Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 73


__ADS_3

Usai melakukan Sholat subuh, Zahwa turun dan ikut menyiapkan sarapan untuk suaminya, meski sudah memiliki pembantu namun Zahwa masih selalu menyiapkan makanan untuk suaminya, ia senang bisa memasak dan menyiapkan sendiri makanan untuk suaminya.


"Pagi Za." sapa Nazwa.


"Pagi juga." jawabnya dengan tersenyum.


"Wah, wah, wah, kamu masak sendiri semua ini Za." tanya Nazwa yang sudah berdiri disamping Zahwa dan melihat makanan yang sudah tertata cantik di atas meja makan.


"Tidak Na, aku hanya membantu sedikit pekerjaan bibi." jawabnya dengan tersenyum.


"O ya Na, nanti kamu bareng mas Anton saja Na, kebetulan kan mas Anton juga akan pergi ke kantor, jadi sekalian aja bareng." ucap Zahwa.


"Tidak perlu Za, aku bisa naik taksi, nanti malah ngerepotin suami mu." tolak Nazwa.


"Gak apa apa Na, kalian kan searaha, mas Anton pasti tidak keberatan" ucap Zahwa lagi dengan tersenyum.


"Ya sudah." jawab Nazwa.


"Kamu sarapan saja duluan Na, aku mau lihat mas Anton dulu diatas ya." ucap Zahwa. Lalu ia pergi menuju kamarnya untuk melihat Anton.


"Sudah selesai mas.?" tanya Zahwa saat melihat suaminya yang baru saja selesai memakai dasi.


"Sudah." ucap Anton dengan tersenyum, lalu mendekat dan tiba tiba mengangkat tubuh istrinya, membuat Zahwa pun jadi terkejut.


"Mas, turunin aku mas, malu kalau sampai ada yang lihat." ucap Zahwa sedikit kesal, sambil memukul pelan dada bidang suaminya, namun Anton hanya terlihat tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


"Kenapa harus malu sih, kita kan suami istri yang sah." jawab Anton lalu menurunkan tubuh istrinya.


"Aku gak enak mas kalau dilihat yang lain, penghuni rumah ini kan bukan cuma kita berdua." ucap Zahwa lagi.


"Iya deh, maaf ya, mas cuma berusaha untuk mengusir sikap canggung yang dulu selalu menghampiri kita." ucap Anton lagi lalu mencium kening istrinya.


"O ya, Mas tidak keberatankan kalau Nazwa, kekantor bareng dengan mas.?" tanya Zahwa dengan sedikit ragu.


"Mas tidak masalah sayang, selama kamu tidak mempermasalahkannya." jawab Anton dengan tersenyum, dan mencubit lembut dagu Zahwa.

__ADS_1


"Iya mas aku tidak apa apa, lagiankan Nazwa saudari ku." jawab Zahwa.


"Dan...nanti siang jangan lupa ya, hantarkan aku ke apartemen Sarah.?" ucap Zahwa lagi.


"Iya sayang." ucap Anton,meski sebenarnya ia masih merasa ragu untuk bertemu lagi dengan Sarah, namun ia harus memenuhi janjinya terhadap Zahwa, agar istrinya itu tidak merasa kecewa.


"Ayo Sarapan dulu mas, tadi aku sudah buatkan mas sarapan." ajak Zahwa.


"Ayo sayang, mas yakin kalau kamu yang masak pasti enak." ucap Anton dengan tersenyum.


Mereka pun turun dan menuju meja makan, disana sudah ada Nazwa yang menunggu mereka untuk sarapan bersama. Dan setelah semua selesai sarapan, Anton dan Nazwa pun berpamitan untuk pergi kekantor yang sebenarnya sama, namun Nazwa belum menyadari itu.


Anton dan Nazwa turun saat mereka sudah berada di depan gedung perusahaan tempat Nazwa akan interview. Namun ia merasakan sedikit kebingungan ketika security yang berjaga di depan pintu masuk kantor memberi hormat dan memarkirkan mobil Anton pada tempatnya.


"Na, nanti kamu langsung saja menuju ruang HRD ya." ucap Anton.


"Iya mas." jawab Nazwa sambil mengangguk pelan.


Lagi lagi Nazwa merasa bingung karna bukannya pergi menuju kantornya, namun Anton malah masuk kedalam gedung perusahaan itu.


"Iya mba mau tanya apa.?" tanya security itu kembali pada Nazwa.


