
Anton menghantar kembali Zahwa ke toko kuenya setelah memeriksakan kandungan istrinya. Anton merasa lega sekaligus senang sekali sudah mengetahui keadaan dan juga jenis kelamin anak mereka.
Sesudah menghantar istrinya, ia kembali lagi ke kantor, dan tak lama setelah tiba di kantor Anton pun kedatangan seorang pengacara yang selama ini telah mengurus perceraiannya dan Sarah.
"Selamat siang pak Anton." sapa pengacara itu saat sudah ada di dalam ruangan Anton dan bersalaman dengan kliennya.
"Selamat siang, silahkan." Anton mempersilahkan pengacara yang lebih tua darinya itu untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
"Saya kemari untuk menyampaikan hasil sidang perceraian pak Anton, dan ada juga yang harus bapak tanda tangani." ucap pengacaranya itu.
"Oh, jadi bagaimana pak.?" tanya Anton.
"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, nona Sarah juga tidak menuntut apa apa dari Anda pak, bahkan ia menolak untuk tetap mendapatkan uang tunjangan bulananya." jelas pengacara Anton.
"Baiklah kalau begitu, tapi saya akan tetap memberikan rumah yang dulu dia tempati, karna itu sudah menjadi hak miliknya, dan saya minta agar bapak mau menemuinya dan menyerahkan sertipikat rumah itu kepada Sarah." ucap Anton lagi kepada pengacaranya.
"Baik pak, segera akan saya urus semuanya." jawab pengacara itu, lalu pergi dari hadapan Anton setelah mendapatkan tanda tangan dari kliennya itu.
***
Sementara itu ditoko kuenya, Zahwa mengajak Nazwa untuk segera pulang, karna ia berniat untuk singgah dan berbelanja kebutuhan rumah tangganya terlebih dahulu di supermarket. Zahwa memesan taksi untuk menuju supermarket, dan setelah sampai ia pun mengajak Nazwa untuk berbelanja.
Di dalam toko Zahwa dan Nazwa terlihat sedang asik memilih milih barang yang akan mereka beli. Tapi, tampak dari kejauhan seorang wanita paruh baya sedang memperhatikan mereka sejak pertama kali memasuki tempat itu, ia terlihat mengamati dan membedakan Zahwa dan Nazwa, dan setelah melihat keadaan perut dari salah satu mereka, ia pun yakin bahwa Zahwa adalah, yang tengah hamil, karna ia pernah mendengar perihal kehamilan Zahwa dari anaknya, wanita itu pun berusaha mendekati mereka, dengan langkah yang sedikit tergesa gesa dan juga dengan wajah yang terlihat emosional.
"Zahwa." panggilnya dengan sedikit nada tinggi. Dan Zahwa segara menoleh kepada sumber suara yang memanggil namanya, ia tersenyum saat melihat wanita paruh baya itu sedang berjalan mendekatinya.
"Tante. Apa kabar.?" Zahwa bertanya, dan menjulurkan tangannya berusaha untuk menyalami wanita itu.
"Tidak perlu basa basi." ucapnya lalu menepis tangan Zahwa. Hal itu membuat Zahwa terkejut, bahkan Nazwa yang juga melihat kejadian itu menjadi heran dan bertanya tanya tentang wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu tiba tiba menarik salah satu tangan Zahwa dan membawanya sedikit menyingkir dari halayak ramai. Nazwa yang lagi lagi terlihat terkejut dengan tindakan wanita itu, segera mengikuti keduanya dengan memegang troli belanjanya, ia merasa khawatir dan takut wanita itu akan menyakiti saudarinya, dan tak ingin sesuatu terjadi kepada calon keponakan.
"Tante, saya mau di bawa kemana." tanya Zahwa panik.
Dan setelah ia rasa sedikit sepi dari pengunjung supermarket itu, wanita paruh baya itu pun melepaskan tangan Zahwa, dan terlihat memaki maki prempuan yang pernah menjadi madu dari anak prempuan.
"Zahwa, kamu sengaja kan membuat hidup anak ku jadi hancur berantakan begini.?" ucapnya dengan penuh amarah.
"Maksud tante.?" Zahwa merasa bingung.
"Tidak usah berpura pura, kamu sengaja kan membujuk Sarah agar mau menikah dengan Anton, lalu setelah itu kamu mempengaruhi Anton agar menceraikan anak ku, kamu membenci Sarah kan, karna dia adalah wanita yang sangat di cintai oleh suami mu." tuding wanita itu.
"Maaf tante, tapi itu semua tidak benar, saya tidak pernah mempunyai fikiran seperti itu. Masalah perceraian mereka, semua itu Sarah yang memintanya tante, bahkan saya sudah berusaha untuk mencegahnya." Zahwa berusaha memberi penjelasan.
