cocok untuknya secepat mungkin."


Anton mencoba memberi penjelasan kepada paman dari istrinya itu.


"Semoga semuanya akan baik baik saja, dan cobaan ini segera berlalu." Jawab abi Nazwa.


"Aamiin." Jawab yang lain.


Zahwa mencoba mendekati adik sepupunya yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya, perlahan ia mengangkat tangannya dan membelai lembut wajah Nazwa. Sekelebat bayang saat mereka kecil bersama pun muncul di ingatan Zahwa, adiknya yang pemberani dan selalu ceria, membuat hari hari Zahwa jadi lebih penuh warna.


Dulu Zahwa adalah gadis kecil yang pemalu dan juga penakut, berbeda terbalik dengan Nazwa yang pemberani dan sedikit bawel. Saat Zahwa sedang berkunjung dan menginap di rumah Nazwa, adiknya itu selalu mengajaknya berpetualang dan berkeliling kampungnya.


Zahwa yang dulu terlihat sangat cengeng akan berubah jadi sangat ceria saat bersama Nazwa. Namun saat dewasa mereka harus lama terpisah dan jarang sekali bertemu karena Zahwa meneruskan pendidikannya ke ibu kota. Sedangkan Nazwa juga meneruskan pendidikannya namun di kota yang berbeda.


Air mata Zahwa tidak dapat ia tahan lagi, bibirnya bergetar menahan isakknya, ia mencoba mendekatkan wajahnya lalu berbisik di dekat Nazwa.


"Na, bangun sayang aku merindukan senyum mu." Ujar Zahwa di dekat telinga adiknya.

__ADS_1


Usai melihat Nazwa, Zahwa pun keluar dari ruang rawat adik sepupunya itu. Hampir setengah jam sepasang suami istri itu berada di rumah sakit untuk memberikan semangat kepada paman dan bibinya, juga tidak lupa mereka melihat keadaan Reyhan yang mulai membaik.


Namun sayang mereka tidak bisa bertemu dengan Reyhan, karena pria itu sedang tertidur pulas karena obat penenang yang di berikan dokter untuk mengurangi rasa sakitnya.


__ADS_2