Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 146


__ADS_3

Hari demi hari pun berlalu, tanpa terasa waktu yang ditunggu tunggu pun akhirnya tiba. Setelah Rangga dan Nazwa memberitahu kepada keluarga mereka kapan tepatnya keberangkatan mereka, akhirnya kedua orang tua Nazwa dan juga orang tua Reyhan pun menyetujui hari keberangkatan yang telah di tunjuk oleh Rangga.


Hari minggu atau saat sedang weekend, itulah hari yang di tunjuk oleh Rangga untuk keberangkatan mereka, dan hari itu jatuh tepat hari ini, hari yang sudah tidak sabar di tunggu oleh Nazwa, karena akhirnya Rangga membuktikan kesungguhan hatinya kepada kedua orang tuanya.


Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Rangga, paman dan juga tantenya telah mempersiapkan diri untuk keberangkatan mereka menuju kampung halaman Nazwa, tak lupa juga Reyhan yang akhirnya memutuskan untuk ikut bersama keluarganya, karena sebelumnya Reyhan sempat menolak untuk ikut, tapi karena tidak ingin Rangga kecewa kepadanya, Reyhan pun memutuskan untuk mendampingi adik sepupunya itu.


Rangga terlihat duduk di tepi tempat tidurnya, matanya terlihat fokus melihat sebuah cincin yang ada di dalam kotak berbentuk hati dan berwarna merah. Ia membeli cincin itu secara diam diam dan tanpa sepengetahuan Nazwa, karena ia berniat memberikan kejutan kepada Nazwa lewat benda bulat yang akan ia jadikan sebagai pengikat hati wanita pujaannya.


"Hey!" tiba tiba terdengar suara Reyhan yang telah berdiri disamping Rangga, ia memukul pelan pundak Rangga, mencoba menyadarkan Rangga dari lamunannya. Reyhan masuk kedalam kamar adiknya itu secara diam diam karena tidak sengaja melihat Rangga yang termenung menatap cincin yang akan ia sematkan di jari manis Nazwa itu.


"Mas Reyhan." Rangga pun menoleh melihat Reyhan yang datang tiba tiba dan mengejutkannya.


"Ada apa, kenapa melamun?" tanya Reyhan mencoba mencari tahu apa yang tengah di lakukan oleh Rangga.


"Tidak ada apa apa mas, aku hanya sedang membayangkan seandainya papa dan mana masih hidup pasti mereka akan senang sekali mendapatkan menantu seperti Nazwa." jawab Rangga dengan tersenyum.


"Meraka pasti sekarang sedang bahagia melihatmu dari surga Rangga." ujar Reyhan.


"Iya mas, semoga papa dan mama merestui kami." jawab Reyhan dengan tersenyum.


"Itu pasti, kalau begitu bersiaplah, kita akan segera berangkat setelah sarapan, perjalanan menuju kampung orang tua Nazwa cukup jauh." ujar Reyhan sambil memukul dengan lembut pundak Rangga lagi. Setelah selesai berbicara Reyhan pun berniat keluar dari dalam kamar adik sepupunya itu.


"Mas!" panggil Rangga lagi, saat melihat Reyhan yang akan segera keluar dari kamarnya.


"Hmm." jawab Reyhan yang menghentikan langkahnya lalu berbalik saat mendengar panggilan dari Rangga.


"Mas, aku ingin meminta maaf." ujar Rangga dengan tiba tiba membuat Reyhan terkejut.


"Minta maaf?" Reyhan tampak bingung dengan ucapan Rangga. "Untuk apa Rangga.?" tanya Reyhan lagi.


Rangga pun menundukan kepalanya sejenak, lalu ia bangkit dan berjalan mendekati Reyhan.


"Untuk Nazwa. Aku ingin meminta maaf karena telah mencintainya tanpa memikirkan perasaan mu." jawab Rangga saat telah berada di dekat kakak sepupunya itu, bagaimana pun ia tahu jika Reyhan juga menyukai Nazwa.


