
Sebenarnya Nazwa hanya merasa syok, saat ia membuka mata dari komanya, ia berharap sekali orang yang pertama ia temui adalah suaminya, pemilik suara yang sebelum kesadarannya itu terdengar memanggil-manggil namanya.
Namun saat ia membuka matanya, Nazwa tidak mendapati suaminya berada di sisinya, hal itu membuatnya berfikir bahwa suaminya telah tiada, karena Nazwa tahu kecelakaannya pasti membuat penyakit suaminya kambuh.
Dokter terus memeriksa keadaan Nazwa setiap harinya, dan syukurnya semua semakin membaik, meski pun sampai saat ini ia masih tidak bicara dan merespon setiap ucapan yang di dengarnya.
Nazwa merasa dunianya benar-benar hancur karena kehilangan Rangga.
Setelah mengetahui Nazwa telah sadar, Reyhan yang sudah lebih dulu pulih, selalu menyempatkan diri untuk melihat Nazwa di ruangannya, bahkan Reyhan juga selalu menawarkan diri untuk membantu membawa Nazwa mencari udara segar di pagi hari dengan menggunakan kursi roda.
Meski pun tidak pernah merespon apa yang ia ucap, Reyhan selalu saja tak pernah berhenti untuk mengajak Nazwa berbicara, ia bercerita dan bersenda gurau selayaknya seperti pada lawan bicara normal biasanya, namun tidak pernah sekali pun ia membahas tentang Rangga yang kini sedang berada di luar Negeri karena larangan dari ke dua orang tua Nazwa.
Kedua orang tua Nazwa berfikir jika putri mereka mengetahui kondisi Rangga saat ini, akan mempengaruhi kesehatan Nazwa jadi mereka memilih untuk merahasiakannya dulu sampai kondisi Rangga benar-benar membaik dan kembali lagi ke hadapan mereka. Tapi tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya menutupi kondisi Rangga lah yang membuat Nazwa seperti itu, karena ia berfikir bahwa suaminya itu benar-benar telah tiada.
Reyhan benar-benar merasa bersalah atas musibah yang telah menimpa mereka, ia berulang kali meminta maaf kepada kedua orang tua Nazwa, sebab karena keteledoran nya lah yang membuat Nazwa menjadi seperti itu. Meski pun ke dua orang tua Nazwa sudah memaafkan nya dan menganggap semua itu adalah musibah bukan semata-mata kesalahannya, namun Reyhan tetap saja merasa tak enak hati.
Dan untuk menebus kesalahannya, ia pun berjanji kepada kedua orang tua Nazwa untuk mencari pengobatan terbaik dan membiayai semua pengobatan sampai Nazwa benar-benar sembuh.
***
Tiga hari pasca operasi, Rangga mulai siuman, ia mulai dapat merespon setiap ucapan dokter, meskipun belum dapat membuka matanya dengan normal, namun Rangga sudah beberapa kali terlihat menggerakkan anggota tubuhnya, dan kondisi jantung nya pun dapat di pastikan oleh dokter benar-benar berfungsi dengan baik, dan di terima oleh tubuhnya.
Setelah dipastikan keadaan keponakannya itu mulai membaik, papa Reyhan pun berniat untuk pulang ke Indonesia, dan dua hari sebelumnya pak Gunawan telah terlebih dahulu terbang kembali ke Indonesia.
Paman Rangga menitipkan keponakannya itu kepada pihak rumah sakit, untuk memastikan kondisinya agar pulih seperti sediakala, Ia lalu membereskan administrasi serta biaya Rangga selama perawatan beberapa minggu kedepannya, dan setelah usai paman Rangga pun pulang ke Indonesia. Selain memendam kerinduan kepada istri dan anak yang ia tinggalkan masih dalam ke adaan koma, ada banyak hal juga yang harus ia kerjaan, karena cukup lama ia tinggalkan.
***
Setelah dinyatakan benar-benar sembuh, Reyhan pun sudah dapat kembali pulang kerumahnya, meski belum dapat melakukan hal-hal berat namun dirinya jauh semakin membaik. Dan kebetulan sekali, di hari yang sama papa Reyhan pun kembali dari Taiwan.
Cukup lama menempuh perjalanan tibalah ia di tanah air, papa Reyhan segara meminta sopir yang telah menjemputnya di bandara untuk segera membawanya pulang ke rumah mereka. Perasaan rindu terhadap istri dan juga anaknya yang sudah ia tinggalkan untuk waktu cukup lama, seperti sudah di ubun-ubun dan siap untuk meluap keluar seperti asap.
