Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 155


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Rangga, Rina berpamitan untuk pulang, meski Nazwa telah berusaha membujuknya untuk ikut masuk kedalam namun Rina tetap menolaknya. Setelah sepeda motor Rina menghilang dan tidak tampak lagi dari pandangan matanya, barulah Nazwa memberikan salam untuk mencoba masuk.


"Assalam'mualaikum." ucap Nazwa dari luar pagar yang cukup tinggi.


"Waalaikum salam, non Nazwa" jawab seorang satpam yang memang sudah mengenali Nazwa sebagai kekasih Rangga.


Ia pun segera mendekat ke arah pagar dan berusaha untuk membukakan pagar. "Silahkan masuk non." ujar satpam itu.


"Terima kasih pak, mas Rangga ada di dalam kan pak?" tanya Nazwa.


"Iya non, sepertinya den Rangga sedang sakit, semalam dokter pribadi tuan kemari untuk memeriksanya." jawab satpam itu.


"Sakit pak?" tanya Nazwa sedikit terkejut.


"Iya non, memangnya non tidak tahu?" tanya satpam itu lagi.


"Tidak pak, saya fikir dia hanya kelelahan saja pak." jawab Nazwa. "Kalau begitu saya masuk dulu pak." ucap Nazwa lagi.


"Iya non silahkan." jawab satpam itu, lalu ia kembali menutup pintu pagar rumah itu.


"Assalam mualaikum." ucap Nazwa saat berada di depan pintu utama rumah itu, yang tampak terbuka lebar.


"Waalaikum salam." Reyhan yang tampak sedang menuruni anak tangga, mendengar ucapan salam dari Nazwa, ia pun segera mendekat untuk melihat siapa tamu yang datang.


"Nazwa, ayo silahkan masuk." ujar Reyhan yang sedikit terkejut dengan kedatangan Nazwa, senyuman manis pun terlihat sangat indah di wajahnya yang tampan.


"Iya mas terima kasih." jawab Nazwa lalu berjalan melangkah masuk.


"Mah, mah." Reyhan pun mencoba untuk memanggil mamanya. "Bik, bibik." ia juga memanggil pembantunya.


"Iya den." jawab seorang pembantu yang segera datang mendekat, lalu Nazwa pun memberikan buah tanganya. "Non Nazwa, repot repot sekali." ujar pembantu itu dengan senyuman di wajahnya.


"Tidak apa apa bik." jawab Nazwa.


"Dimana mama bik?" tanya Reyhan.


"Mama di sini Reyhan, ada apa." jawab mamanya yang tampak keluar dari dalam kamar, tapi tampaknya ia belum melihat Nazwa.


"Ma, ini Nazwa datang." jawab Rehan, memberitahukan kepada mamanya.


"Assalam'mualaikum tante." ujar Nazwa sambil mendekat dan menyalami tante Rita.

__ADS_1


"Waalaikum salam. Nazwa, kenapa tidak kabari tante dulu kalau ingin kemari?" ujar tante Rita, ia tampak begitu senang dengan kedatangan Nazwa.


"Tidak apa apa tante, Nazwa cuma ingin melihat keadaan mas Rangga." jawab Nazwa.


"Iya sayang, kalau begitu kita atas ya." jawab tantenya, dan Nazwa pun mengangguk setuju.


Mereka pun segera menuju lantai atas untuk menuju kamar Rangga, dan saat tiba di depat pintu kamar Rangga, tante Rita pun mencoba untuk nengeguk pintu.


Tok tok tok..


"Rangga, bolah tante masuk?" tanya tantenya.


"Iya tante." jawab Rangga.


Lalu tante Rita membuka pintu kamar Rangga dan mengajak Nazwa untuk masuk kedalam kamar Rangga. Rangga tampak terkejut dengan kedatangan Nazwa, ia pun segera bangkit dari tempat tidurnya meski agak kesulitan, dan berusaha menunjukan bahwa ia sedang baik baik saja.


"Nazwa." ucap Rangga, dan gadis itu masih tampak menunjukan senyuman manisnya.


Nazwa pun mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Rangga, senyum manisnya sedikit demi sedikit memudar, karena rasa khawatirnya yang mulai tampak saat melihat kondisi Rangga yang tampak terlihat pucat.


"Tante tinggal sebentar ya." ujar tante Rita, ia mengerti mungkin mereka akan membicarakan sesuatu. Nazwa pun hanya terlihat menganggu kepada tante Rita, setelah kepergian tante Rita barulah Nazwa mulai membuka suaranya.


"Mas Rangga kenapa membohongi ku, kenapa mas tidak bilang kalau sebenarnya mas itu sedang sakit?" tanya Nazwa dengan mata yang berkaca kaca. Pengalaman jatuh cinta yang masih minim membuat Nazwa baru merasakan kesedihan saat melihat pujaan hatinya yang tengah jatuh sakit.


"Tapi tetap saja mas membohongi ku." jawab Nazwa yang masih tidak bisa membendung kesedihanya.