"Bicara apa kamu, fokuslah dan persiapkan diri untuk pernikahan mu." ujar Reyhan dengan tegas, ia sepertinya tidak ingin membahas tentang masalah itu.


Reyhan memang sempat menyukai Nazwa saat itu, namun ia segera mengubur perasaannya itu dalam dalam ketika mengetahui bahwa Rangga menyukai perempuan yang sama juga, Reyhan tidak ingin ia mengalami kecewa untuk kedua kalinya, kehilangan wanita yang ia cintai karena menikah dengan laki laki lain.


"Mas." panggil Rangga lagi, lalu mendekat dan memeluk Reyhan, Reyhan pun membalas pelukan adiknya itu.

__ADS_1


"Jangan pernah bahas tentang itu lagi, aku tidak ingin mendengar kata kata seperti itu dari mu." ujar Reyhan sambil mengusap lembut punggung Rangga.


"Hmm, baiklah maafkan aku.'' ujar Rangga, ia pun melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata yang terlihat mengalir membasahi pipinya.


"Rangga dengarlah, kamu akan menjadi pelindung dari seorang wanita, jadi mulai sekarang cobalah untuk selalu bersikap terbuka kepadanya, agar ia selalu merasa nyaman bersama dengan mu, dan ingatlah Rangga kejujuran adalah kunci utama dari sebuah hubungan, jadi berusahalah untuk selalu jujur sekalipun itu menyakitkan, karena pepatah bilang lebih baik sakit karena kejujuran, dari pada manis ulah kebohongan." ujar Reyhan. Rangga pun mengangguk mendengarkan nasehat kakaknya itu.


"Terima kasih mas, aku akan berusaha untuk menjaga dan melindungi Nazwa, aku juga akan selalu berusaha untuk jujur dan selalu terbuka kepadanya." jawab Rangga.


"Bagus." ucap Reyhan dengan tersenyum lebar mendengar jawaban Rangga.


"Mas, terima kasih juga karena telah menjaga dan menjadi pelindungku selama ini." jawab Rangga, dan Reyhan pun tersenyum.


"Tidak perlu berterima kasih Rangga karena itu bukti dari kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya." jawab Reyhan, dan Rangga pun tersenyum mendengar ucapan Reyhan.


Karena tidak kunjung turun dari lantai atas, tante Rita pun akhirnya memutuskan untuk naik dan menemui Reyhan dan Rangga agar segera turun untuk sarapan.


"Rangga, Reyhan, ayo turun kita sarapan." ujar tante Rita.


"Iya ma." jawab Reyhan.


"Iya tante." juga jawab Rangga.


Setelah selesai sarapan, mereka semua bersiap siap untuk berangkat, mama Rita pun menemui pembantu rumahnya untuk berpamitan, setelah selesai ia pun lalu menuju mobil yang di kemudikan oleh suaminya. Namun sebelumnya rombongan mereka terlebih dahulu menuju rumah Anton dan Zahwa untuk menjemput Nazwa disana.


***


Di teras rumahnya, Zahwa dan Nazwa rerlihat saling berpelukan, rasa sedih pun terlihat jelas diwajah Zahwa karena ia tidak bisa mendapingi adik sepupunya itu.


"Kamu hati hati ya, beritahu aku kalau kalian sudah sampai." ujar Zahwa kepada Nazwa.


"Iya Za, aku pasti akan segera mengabari mu setelah sampai di kampung." jawab Nazwa. "Aku pergi dulu ya." ujar Nazwa sambil kembali memeluk Zahwa, ia pun berpamitan kepada Anton, lalu segera menuju mobil yang dikemudikan oleh Rangga.


"Zahwa, kalau begitu kami permisi dulu ya." ujar tante Rita yang juga ikut turun bersama yang lainnya.


"Iya tante, hati hati, aku titip Nazwa tante." ujar Zahwa.


