
Anton duduk terdiam dan mematung, ia menggapin kedua tangannya di antara kedua kakinya, air mata masih terus mengalir tanpa bisa ia hentikan, hatinya masih begitu gelisah karna sama sekali belum mendapatkan jawaban dari Zahwa.
Semua nampak begitu prihatin melihat keadaan Anton, hingga akhirnya paman Zahwa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada rumah tangganya dan Zahwa, karna selama ini mereka hanya mendengar kabar dari orang tua Zahwa dan kali ini ingin mendengar langsung dari Anton.
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian.?" tanya sang paman, dan yang lain hanya terdiam menunggu jawaban dari Anton.
"Ak, aku memang bersalah, aku yang salah, ini semua salahku." ucap Anton, dia masih saja terisak dan terdengar tidak mampu untuk berbicara lagi, kepalanya hanya menggelang geleng pelan.
Semua orang tak ada yang mampu untuk meneruskan lagi pertanyaan mereka dan karna melihat keadaan Anton kini hanya ada rasa kasihan yang ada dalam hati dan fikiran semua orang yang menyaksikannya.
Sementara tidak jauh dari tempat mereka sedang duduk bersama, Zahwa berdiri mematung menyaksikan dan memperhatikan keadaan suaminya yang seperti tidak berdaya, seperti seseorang yang sedang ingin dihakimi dan menunggu keputusan sidang. Hal itu membuat Zahwa merasa miris menyaksikannya, ia pernah menyaksikan keterpurukan Anton saat Sarah menolaknya untuk menikah, tapi kali ini Anton terlihat lebih buruk dan hancur lagi, bahkan Anton sampai tidak memperdulikan harga dirinya lagi dihadapan semua orang, kini kewibawaan suaminya yang selalu Zahwa lihat seakan akan sirna dan entah kemana perginya. Zahwa pun memutuskan kembali kedalam kamarnya, ia melangkah dengan dada yang terasa sesak dan air mata yang mengalir dipipinya karna melihat keadaan suaminya itu.
Bahkan ibu Zahwa, orang yang paling kesal dan marah atas penghianatan yang dilakukan Anton pada putrinya, kini ikut merasakan prihatin, hatinya tersentuh dan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh menantunya, saat melihat keadaan Anton yang tengah duduk dihadapannya. Paman Zahwa mencoba mendekati Anton, dan menyuruh menantu kakaknya itu untuk beristirahat di dalam kamar.
"Nak Anton, mari beristirahatlah dulu." Ajak pamannya. Dan tanpa berbicara Anton segera berdiri dan mengikuti langkah kaki pamanya menuju kamar yang telah di sediakan untuk beristirahat.
"Yah." Panggil bu Ningsih kepada suaminya.
"Iya buk."
__ADS_1
"Ibu jadi sedih yah melihat keadaan Anton, apa sebaiknya ibu berbicara saja ya dengan Zahwa.?" tanya bu Ningsih dengan suaminya.
"Sebaiknya memang begitu buk, ibu bisa lihat sendirikan sekarang, bagaimana tulusnya hati nak Anton terhadap putrimu Zahwa, sampai sampai dia menjadi seperti itu." pak Rahmat merasa senang karna kini istrinya itu mulai merasa prihatin dengan Anton dan tentunya tidak akan lagi berharap Zahwa akan meninggalkan suaminya itu.
"Ya sudah Yah, biar nanti ibu bicara dengan Zahwa." jawab bu Ningsih.
"Mba, biar nanti aku ikut ya menemui Zahwa." ucap adik iparnya, ibu dari Nazwa.
"Hmm, ayo kita temui Zahwa di kamarnya sekarang." aja bu Ningsih.
Keduanya pun berdiri dari tempat duduk mereka dan berjalan menuju kamar Zahwa. Sesampainya di depan pintu kamar putrinya, bu Ningsih dan adik iparnya itu sempat berhenti dan saling melempar pandangan, lalu akhirnya bu Ningsih lah yang mengambil tindakan untuk mengetuk pintu kamar Zahwa.
"Assalamualaikum." ucap bibi Zahwa.
"Za, ini ibu dan bibi sayang." panggil ibunya lagi. Dan tak lama terdengarlah suara pintu terbuka.
