Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 163


__ADS_3

Setelah memastikan Rangga telah berada kembali di ruangan ICU nya, Nazwa pun memutuskan untuk menghubungi kedua orang tuanya, memberitahukan bahwa operasi Rangga telah selesai dilaksanakan.


Lalu setelah selesai menghubungi kedua orang tuanya, ia segera pergi untuk mencari makanan agar bisa mengisi perutnya yang kosong. Meski pun ia merasa senang karena operasi Rangga yang berjalan lancar, namun di lubuh hati Nazwa tersimpat kesedihan yang mendalam, semua itu karena ia mengingat ucapan dokter yang mengatakan bahwa Rangga tidak bisa sembuh sepenuhnya.


Nazwa mengaduk ngaduk nasi yang ada dihadapannya, dan hanya terlihat dua suapan saja yang masuk kedalam mulutnya, hati dan fikiran Nazwa sungguh merasa tidak tenang setiap kali ia teringat akan ucapan dokter.


"Jangan mubazir makanan, diluar sana banyak orang yang kelaparan karena tidak bisa makan, jadi cepat habiskan makananmu." terdengar suara yang sangat pamiliar ditelinga Nazwa dari belakannya.


Mendengar kata kata yang terdengar seperti tertuju kepadanya, Nazwa pun dengan segera membalikan wajahnya melihat seseorang yang ada di belakangnya.


"Mas Reyhan." sapa Nazwa, ia pun mencoba untuk memberikan senyumannya kepada Reyhan.


"Kenapa cuma diaduk aduk saja, kalau tidak dimakan kamu akan kelaparan dan jatuh sakit, siapa yang akan merawat Rangga?" Reyhan berbicara sambil berjalan mendekat meja Nazwa dan duduk dihadapan Nazwa.


"Iya mas. Mas Reyhan kenapa bisa disini?" tanya Nazwa.


"Aku mendapat telpon dari mama, katanya operasi Rangga berjalan lancar, itu sebabnya aku langsung kemari setelah dari kantor, dan kebetulan aku juga lapar, makanya aku kemari." jawab Reyhan, sambil tersenyum manis.


"Oh.'' Nazwa menjawab singkat.


"Apa yang sedang kamu fikirkan?'' tanya Reyhan lagi kepada Nazwa.


"Tidak ada mas." jawab Nazwa, ia mencoba untuk menutupi rasa gundah dihatinya.


"Nazwa, setelah menjadi istri Rangga, itu artinya kamu telah menjadi bagian dari keluarga kami, tidak baik menyimpan masalah sendiri, dan jika di bicarakan pasti akan menemukan jalan keluar." Reyhan mencoba membujuk Nazwa agar mau bercerita tentang apa yang tengah wanita itu khawatirkan.


"Aku hanya merasa bodoh mas, aku fikir selama ini akulah orang terdekat yang ada di hidup mas Rangga, tapi ternyata tidak. Kenyataannya akulah orang yang paling jauh darinya, hingga ia sakit pun aku tidak pernah menyadari itu, bahkan aku juga yang membuatnya tidak menjaga kesehatan." ujar Nazwa dengan raut wajah sedihnya.

__ADS_1


"Lalu?'' ucap Reyhan.


"Lalu karena ulah dirikulah ia menjadi seperti sekarang ini." jawab Nazwa.


"Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri, semua ini bukan kesalahan mu, tapi memang sudah takdir yang digariskan oleh Allah. Saat ini yang harus kamu fikirkan adalah bagaimana menjalani kehidupan selanjutnya, karena cobaan berat dirimu sebagai seorang istri baru akan dimulai, jadi persiapkanlah dirimu untuk menghadapi kehidupan kalian kedepanya nanti." jawab Reyhan.


Nazwa terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Reyhan, kakak iparnya itu berkata benar, perjuangannya sebagai seorang istri baru akan dimulai, sanggupkah ia untuk merawat Rangga? Bisakah ia bertahan dengan suami yang tentunya akan butuh perhatian ekstra darinya?


Usai makan siang, Nazwa menuju masjid yang ada di lingkungan rumah sakit, karena kebetulan waktu telah menunjulan waktunya untuk sholat Ashar. Terlihat juga Reyhan melakukan hal yang sama, setelah menyelesaikan makanya ia juga segera menuju masjid yang sama dengan Nazwa, namun mereka tidak pergi bersamaan.


Reyhan dan kedua orang tuanya memutuskan untuk pulang kerumah setelah Nazwa kembali lagi ke dalam rumah sakit, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dirumah kediaman mereka, setelas sempat beberapa hari mondar mandir kerumah sakit.


Dan di dalam ruangan ICU Rangga, Nazwa terlihat tengah berdiri di samping pembaringa suaminya itu, Nazwa menatap Rangga dalam wajah suaminya lalu membelai lembut lengan suaminya.


