Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 58


__ADS_3

Anton tidak yakin dengan ucapan mama dan kakaknya, ia merasa mungkin mereka sedang ingin mempermainkan perasaanya dan memberinya pelajaran. Anton pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah Zahwa, mencoba mencari keberadaan istrinya disana, ia berfikir pasti Zahwa sudah pulang kerumahnya.


Tiba di rumah, Anton segera memasuki rumah istrinya dengan berlari, ia terlihat langsung menuju lantai atas untuk mencari keberadaan Zahwa di kamarnya, namun lagi lagi hanya kekecewaan yang ia dapat kan.


Anton pun turun kebawah lagi dan memanggil kedua pembantunya, nerniat untuk menanyakan lagi keberadaan Zahwa.


"Bik, bibik." teriak Anton. Dan terlihat kedua pembantunya berlari mendekati dirinya.


"Ada apa tuan.?" tanya mereka terlihat panik.


"Apa Zahwa sudah pulang kerumah.?" tanyanya kepada kedua pembantunya.


"Iya tuan, nyonya tadi pulang sebentar lalu pergi lagi membawa kopernya, ia juga berpesan kepada kami untuk menjaga rumah ini tuan, karna nyonya bilang akan pergi dan tidak tahu kapan kembali." jelas salah seorang pembantunya.


Anton pun menjadi lunglai mendengar ucapan Zahwa yang di sampaikan pembantunya, ia seperti kehilangan tenaga saat mendengar penjelasan pembantunya itu, tidak terasa ia menjatuhkan diri di atas sofa, lalu air matanya mulai terlihat mengalir lagi, kerapuhan Anton sangat jelas terlihat, ia bahkan tidak merasa malu karna menangis di hadapan pembantunya.


"Za, maafkan aku sayang, tolong kembali lah, aku tidak bisa kehilangan kalian Za, aku berjanji akan melakukan apapun yang kamu mau Za, bahkan aku siap menukar nyawa ku asal kau kembali bersama ku disini Za, sungguh aku tidak bisa hidup tanpa mu." Kata kata itu lolos dari bibirnya, kali ini Anton mengucapkannya benar benar tulus dari dalam hatinya, dan ia pun terlihat begitu prustasi juga hampir merasa putus asa karna kepergian istrinya itu.


la pernah merasa kan kehilangan ketika Sarah meninggalkannya, tapi rasanya tidak sesakit saat kehilangan Zahwa. Bahkan saat kehilangan Sarah, Anton masih bisa pergi ke sebuat diskotik atau bar untuk bisa menghibur dirinya, namun kehilang Zahwa ia seperti kehilangan separuh nyawanya, bahkan untuk melanjutkan hidup bagi Anton terasa sangat sulit saat ini jika tanpa kehadiran Zahwa disisinya.

__ADS_1


Ia berusaha menghubungi Zahwa melalui ponselnya, namun entah mengapa ponsel Zahwa sama sekali tidak bisa dihubungi. Mungkin Zahwa sengaja mematikan ponselnya, untuk menghindari Anton sementara waktu.


Anton menangis sepanjang malam, bahkan ia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya, matanya terlihat sembab dan pakainya pun terlihat begitu acak acakan.


Karna merasa kasihan melihat keadaan majikannya, salah seorang pembantunya mencoba mendekati Anton, dan berusaha untuk membujuk majikannya itu agar mau makan.


"Tuan, makan lah dulu, tuan mau makan apa biar saya siapkan.?" tanya salah satu pembantunya. Dan Anton terlihat hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan seperti ini tuan, saya yakin nyonya Zahwa juga pasti akan sedih melihat tuan seperti ini. Istirahat lah dulu tuan." ucapnya lagi, sungguh ia merasa jadi tidak tega melihat keadaan majikannya itu.


Mendengar ucapan sang pembantu, Anton pun berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, ia menaiki tangga dan terlihat memasuki kamar tempat Zahwa biasa tidur. Anton duduk di tepi ranjang, ia mengingat ingat setiap geram gerik yang dilakukan Zahwa di dalam kamar itu, bayangan wajah dan senyum Zahwa selalu teringat di fikiran Anton.