"Waalaikum salam, buu." jawab Zahwa, lalu keluar dan segera menghambur kedalam pelukan ibunya, ia meluapkan segala rasa dan juga kerinduannya, Zahwa meneteskan air matanya sedangkan ibunya memeluk erat tubuh putrinya itu dan mengusap lembut punggung anaknya. Ketiga prempuan itu pun masuk ke dalam kamar tempat Zahwa biasa merebahkan tubuhnya. Lalu mereka duduk di tepi tempat tidur dalam kamar itu.
"Za, apa kamu senang berada disini nak.?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Iya bu, suasana dan udaranya sangat segar." jawabnya.
"Nak, tapi sudah saatnya kamu ikut suami mu kembali pulang." pinta ibunya, dan Zahwa hanya tertunduk mendengar ucapan ibunya itu.
"Tapi bu." belum juga Zahwa memulai berbicara, bibinya sudah memotong ucapannya, prempuan itu menarik tengan Zahwa dan ikut menasehati keponakan dari suaminya itu.
"Za, bibi tahu kamu marah dengan suami mu karna sikapnya. Tapi sayang, jangan sampai amarah mu menjadi bumerang buat dirimu sendiri, jangan sampai karna mempertahankan keegoisan mu, kamu jadi menyesal seumur hidup mu sayang." ucap bibirnya.
"Nak, sebenarnya ibu juga tidak menyukai suami mu itu karna sikapnya yang semena mena terhadap mu, tapi melihat usahanya untuk mempertahankan rumah tangga kalian, membuat hati ibu jadi tidak tega pula melihatnya nak." bu Ningsih pun berusaha menasehati dan meluluhkan hati putrinya.
"Kami tahu pasti sulit sekali bagimu menjalani semua ini, bahkan jika bibi berada di posisi mu, belum tentu bibi bisa melewati ini semua, tapi jika allah sudah memilih dirimu untuk menjalani hudup berumah tangga seperti ini, itu berarti allah tahu bahwa kamu adalah hambanya yang kuat dan penyabar, karna allah tidak mungkin memberi cobaan kepada hambanya diluar batas kemampuan hambanya tersebut. Kamu adalah prempuan special yang allah pilih untuk menjalani cobaan pernikahan serumit ini sayang, tapi percayalah akan ada kebahagiaan besar di depan sana menanti mu, bahkan insya allah pintu surga sudah terbuka lebar untuk menyambut kehadiran mu kelak sayang diakhirat sana. Kami mohon cobalah untuk memaafkan suami mu itu sayang." ucapan bibinya.
Melihat air mata ibu, dan mendengar permohonan bibirnya membuat hati Zahwa semakin miris, ia jadi merasa bersalah atas tindakannya terhadap suaminya itu, kini Zahwa sadar satu hal, bahwa ternyata semua orang menyayangi dirinya dan semua orang juga akan merasa bersedih jika terjadi suatu hal yang buruk dengan rumah tangganya.
"Bu, bik," Zahwa menggenggam tangan ibu dan bibirnya, ia menarik kedua tangan itu dan meletakkannya diatas pangkuannya.
"Maafkan Zahwa ya, karna aku semua orang jadi susah begini, bibi seharusnya tidak perlu sampai memohon begitu denganku, aku jadi merasa bersalah bi." Zahwa berderai air mata, ia sudah tidak mampu menahan sesak didadanya karna mendengar ucapan ibu dan permohonan bibinya.
"Sebenarnya aku sudah menyadari semuanya, aku tahu ini semua bukan sepenuhnya salah mas Anton, karna aku pun ikut andil membuatnya harus melakukan semua kesalahan ini. Hanya saja aku ingin agar mas Anton benar benar menyadari semua kesalahannya. Karna apa pun alasannya, menawarkan istri kepada laki laki lain itu hal yang sangat memalukan bagiku, meski sebenarnya aku tahu kalau ia melakukan itu semua karna tidak ingin aku merasa tersiksa atas pernikahanku dengannya. Ibu dan bibi jangan khawatir ya, aku pasti akan kembali kepada mas Anton, aku akan menjalankan kewajiban ku sebagai istri dan memberikan contoh yang baik untuk anak anak ku kelak." ucap Zahwa dengan tersenyum manis namun masih berderai air mata.
__ADS_1
Ibu dan bibinya pun ikut tersenyum dan sama sama berangkul Zahwa dalam pelukan mereka.