Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 179


__ADS_3

Reyhan turun dari mobil Firman tepat di depan pondok, dan setelah mobil mereka melaju pergi, Reyhan masuk dan ikut berkumpul dengan keluarganya yang tengah berkumpul di rumah Nazwa. Semua terlihat senang, apalagi pasangan Nazwa dan Rangga yang terlihat begitu mesra, Rangga mencoba membantu Nazwa untuk berdiri dan berjalan, karena sudah terlalu lama duduk di kursi roda membuat Nazwa sedikit kesulitan untuk berjalan normal seperti biasa.


Sambil menyantap camilan yang tersuguh di hadapan mereka, Abi Nazwa terdengar bertanya kepada Reyhan, Laki-laki paruh baya yang memiliki janggut agak panjang dan hampir berubah warna putih semua itu mencoba menggoda pria tampan yang menjadi murid specialnya itu.


"Nak Reyhan, apa belum berniat untuk membina berumah tangga juga?" Tanya Abi Nazwa sambil tersenyum.


Yang ditanya terlihat tersenyum, lalu menggeleng.


"Benar nak, jika memang sudah punya calon, bukankah lebih baik di segerakan." Sambung Umi Nazwa.


Reyhan menatap semua orang yang terlihat tersenyum kepadanya, ia terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mama kan sudah pernah bilang Rey, usia mu sudah cukup matang untuk menikah, mama sudah kepingin punya cucu." Sambung mamanya.


"Tapi masalahnya siapa yang mau dengan aku ma?" Ucap Reyhan dengan malu dan wajah yang terlihat kikuk.


"Masalahnya bukan mas Reyhan tidak ada yang mau, tapi mas kurang gesit, dan terlalu memilih." Timpal Rangga menggoda kakaknya itu.


Reyhan menjadi salah tingkah dengan kata-kata Rangga. Dirinya memang sudah sering menjatuhkan hati kepada perempuan-perempuan cantik dan soleha seperti Zahwa dan Nazwa, tapi entah mengapa ia yang selalu saja di dahului dan di tinggal menikah, apes, apes pikir Reyhan.


Di kantor pun banyak karyawan berprestasi yang suka dengannya, tak perlu mengejar mereka sendiri yang akan datang padanya, namun sayangnya mereka bukan tipe Reyhan, karena penampilan yang seksi dan suka kemewahan membuat Reyhan menjadi ilfil.


***


Reyhan memilih kembali ke rumah yang ia tempati, ia berjalan kaki sambil menikmati kehangatan cuaca di sore hari, dan saat melintasi rumah Umi Salma, Reyhan kembali teringat tentang obrolannya dengan kakak ipar Aisyah.


"Ah, kenapa semua terasa begitu rumit, haruskah aku mengikuti keinginan Nadia? Rasanya ini terlalu sulit, mendapatkan Zahwa saja aku tidak bisa, apa lagi harus memisahkan Aisyah dari kedua mertuanya." Reyhan bergumam pelan, sambil berpikir mempertimbangkan ucapan Nadia.


"Rasanya ini sangat sulit, lebih baik aku mundur saja, toh Aisyah sendiri tidak ingin melepaskan diri dari keluarga suaminya." Gumam Reyhan lagi.


Tanpa terasa langkah pelannya telah menghantar nya di depan rumah yang ia tempati, Reyhan sempat tercengang melihat sepeda yang di gunakan Aisyah berada di halaman rumah itu.


"Dia di sini?" Ucap Reyhan sambil menaikan sebelah alisnya.


Perlahan ia ingin mengucapkan salam dan masuk, namun langkahnya terhenti saat mendengar percakapan Umi Salma dan putrinya Aisyah.


"Aisyah, kamu harus pikirkan hidup mu nak, kamu gak mau kasih Umi dan Abi cucu?" Terdengar ucapan Umi Salma.


"Maafkan Aisyah Umi, tapi aku tidak mungkin pergi dan menghancurkan harapan papa, Umi tahu kan kalau papa sampai saat ini masih yakin bahwa mas Arga masih hidup." Jawab Aisyah.


"Umi tahu nak, tapi harus sampai kapan, kamu punya kehidupan yang lebih baik Aisyah, seharusnya yang kalian lakukan adalah membuat mertua mu menerima kenyataan bahwa anaknya sudah meninggal, bukan ikut memperkuat keyakinannya." Mereka berbicara sambil membersihkan rumah, hingga tiada yang menyadari Reyhan berdiri diambang pintu mendengar percakapan mereka.


