
Nazwa menghantar Zahwa menuju kamarnya, dan menyuruh Zahwa untuk beristirahat karna pasti Zahwa merasa lelah setelah menempuh perjalanan selama tiga jam untuk sampai ke pondoknya itu. Sedikit banyak sebenarnya Nazwa sudah tahu tentang jalan cerita sampai pertengkaran yang terjadi antara Zahwa dan Anton hingga membawa dirinya smpai ke pondok pesantren itu.
Sementara ayah Zahwa terlihat sedang berbicara kepada adiknya yang tak lain adalah ayah dari Nazwa. Pak Rahmat meminta adiknya itu untuk menasehati Zahwa, agar fikiran Zahwa bisa terbuka dan tak akan salah dalam mengambil keputusan, untuk menentukan bagaimana nanti kedepannya hubungunan rumah tangga Zahwa dan juga Anton. Adiknya itu pun bersedia memenuhi permintaan kakaknya itu, dan setelah makan siang bersama, ayah Zahwa kembali pulang ke rumahnya.
Zahwa keluar dari kamarnya, ia berjalan dan mencari udara segar di sekitar pondok pesantren, indahnya pemandangan dan hijaunya dauh daun pepohonan membuat hati Zahwa terasa tenang, ia pun tersenyum senang kala melihat anak anak pesantren yang sedang bermain di halaman.
Zahwa pun di kejutkan oleh kehadiran Nazwa di sampingnya.
"Za." sapanya Nazwa.
"Hmm." Zahwa pun melempar senyuman kepada Nazwa.
"Kita duduk disana saja." ajak Nazwa, dan menunjuk pada sebuah bangku yang ada dibawah pohon rindang.
Sambil mengangguk Zahwa pun melangkah mengikuti langkah kaki Nazwa. Setelah duduk diatas kursi, Nazwa pun mulai bertanya tentang apa yang membuat Zahwa jadi datang dan ingin tinggal di pondok itu.
"Za, kalau boleh aku tahu, apa yang membuat mu jadi ingin tinggal disini.?" tanya Nazwa.
"Aku hanya ingin menenangkan fikiran ku." jawab Zahwa dengan tersenyum.
"Hmm, aku mengerti, tapi jangan sampai kamu terlena ya, dan melupakan kewajiban mu sebagai seorang istri."ucap Nazwa lagi dengan tersenyum.
Zahwa mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar, ia menatap wajah Nazwa dan berniat ingin menceritakan semua apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Zahwa berharap bebannya akan sedikit terasa ringan, jika bercerita dengan Nazwa dan memang tidak ada rahasia selama ini antara mereka berdua, bahkan saat ia mengenal Reyhan untuk pertam kali pun Zahwa menceritakannya kepada Nazwa, sungguh mereka memang seperti kakak dan adik kandung.
__ADS_1
Tak terasa air mata Zahwa pun mengalir saat menceritakan tentang kerumitan hubungan rumah tangganya bersama Anton, lalu terlihat Nazwa merangkul dan mengelus pelan lengan Zahwa, mencoba memberikan ketenangan kepada saudarinya itu.
Kini setelah mendengarkan cerita Zahwa, ia bisa mengerti tentang kerumitan rumah tangga saudarinya itu, bukan hanya mendengar dari cerita ke cerita, namun karna melihat Zahwa yang masih bersedih, Nazwa pun memilih hanya berperan sebagai pendengar untuk saat ini, ia belum berniat untuk memberikan masukan kepada Zahwa.
***
Dikamarnya Anton pun masih terlihat diam terpaku dalam lamunanya, air matanya kadang masih mengalir saat sedang membayangkan wajah Zahwa. Mama Melinda memasuki kamar anak laki lakinya itu dengan membawa nampan berisi makanan dan juga susu, ia tahu kalau anaknya itu sama sekali belum makan setelah kepergian Zahwa kemarin.
"Nak, ayo makan dulu sayang." ucap mamanya lirih, ia berusaha membujuk Anton untuk mau makan.
"Anton tidak lapar ma." ucap Anton dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Nak mama mohon makanlah sedikit saja, kamu harus kuat nak menjalani ini semua, mama tahu ini memang tidak mudah, tapi kamu harus kuat nak. Mama yakin Zahwa juga pasti akan bersedih jika melihat kamu begini nak." ucap mamanya.