Sesampainya di rumah, papa Reyhan langsung di sambut oleh anak dan juga istrinya, terlihat Reyhan memeluk papanya dengan begitu erat dan cukup lama. Rasa syukur ia luapkan dengan memeluk Reyhan, bahagia karena akhirnya anaknya dapat kembali seperti sedia kala.
"Papa bahagia sekali nak, papa sangat-sangat bersyukur sekali Rey, akhirnya kamu sembuh dan kembali seperti sedia kala."
"Iya pa, ini juga berkat do'a papa kan?"
"Iya nak, semoga Rangga juga bisa cepat pulih, agar kita bisa berkumpul seperti dulu."
"Aamiin pa."
"Bagaimana keadaan Nazwa mah?" Bertanya kepada istrinya yang menangis sambil tersenyum bahagia di samping mereka.
__ADS_1
Sambil menyeka air mata bahagianya, mama Rita pun memberikan penjelasan kepada suaminya.
"Nazwa sudah sadar pa, hanya saja dia tidak bisa berbicara sampai saat ini, bahkan juga tidak merespon setiap ucapan orang-orang di sekitarnya. Padahal dokter bilang kalau semua kondisi fisik Nazwa baik-baik saja, tidak ada kerusakan di pita suaranya, bahkan kondisinya makin hari makin membaik." Jelas mama Rita kepada suaminya dengan raut wajah yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
"Mungkin saja Nazwa masih trauma dengan kejadian yang menimpanya ini, apa lagi sekarang Rangga tidak berada disampingnya."
"Mungkin saja pa, kasian Nazwa." Mama Rita mengingat Nazwa sambil menangis.
"Pa, untuk menebus kesalahan ku, aku sudah berjanji kepada ke dua orang tua Nazwa untuk membantu mencari pengobatan terbaik, dan juga biayanya." Ujar Reyhan
"Baiklah Rey papa setuju, dan papa juga akan ikut carikan pengobatan terbaik untuk Nazwa, bila perlu kita bawa dia ke luar negeri."
"Terima kasih pa."
Sebagai orang tua, papa Reyhan tentu tidak akan membiarkan putranya itu sendiri menanggung bebannya, dan membiarkan Reyhan dalam kesulitan menghadapi segala masalahnya ini.
Tak sampai di situ, obrolan pun berlanjut sampai ke ruang tengah, banyak sekali hal-hal yang mereka bicarakan, mulai dari kondisi Rangga, sampai rencana pengobatan Nazwa pun masih terdengar dibahas oleh mereka.
***
Di dalam ruangan perawatan Nazwa, dokter terlihat sedang berbicara dengan ke dua orang tua Nazwa, tentu saja untuk membicarakan perihal kondisi Nazwa.
Meski pun sampai saat ini Nazwa belum bisa berbicara, namun kondisinya jauh semakin membaik setiap harinya, dan pihak rumah sakit pun telah memperbolehkan pasiennya itu untuk pulang, yang tentu saja disambut bahagia oleh ke dua orang tuanya.
Sebelum mereka keluar dari rumah sakit itu, kedua orang tua Nazwa dan juga kedua orang tua Reyhan terlebih dahulu berdiskusi kemana akan membawa Nazwa, dan setelah berdiskusi dengan banyak pertimbangan, maka sepakat lah mereka untuk membawa Nazwa pulang ke kampung halamannya.
Walaupun dengan berat hati kedua orang tua Reyhan tidak bisa mencegah keinginan ke dua orang tua Nazwa, meski pun di kampung halaman Nazwa masih sangat minim penanganan medis, namun bersama kedua orang tuanya tentu saja Nazwa akan merasa lebih nyaman di bandingkan dengan mereka. Sebagai orang tua, mereka juga tentu saja dapan mengerti sepeti apa perasaan kedua orang tua Nazwa saat ini, karena seperti itulah juga perasaan mereka saat Reyhan dalam masa kritisnya.
Selesai mengemasi segala barang-barang mereka selama tinggal di rumah sakit, mereka pun meninggalkan kamar perawatan itu. Sebelum menuju kampung halamannya, Nazwa dan kedua orangnya terlebih dahulu singgah di rumah Reyhan, rumah di mana dirinya dan Rangga dulu tumpangi.
Dan entah apa yang ia rasakan saat tiba di sana, air mata Nazwa tanpa bisa ia tahan keluar dari pelupuk matanya, di dalam hatinya ia berharap dirinya disambut oleh suaminya, namun lagi-lagi ia tidak melihat sosok itu, dugaannya pun sudah berlarian dan harapannya terasa sirna. Meski ia tidak dapat berbicara, namun Nazwa masihlah manusia yang memiliki rasa dan juga perasaan seperti yang lainya, hanya saja trauma yang membuat suaranya terasa tertahan di tenggorokannya dan tidak dapat dia keluarkan.