Sementara Zahwa dan pak Gunawan telah tiba dirumah orang tuanya, ke dua orang tua Zahwa merasa heran dengan kedatangan mereka, tak biasanya Zahwa pulang dengan dihantar pak Gunawan.


setelah memberi salam dan dipersilahkan memasuki rumah, barulah pak Gunawan berbicara kepada besan sekaligus sahabatnya itu, tentang apa yang telah terjadi, ia meminta maaf atas perbuatan Anton, dan juga berjanji akan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi kepada Zahwa.


Ada rasa kecewa di hati kedua orang tua Zahwa, namun melihat pertanggung jawaban dari pak Gunawan membuat ayah Zahwa sedikit bisa membuang rasa kekecewaannya, ia bisa sedikit berlapang dada dan menganggap ini adalah ujian dalam pernikahan putrinya.


Apa lagi Zahwa pun ikut berbicara kepada orang tuanya, menjelaskan bahwa ini hanya kesalah pahaman dan juga hanya masalah kecil dalam rumah tangganya. Zahwa tidak ingin orang tuanya jadi membenci Anton dan juga keluarga pak Gunawan.

__ADS_1


Setelah kepergian pak Gunawan, ibu Zahwa terlihat menemui putrinya di dalam kamar, ia pun mencoba berbicara kepada Zahwa dan meminta anaknya itu agar mau berpisah dengan Anton, karna ia benar benar merasa kasihan kepada anaknya itu. Belum lama menikah Anton telah menduakan Zahwa, dan kini ada lagi permasalahan dalam rumah tangga anaknya, hati ibu yang mana yang tak akan merasa sakit bila melihat begitu banyak penderitaan anaknya.


"Za." panggil Bu Ningsih yang melihat putrinya itu sedang membaca buku sambil bersandar di atas tempat tidurnya.


"Iya bu." Jawab Zahwa, ia pun meletakkan bukunya ke atas nakas, dan mendekati ibunya yang sudah duduk di tepi tempat tidur Zahwa.


"Apa tidak sebaiknya kamu berpisah saja dari suamimu nak, ibu tidak tega melihat mu terus disakiti begini." ucap ibunya, bu Ningsih membelai lembut kepala putrinya dan terlihat air matanya pun berlinang membasahi pipinya.


Zahwa hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya, ia tahu benar bahwa ibunya sangat menyayangi dirinya, sehingga membuat ibunya harus berbicara begitu.


"Bu, Zahwa tidak bisa melakukan itu, sekarang aku sedang mengandung anak dari mas Anton kan, jadi mana mungkin aku berpisah darinya." Zahwa menggenggam tangan ibunya, walau sebenarnya ia masih sangat kecewa dengan Anton, namun Zahwa tidak bisa mengambil keputusan untuk bercerai dari Anton untuk saat ini.


"Ibu tidak tega nak melihat mu terus terusan menderita begini."ucap bu Ningsih, dan merekapun terlihat berpelukan.


Pak Rahmat menemui anak dan istrinya yang sedang berada di dalam kamar putrinya itu, bisa dilihat dari raut wajahnya, bahwa ia juga merasa kan kesedihan melihat penderitaan putrinya.


"Za, maaf kan ayah ya, mungkin nasib mu tidak akan begini nak, jika dulu ayah menolak permintaan pak Gunawan." ucap pak Rahmat penuh dengan penyesalan.


"Ayah, sudahlah. Ini adalah jalan takdir hidup ku dan aku yakin aku pasti bisa melaluinya." Zahwa tahu bahwa saat ini ayahnya sungguh merasa sangat bersalah.

__ADS_1


"Ayah, aku berniat untuk pergi ke pondok paman, aku ingin menenangkan diri disana apa ayah bersedia menghantarkan aku.?" tanya Zahwa dan ayahnya terlihat hanya mengangguk dengan tersenyum. Menurutnya keputusan putrinya itu memang sangatlah tepat, menenangkan fikirannya di sebuah pondok pesantren milik kakaknya.


__ADS_2