"Kalau saya boleh tahu, tadi bapak yang semobil dengan saya, apa dia karyawan disini juga." tanya Nazwa dengan rasa penasaran.


"Oh pak Anton.! Beliau adalah pemilik perusahaan ini mba." ucap security itu. Dan wajah Naswa pun tampak sangat terkejut, ia lalu teringat akan kejadian dikampungnya waktu itu, ketika Zahwa yang ingin mengatakan sesuatu namun tiba tiba terhenti, saat ia memberi tahu nama dan alamat perusahaan tempat dia akan melakukan interview.


"Oh gitu ya pak, terima kasih ya pa." ucap Nazwa.


"Iya mba sama sama." jawab security itu lalu kembali ke tempatnya berjaga.


Kenapa bisa kebetulan sekali begini sih, aku jadi gak enak ni, aduhh..aku harus gimana ya.? takutnya nanti aku di terima bukan karna memang membutuhkan ku, tapi karna aku saudara dari istrinya. Ya allah kok aku jadi ragu ya. Batin Nazwa.


Nazwa terlihat mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, lalu berusaha menghubungi saudarinya Zahwa.


"Assalamualaikum Na." suara Zahwa di seberapa telpon sana.

__ADS_1


"Waalaikum salam Za." jawab Nazwa.


"Ada apa Na,? apa kamu sudah selesai interviewnya.? tanya Zahwa lagi.


"Boro boro, aku masuk kantornya saja belum. Za, kenapa kamu tidak kasih tahu aku sih kalau ini perusahaan milik suami mu.?" tanya Nazwa sedikit kesal.


"Hehee, maaf ya Na, sebenarnya mas Anton yang melarang ku memberitahu mu tempo hari, karna dia takut nanti kamu bakal mengurungkan niat mu untuk ikut interview, kalau kamu tahu itu perusahaan miliknya." jelas Zahwa.


"Tapi aku malah jadi gak enak Za, entar yang lain bakal mikir kalau aku di terima disini karna saudari mu, bukan karna prestasi ku." ucap Nazwa lagi.


"Sudah tidak usah berfikiran negatif begitu, kamu interview saja dulu, mas Anton sudah janji dia tidak akan ikut campur ko, itu bakalan menjadi urusan HRD sepenuhnya." ucap Zahwa meyakinkan sepupunya itu.


"Ya sudahlah, aku coba saja dulu ya, lagi pula aku juga sudah terlanjur ke Jakarta kan." jawab Nazwa. Lalu mereka mengakhiri panggilannya.


Nazwa masuk kedalam gedung perusahaan dengan perasaan yang tak menentu, setelah menemui resepsionis, dia pun di minta untuk segera menghadap ke ruang HRD.


"Kami akan menghubungi mbak lagi untuk selanjutnya." Ucap kepala bagian HRD itu setelah selesai mewawancarai Nazwa.


"Baik pak, Terima kasih." ucap Nahwa dengan tersenyum dan keluar dari ruangan itu.


Nazwa segera keluar dari gedung megah itu, ia segera menaiki taksi yang kebetulan melintas didepan kantor, lalu segera pulang kerumah saudarinya Zahwa.


"Assalamualaikum." ucapnya saat akan memasuki rumah.


"Waalaikum salam." jawab Zahwa yang kebetulan sedang duduk di sofa ruang tamunya.


"Wah kamu mau kemana Za, sudah rapi banget.?" tanya Nazwa yang melihat saudarinya sudah nampak cantik.


"Aku dan mas Anton berniat menemui Sarah hari ini, aku ingin meminta maaf dan kalau memungkinkan aku ingin mengurungkan niatnya untuk menggugat cerai mas Anton." jelas Zahwa.


"Apa kamu yakin akan melakukan semua itu.?" tanya Nazwa.


"Iya Na, apa pun nanti keputusan Sarah aku sudah siap untuk menerimanya, tapi aku harus tetap menemuinya untuk meminta maaf, bagaimana pun aku yang memintanya untuk masuk kedalam rumah tanggaku, jadi aku juga yang harus menyelesaikannya." ucap Zahwa menjelaskan.


"Hem, kamu benar kamu memang tidak bisa lari dari semua ini, perbaiki selagi bisa diperbaiki, tapi ingatlah, jangan pernah memaksakan kehendak mu, karna yang menurutmu baik belum pasti baik juga menurut orang lain." Nasehat Nazwa dengan tersenyum. Dan terlihat juga anggukan kepala Zahwa dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2