
"Abi, apa Reyhan boleh bertanya?"
"Tentu saja nak, apa yang ingin kamu tanyakan Reyhan?"
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di depan meja makan, suasana di meja makan itu kembali sedikit ramai karena adanya Reyhan, mamanya, dan juga pak sopir yang mereka ajak makan bersama.
Dengan perasaan ragu-ragu Reyhan berniat untuk bertanya mengutarakan isi hatinya kepada Abi Zakaria, namun karena takut tidak di setujui ia sempat ingin mengurungkan niatnya untuk bertanya, tapi setelah kembali memikirkan segala pertimbangan akhirnya ia pun memutuskan untuk bertanya meski pun harus menelan kepahitan jika permohonannya itu nanti tidak di perbolehkan.
Di sela-sela makan malam mereka, akhirnya Reyhan memberanikan diri mengajukan pertanyaannya kepada Abi Zakaria dan tentunya di hadapan mamanya. Mama Rita pun sempat bingung dan bertanya-tanya hal apa sebenarnya yang ingin di tanyakan oleh Reyhan, karena sebelumnya putranya itu belum pernah bercerita apa-apa kepada dirinya.
"Apa Reyhan boleh menetap disini untuk beberapa waktu, aku berniat belajar agama lebih dalam lagi di sini dengan Abi?" Dengan ragu-ragu Reyhan menyampaikan maksud hatinya, sesekali ia terlihat melirik mamanya yang ada di sampingnya.
Tanpa pikir panjang Ayah Nazwa itu pun langsung menjawab, karena ini sungguh niat yang baik baginya.
"Alhamdulillahi rabbil alamin. tentu nak, tentu saja boleh. Selama niat mu ini baik, dan bersungguh-sungguh maka tidak ada alasan untuk Abi menolaknya." Abi Nazwa menjawab dengan senang hati dan wajah yang tersenyum.
"Aku benar-benar bersungguh-sungguh, Abi." Jawab Reyhan meyakinkan.
"Kamu serius Rey?" Mamanya yang terkejut dengan ucapan anaknya, mencoba menanyai lagi untuk memastikan ucapan putranya itu.
"Reyhan serius ma. Rasanya Reyhan memang perlu belajar tentang agama lebih dalam lagi. Mama mengizinkan bukan?" Tanya Reyhan, terlihat ia menaikan kedua alisnya, menunggu persetujuan dari mamanya.
"Tentu saja sayang, selama niat mu baik dan bersungguh-sungguh mama pasti izinkan." Dengan tersenyum pula namanya menjawab.
Selama ini Reyhan memang dapat dikatakan tidak begitu taat kepada ajaran agamanya, apalagi semenjak ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 nya di luar Negeri, pergaulan di sana membuatnya lalai untuk beribadah, meskipun ia tidak melakukan hal-hal maksiat, namun Reyhan tidak lagi se taat sepeti sebelum pergi ke luar Negeri. Dan tentunya ada niat lain di hati Reyhan hingga ia memutuskan untuk tinggal di kampung dan belajar di pondok milik Abi Nazwa itu.
"Terima kasih ya ma." Dengan tersenyum manis, Reyhan menggenggam tangan kiri mamanya yang ada di atas meja makan.
"Iya sayang." Jawab mamanya dengan tersenyum. Sebagai orang tua tentunya tidak akan mungkin menghalangi anaknya untuk menuntut ilmu, apa lagi tujuan baik Reyhan agar lebih mendekatkan diri kepada Tuhan pencipta nya.
"Tapi kalau boleh Reyhan meminta izin, Reyhan ingin menumpang tinggal di rumah baru itu, Abi?" Lagi-lagi Reyhan mencoba meminta izin, entah mengapa ia merasa senang tinggal di rumah itu.
Sambil menampakan senyuman di wajahnya Abi Nazwa pun menjawab.
"Silahkan saja nak, kamu bisa tinggal di mana pun kamu suka. Disini boleh, di rumah itu pun boleh, urusan makan mu biar nanti umi yang atur. Iya kan mi? " Ustad Zakaria pun menoleh istrinya meminta persetujuan.
"Iya abi. Insya Allah nanti tiap hari akan Umi kirimkan makanan ke sana ya." Jawab ibu Nazwa sambil menatap Reyhan dengan senyuman di bibirnya.
"Terima kasih, Umi." Ucap Reyhan.
Reyhan merasa senang bukan kepalang, semua niatnya pun akhirnya bisa terwujud. Mereka kembali melanjutkan makan, setelah sempat terhenti karena pembicaraan Reyhan.