Ingin sekali rasanya ia berteriak dan meluapkan segala kesedihannya, namun semua itu tidak dapat ia lakukan, dan hanya air mata lah yang dapat mewakili isi hatinya.
Semua orang yang berada di sekitarnya pun dapat memahami apa yang di rasakan oleh Nazwa, mereka tahu bahwa sebenarnya Nazwa berharap dapat bertemu dengan suaminya saat ini. Namun semuanya masih ,belum mau menjelaskan tentang keberadaan Rangga, sampai suaminya itu benar-benar dinyatakan sembuh dari sakitnya dan kembali ke Indonesia, agar mereka tidak membuat Nazwa hanya berharap yang belum pasti, karena sebenarnya mereka sendiri masih mengkhawatirkan Rangga, meskipun sudah menjalani operasi transplatasi jantung.
Dengan dihantarkan Reyhan dan juga ke dua orang tuanya, Nazwa dan juga kedua orang tuanya berangkat menuju kampung halaman mereka, berbekal kan resep obat-obatan yang telah di tulis oleh dokter, mereka pun berharap Nazwa akan segera pulih seratus persen seperti sedia kala. Reyhan telah menebus obat-obatan Nazwa dengan jumlah 2 kali lipat dari jumlah yang tertulis, hal itu dilakukannya agar orang tua Nazwa tidak kesulitan untuk mencari obat untuk Nazwa yang tentu saja sulit untuk di temukan di kampungnya. Reyhan juga telah berjanji akan menebus dan menghantarkan ke kampung obat-obatan Nazwa apa bila nantinya kehabisan.
Tiba di kampung halaman, semua santri, Ustad, dan Ustadzah yang turut mengajar di pondok itu terlihat menyambut kedatangan Nazwa dan yang lain, mereka terdengar bersholawat membuat hati yang mendengar seketika menjadi tentram. Beberapa Ustad menyambut dan bersalaman dengan abi Nazwa dan juga papa Reyhan, sedangkan para Ustadzah menyambut Umi Nazwa dan juga mama Rita, lalu mereka pun membantu untuk membawa Nazwa untuk menuju kamarnya, kamar yang selalu ia rawat sebelum ia pergi ke Jakarta dan akhirnya menikah dengan Rangga, kamar yang selalu terlihat bersih dan wangi, membuat siapa pun yang memasukinya ingin selalu berlama-lama berada di dalamnya, bukan karena kemewahannya, namun karena kesederhanaan dan juga kenyamanan yang di buat oleh Nazwa.
Nazwa di baringkan di atas tempat tidurnya dan di biarkan terlelap karena kelelahan yang ia rasakan selama beberapa jam perjalanan.
Matahari terlihat semakin menjauh ke arah barat, itu berarti menunjukan bahwa hari mulai petang. Reyhan terlihat berjalan menyisiri rumah-rumah warga sekitar yang terletak di dekat pondok milik ayah Nazwa, ia pun menuju lapangan rerumputan hijau, dan nampak lah rumah yang pernah mereka rencanakan bersama Rangga dan Nazwa untuk berbulan madu.
__ADS_1
Rumah itu telah selesai di bangun dan terlihat begitu indah, terdapat tanaman hias di depannya baik yang berada di dalam pot-pot sedang, maupun di halamannya, di belakang rumah itupun nampak pemandangan sebuah bukit tinggi yang pula terlihat hijau karena pepohonan, meski pun jauh namun masih bisa terlihat jelas ke indahan nya, menambah suasana menjadi lebih nyaman jika berada di rumah itu.
"Kalian bahkan belum sempat mewujudkan mimpi kalian untuk berbulan madu disini, tapi hal buruk ini malah terjadi ulah kecerobohan ku. Maafkan aku Rangga."
Reyhan terdengar bergumam kecil sambil berjalan mendekati rumah itu, ia pun berhenti ketika berada di depan halaman rumah, Reyhan mengedarkan pandangannya di sekeliling melihat beberapa bunga yang nampak bermekaran dan menimbulkan bau wangi.
Dihirupnya dalam-dalam aroma wangi itu, lalu berjalan lagi sampai di depan pintu, Reyhan berniat untuk masuk kedalam rumah itu dan melihat bagaimana isi di dalamnya, di dalam hati ia berharap semoga rumah itu tidak terkunci, karena memang belum ada penghuninya juga bukan.
