
Sarah kembali melanjutkan gambar desain bajunya, tapi entah mengapa hati dan fikirannya tidak bisa berkonsentrasi dengan benar. Sarah meletakkan kembali alat tulisnya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi yang sedang ia duduki. Ponsel Sarah tiba tiba kembali burbunyi lagi, dan ia pun meraihnya lalu mengangkat panggilan masuk itu.
"Halo Rud." Jawabnya saat menerima panggilan yang ternyata dari Rudi.
"Apa kamu sudah makan siang.?" tanya Rudi.
"Ah..belum aku hampir saja lupa kalau ini sudah waktunya jam makan siang, aku terlalu sibuk menggambar desain baju ku." jawab Sarah.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita makan diluar saja.?" ajak Rudi.
"Tapi perkerjaan ku masih sangat banyak Rud." ucap Sarah lagi, saat melihat mejahnya yang masih penuh dengan peralatan tulisnya.
"Baiklah, kalau begitu biar aku bawakan makanan saja ya ke sana." jawabnya lagi.
"Terima kasih Rud." jawab Sarah lalu mengakhiri obrolannya itu dan mematikan ponselnya.
Kurang lebih setengah jam Sarah menunggu, hingga akhirnya Rudi tiba di butiknya dengan membawa beberapa makanan ditangannya. Rudi segera masuk kedalam ruangan Sarah, dan memberikan bungkusan makanan itu.
"Terima kasih Rud, maaf aku merepotkan mu." ucap Sarah saat Rudi memberikan makanan.
"Tidak perlu berterima kasih begitu, aku hanya menghawatirkan kesehatan mu." jawabnya, lalu keduanya pun saling melemparkan senyuman.
Sarah segera menyiapkan sumua makanan dan minuman yang dibawakan Rudi di atas meja sofatnya, lalu ia pun mengajak Rudi untuk makan bersama.
"Apa kamu masih memikirkan masalah perceraian mu dengan Anton.?" tanya Rudi, yang melihat Sarah makan dalam keadaan seperti tidak bersemangat. Sarah pun hanya tersenyum mendengarnya.
"Tadi pengacara mas Anton kemari, memberikan sertifikat rumah yang dulu di belikan mas Anton untuk aku tempati." ucap Sarah bercerita.
__ADS_1
"Lalu.?" tanya Rudi.
"Aku menerimanya, karna ia hanya bermaksud memenuhi tanggung jawabnya." jelas Sarah lagi.
"Hmm, kalau begitu jangan terlalu dipikirkan, aku tahu ini memang berat untuk mu." ucap Rudi menghibur.
"Aku hanya tidak menyangka, kalau hubungan kami yang dulu sangatlah romantis akan berakhir seperti ini." jawabnya lagi dengan tersenyum.
"Sarah, sekarang yang harus kamu fikirkan bagaimana langkah hidupmu kedepan, kamu harus bisa bangkit dan melupakan semua masa lalu mu." jelas Rudi lagi.
"Hmm, terima kasih Rut." ucap Sarah tersenyum, lalu mereka pun melanjutkan makan kembali.
Sarah merasa tenang dan senang saat bersama Rudi, laki laki itu selalu memberi semangat untuk dirinya. Keputusannya untuk bercerai memang bukanlah perkara yang gampang dan mudah, apa lagi dengan usia pernikahannya yang baru beberapa bulan, jika kebanyakan pengantin baru akan menghabiskan waktu bersama dengan masih romantisnya, tapi berbeda dengannya yang harus mengakhiri semuanya. Namun Sarah merasa keputusannya itu memang sudah tepat karna ia tidak ingin membuat Zahwa lebih terluka dan sakit hati lagi atas kehadirannya.
***
Di tokonya, Zahwa di kejutkan dengan kedatangan Anton yang tiba tiba saja sudah berada disana dengan membawa banyak makanan. Anton meminta sekertarinya untuk membeli berbagai macam makanan untuk ia bawa ke toko Zahwa sebelum jam makan siang.
"Kenapa membawa makanan kemari sebanyak ini mas.?" tanya Zahwa saat membantu yang lain membawa makanan yang dibawa oleh suaminya.
"Mas tidak selera kalau harus makan sendiri, jadi mas fikir kenapa tidak makan disini saja bersama mu, jadi skalian saja mas belikan untuk yang lainnya juga." jawab Anton dengan tersenyum.
"Mas kan bisa bilang kalau mau makan disini, biar aku dan yang lain siapkan." ucap Zahwa.
"Mas tidak mau merepotkan mu, lagi pula tadi mas menyuruh sekretaris mas untuk membeli ini semua." jelas Anton.
"Kalau begitu tunggulah sebentar ya, aku akan menyiapkan makanan untuk mas." ucap Zahwa lalu pergi dari hadapan suaminya dan menyiapkan makanan.
__ADS_1
Setelah menyiapkan semuanya, Zahwa pun mempersilahkan suaminya untuk makan, tentu saja dengan didampingi dirinya, karna alasan Anton membawa semua makanan itu ke tokonya, karna tak berselera jika makan sendirian.
Semua terlihat senang, dan Zahwa pun mempersilahkan karyawan untuk makan sepuanya, karna makanan yang di bawa Anton memanglah sangat banyak. Karyawan Zahwa merasa bersyukur, selain keadaan rumah tangga Zahwa yang kini sudah membaik, merekapun sering mendapatkan bonus dan makanan yang tidak terduga duga, apa lagi makanan yang di beli Anton terbilang makanan mahal dari restoran, dan jarang dirasakan oleh mereka yang hanya berkerja sebagai pegawai toko kue.
Usai makan, Anton sempat sedikit menghabiskan waktu bersama istrinya, bahkan ia pun melakukan sholat bersama dengan Zahwa, lalu akhirnya kembali ke kantornya. Tidak lama berselang, Nazwa yang tengah sibuk membatu para karyawan tiba tiba mendapatkan panggilan masuk di telponnya, lalu dengan segera ia mencuci tangan dan mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum." sapa Zahwa.
"Waalaikum salam, apa benar ini dengan nona Nazwa.?" tanya seseorang di seberang sana.
"Iya benar saya sendiri."
"Kami dari perusahaan XXX nona, perusahaan memberikan anda kesempatan untuk bekerja disini, apa besok nona sudah bisa mulai berkerja.?" tanya penelpon itu lagi.
"Iya ya, insya allah saya sudah bisa masuk besok, jadi benarkan saya di terima kerja.?" tanyanya hampir tidak percaya.
"Ia nona, anda diterima kerja. Kalau begitu terima kasih nona, selamat siang." ucap penelpon itu lalu memutus sambung telpon.
"Selamat siang." ucap Nazwa lagi.
Nazwa pun tersenyum lebar, hatinya sangatlah senang, karna akhirnya ia bisa berkerja di perusahaan yang terbilang besar. Melihat tingkah saudarinya itu, Zahwa pun mendekat dan berusaha menanyakan perihal yang membuat Nazwa tampak begitu senang.
"Ada apa Na.?" tanya Zahwa.
"Za, aku diterima kerja di perusahaan suami mu." jelas Nazwa.
"Syukur Alhamdulillah Na, selamat ya akhirnya kamu kerja juga." jawab Zahwa.
__ADS_1
"Iya Za, terima kasih ya." jawabnya, lalu saling melempar senyuman.
Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka membuat kue, dan saat jam menunjukan pukul tiga sore, Zahwa pun mengajak Nazwa untuk pulang ke rumah, agar tidak di dahului oleh kepulangan suaminya.