Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 136


__ADS_3

Rangga terlihat menuju ke tempat para penjual yang ada di seputaran pantai, ia menuju kepada seorang pedagang yang terlihat menjual baju pantai. Rangga membeli sepasang baju pantai pria untuknya dan sepasang baju pantai untuk prempuan berhijab, yang akan ia berikan kepada Nazwa.


"Ni pakailah." ujar Rangga kedapa Nazwa, sambil memberikan baju pantai yang sengaja ia beli untuk Nazwa.


"Ini untuk saya pak.?" tanya Nazwa dengan raut wahah terkejutnya, ia tidak menyangka bahwa atasannya itu akan membelikannya baju.


"Memangnya disini ada siapa lagi selain kamu, gak mungkin dong aku membeli baju untuk prempuan yang tidak aku kenal disini." jawab Rangga. Sebenarnya ada perasaan malu didalam diri Rangga, karena ia tiba tiba begitu memperhatikan Nazwa, namun Rangga mencoba tetap bersikap arogan, untuk menutupi rasa malunya itu.


"Terima kasih pak." jawab Nazwa.


Mereka pun pergi menuju toilet yang ada di pinggiran pantai untuk mengganti pakaian mereka, dan setelah meletakkan pakaian mereka ke dalam mobil, Rangga dan Nazwa kembali menuju pantai.


Rangga mengajak Nazwa untuk duduk di kursi santai yang telah ia sewa dipinggir pantai, dan karena suasana yang juga sedikit terik membuat mereka merasa kehausan.


Nazwa terlihat mengibas ngibaskan tangannya ke bagian wajahnya, rasa haus yang ia rasakan membuatnya merasa sedikit gerah.


"Apa kamu haus.?" tanya Rangga, lalu Nazwa menjawab pertanyaan Rangga hanya dengan anggukan kepalanya.


Rangga pun bangkit lalu berjalan menuju seorang pedagang es kelapa muda.


"Es kelapa mudanya tuan.?" seorang pedagang menawarkan jualannya kepada Rangga yang terlihat menghampirinya.


"Iya pak, saya pesan dua ya pak." ujar Rangga.


"Baik tuan." jawab penjual itu dengan raut wajah senangnya.


Penjual itu segera menyiapkan dua buah es jelapa muda untuk Rangga, lalu memberi beberapa potongan bermacam buah juga susu agar lebih nikmat, dan setelah selesai ia pun memberikannya kepada Rangga.


"Ini tuan." pedagang itu meletakkan dua buah es kelapa muda, ke hadapan Rangga.


"Berapa semuanya pak." tanya Rangga.


"Tiga puluh ribu saja tuan." jawabnya.


Rangga membukan dompet yang ada di dalam celananya dan memberikan uang lima puluh ribu rupiah kepada pedagang es kepala muda itu.


"Kembaliannya buat bapak saja." ujar Rangga.


"Benar tuan.?" si penjual seakan tidak percaya.


"Iya buat bapaknya saja." ujar Rangga lagi dengan tersenyum.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak tuan, semoga rezeki tuan bertambah banyak." jawab penjual itu dengan senang hati.

__ADS_1


"Aamiin.. Kalau begitu saya permisi pak." ujar Rangga dengan sopan.


"Iya, silahkan tuan." menjawab sambil tersenyum dan juga mengangguk pelan.


Setelah Rangga melangkah cukup jauh, penjual itu pun kembali bergumam dengan suara pelan.


"Ya Allah gusti, sudah tampan, sopan, baik lagi, semoga Allah membalas segala kebaikannya, dimudahkan rezekinya, Aamiin..." ucap pedagang itu.


Di jaman seperti ini memang terkadan susah menemukan orang yang seperti Rangga, yang tidak hanya tampan, tetapi juga baik hati.


Dari kejauhan, Rangga melihat seorang laki laki tampak sedang mendekati Nazwa, laki laki berkulih putih dan berambut pirang itu adalah seorang turis yang juga sedang menikmati keidahan pantai, dengan langkah sedikit cepat Rangga berusaha mendek ke tempat duduk Nazwa.


"Excuse me." ucap seorang turis yang mencoba untuk mendekati Nazwa.


"Ya.?" jawab Nazwa.


"Are you alone here.?" tanya turis itu, ia memang tidak melihat ada siapa siapa di sekitar Nazwa.


"No, I'm with.." belum selesai Nazwa menjawab pertanyaan turis itu, tiba tiba Rangga telah berada di belakan turis itu, ia berjalan dengan sedikit lebih cepat, karena tidak ingin Nazwa terganggu.


"Excuse me, do you need anything.?" tanya Rangga, yang saat itu telah berada di hadapan turis asing dan Nazwa.


"Oh no, i just wanted to get acquainted with this girl." jawab turis itu dengan tersenyum.


"I'm sorry, i thought this girl was alone." jawab turis itu, ia sangat terkejut dan mengira Rangga akan marah padanya.


"No problem." jawab Rangga dengan tersenyum.