"Iya Umi, Aisyah tau Aisyah salah, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa Umi, untuk saat ini rasanya tidak mungkin untuk mengatakan semuanya kepada papa, apalagi saat ini papa sedang sakit." Wajah Aisyah tampak sekali murung, ia sebenarnya juga ingin terbebas dari semua beban hidupnya.


"Kamu memang bukan satu-satunya anak kami syah, ada Hamzah juga adik mu, tapi asalkan kamu tahu nak, setiap malam Abi mu selalu saja memikirkan nasib mu. Kamu tidak mau kan Abi mu jatuh sakit karena memikirkan beban hidup yang kamu jalani." Umi Salma mengusap pelan pundak anaknya itu.


Aisyah mulai meneteskan air mata, ia tidak lagi terdengar menjawab perkataan Umi nya, dan hanya menganggukkan kepalanya pelan, ini bukan pertama kalinya Umi Salma mengatakan hal-hal itu, tapi tetap saja obrolan mereka pasti akan berakhir dengan air mata Aisyah.


Selama ini ia terlihat begitu kuat menghadapi kehidupannya yang rumit, tapi siapa yang tahu bahwa sebenarnya dia rapuh dan merasa tersiksa dengan keegoisan papa mertuanya yang meyakini anaknya masih hidup, dan menuntut dirinya harus tetap setia menunggu kepulangan suaminya.


Kedua orang tua Aisyah bahkan sudah pernah menemui besan mereka dan meminta agar putri mereka bisa di bawa pulang dan menjalani kehidupannya dengan normal, tapi bukannya berhasil membawa pulang Aisyah kedua orang tua gadis itu malah mendapatkan perlakuan buruk dan caci dari besannya, papa Arga pun menentang dan mengatakan bahwa Aisyah bukanlah lagi hak kedua orang tuanya.


Saat itu Aisyah benar-benar merasa bersedih melihat ke dua orang tuanya mendapat perlakuan tidak baik dari papa mertuanya, ia pun meminta kedua orang tuanya untuk pulang dan memilih tetap tinggal di rumah mertuanya, karena tidak ingin melihat ke dua orang tuanya tersakiti.


Aisyah menghapus air matanya, setelah ia mencium punggung tangan ibunya dan berpamitan, ia pun melangkah hendak keluar dari dalam rumah itu. Saat di depan pintu, langkah Aisyah terhenti karena terkejut saat melihat Reyhan yang berdiri di depan pintu, Aisyah menundukkan kepalanya, karena tidak ingin Reyhan melihatnya habis menangis.


Disisi lain Reyhan terlihat salah tingkah saat berhadapan dengan Aisyah, saat ia sadar dirinya menghalangi jalan Aisyah, Reyhan mundur untuk memberikan Aisyah jalan, dan dengan tersenyum Aisyah pun berlalu meninggalkan Reyhan yang masih berdiri di tempatnya menatap kepergian Aisyah.

__ADS_1


"Nak Reyhan." Sapa Umi Salma yang juga keluar dari dalam dan melihat Reyhan masih mematung.


"Ya Umi." Jawab Reyhan.


"Baru sampai ya? Umi cuma bersih-bersih hari ini tapi tidak membawa makanan, Umi Maryam bilang, malam ini makan malam di rumah sana ya." Jelas perempuan paru baya itu.


"Iya Umi, Terima kasih." Jawab Reyhan.


"Umi pamit pulang dulu."


"Iya Umi."


Reyhan masuk setelah Umi Salma pergi, ia terlihat menghempaskan tubuhnya di atas sofa, dan memijat keningnya yang tidak terasa sakit. Selang beberapa menit kemudian ia terlihat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan terlihat menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum." Diam beberapa saat, lalu ia kembali melanjutkan ucapannya. "Saya terima tawaran anda dan bersedia membantu kalian, tapi saya tidak mungkin melakukannya sendiri, jadi saya harap kita akan saling bantu sampai masalah ini clear." Ucapan Reyhan terdengar begitu serius, ia berbicara seolah-olah tidak ingin hanya di jadikan tumbal dan diperalat.


Reyhan melempar pelan ponselnya ke atas meja yang ada di hadapannya, lalu ia terdengar bergumam sendiri.


"Kenapa harus serumit ini, apa ini perjuangan cinta, seperti yang dialami Zahwa, dan Nazwa? Kalau memang kerumitan ini awal dari kebahagiaan ku, akan aku pastikan aku bisa melaluinya." Terlihat Reyhan tersenyum kecil menyunggingkan bibirnya.


"Aisyah, kalau saja aku tahu kamu sendiri menderita, aku tentunya tidak perlu berfikir lama dan menerima tawaran Nadia." Reyhan kembali menggaruk kepalanya yg tidak gatal.