Ketika ia memegang handle pintu dan hendak membukanya, Reyhan pun terkejut karena pintu itu terbuka dari dalam, yang menunjukkan bahwa ada seseorang di dalam sana. Reyhan pun menyingkirkan tangannya dan memundurkan dirinya beberapa langkah.
Dari dalam sana nampak lah keluar seorang gadis cantik berkerudung yang keluar dengan memegang sebuah gayung, ia sepertinya hendak keluar dari dalam dan terkejut saat melihat Reyhan berdiri di hadapannya.
"Siapa anda? Mau apa kemari?" Tanyanya dengan perasaan cemas, yang nampak terlihat dari wajahnya, matanya terlihat membulat sempurna di hadapan laki-laki yang tidak ia ketahui siapa itu.
"Maaf, maaf kan saya mengejutkan mu, saya tidak tahu kalau ada orang di dalam." Ucap Reyhan dengan sedikit terbata-bata karena merasa gugup.
"Mau apa kemari?" Tanya wanita itu lagi, sambil mengeratkan genggaman gayung yang ada di tangannya, ia berniat akan menggunakan gayung itu sebagai senjatanya jika laki-laki yang ada di hadapannya ini berniat jahat kepadanya.
"Perkenalkan nama saya Reyhan." Masih berbicara dengan gugup kerena melihat ekspresi wanita itu, "Saya kakak sepupu dari Rangga suaminya Nazwa, anaknya pemilik pondok itu." Tangan Reyhan terlihat menunjuk kebelakang mengarak ke tempat pondok berada, namun tubuhnya tidak berpaling sedikit pun dari wanita yang ada di hadapannya, bukan karena takut gayung itu akan menghantam dirinya, namun karena paras cantik wanita yang ada di hadapannya.
Gadis itu terlihat bernapas lega, gayung yang ada di tangannya tidak nampak di genggam erat lagi, menunjukan bahwa dirinya tidak perlu merasa khawatir dengan pria yang ada di hadapannya ini, karena dia adalah kerabat dari Ustad Zakaria, yang tak lain adalah suami dari bibinya.
"Maaf saya sudah berburuk sangka terhadap anda tuan, saya pikir anda orang jahat." Jawabnya.
"Ah, tidak apa-apa saya juga salah, saya pikir rumah ini tidak ada penghuninya jadi tampa memberikan salam sudah seenaknya mau masuk." Ujar Reyhan.
"Tapi kalau boleh saya tahu, anda ini siapa ya nona? Karena setahu saya rumah ini belum di tempati?" Tanya Reyhan yang merasa bingung karena sudah ada yang menempati rumah yang bahkan belum pernah di tempati Rangga dan Nazwa seperti rencana mereka berbulan madu.
"Saya hanya di minta Umi Salamah untuk membersihkan rumah ini selama belum di tempati kak Nazwa dan suaminya." jawabnya sambil menyirami tanaman-tanaman yang ada di dalam pot.
"Oh begitu." Reyhan terlihat mengangguk pelan.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, tugas saya sudah selesai." Ujar gadis itu sambil berniat untuk mengunci pintu rumah itu.
"Tunggu sebentar." Ujar Reyhan, membuat yang berniat mengunci menghentikan aktivitasnya. "Boleh saya melihat-lihat sebentar, nanti biar saya saja yang mengunci dan memberikannya kepada Abi Zakaria." Sambung Reyhan.
Tapi terlihat jelas dari wajahnya gadis itu nampak ragu.
"Jangan khawatir, saya tidak akan mencuri barang-barang di dalamnya, bukankah ini juga rumah adik ipar saya." Reyhan mencoba meyakinkan.
"Baiklah.'' Jawab gadis itu sambil tersenyum manis membuat yang melihat merasa senang. Ia berfikir tidak mungkin pria yang ada di hadapannya itu akan mencuri karena memang rumah itu masih kosong dan belum terisi perabotan rumah tangga yang banyak, apa lagi dia adalah saudara dari suami Nazwa.
Gadis itu menyerahkan kunci kepada Reyhan, lalu bergegas pergi meninggalkan rumah itu. Sedangkan Reyhan, ia nampak terlihat termenung menatap kepergian gadis itu, Reyhan merasa ada sesuatu yang ia lupakan sampai ia tak lagi melihat bayangan gadis itu yang semakin jauh.
__ADS_1
Setelah sedikit lama terdiam barulah Reyhan tersadar bahwa ia lupa menanyakan siapa nama gadis itu, mau di kejar pun sudah terlalu jauh dan tentunya ia malu melakukan hal itu.
"Kenapa gua jadi bego sih, gak nanyain namanya. Ah sudahlah, nanti juga pasti ketemu lagi." Oceh nya sendiri.