"Ayo sayang, kamu harus makan agar kamu tidak sakit, kamu harus terus sehat nak agar bisa menjemput Zahwa setelah kepulangan papa." anton pun membuka mulutnya setelah mendengar ucapan mamanya itu.
Nasi itu terasa sangat hambar didalam mulut Anton, namun ia bisa memakannya sedikit demi sedikit nasi yang di suapkan oleh mamanya meski dengan susah payah. Anita pun terlihat masuk kedalam kamar Anton bersama Anisa yang terlihat perutnya sudah makin membesar. Mereka berniat melihat keadaan adiknya itu, setelah menanyakan keberadaan Anton kepada mamanya, Anita langsung menjemput dan mengajak Anisa untuk melihat kondisi Adiknya.
"Assalamualaikum." Sapa keduanya, saat berada di depan pintu kamar Anton.
"Waalaikum salam." jawab mamanya, mereka pun mendekat dan ikut naik ke atas tempat tidur Anton.
"An, kamu harus tetap semangat ya, berdo'a dan yakinlah kepada allah bahwa Zahwa akan kembali kepadamu An." ucap Anita berusaha memberi dukungan kepada Adiknya itu.
__ADS_1
"Aku baru sadar kalau ternyata aku mencintai Zahwa kak." ucapan itu keluar dari mulut Anton, ia berlinang air mata saat mengatakannya, namun hal itu membuat Anita dan yang lain jadi tersenyum, karna senang bahwa sekarang Anton telah menyadari akan cintanya itu.
"Ia kakak tahu, itu sebabnya kamu harus kuat, kamu harus tunjukan perubahan sikap mu kepada Zahwa, kamu harus jemput dan yakinkan dia bahwa kamu bisa membuatnya bahagia." ucap Anita kembali meyakinkan adiknya.
Ucapan Anita dan mamanya mampu membuat Anton jadi lebih bersemangat, meski kesedihan atas kepergian Zahwa tidak bisa ia hilangkan, namun setidaknya kini ia masih mempunyai sedikit semangat untuk meneruskan hidupnya sambil menunggu kepulangan ayahnya.
***
Sarah terlihat keluar dari rumahnya dengan menggeret koper, ia tidak ingin lagi tinggal di rumah yang di belikan oleh Anton untuknya dan berniat untuk kembali pulang ke apartemen miliknya.
Sebelumnya Sarah pun telah menyiapkan segala keperluan untuk mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan agama. Niatnya untuk berpisah dari Anton sudah bulat, ia sudah memikirkan semuanya seharian, dan berpisah memang adalah pilihan yang tepat menurutnya.
Ia tahu benar bagaimana rasanya menjadi
Zahwa, karna ia sempat merasakan bagaimana perubahan sikap Anton saat mengetahui kehamilan Zahwa. Baru sebentar ia merasakan hal itu namun Sarah sudah sangat merasakan kejenuhan, jadi bisa ia bayangkan bagaimana menderitanya Zahwa selama ini.
Dan saat akan mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan Agama, Sarah pun menghubungi dan meminta Rudi untuk menemaninya.
"Apa kamu sudah fikirkan keputusan mu ini baik baik Sa.?" tanya Rudi kepada Sarah, ia berusaha menanyakan lagi keputusan sarah tersebut.
"Iya Rud, aku sudah yakin dengan keputusan ku, aku tidak bisa bahagia diatas penderitaan wanita lain. Selama ini aku sudah bersalah dan berdosa Rut, karna telah masuk kedalam rumah tangga mereka, dan ini adalah salah satu cara ku menebus kesalahan ku itu." ucap Sarah.
"Baiklah, kalau begitu tidak akan lagi ada penyesalankan di kemudian hari ya.?" Rudi berusaha meyakinkan lagi keputusan Sarah, dan prempuan itupun hanya menggeleng dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Rudi melajukan mobilnya menuju pengadilan agama untuk menemani Sarah mendaftarkan perceraiannya dengan Anton. Dan setelah selesai mendaftarkan perceraiannya Sarah keluar dengan wajah yang terlihat sangat lega.