
Di depan gedung kantor, Nazwa terlihat turun dari taksi yang ia tumpangi, dan tak begitu lama mobil Rangga juga terlihat datang, dan menuju area parkiran mobil di gedung perusahaan itu.
Nazwa segera masuk kedalam gedung, entah mengapa Nazwa merasa deg degkan saat melihat Rangga, ia teringat akan semua ucapan Zahwa tadi pagi, yang menyuruhnya untuk mengejar dan menjadikan Rangga sebagai kekasihnya.
Rangga yang baru saja turun dari dalam mobil, juga segera masuk kedalam gedung ia terlihat terburu buru masuk kedalam dan segera menuju ruangannya, besok adalah hari keberangkatanya ke kota XX untuk memantau proyek yang telah selesai dibangun, jadi Rangga harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum keberangkatannya esok pagi.
"Pagi Nazwa.!" sapa Rina saat melintasi meja kerja Nazwa.
"Pagi juga Rin." jawab Nazwa.
"Nazwa, kamu kenapa.?" Rina merasa heran saat melihat wajah Nazwa yang tampak merah merona, Nazwa semakin malu saat Rangga melintas di depan meja kerjanya, hingga membuat wajah Nazwa semakin tampak merah.
"Memangnya kenapa Rin, aku merasa diriku baik baik saja." jawab Nazwa.
"Tapi kenapa wajahmu sepertinya merona begitu, apa kamu baru saja menerima pernyataan cinta dari pak Rangga.?" ujar Rina begitu saja, lalu disambung tawanya yang besar.
"Huusss..kamu bicara apa Rin.?" tanya Nazwa yang terlihat terkejut mendengar ucapan Rina.
"Habisnya aku lihat akhir akhir ini kamu selalu berduaan dengan pak Rangga." jawab Rina asal.
"Aku kan membantu pak Rangga Rin." ujar Nazwa.
"Ya kali aja karna keseringan berduaan, kalian jadi saling jatuh cinta." ujar Rina lagi.
"Bicara apa sih, mana ada ya begitu." jawab Nazwa
"Di ammiinin aja kenapa sih, lagi pula pak Rangga kan jomblo, tampan, mapan lagi." ujar Rina, sambil barjalan mendekati Nazwa.
"Sudah ah, aku lagi gak mood untuk membicarakan hal seperti itu." jawab Nazwa yang terlihat malas.
Belum juga mereka menyelesaikan obrolan mereka, tiba tiba Rangga keluar dari ruangannya, dan menghampiri Nazwa di mejah kerjanya, sedangkan Rina dengan cepat kembali ke meja kerjanya.
"Nazwa, apa kamu sudah menyelesaikan laporan yang aku berikan kemarin.?" tanya Rangga.
"I, iya pak, semuanya sudah selesai." Nazwa terlihat terbata bata menjawab pertanyaan Rangga, perasaan Nazwa makin tak menentu, jantungnya terasa seakan ingin melompat keluar, ia baru saja membicarakan Rangga, dan tiba tiba laki laki itu sadah berada dihadapannya.
"Ada apa dengan mu Na, kamu sedang sakit.?" tanya Rangga saat melihat sikap Nazwa yang seperti orang kebingungan.
"Sa, saya baik baik saja pak." jawab Nazwa.
Sementara Rina terlihat menahan senyumnya saat melihat tingkah dan wajah Nazwa yang semakin merona.
__ADS_1
"Kalau begitu keruangan saya sekarang, jangan lupa bawa semua pekerjaan yang sudah kamu selesaikan." ujar Rangga.
"Sekarang pak.?" tanya Nazwa.
"Nazwa, kamu kenapa? Hal seperti ini kenapa harus kamu tanyakan lagi, tentu saja aku memintanya sekarang, masa minggu depan." jawab Rangga yang bingung dengan tingkah Nazwa.
"Ba, baik pak, saya akan segera keruangan bapak." jawab Nazwa. ia segera bangkit dari kursinya, dan berjalan di belakang Rangga menuju ruangan manajernya itu.
"Ehem, ehem, ciee.." Rina mencoba menggoda Nazwa, namun Nazwa mencoba untuk tidak memperdulikannya, dan berpura pura tidak mendengarnya.
Astaghfirullah hal azim, aku kenapa jadi begini sih, ya Allah tolonglah hamba, kenapa hati dan fikiran hamba jadi kacau begini. P**adahalkan ini bukan kali pertamaku menuju ruangan pak Rangga, dan bersama sama menyelesaikan pekerjaan kami. fikir Nazwa.
