
Rangga dan Nazwa segera memesan makan ketika mereka telah duduk di salah satu meja kosong yang ada direstoran itu. Tidak perlu menunggu terlalu lama, makanan yang mereka pesan pun tiba di hadapan Rangga dan Nazwa.
"Silahkan tuan, nona." ujar pelayan restoran yang menghantarkan makanan mereka itu dengan ramah dan senyuman hangat.
"Terima kasih." jawab Nazwa dengan menganggukan kepalanya, sedangkan Rangga hanya menjawab dengan tersenyum.
Rangga dengan segera menyantap makan malamnya, ia terlihat begitu menikmati makanan yang memang terlihat menggugah selera itu, yang juga sudah pasti terasa lezat. Sedangkan Nazwa, ia memakan makannya dengan begitu lambat, seperti seseorang yang tidak memiliki nafsu untuk makan, meski sebenarnya Nazwa merasa sangat lapar.
Nazwa hanya menundukan kepalanya, dan merasa begitu malu untuk melihat Rangga yang berada di hadapannya. Nazwa masih selalu memikirkan tentang ucapannya saat di pantai, dan itu yang membuatnya kehilangan nafsu makannya.
"Apa kamu sedang sakit.?" Rangga bertanya kepada Nazwa, karena ia melihat perempuan itu hanya berdiam diri dengan menundukkan kepalanya.
Nazwa yan terkejud dengan pertanyaan Rangga, dengan segera mengangkan kepalanya, lalu ia menggeleng pelan sambil berkata tidak.
"Tidak, saya baik baik saja pak." jawab Nazwa.
"Kalau begitu habiskan makanan mu segera, kita harus kembali lagi ke hotel secepatnya, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." ujar Rangga.
"Baik pak." jawab Nazwa. Lalu ia pun dengan segera menyantap makannya, karena tidak ingin membuat Rangga kesal terhadap dirinya.
Rangga terlihat menghentikan sejenak makannya, lalu ia memperhatikan Nazwa yang mulai memakan makanannya dengan sedikit paksaan, di dalam fikirannya Rangga tahu apa yang sebenarnya sedang difikirkan oleh Nazwa, karena sebenarnya ia pun berfikiran yang sama, yaitu mengenai pembicaraan mereka di pantai.
Aku tahu kamu pasti merasa tidak nyaman saat ini berada di dekat ku, tapi aku akan berusaha untuk membuat mu yakin dengan perasaan ku. batin Rangga dengan senyum tipis di ujung bibinya.
__ADS_1
Rangga kembali melanjutkan makannya dan begitu pun Nazwa yang terlihat berusaha menghabiskan makanannya sesikit demi sedikit. Usai makan malam, Rangga dan Nazwa pun segera kembali ke hotel.
Saat akan menuju kamar mereka, Rangga yang jalan terlebih dahulu di depan Nazwa, tiba tiba menghentikan langkahnya dengan sengaja tepat dihadapan Nazwa, hal itu ia lakukan karena ia menyadari bahwa Nazwa berjalan dengan melamun, bahkan tampak tidak memperhatikan langkah di hadapanya.
Nazwa yang tidak menyadari Rangga telah menghentikan langkah tepat di hadapannya, seketika menabrak bagian belakang tubuh atasannya itu, ia pun merasa terkejut bukan kepalang, terlihat dari raut wajahnya, Nazwa tampak seperti takut dan merasa bersalah karena telah menabrak Rangga.
"Maaf, maaf saya tidak sengaja pak." ujar Nazwa yang memundurkan tubuhnya beberapa langkah setelah menabrak Rangga.
Rangga yang sengaja menghentikan langkahnya pun, tersenyum tipis karena usahanya berhasil mengejutkan Nazwa, setelah senyuman itu hilang dari bibirnya barulah ia membalikan tubuhnya, dan menatap Nazwa yang mulai tertuduk saat Rangga menatap dirinya.
"Nazwa, apa aku tidak pantas untuk menyukai dirimu.?" pertanyaan itu terlontar dari bibir Rangga secara tiba tiba, dan hal itu membuat Nazwa begitu terkejut, dengan segera ia mengangkat wajahnya menatap Rangga, namun bibirnya belum mampu untuk berkata apa apa, sungguh ia tidak menyangka Rangga akan bertanya seperti itu.