***
Satu minggu sudah Reyhan berada di sana, ia terlihat belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh, dan setiap hari pula ia terlihat mengelilingi kampung itu dengan berjalan kaki, tentu saja dengan niat untuk mencari Aisyah.
Reyhan benar-benar di buat penasaran tentang keberadaan gadis itu, dan sampai saat ini Reyhan masih belum juga dapat menemukannya, tapi entah mengapa tidak pula ada keinginan Reyhan untuk menanyakan tentang Aisyah kepada warga sekitar, ia merasa malu jika harus bertanya-tanya ke sana kemari.
Pagi ini Reyhan melihat Nazwa yang di bawa oleh Uminya berkeliling pondok, dengan menggunakan kursi roda Nazwa di bawa oleh uminya untuk menghirup udara segar di luar rumah. Reyhan pun menghampiri mereka dan menawarkan diri kepada umi untuk membantunya membawa Nazwa.
"Reyhan tidak keberatan membawa Nazwa keliling sebentar nak?" Tanya Umi Nazwa.
"Tidak Umi dengan senang hati." Jawab Reyhan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu Umi masuk dulu ya, Umi ingin mempersiapkan sesuatu, hari ini akan ada tamu spesial untuk kalian, dan kalau Reyhan tidak keberatan, bawalah Nazwa ke bawah pohon sana nak." Ujar uminya.
__ADS_1
"Tamu Umi?" Reyhan bertanya dengan penasaran.
"Iya, sebentar lagi mereka akan tiba." Sambung Umi Nazwa dengan tersenyum, lalu setelah itu ia pun pergi meninggalkan keduanya tanpa berniat memberitahu Reyhan.
Dengan diliputi rasa penasaran Reyhan pun membawa Nazwa untuk berkeliling-keliling hingga halaman depan pondok, di sana terlihat sepi karena para santri yang tengah mengikuti jam pelajaran. Hari ini memang terlihat ada Umi Salma di rumah Nazwa, dan biasanya dia datang hanya untuk membantu Umi Maryam jika akan kedatangan tamu seperti keluarga Reyhan, namun Reyhan tak berniat untuk bertanya lebih jauh.
"Hey Nazwa, apa kamu tahu siapa tamu yang dimaksud oleh Umi?" Tanya Reyhan sambil terus mendorong kursi roda. Sebenarnya ia tahu bahwa Nazwa tidak akan mungkin menjawabnya, namun setidaknya ia bisa mengungkapkan rasa penasarannya.
Reyhan pun menghentikan kursi roda Nazwa, tepat di bawah pohon yang dimaksud Umi, lalu ia duduk dihadapan Nazwa saat mereka berada di bawah pohon yang cukup rindang yang ada di halaman kelas pondok. Tak salah Umi menyuruh mereka ke tempat itu, karena di bawah pohon itu benar-benar terasa sejuk, dan biasanya digunakan anak-anak saat sedang beristirahat.
"Apa kamu tidak tahu?" Tanya Reyhan lagi, tapi yang di tanya hanya menatap kosong dihadapannya.
"Ah iya. Kenapa aku lupa ya, kamu kan sekarang sedang tidak ingin berbicara kepadaku, kenapa juga aku harus bertanya kepadamu." Ujar Reyhan yang mencoba membuat lelucon untuk mereka berdua, meskipun lawan bicaranya tentu tidak akan merespon.
"Nazwa, apa kamu tahu? Aku sedang jatuh cinta kepada seorang gadis. Hmm, pastinya kamu tidak akan tahu ya." lalu menertawakan lagi dirinya sendiri, tentu saja Nazwa tidak akan dapat tahu mengenai itu.
"Namanya Aisyah, dia sangattt manis dan cantik, persis seperti namanya." Kembali mengoceh meluapkan isi hatinya.
"Tapi.. Sekarang aku tidak tahu dia ada di mana, dia menghilang setelah kami pertama kali bertemu." Wajah Reyhan pun terlihat bersedih.
"Hey Nazwa, bisakah kau beritahu aku dimana dia berada?" Ujar Reyhan sambil memasang senyum manis di wajahnya, ia pun terlihat menopang wajahnya menggunakan kedua tangannya di hadapan Nazwa.
Reyhan kembali bercerita dan mencoba mengingat-ingat wajah Aisyah lagi, sampai akhirnya ceritanya pun terhenti karena ada sebuah suara yang memanggil namanya.