Setelah sampai di dalam ruangan Rangga, Nazwa masih terlihat berdiri di dekat meja kerja Rangga, ia segara menyerahkan laporan hasil kerjanya yang diminta oleh Rangga.
"Ini laporan yang bapak minta." ujar Nazwa sambil menyerahkan lembaran hasil kerjanya.
Rangga menerima laporan itu, dan mulai melihat lembar demi lembar laporan Nazwa. Saat sedang membaca laporan, Rangga tersadar dengan satu hal, yaitu Nazwa yang terlihat masih berdiri di hadapannya tanpa bergeming sedikit pun.
Rangga pun mengangkan kepalanya, mencoba untuk melihat wajah Nazwa, dan benar saja, ternyata prempuan itu masih terpaku dihadapannya dengan menatap dirinya.
"Hey." Rangga melambaikan tangannya tepat di hadapan wajah Nazwa, tapi perempuan itu masih tak menyadari hal itu.
"Nazwa.!" Rangga memanggil dengan sedikit keras, hingga membuat Nazwa terkejut.
"Jangan sentuh saya." Nazwa yang terkejut seketikan secepat kilat menarik tangannya, ia pun berbicara dengan sedikit keras terhadap Rangga.
"Kamu kenapa, dari tadi aku memanggilmu dan kamu hanya diam saja.?" ucap Rangga sedikit kesal.
"Maaf, maaf pak, saya tidak bermaksut membentak bapak." jawab Nazwa yang merasa tidak enak karna telah membentak atasannya.
"Kalau kamu sakit, sebaiknya kamu pulang saja dan tidak perlu masuk kerja. Untuk keberangkatan besok aku bisa meminta staf lain untuk menemani ku." ujar Rangga lagi.
"Tidak pak, saya baik baik saja, saya hanya sedang kepikiran Zahwa yang sendiri dirumah." jawab Nazwa, ia mencoba untuk menenangkan hati dan fikiranya.
"Baiklah kalau benar kamu memang baik baik saja. Silahkan duduk kita harus menyelesaikan semua pekerjaan kita, karna besok pagi kita harus berangkat." perintah Rangga.
"Baik pak." Nazwa duduk dikursi yang ada dihadapan Rangga, ia terlihat menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan, Nazwa benar benar berusaha untuk nenguasai dirinya, dan mulai mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh Rangga.
***
Diruangannya, Anton terlihat baru saja sampai setelah ia menghantar kedua mertuanya ke terminal. Dan baru saja ia mendudukan tubuhnya di atas kursi singgasananya, tiba tiba ponsel Anton berbunyi.
__ADS_1
Anton mengambil ponsel yang ada di dalam kantung jasnya dan mengankan telepon yang ternyata dari sahabatnya Reyhan.
"Assalam mualaikum Rey." ucap Anton.
"Waalaikum salam An, kamu dimana An.?" tanya Reyhan.
"Aku baru saja sampai dikantor, ada apa Rey.?" tanya Anton.
"Aku ingin membicarakan tentang proyek yang akan kita buat" jawab Reyhan.
"Kalau begitu bagaimana kalau kamu ke kantor saja sekarang." ujar Anton.
"Oke baiklah, dua puluh menit lagi aku sampai." jawab Reyhan.
"Oke."
"Assalam mualikum.''
"Waalaikum salam."
Anton menutup telponya dan mulai membuka satu persatu tumpukan maaf yang ada dihadapannya, ia ingin sekali semua pekerjaannya hari ini cepat selesai, karna ia merasa tidak tenang meninggalkan Zahwa sendirian dirumah.
Baru saja Anton membuka beberapa lembar dari laporan yang sedang ia baca, tapi fikirannya terus saja dihantui oleh rasa kekhawatirannya terhadap Zahwa. Anton pun meraih kembali ponselnya dan berusaha untuk menghubungi istrinya.
"Assalam mualaikum mas." terdengar suara lembut dari seberang sana, suara itu pun mampu membuat perasaan Anton merasa lebih tenang.
"Waalaikum salam.'' jawab Anton dengan tersenyum bahagia karena mendengar suara istrinya.
"Mas sudah sampai dikantor.?" tanya Zahwa
"Iya sayang, mas baru saja sampai, tapi entah mengapa mas sudah sangat merindukan mu." jawab Anton.
"Aku tahu, mas pasti mengkhawatirkan aku kan.? Mas tenang saja ya, aku baik baik saja dirumah." ujar Zahwa yang mengetahui apa yang tengah dirasakan oleh suaminya.
"Iya sayang, kamu baik baik ya dirumah, mas akan cepat pulang." jawab Anton.
"Iya mas."
"Assalam mualaikum."
"Waalaikum salam."
__ADS_1