Turis itu pun terlihat pergi meninggalkan Rangga dan juga Nazwa, lalu Rangga memberikan es kelapa muda yang ia beli kepada Nazwa.


"Apa yang dia lakukan.?" tanya Rangga sambil berjalan menuju kursinya, lalu duduk dan menikmati es kelapa mudanya.


"Tidak ada." jawab Nazwa.


"Baguslah." jawab Rangga, Rangga masih mengira Nazwa tidak pandai berbahasa inggris, hingga ia terlihat begitu santai di hadapan Nazwa, seperti tidak terjadi apa apa.


Tak lama kemudia datang sepasang turis menghampiri Nazwa, mereka mencoba meminta Nazwa untuk mengambil gambar mereka dengan kamera yang mereka bawa.


"Sorry miss, could you help to take our picture." ujar salah satu turis prempuan kepada Nazwa.


"Of course." jawab Nazwa dengan tersenyum, lalu ia pun bangkit dari duduknya dan mengambil kamera yang diberikan oleh turis itu, lalu mulai mengambilkan gambar seperti yang di minta turis itu.


Mendengar Nazwa yang mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh turis itu, bahkan ia juga bisa menjawab pertanyaannya, membuat Rangga merasa terkejut, ia tidak menduga bahwa Nazwa bisa mengerti bahkan berbicara dalam bahasa inggris.

__ADS_1


Rangga pun mulai berfikir, bahwa Nazwa mengerti dengan apa yang ia ucapkan kepada turis pria sebelumnya, yang mengatakan bahwa Nazwa adalah kekasihnya.


Usai mengambil beberapa gambar, Nazwa pun menyerahkn kembali kamera milik turis itu.


"Thank you, sorry for bothering you." ujar turis itu dengan tersenyum.


"Okay, no problem." jawab Nazwa. Lalu turis itu pun pergi meninggalkan Nazwa.


Nazwa kembali duduk di kursi santai di samping Rangga, lalu ia pun kembali meminum es kelapa mudanya.


"Nazwa.!" terdengar suara panggilan dari Rangga.


"Iya pak." jawab Nazwa.


"Apa kamu bisa mengerti apa yang mereka ucapkan.?" tanya Rangga dengan sedikit rasa ragu.


"Iya pak, saya bisa mengerti bahasa inggris, meski tidak begitu pasih." jawab Nazwa santai.


"Jadii.." Rangga sedikit ragu untuk meneruskan ucapannya.


Sedangkan Nazwa ia nampak seperti sedang menunggu atasannya itu meneruskan ucapannya, ia terus menatap wajah Rangga dengan menaikan salah satu alisnya, mencoba untuk mendengar ucapan Rangga selanjutnya.


"Apa kamu tahu apa yang aku ucapkan kepada turis laki laki sebelumnya.?" ucap Rangga, ia berbicara dengan sedikit malu, dan berharap Nazwa tidak mendengar dengan jelas ucapanya itu.


"Iya pak, saya tahu." jawab Nazwa sambil menganggukan kepalanya pelan.


"Semuanya.?" tanya Rangga lagi, rona merah pun mulai tampak di wajahnya.


"Iya semuannya, bapak bilang saya kekasih bapak, lalu laki laki itu meminta maaf dan pergi." jawab Nazwa dengan polosnya. Tapi hal itu malah membuat Rangga semakin malu.


"Lalu menurut mu apa itu salah.?" tanya Rangga, dan Nazwa pun nampak bingung dengan pertanyaan atasannya itu.


"Maksud bapak? Saya tidak mengerti." jawab Nazwa.


"Kamu ini kenapa polos sekali sih, atau kamu sedang berpura pura saja." ujar Rangga, ia merasa kesal karena tidak bisa berterus terang mengungkapkan perasaannya kepada Nazwa.


"Tapi saya bener benar tidak mengerti pak." jawab Nazwa dengan sedikit tertunduk, ia merasa takut karena Rangga seperti sedang memarahinya.


"Apa menurut mu salah jika aku bilang kepada turis itu kalau kamu itu kekasih ku, dan apa munurut mu salah jika aku suka pada mu.?" Rangga kembali berbicara dengan cepat dan bernada sedikit tinggi, karena memang ia tidak bisa bersikap romantis, dan ini merupakan kali pertamanya mengungkapkan perasaan cinta terhadap seorang perempuan.


Mendengar ucapan atasannya itu Nazwa pun merasa terkejut, ia tidak menyangkan bahwa Rangga akan jatuh cinta dan benar benar menyukainya. Nazwa pun tidak dapat membuka mulutnya, dan ia terlihat hanya terdiam dengan sedikit tertunduk.


Melihat reaksi Nazwa yang hanya diam saja, membuat Rangga semakin merasa malu, bahkan ada rasa kecewa di hatinya, karena mengira bahwa Nazwa tidak menyukainya.

__ADS_1


"Ah sudahlah lupakan saja ucapan ku tadi." ujar Rangga, ia pun bangkit dari kursi dan berniat untuk pergi.


__ADS_2