"Iya sayang." jawab tante Rita sambil mengusap lembut lengan Zahwa.


Usai berpamitan dan kembali masuk kedalam mobil, mobil yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan halaman rumah Zahwa, namun lambayai tangan Nazwa masih terlihat jelas oleh Zahwa.

__ADS_1


"Hati hati." ucap Zahwa dengan sedikit keras. Dan setelah mobil mereka sudah tidak nampak lagi, Anton pun mengajak Zahwa untuk segera masuk kedalam rumah mereka.


"Ayo sayang." ucap Anton.


"Iya mas." jawab Zahwa, lalu masuk kedalam.


Saat tiba di dalam, muncul ide di kepala Zahwa untuk mengusir kesepian dan kesedihannya karena tidak dapat ikut menemani Nazwa. Meski pun merasa ragu untuk menyampaikan keinginan hatinya itu, namun Zahwa memberanikan diri untuk berbicara kepada suaminya.


"Mas." panggil Zahwa dengan suara lembutnya.


"Iya sayang." jawab Anton lalu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap istrinya yang berada disebelahnya.


"Aku boleh bicara sesuatu?" tanya Zahwa dengan ragu.


"Bicaralah sayang, kenapa harus minta izin begitu." ujar Anton.


"Aku takut mas keberatan." jawab Zahwa, dan Anton terlihat tersenyum mendengar ucapan Zahwa.


"Bicaralah." ujar Anton lagi, lalu ia menggenggam kedua tangan istrinya, berusaha menenangkan Zahwa agar mau berbicara kepadanya.


"Mas, aku sudah lama tidak melihat toko, kalau mas tidak keberatan dan mengizinkan, aku ingin pergi dan melihat toko." ujar Zahwa. Setelah menyampaikan keinginannya Zahwa terlihat menggigit ujung bibirnya.


Semula wajah Anton nampak tegang saat mendengar keinginan istrinya, namun karena mengerti perasaan Zahwa yang mungkin merasa jenuh selalu berada dirumah, akhirnya Anton melebarkan senyumnya dan memberikan jawaban yang membuat istrinya itu merasa bahagia.


"Iya sayang, mas izinkan kamu pergi tapi dengan satu syarat." jawab Anton yang juga memperikan sebuah syarat, membuat Zahwa merasa berat karena takut tidak bisa memenuhi persyaratan dari suaminya itu.


"Syarat?" tanya Zahwa sedikit terkejut.


"Iya, harus ada syaratnya dong kalau ingin mendapatkan izin dari mas." ujar Anton, ia tahu betul jika istrinya itu tengah merasa gundah karena takut tidak dapan memenuhi persyaratannya, hal itu terlihat jelas dari raut wajah Zahwa yang tampak cemas.


"Apa syaratnya mas?" tanya Zahwa lagi, berbicara dengan sedikit keraguan.


"Syaratnya kamu tidak boleh pergi sendiri dan mas yang akan menghantarkan mu pergi ke toko." ujar Anton.


Seketika ketegangan di wajah Zahwa pun menghilang setelah mendengar ucapan siaminya itu, ketakuta yang ia rasakan karena takut tidak mampu memenuhi syarat dari Anton pun sirna, bahkan senyum bahagia terlihat terpancar begitu indah di wajahnya.


"Aku setuju mas, aku setuju dengan syarat yang mas berikan." jawab Zahwa dengan bahagia.


"Kalau begitu bersiaplah sayang, kita berangkat sebelum siang agar tidak kena macet." ujar Anton, hari libur biasanya jalanan akan semakin ramai karena banyak orang yang akan liburan akhir pekan.

__ADS_1


"Iya mas aku akan bersiap siap, terima kasih ya mas." ujar Zahwa dengan mata yang berbinar. Anton pun menarik lembut wajah istrinya, lalu memberikan kecupan lembut di kening istrinya.


__ADS_2