
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Anton tiba di depan rumah Zahwa, ia memarkirkan mobilnya dan segera turun dari dalam kendaraannya itu. Dari awal perjalanan hingga ia memarkirkan mobilnya, Anton merasakan perasaan yang sangat senang karna akan bertemu dengan istrinya, tapi kali ini ketika keluar dari mobil Anton malah di hinggapi rasa takut, takut jika Zahwa menolak ajakannya untuk kembali pulang dan takut jika kedua orang tua Zahwa kini ikut menentang keinginanya untuk membawa istrinya pulang.
Apa Zahwa masih mau berada kembali ke sisi ku setelah semua yang ku lakukan dengannya, lalu apa ke dua orang tuanya masih mau memaafkan aku. Batin Anton, ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Zahwa dan terasa kakinya sangat berat untuk melangkah, ia jadi mengingat semua kejahatan yang pernah ia lakukan dengan Zahwa selama ini.
Sesampainya di depan pintu rumah Zahwa, Anton pun terlihat kembali terdiam, ia mengambil nafas dalam dalam lalu menghembuskannya dengan pelan, Anton mencoba untuk memantapkan hatinya, ia sudah siap menerima apapun yang akan terjadi nantinya.
Tapi aku tidak bisa menyerah begini saja, apa pun yang terjadi aku harus bisa membujuk istri dan calon anakku untuk kembali lagi padaku. Anton pun mulai mengetuk pintu rumah itu.
Tok tok tok..
"Assalamualaikum." Anton terdengar mengucapkan salam.
"Waalaikum salam." terdengar jawaban dari dalam, dan seketika pintu rumah itu pun terbuka. Dan terlihat Anton bergetar setelah berhadapan dengan ayah Zahwa yang telah berdiri di hadapannya.
"Assalamualaikum ayah." ucap Anton lagi menyapa mertuannya dan menjulurkan tangan ingin menyalaminya, dan pak Rahmat pun menyambut uluran tangan menantunya.
"Waalaikum salam, masuk lah." ucap pak Rahmat.
__ADS_1
Anton pun masuk, dan duduk berhadapan dengan mertuannya di sebuah sofa, melihat menantunya datang, bu ningsih membuatku keduannya minuman, lalu ikut duduk bersama meski ia merasa kesal dengan sikap Anton dengan anaknya, namun bu ningsih tetap berlapang dada menerima kedatangan Anton kerumahnya. Anton terlihat pucat pasi, tangannya pun bergetar saat berhadapan dengan ke dua mertuannya, namun pak Rahmat malah merasa kasihan melihat keadaan menantunya yang berpenampilan sudah tidak karuan.
"Apa kamu kemari ingin menemui Zahwa.?" tanya sang mertua berusaha memulai pembicaraan karna sejak datang Anton hanya terlihat menunduk dan diam tanpa sepatah kata.
"I iya yah, maaf kan aku yah, aku memang sudah membuat kesalahan besar terhadap istri ku." ucap Anton dan tetesan air matanya mulai terlihat di matanya.
"Tolong berhentilah menyakiti Zahwa An, sejak awal menikah dia selalu menderita bersama mu, baru beberapa bulan menikah kamu sudah mempoligaminnya, sekarang kamu menjatuhkan harga dirinya, kasihanilah anak ku An." bu Ningsih pun tak mampu menahan air matanya pula, karna bisa merasakan kesedihan yang selama ini dirasakan putrinya.
"Iya buk Anton minta maaf, aku berjanji akan memperbaiki semuanya bu, aku akan berusaha membahagiakan istri dan anak ku bu." sungguh Anton tidak lagi bisa menutupi sisi kelemahannya.
"Tapi jika dia bersedia kembali lagi dengan mu, ibu harap kamu benar benar bisa menepati janji mu An, atau jika dia tidak bersedia lagi kembali padamu, jangan pernah lagi kamu mengganggu hidupnya lagi." sambung bu Ningsih.
Anton hanya mengangguk mendengar ucapan kedua mertuannya, meski ia senang karna kedua mertuanya tidak melarangnya untuk bersama kembali dengan Zahwa, namun hatinya masih menyimpan rasa ke khawatirannya karna takut Zahwa akan menolak ajakannya untuk kembali.
"Kalian sudah sama sama dewasa, jadi kalian pasti sudah tahu dan bisa mengambil jalan yang benar untuk masa depan kalian." jelas pak Rahmat.
"Iya ayah, aku sangat mencintai Zahwa, aku tidak akan siap jika harus kehilangan Zahwa." ucap Anton dengan sedikit menggelang dan meneteskan air mata.
__ADS_1
"Kalau begitu jemputlah Zahwa di rumah pamannya karna dia tidak berada dirumah ini." ucap pak Rahmat, dan Anton sedikit terkejut karna mengetahui bahwa Zahwa sedang tidak berada dirumah orang tuanya.
"Jadi istriku tidak berada disini ayah.?" tanya Anton dengan menatap pak Rahmat.
"Tidak An, Zahwa meminta dihantarkan ke pesantren pamannya saat tiba disini, karna ia ingin menenangkan dirinya disana." jawab pak Rahmat.
"Apa saya bisa meminta alamatnya yah.?" tanya Anton kembali dengan pak Rahmat.
"Ayah akan menghantar mu kesan setelah makan siang." ucap pak Rahmat dengan tersenyum. Dan Anton pun menganggukan kepalannya lalu ikut tersenyum senang mendengar ucapan pak Rahmat.
Buk Ningsih lalu pergi ke dapur untuk memasak dan menyiapkan makan siang. Setelah semuanya selesai ia pun memanggil suami dan menantunya untuk mempersilahkan mereka makan bersama.
"Pak apa ibu boleh ikut kesana.?" tanya bu Ningsih di sela sela makan siang mereka.
"Iya boleh buk." Jawab pak Rahmat dengan tersenyum kepada istrinya dan bu Ningsih pun ikut tersenyum.
Setelah makan siang selesai mereka pun bersiap siap untuk pergi ke pesantren tempat Zahwa berada, Anton sangat berharap Zahwa istrinya mau ikut pulang bersamanya dan kembali kerumah mereka. Anton merasa sangat bahagia, senyum senang selalu terlihat dari wajahnya bahkan perjalanan yang memakan waktu hampir tiga jam pun tidak terasa bagi Anton, padahal sebelumnya ia juga melakulan perjalanan panjang yang sangat melelahkan dari rumah orang tuanya, menuju kampung halaman Zahwa.
__ADS_1