Ternyata tawaran Nadia sempat tidak membuat Reyhan tertarik sama sekali, tapi setelah ia mendengar percakapan Umi salma dan anaknya itu tadi, membuat Reyhan jadi berubah pikiran dan menerima tawaran Nadia, karena merasa bahwa sebenarnya hidup Aisyah sangatlah menyedihkan dan butuh pertolongan.


***


Ke dua orang tua Reyhan bersiap untuk kembali ke Jakarta, mereka sempat mengajak putra mereka untuk ikut pulang bersama mereka, tapi ajakan mereka mendapatkan penolakan dari Reyhan, Reyhan mengatakan bahwa ia masih ingin tinggal di sana, memperdalam lagi pengetahuannya tentang ajaran agama.


Tapi tentu saja tidak hanya itu, Reyhan juga berniat untuk membantu Aisyah keluar dari penderitaannya, dan juga berharap bisa mendapatkan gadis itu sebagai pendampingnya, lalu kembali ke Jakarta dengan membawa Aisyah sebagai istrinya.


Setelah keberangkatan orang tuanya, Reyhan pun pergi untuk bertemu dengan Nadia dan juga suaminya Firman, yang sebelumnya mereka telah berjanji untuk bertemu.


***


Tiga hari setelah pertemuan Reyhan, Nadia dan Firman berlalu, hari ini di depan sebuah cermin Reyhan tampak sedang merapikan pakainya dengan perasaan gugup, entah apa yang membuatnya merasa seperti itu, padahal dia sudah sering bertemu dengan orang-orang hebat yang menjadi koleganya, bersaing untuk memenangkan tender dengan orang-orang jenius pun sudah menjadi hal biasanya baginya, tapi kali ini sepertinya pertemuan yang akan ia hadapi adalah pertemuan yang sangat-sangat menegangkan, karena setelah pertemuan ini, ia akan melalui hari dengan sangat menegangkan.


Ponsel berdering, Reyhan memalingkan wajahnya dari cermin lalu menyambar ponsel yang ada di atas nakas, ia pun melihat siapa yang menelponnya.


"Halo."


"Halo Rey, kamu sudah siap?"


"Iya." Jawab Reyhan tegas, namun sebenarnya ada keraguan di hatinya.


"Nadia sudah menunggu dan mengatur semuanya." Ucap Firman lagi.


"Baiklah." Reyhan menutup telponnya.


Reyhan melangkah keluar rumah, dan ia masuk ke dalam mobilnya yang di bawa sopir dan sengaja di tinggal untuk keperluan dirinya dan Rangga selama di kampung itu.


"Ada gunanya juga papa bawa mobil ku kemari, setidaknya segala urusan ku bisa sedikit lebih mudah, ternyata hidup di kampung juga tidak semudah yang ku bayangkan." Gumam Reyhan.


Selama ini ia hanya berjalan kaki dari pondok menuju rumah yang ia tempati, meskipun tidak berjarak terlalu jauh, namun tetap menguras keringat saat berjalan kaki. Abi Nazwa pernah menawari Reyhan sepeda motor yang ia miliki, namun karena ia tidak begitu pasih mengendarainya, Reyhan menolak dan mengatakan lebih baik berjalan kaki saja.


Reyhan Sampai di sebuah rumah yang cukup besar di bandingkan rumah-rumah yang ada di kampung itu, ia turun dari mobil dan berjalan menuju rumah itu, dan sebelum mengetuk pintu, Reyhan menarik nafas dalam sambil mengusap dadanya.


"Semoga Allah mempermudah segalanya." Gumamnya pelan. Lalu ia terlihat mengayunkan tangannya untuk mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok, tok, tok...


"Assalamu'alaikum." Reyhan menunggu sejenak, lalu kembali memberi salam setelah beberapa detik tapi tidak ada jawaban dari dalam.


"Assalamu'alaikum." Ucapnya lagi.


"Wa' alaikum' salam." Mulai terdengar jawaban dari dalam, setelah itu terdengar suara langkah kaki yang sedikit terburu-terburu, dan terbukalah pintu Rumah itu.


Reyhan melempar senyum manisnya kepada si pembuka pintu yang tak lain adalah Aisyah. Sedangkan Aisyah, ia nampak terkejut dengan kedatangan Reyhan yang sangat tiba-tiba di rumah keluarga suaminya itu, Aisyah berdiri mematung beberapa saat sampai Nadia datang dan menyadarkannya.


"Sudah datang Rey?" Tanya Nadia.


"Ko tamunya gak di suruh masuk, Ai." Nadia kembali bertanya kepada Aisyah yang masih berdiri mematung di sampingnya.