"Maaf Nazwa, mas berjanji tidak akan mengulanginya lagi." jawab Rangga, dan Nazwa pun mengangguk pelan, namun buliran air mata Nazwa akhirnya tumpah. "Sudah dong jangan menangis, mas minta maaf ya." ujar Rangga lagi.


Melihat Nazwa menangis membuat Rangga merasa bersalah dan juga sedih, tiba tiba dadanya terasa sesak saat melihat buliran air mata Nazwa yang tumpah karena kesedihanya.


Rangga yang juga baru kali ini jatuh cinta kepada seorang wanita, membuatnya memiliki perasaan yang sama dengan Nazwa, sakitnya melihat pasangan bersedih baru kali ini juga diraskan oleh Rangga, dadanya terasa sesak dan nyeri takala melihat Nazwa mulai menitikan air mata. Namun Rangga berusaha menyembunyikan rasa sakitnya karena tidak ingin membuat Nazwa semakin bersedih dan merasa khawatir.


"Heyy." ucap Reyhan yang tiba tiba datang dan sedang berada diambang pintu kamar adiknya itu, lalu dengan segera Nazwa menghapus sisa buliran air matanya agar tidak terlihat oleh Reyhan.


"Kalian kenapa?" tanya Reyhan yang bingung melihat tingkah sepasang kekasih itu.


"Tidak apa apa mas." jawab Rangga.


"Rey kamu disini juga?" ucap mamanya yang baru saja datang dengan membawa minuman dan juga cemilan untuk Nazwa.


"Iya ma." jawab Reyhan dengan tersenyum.

__ADS_1


"Mama cuma bawa minuman untuk Nazwa ni, kamu buat sendiri aja ya." ujar mamanya.


"Ya deh." jawab Reyhan dengan kesal yang dibuat buatnya dan bertingkah manja.


"Nazwa ayo diminum sayang." ucap tante Rita sambil meletakan makanan dan minuman yang dibawanya keatas meja yang ada di dalam kamar Rangga.


"Tante repot repot sekali." jawab Nazwa yang merasa tidak enak karena telah merepotkan tantenya.


"Tidak sayang tidak ada yang di repotkan, ayo kemari kita duduk disini." tante Rita mengajak Nazwa untuk duduk di sofa.


Sambil mengobrol mereka menikmati makanan dan minuman yang dibawakan oleh tante Rita, sesekali Nazwa memalingkan wajahnya saat berbicara kepada tante Rita untuk melihat Rangga yang terlihat sedang duduk bersandar diatas tempat tidurnya, bahkan Rangga pun terlihat mengamati keasikan tante Rita dan Nazwa saat berbicara.


"Rangga, Nazwa, tadi siang tante sudah hubungi teman tante yang seorang WO itu, dan dia bilang besok dia akan kemari. Tante yakin acara pernikahan kalian pasti akan sangat terlihat berkesan kalau temen tante yang mengurusnya." ujar tante Rita dengan semangat meyakinkan Rangga dan Nazwa.


"Terim kasih tante." jawab Nazwa dengan tersenyum.


Setelah cukup lama berbincang bincang dengan tante Rita, Nazwa pun berniat untuk pulang, karena hari yang terlihat semakin sore.


"Tante, Nazwa pamit pulang dulu ya." ujar Nazwa.


"Kenapa buru buru sekali Nazwa." ujar tante Rita.


"Sudah sore tante, aku takut membuat Zahwa khawatir." jawab Nazwa


"Ya sudah, kalau begitu tante panggilkan Reyhan dulu ya, biar mengantarkan kamu pulang." ujar tante Rita.


"Tidak perlu tante, aku naik taksi saja." jawab Nazwa.


"Jangan dong, inikan sudah sore Nazwa, sebaiknya kamu diantarkan Reyhan saja." ujar tante Rita sedikit memaksa.


"Tante benar Nazwa, lebih baik kamu dihantar mas Reyhan, aku khawatir kalau kamu pulang sendiri." ujar Rangga dari atas tempat tidurnya.


"Tunggu sebentar ya." ujar tante Rita, lalu ia pun keluar dari dalam kamar Rangga, untuk mencari Reyhan di kamarnya yang juga berada dilantai atas bersebelahan dengan Rangga.


"Kalau begitu aku pulang dulu, mas cepat sembuh ya." ujar Nazwa dengan tersenyum.


"Kamu tidak perlu khawatir ya, mas baik baik saja." jawab Rangga juga dengan tersenyum.


"Nazwa. Reyhan sudah menunggu di bawah." ujar tante Rita memberitahu.


"Iya tante." jawab Nazwa, lalu ia pun keluar dari dalam kamar Rangga di ikuti oleh tante Rita.

__ADS_1


Sesampainya di garasi mobil, Nazwa pun berpamitan kepada tante Rita, lalu setelahnya ia masuk kedalam mobil milik Reyhan yang akan menghantarkannya pulang.


__ADS_2