
Mereka tiba di pesantren ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul empat sore. Mereka pun disambut oleh paman dan bibi Zahwa, yang sudah mengetahui akan kedatangan mereka, namun semua orang yang mengetahui kedatangan mereka termasuk Nazwa, mencoba untuk merahasiakan kedatangan suaminya itu dari Zahwa, karna mereka takut Zahwa akan menghindari pertemuan dengan suaminya itu.
"Assalamualaikum." ucap pak Rahmat memberi salam kepada adik dan iparnya itu, saat tiba disana.
"Waalaikum salam." jawab sang adik lalu mengulurkan tangan menyambut dan menyalami kakanya.
Setelah semua orang bersalaman termasuk juga Anton, paman dan bibi Zahwa pun mengajak mereka untuk masuk. Ketika akan melangkah kan kakinya untuk masuk, Anton pun menolehkan kepalanya, ia melihat sosok wanita yang sedang duduk bersama anak anak disana, Anton tentu saja dapat mengenali sosok yang ada disana, seorang wanita cantik yang sedang duduk diatas rerumputan dan tepat dibawah pohon rindang, wanita itu terlihat sedang bercerita tentang sebuah kisah nabi dan dihadapannya telah duduk beberapa anak anak yang begitu antusian mendengarkannya bercerita.
Tanpa sadar Anton pun membalikan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju tempat Zahwa berada, semua orang menghentikan kakinya ketika melihat Anton yang berbalik arah, melangkahkan kakinya menuju tempat Zahwa berada, tapi ayah Zahwa memberikan isyarat agar membiarkan Anton melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan, sedangkan mereka memilih untuk masuk kedalam rumah adiknya itu.
Air mata Anton mengalih kala melihat punggung Zahwa dari kejauhan, ia sudah lama sekali merindukan istrinya itu, dan kini wanita yang sangat ia rindukan itu sudah berada dihadapannya. Anton berjalan dengan langkah gontainya, kakinya terasa sangat berat bahkan jarang yang tinggal hanya beberapa meter dari Zahwa, malah terasa begitu jauh bagi Anton.
Hingga Akhirnya Anton berada disamping Zahwa, dan kakinya terasa semakin lemas. Anton pun langsung ambruk disamping Zahwa, ia jatuh tersungkur di samping istrinya itu, sehingga membuat Zahwa dan anak anak yang berada disana pun akhirnya terkejut dengan kedatangan Anton. Zahwa menoleh menatap suaminya, hati Zahwa merasa miris kala melihat penampilan Anton yang terlihat acak acakan. Zahwa pun segera mengambil tindakan, dan meminta anak anak untuk segera masuk kedalam tempat mereka beristirahat, karna Zahwa tidak ingin mereka melihat apa yang seharusnya belum boleh mereka lihat.
__ADS_1
Setelah semua anak anak itu pergi dari hadapi mereka, Anton pun berusaha duduk dihadapan Zahwa, ia menggenggam tangan istrinya itu, lalu menarik Zahwa kedalam pelukannya. Zahwa yang masih terkejut hanya diam mematung dan sama sekali tidak membalas pelukan Anton, Zahwa berusaha menahan air matanya meski hatinya merasa begitu sedih melihat suaminya itu.
"Aku tahu kamu pasti akan kemari mas." ucap Zahwa yang masih berada dalam dekapan suaminya itu. Dan Anton pun melepaskan pelukannya.
"Za mas minta maaf, mas mohon pulanglah Za kerumah kita sayang." ucap Anton dengan berderai air mata. Dan Zahwa pun sudah tidak mampu untuk menahan kesedihanya, hingga akhirnya pertahanan Zahwa runtuh lalu ikut menangis dihadapan suaminya.
"Kamu sudah keterlaluan mas, kamu sudah merendahkan harga diriku, dan juga menyakiti hati ku, aku yakin Sarah pun pasti akan merasa kecewa mas atas perbuatan mu itu." ucap Zahwa dengan berderai air mata.
Anton menggenggam tangan istrinya dan berusaha untuk menjelaskan semuanya.
"Tapi tetap saja tindakan mu itu salah mas, apa kamu tidak bisa menghargai pengorbananku selama ini, aku rela mas kamu madu, tapi jika menawarkan ku pada laki laki lain itu sungguh sangat memalukan." ucap Zahwa lagi.
"Iya Za, mas tahu mas salah, tapi tolong Za beri aku satu kali kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya, memperbaiki rumah tangga kita, aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia berada disisi ku Za, aku mohon." Anton benar benar memohon dengan sangat bersungguh sungguh.
__ADS_1
"Beri aku waktu untuk berfikir mas." ucap Zahwa, lalu ia pun berusaha berdiri dan meninggalkan Anton sendiri disana.
Melihat kejadian itu, pak Rahmat berjalan mendekati Anton, ia pun menyuruh Anton untuk masuk kedalam rumah adiknya, karna merasa tidak baik jika ada anak anak yang menyaksikan dirinya menangis.
Zahwa masuk kedalam kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur, air mata pun masih terus mengalir membasahi pipinya. Dan tidak begitu lama Nazwa pun masuk kedalam kamar Zahwa.
"Za." panggil Nazwa, lalu duduk disamping Zahwa. Zahwa pun menoleh dan melempar senyuman kepada Nazwa, lalu tangannya berusaha untuk mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Sekarang kamu lihatkan seberapa besar cinta suami mu itu kepadamu, hingga mampu membuatnya kemari.? Berilah dia kesempatan Za, tidak ada salahnya memberi seseorang kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya, apa lagi tidak sepenuhnya dia bersalah dalam hal ini." Nazwa berbicara sambil mengusap pelan punggung Zahwa.
"Tapi hatiku masih sangat sakit." ucap Zahwa dengan mulai terisak lagi.
"Sssttt.. tidak baik menyimpan dendam, cobalah untuk mengikhlaskan semua ini, agar hati mu bisa tenang. Sekarang jangan kamu ingat lagi kenangan buruk itu, tapi lihatlah seberapa besar usaha suami mu itu.
__ADS_1
Zaa, ingatlah anakmu juga sangat membutuhkan perhatian dari ayahnya." Nazwa tersenyum dan setelah itu ia pergi meninggalkan Zahwa sendiri di kamarnya.