"Ah, i iya mba, maaf. Silahkan masuk." Ujar Aisyah yang terlihat gugup, lalu ia pun berniat untuk pergi meninggalkan Nadia dan Reyhan.


"Eehhh kamu mau kemana?" Tanya Nadia sambil menarik tangan Aisyah yang mau pergi.


"Mau ke dapur, kan sudah ada mba." Jawab Aisyah.


"Tunggu dulu dong, kenalin ini Reyhan, dia guru lesnya Agra." Nadia memperkenalkan Reyhan sebagai guru les anaknya.


"Iya mba, aku sudah tahu." Jawab Aisyah, barulah ia paham tujuan Reyhan datang ke sana adalah sebagai guru les keponakannya.


"Oh iya, mba lupa kalau kalian sudah saling kenal." Jawab Nadia tersenyum.


"Siapa diluar, Nad?" Seseorang laki-laki yang sudah cukup berumur terlihat keluar dari dalam kamarnya dan mendekat kearah mereka bertiga dengan berjalan sedikit pelan karena baru sembuh dari sakit.


"Rey, masuk." Ujar Nadia yang sadar Reyhan masih berdiri di depan pintu, lalu ia pun menjawab pertanyaan papanya.


"Pa, kenalin dia ini guru les Agra, namanya Reyhan. Aku dan mas Firman berniat memberikan pelajaran tambahan untuk Agra di rumah agar tidak kecanduan game online dan lebih banyak belajar, tapi karena aku menetap disini beberapa minggu selama mas Firman tugas di luar kota, jadi aku suruh saja Reyhan kemari. Papa tidak keberatan kan?" Tanya Nadia sambil memasang wajah memelas kepada papanya.


Papa Nadia terlihat mengamati Reyhan dari ujung kakinya sampai ujung kepala, pandangannya terhenti saat saling menatap kedua bola mata Reyhan yang tengah tersenyum dengan rasa gugup kepadanya, ada rasa tidak suka dari dalam hatinya, apa lagi setelah ia sempat mendengar ucapan Nadia bahwa Aisyah dan Reyhan sudah saling mengenal.


"Ya tidak apa-apa, lagi pula kan itu untuk kebaikan cucuku." Meski pun sebenarnya dia tidak suka, namun ia masih berbaik hati mau menerima kehadiran Reyhan sebagai guru les untuk cucunya.


Laki-laki tua itu pergi dari hadapan mereka bertiga, ia tidak berniat sama sekali untuk berkenalan dengan Reyhan, lalu Nadia mempersilahkan Reyhan untuk duduk, dan ia mengajak Aisyah ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Duduk dulu Rey, Arga baru selesai mandi sebentar lagi keluar." Ujar Nadia. Reyhan pun mengangguk lalu duduk di kursi yang ada di ruang tamu itu.


"Ai, Reyhan tampan ya?" Ujar Nadia sambil membuatkan secangkir teh, sementara Aisyah menyiapkan camilan ringan.


"Biasa aja mba." Jawab Aisyah cuek.


"Biasa aja? Tapi kamu suka kan, Ai?" Ujar Nadia lagi.


"Ehemm.." Terdengar suara dari belakang mereka.


Sontak mereka berdua langsung membalikkan tubuh dengan rasa cemas, dan saat melihat kebelakang, perasaan mereka sedikit lebih tenang karena ternyata itu adalah mama mereka bukan papa Nadia.


"Sebaiknya kamu menjaga ucapan mu Nadia, kamu tahukan bagaimana papa mu, dia tidak suka ada laki-laki muda berada di rumah ini, apa lagi kalian sampai membicarakannya." Mama Nadia memperingati putrinya karena tidak ingin ada keributan dirumahnya.


"Iya ma." Jawab Nadia sambil mendekati mamanya, ia pun mengusap punggung mamanya lembut sambil tersenyum.


"Mama cuma tidak ingin ada keributan di rumah ini, bukankah Aisyah sudah cukup menderita di rumah ini, jadi jangan kamu tambah lagi beban pikirannya." Sambung mama Nadia sambil menatap iba ke arah menantunya, Aisyah.


"Ma, jangan bicara seperti itu, aku bahagia ada di tengah-tengah keluarga ini." Aisyah ikut mengusap lengan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kamu memang anak yang baik Aisyah, setiap malam mama selalu berdo'a untuk kebaikan mu nak." Usapan lembut pun mendarat di wajah Aisyah. Biarpun ia sedikit tersiksa karena papa Arga, namun selalu ada mama mertuanya yang membuatnya kuat dan selalu melimpahkan kasih sayang untuk Aisyah.


__ADS_2