"Izinkan aku berbakti dan membuktikan kesetiaan ku sebagai seorang istri yang baik kepada mu mas." gumam Nazwa pelan. Air mata yang tak dapat ia bendung akhirnya tertumpah perlahan.


Nazwa tidak bergeming dari tempat duduknya, ayat ayat suci pun masih terdengar indah dari bibirnya, meski ia sudah berjam jam melantunkannya, Nazwa baru akan bergera dari tempat duduknya setelah mendengar Adzan, setelah sholat dan makan ia akan kembali lagi kedalam rungan suaminya itu, dan kembali mengaji sampai ia tertidur dengan posisi duduk disamping suaminya.


Sudah dua hari setelah pasca operasi Rangga masih belum sadarkan diri, hingga pada hari kedua Rangga pun akhirnya tersadar dari tidurnya, ia berusaha membuka matanya dengan perlahan, dan mencoba untuk menggerakkan jemari dan kepalanya, saat Rangga membuka matanya dengan sempurna, ia pun mencoba untuk menolehkan kepalanya, dan ia mendapati istrinya yang tengah tertidur disamping tempat tidurnya dengan posisi duduk dan juga wajah yang terlihat begitu lelah, salah satu tangan Nazwa pun terlihat masih menggenggam Al-Qur'an yang selalu ia baca.


Rangga mencoba untuk mengangkat tangannya, lalu ia pun meletakkan tangannya tepat diatas kepala istrinya, Rangga membelai lembut kepala Nazwa yang tertutup oleh hijabnya, dan saat sentuhan lembut Rangga mulai turun ke wajah Nazwa, istrinya itu pun sedit terkejut dan langsung membuka matanya saat merasakan ada sentuhan diwajahnya.


"Mas Rangga, mas sudah sadar mas?" tanya Nazwa dengan gembira, senyum dan tawa pun terlihat jelas diwajahnya.


Rangga juga terlihat begitu senang saat melihat kebahagiaan dari wajah istrinya, wajah yang begitu terlihat lelah itu seketika berubah menjadi sangat manis saat Nazwa tengah tersenyum. Rangga hanya terlihat menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan istrinya, ia juga mencoba untuk tersenyum manis kepada istrinya.


"Alhamdulillah ya allah, aku panggil dokter dulu ya mas." ujar Nazwa.

__ADS_1


"Hmm." jawab Rangga mengangguk pelan.


Nazwa segera memencet tombol untuk memanggil dokter, dan dalam waktu singkat dokter pun tiba di dalam ruangan Rangga bersama beberapa suster.


"Alhamdulillah Rangga kamu sudah siuman?" tanya dokter yang melihat Rangga telah sadar. "Bu tolong silahkan tunggu diluar dulu ya, kami akan memeriksa keadaan Rangga sebentar." ujar dokter dengan ramah kepada Nazwa.


"Baik dok." setelah menjawab, Nazwa pun segera keluar, dan membiarkan dokter untuk memeriksa suaminya.


Setelah pemeriksaan selesai dilakukan dokter, Nazwa pun kembali menemui suaminya, namun sebelumnya dokter sempat menghampiri dirinya dan kembali memperingatkan Nazwa agar bisa menjaga kestabila tingkat emosi Rangga, untuk menjaga kesehatan sumainya itu, dan Nazwa pun mengangguk mengerti, juga akan mematuhi peringatan yang di berikan dokter.


Dokter juga mengatakan kondisi Rangga yang semakin membaik, jika keadaannya sudah memungkinkan maka keesokah harinya Rangga bisa di dipindahkan keruangan pemulihan.


"Aku akan memberitahu tante kalau mas sudah sadar." ujar Nazwa kepada suaminya itu, lalu ia sedikit menjauh dari Rangga untuk menelpon tante Rita. Dan setelah selesai ia kembali duduk disamping Rangga.


"Apa kamu lelah?" tanya Rangga dengan suara yang pelan.


"Tidak mas, aku sama sekali tidak merasa lelah, aku senang bisa menjagamu di sini." jawab Nazwa, meski pun sebenarnya ia merasakan hal itu, namun tentu ia tidak akan mengatakannya, karena tidak ingin membuat Rangga bersedih.


"Kamu tidak usah berbohong, wajahmu sangat bisa untuk mengatakan apa yang kamu rasakan." jawab Rangga, ia pun tahu jika istrinya sedang menutupi kelelahannya.


"Biarkan aku menjaga dan merawatmu, aku ingin berbakti kepada suami ku." jawab Nazwa.


"Kamu memang perempuan yang sempurna." ujar Rangga.


"Jangan bicar seperti itu, kesempurnaan hanya milik Allah, aku sedang ingin membuktikan, bahwa aku tulus mencintai mu." jawab Nazwa.


"Dan aku percaya akan ketulusan mu." ujar Rangga dengan tersenyum manis penuh kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2