"Mas Reyhan." Reyhan terdiam sejenak mendengar suara itu, mencoba mengingat-ingat sang pemilik suara, karena ia merasa suara itu sangat tidak asing di telinganya.
Reyhan pun bangkit dari hadapan Nazwa lalu ia memutar balik tubuhnya, ia terpaku sejenak melihat seseorang yang berdiri di hadapannya cukup jauh, tubuhnya terasa kaku seketika.
Cukup lama terdiam, akhirnya Reyhan tersadar dari hening nya, ia pun berlari meninggalkan Nazwa di kursi rodanya, lalu berteriak sambil menghampiri adik sepupunya itu.
"Rangga." Buliran kecil pun nampak mulai berlinang dari kedua bola matanya. Rasa haru bisa melihat lagi adiknya itu pun tak bisa ia sembunyikan.
"Rangga." Kembali Reyhan menyebut nama adiknya itu saat sudah berada didalam pelukannya. "Rangga, maafkan aku." ucap Reyhan pelan di telinga adiknya, berulang kali ia mengucapkan kata maaf.
"Ini bukan salah mas Reyhan." Ujar Rangga yang masih dalam pelukan kakaknya. Sedangkan kedua orang tua Reyhan hanya bisa tersenyum di belakang mereka.
Dari kejauhan kedua orang tua Nazwa tampak mendekat, mereka berjalan sambil tersenyum, lalu berhenti saat berada di belakang kursi roda Nazwa.
Sebelumnya, papa Reyhan sudah memberikan kabar kepada istrinya, bahwa ia akan kembali ke Indonesia bersama dengan Rangga, karena dokter telah mengizinkannya untuk pulang, dan untuk cek up, mereka cukup melakukannya di Indonesia saja. Namun ketika mama Rita memberitahukan keinginan Reyhan untuk tinggal di kampung Nazwa, mereka pun sepakan untuk tidak memberitahunya agar menjadi sebuah kejutan.
Papa Reyhan juga menghubungi Abi Nazwa dan memberitahukan kabar gembira itu kepada besannya ini, namun juga meminta untuk tidak memberitahukan hal ini kepada Reyhan.
Hingga tibalah saat itu, saat di mana Rangga kembali ke Indonesia bersama pamannya, hari itu juga ia berniat untuk pergi ke kampung istrinya setelah mendapat penjelasan dari om dan tantenya mengenai kondisi Nazwa, namun karena kondisi kesehatannya yang belum memungkinkan bepergian jauh lagi setelah melakukan perjalanan panjang, dengan bersusah payah lah om dan tantenya membujuk Rangga untuk menunda keinginan nya sampai keesokan harinya.
Setelah melepaskan pelukan dari Reyhan, Rangga pun menatap istrinya dari kejauhan, tanpa terasa menetes air matanya, perlahan ia berjalan sambil mengusap air mata yang tak dapat ia hentikan. Rangga mempercepat langkahnya dan kemudian ia berlari untuk cepat sampai di hadapan istrinya, Rangga bersimpuh di hadapan istrinya yang ada di atas kursi rodanya.
"Nazwa." Ucapnya lirih.
Rangga langsung memeluk istrinya dengan erat meluapkan kerinduan yang sudah lama ia rasakan, sesengukan ia menangis tanpa menghiraukan semua orang yang ada di sekitarnya.
Puas memeluk istrinya, Rangga pun bangkit dan menyalami ke dua mertua nya, dan cukup lama pula ia berada dalam pelukan abi mertuanya.
"Maafkan saya Abi, tidak bisa menjaga Nazwa dengan baik." Ucap Rangga yang masih terlihat memeluk ayah mertua nya itu.
"Ini bukan salah mu, ini takdir nak, inilah garis kehidupan yang harus kalian berdua hadapi. InsyaAllah, setelah ini kebahagian akan menyertai rumah tangga kalian." Ujar Abi Zakaria yang mencoba menguatkan menantunya.
__ADS_1
"Aamiin, InsyaAllah Abi." Jawab Rangga.
Ia kembali berlutut di hadapan Nazwa, di genggamnya tangan istrinya itu lalu menatap lekat wajah Nazwa. Air mata kembali berlinang setetes demi setetes terjatuh mengenai tangan istrinya yang ada dalam genggamannya.
"Assalamu'alaikum Nazwa, ini mas, mas sudah kembali sayang, dan berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, maafkan mas karena pergi cukup lama dari kamu tanpa bilang-bilang, maaf juga karena tidak bisa berada di samping mu saat kamu dalam masa-masa terberat sayang." Kata-kata Rangga terdengar begitu sedih, dan berat sekali terucap dari bibirnya.