"Halah itu cuma akal akalan kamu saja, kamu pasti sudah merencanakan ini semua dari awal. Dasar licin, prempuan murahan." ucapnya lagi.
Nazwa yang sedari tadi hanya memperhatikan dan mendengar ucapan mereka pun akhirnya mengatahui siapa wanita itu, ia ikut tersulut emosi setelah mendengar kata kata kasar dari mama Sarah, Nazwa melangkah mendekat kearah mereka dan berusaha membela saudarinya.
"Ini bukan urusan mu, tidak usah ikut campur, dia memang prempuan tidak benar yang berusaha merebut suami anak ku." ucapnya berteriak kepada Nazwa.
"Tante harus tahu kalau anak tante yang salah, seharusnya kalau dia tahu diri, dia tidak akan menemui laki laki yang sudah menjadi suami orang lain." Nazwa benar benar merasa emosi melihat mama Sarah yang memaki Zahwa. Zahwa pun hanya bisa menengis mendengar ucapan wanita paruh baya itu.
"Tapi dia yang sudah terlebih dahulu merebut Anton dari Sarah." bentaknya lagi tidak terima jika putrinya disalahkan.
"Sudah, sudah cukup. Tante, aku mohon maaf jika aku bersalah, tapi aku bersumpah tante, aku tidak pernah berniat buruk terhadap Sarah, silahkan saja jika tante ingin membenci ku, tapi aku mohon jangan pernah menghina ku seperti itu." Zahwa berderai air mata, sungguh hatinya terasa sakit mendengar makian dan kata kata kasar yang ia terima.
"Kamu memang pantas mendapatkannya." ucap mama Sarah dengan menunjuk ke hadapan wajah Zahwa, lalu ia pun terlihat pergi meninggalkan Zahwa dan Nazwa.
Nazwa bisa melihat kesedihan yang dirasakan oleh Zahwa, ia pun mendekati dan memeluk Zahwa, memberikan ketenangan kepada saudarinya itu.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan ya, kamu harus sabar menghadapi orang seperti itu." ucap Nazwa mencoba memberikan ketenangan.
Zahwa menghapus Air matanya, lalu mengajak Nazwa untuk melanjutkan belanja mereka, dan setelah selesai mereka pun meninggalkan supermarket itu.
Zahwa dan Nazwa tiba di rumah, tapi ternyata di depan rumah mobil Anton telah berada di dalam garasi, menandakan kalau suaminya itu sudah tiba terlebih dahulu sebelum mereka. Zahwa berusaha keras melupakan semua ucapan mama Sarah, dan tidak berniat sama sekali untuk menceritakan kejadian itu kepada suaminya, ia pun mencoba memasang wajah ceriannya di hadapan Anton, agar tidak menimbulkan kecurigaan suaminya.
"Assalamualaikum." ucap mereka bersamaan saat akan memasuki rumah.
"Waalaikum salam." jawab Anton yang terlihat sedang duduk di sofa. Ia berdiri dan berjalan mendekati istrinya.
"Mas, sudah lama pulang.?" tanya Zahwa, lalu menyalami suaminya, sedangkan Nazwa segera menuju ke dapur membawa barang belanjaan mereka, lalu menyerahkannya kepada pembantu.
"Tidak, mas juga baru sampai, kalian habis dari mana.?" tanya Anton.
"Aku dan Nazwa tadi mampir dulu kesupermarket untuk belanja bulanan mas." jawab istrinya.
"Ohh.."
"Sayang, ada yang ingin mas sampaikan." ucap Anton lalu mengajak istrinya untuk duduk di sofa.
"Iya mas, ada apa.?" tanya Zahwa.
"Percerai mas dan Sarah sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Sarah tidak menuntut apapun dari mas, tapi mas tetap memberikan rumah yang dulu ia tempati, kamu tidak keberatan kan.?" Anton memberitahukan apa yang akan ia lakukan, dan meminta pendapat kepada istrinya itu agar tidak menimbulkan masalah.
"Aku sebenarnya bingung mas, harus senang atau sedih mendengarnya, tapi kalau mas akan memberikan rumah itu, aku tidak keberatan mas, aku akan mendukungmu." jawab Zahwa dengan tersenyum.
"Terima kasih sayang, mas cuma tidak mau ada omongan tidak baik diluaran sana, dan dianggap aku laki laki tidak bertanggung jawab, habis manis sepah dibuang." jelas Anton lagi.
"Iya mas, aku setuju dengan keputusan mas." ucap Zahwa tersenyum.
__ADS_1
Meski hatinya masih terasa sakit dengan ucapan mama Sarah, tapi ia tidak akan menyangkut pautkan semua itu dengan urusan perceraian suaminya dan juga sarah, bahkan Zahwa benar benar merahasiakan apa yang terjadi di supermarket tadi, karna tidak mau Anton akan membenci keluarga Sarah.