"Sejak kejadian sore ini dipantai, aku melihat dirimu sepertinya tampak begitu gelisah. Apa aku salah dengan perasaan ku, apa kamu begitu membenciku, atau kamu sudah memiliki seorang kekasih? Kalau memang seperti itu kenyataannya aku tidak akan mengganggu mu, dan mengubur dalam dalam perasaan ku terhadap mu." ujar Rangga.
"Lalu, apa yang mengganggu fikiran mu.?" tanya Rangga.
"Aku hanya belum yakin dengan ini semua, apa mungkin bapak yakin dengan perasaan bapak? Aku hanya seorang gadis yang berasal dari kampung." jelas Nazwa dengan wajah yang kembali tertunduk, bahkan ucapannya itu hampir tidak bisa terdengar.
"Apa ada yang salah dengan semua itu, kamu tidak yakin dengan perasaan ku hanya karna masalah sepele seperti ini?'' Tanya Rangga lagi, dan Nazwa hanya terlihat menganggukan kepalanya.
"Aku hanya, hanya.." ucapan Nazwa tidak mampu ia teruskan, hingga Rangga kembali memotong ucapannya.
"Nazwa, serendah itukah fikiran mu tentang aku? Baiklah, kalau memang kamu tidak yakin dengan perasaan ku, aku yang akan buktikan bahwa aku tidak pernah main main dengan ucapanku, akan ku buat kau yakin dengan perasaan ku ini." ujar Rangga lagi.
__ADS_1
Mendengan ucapan Rangga, detak jantung Nazwa terasa berdenyut lebih cepat, ia kini sedikit lebih percaya tentang perasaan Rangga terhadapnya, namun Nazwa masih belum mampu untuk menerima semua itu, menerima bahwa atasannya benar benar memiliki perasaan cinta terhadap dirinya.
Rangga memang bukan tipe pria yang romantis, yang akan melakukan berbagai hal romantis untuk menyatakan cinta terhadap seorang wanita yang ia sukai, namun jika ia menyukai seorang wanita maka ia akan bersungguh sungguh untuk membuktikan perasaannya itu meski dengan tantangan apa pun, apa lagi bisa dikatakan ini kali pertama ia jatuh cinta.
"Kenapa masih berdiri disini.?" tanya Rangga yang melihat Nazwa masih mematung.
"Ah, iya maaf pak."
Nazwa pun segera bergegas melangkah menuju kamarnya, lalu ia segera masuk ke dalam kamar, dan begitu pun dengan Rangga yang juga terlihat masuk kedalam kamarnya.
Nazwa yang masih tidak percaya akan hal ini mencoba untuk menenangkan diri, ia menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur, ia terlihat mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Wajar saja jika Nazwa masih ragu atas pernyataan Rangga, sikap dingin dan acuh yang selama ini ditunjukan Rangga kepadanya sejak saat pertama masuk kerja, membuat Nazwa tidak yakin bahwa manajernya itu kini mengatakan bahwa dia telah menyukai Nazwa, tapi karena ucapan Rangga yang terlihat bersungguh sungguh, membuat Nazwa merasa sedikit percaya akan perasaan Rangga terhadapnya
Setelah merasa cukut tenang dengan perasaannya, Nazwa pun bangkir dan menuju kamar mandinya, ia segera mengambil air wudhu lalu setelahnya ia melaksanakan sholat isya di kamarnya.
Sedangkan Rangga, ia segera masuk kedalam kamar, lalu menghempaskan tubuhnya keatas sofa empuk yang ada di dalam kamarnya, sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama dengan Nazwa, Rangga sedikit merasa ragu atas cintanya, karena merasa tidak yakin bahwa keluarga Nazwa akan menerimanya.
Tapi karena ia memang mencintai Nazwa dengan sungguh sungguh, maka Rangga pun akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan cintanya terhadap Nazwa, meski sebelumnya ia tidak yakin bahwa Nazwa akan menerima cintanya.
Rangga pun bertekat untuk menemui kedua orang tua Nazwa yang berada di kampung halamannya setelah pekerjaannya di kota XX selesai nanti, dan Rangga berniat untuk meminta bantuan om juga tantenya, ia yakin bahwa om dan tantenya itu pasti akan mendukung niatnya itu untuk melamar Nazwa.
Rangga segera bangkit, lalu menuju kamar mandinya untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat isya, setelah selesai melaksanakan sholat, ia pun segera mengerjakan pekerjaannya, karena ia ingin semua urusannya di kota XX ini bisa segera selesai dan mereka kembali ke Jakarta.
__ADS_1