Dan seakan memahami apa yang di katakan suaminya, Nazwa pun terlihat menangis, buliran bening menetes dari matanya, menambah suara hati Rangga semakin sedih.
Karena tak kuasa menahan air mata, Rangga pun kembali memeluk istrinya dengan suara tangis yang pecah seketika.
Ada rasa kehangatan yang menjalar di sekujur tubuh Nazwa saat ia merasakan pelukan hangat dari suaminya itu, Dengan bersusah payah ia mencoba memberikan respon kepada suaminya itu.
Keajaiban pun terjadi, Nazwa mencoba sekuat tenaga yang ia punya untuk menggerakkan tangannya, dan perlahan ia pun memeluk suami yang tengah memeluknya.
Semua mata pun melihat keajaiban itu, dan seketika semua langsung berjalan mendekat ke arah keduanya.
Rangga pun terlihat semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan kedua tangan istrinya yang mencoba memeluknya.
"Kamu pasti bisa sayang, kamu harus bisa melewati semua ini, kita bisa melewati ini semua bersama Nazwa." Ujar Rangga.
Dihirupnya udara dalam-dalam lalu dengan perlahan Nazwa mencoba untuk menghembuskan nya, ia mencoba membuka mulutnya lalu perlahan berusaha untuk memanggil suaminya.
"M, mas." Suara itu keluar dengan sangat pelan dan hampir tak terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitar itu, tapi Rangga yang masih memeluk istrinya tentu saja dapat mendengar panggilan itu dengan sangat jelas.
Rangga yang terkejut, melepaskan pelukan dari tubuh istrinya, lalu dengan kedua tangannya ia memegang kedua belah pipi istrinya.
"Katakan, katakan sekali lagi sayang, katakan lebih keras." pinta Rangga.
Nazwa pun terlihat tersenyum, lalu ia kembali mencoba untuk menyebut kembali suaminya.
"Mas" kali ini terdengar agak kuat suaranya, hingga yang lain pun dapat mendengarnya.
"Alhamdulillah." Dengan bersamaan semuanya. mengucap syukur.
"Kamu bisa bicara nak?" Uminya yang langsung berlinang air mata seketika langsung memeluk Nazwa dan menghujani nya dengan ciuman.
***
Adegan haru-biru yang terjadi di halaman pondok akhirnya selesai, setelah mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah Nazwa, dan sepertinya akan berlanjut saat sudah berada di dalam rumah nanti.
Kini, hanya tertinggal Reyhan yang masih berdiri mematung di bawah pohon rindang yang ada di halaman pondok sambil menatap kepergian yang lain menuju ke rumah abi Nazwa, ia masih takjub dengan kejadian yang ada di depan matanya.
Bagaimana tidak, setelah sekian lama tidak dapat berbicara, bahkan bantuan medis pun tak dapat menyembuhkan, akhirnya Nazwa kembali normal seperti sedia kala hanya karena kehadiran Rangga.
"Sungguh ini yang dinamakan kekuatan cinta." Gumam Reyhan, ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Rangga kembali menarik nafas berat, dan kembali bergumam meratapi nasibnya.
"Zahwa akhirnya bahagia bersama Anton setelah berhasil mempertahankan rumah tangganya yang hampir hancur, dan sekarang mereka sudah memiliki buah hati.'' Reyhan terlihat tersenyum, lalu kembali bergumam pelan.
"Kekuatan cinta Nazwa dan Rangga pun sudah tidak diragukan lagi, setelah semua kejadian berat yang mereka lalui akhirnya mereka sekarang bersama lagi." Kembali ia tersenyum.
"Sekarang tinggal aku sendiri, kenapa rasanya mencari calon istri lebih susah ketimbang mencari wanita yang hanya untuk di ajak bersenang-senang. Bahkan untuk menemukan Aisyah saja rasanya sangat sulit." Reyhan menertawakan dirinya sendiri.
Disaat bersamaan terlihat melintas lah seorang gadis manis menggunakan sepeda, dentingan belnya berbunyi saat menyapa orang-orang yang ia temui di jalanan. Reyhan yang mendengar suara bel sepeda langsung memutar kepala dan melihat siapa yang sedang mengayuh sepedanya itu.
__ADS_1
Reyhan senang bukan kepalang, akhirnya dapat melihat Aisyah lagi. dengan gembira ia memanggil nama gadis itu.
"AISYAH." Reyhan segera berlari mengejar sepeda itu, setelah benar-benar yakin bahwa itu adalah Aisyah.