
Suara adzan berkumadang, menandakan telah memasuki waktunya untuk sholat magrib, merasa tidak mungkin untuk meninggalkan putri mereka, akhirnya kedua orang tua Nazwa memutuskan untuk bergiliran sholat di musholah rumah sakit.
Setelah mereka kembali ke ruangan operasi, lampu indikator pintu ruangan operasi pun padam, menandakan operasi yang dilakukan dadakan itu telah selesai.
Satu persatu dokter pun keluar dari ruangan itu, kurang lebih ada tiga dokter yang ikut bertugas menindak jalannya operasi Nazwa, hingga akhirnya salah seorang dokter yang menangani Nazwa menghampiri kedua orang tuanya dan juga tante Rita.
"Bagaimana dengan anak saya dok?" tanya Abi Nazwa.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, namun pasien masih dalam keadaan belum sadarkan diri, kita tunggu hasilnya sampai besok pagi ya." jawab dokter.
"Alhamdulillahi rabbil alamin, terima kasih dok."
Jawab abi Nazwa lalu terlihat mengusapkan kedua tangannya pada wajahnya, begitu puun dengan Umi, dan juga tante Rita.
"Sama sama pak, pasien akan segera di pindahkan kembali ke ruangan ICU, mohon untuk tidak dulu menemuinya, ini untuk menjaga ketenangan pasien agar kondirinya setabil."
Ujar dokter itu memperingati dengan sopan.
"Baik dok kami mengerti." Jawab abi Nazwa.
Tidak butuh waktu lama, setelah dokter pergi Nazwa pun keluar dari ruangan operasi, dan segera dibawa oleh suster menuju ruang rawat ICU.
Malam terus semakin larut, lantunan do'a terdengar tidak pernah putus dari kedua orang tua Nazwa yang ada di rungan tunggu, berharap putri mereka segera kembali sadarkan diri dan sembuh seperti sedia kala.
Begitu juga di ruangan Reyhan, mamanya terlihat tidak pernah lelah berdo'a untuk kesembuhan putranya.
Karena merasa lelah, akhirnya mama Rita terlihat tertidur dikursinya dengan kepala yang berada diatas tempat tidur Reyhan.
***
Pagi hari.
Perlahan terlihat Reyhan menunjukan kesadarannya, ia menggerakkan jari jemari tangannya, dan juga mencoba untuk menggerakkan kepalanya, meski masih kesulitan untuk membuka matanya, tapi ia berusaha menggerakkan bibirnya untuk mengeluarkan suara.
"Naz..wa."
"Nazwa, nazwa"
Terdengar ucapan ucapan lirih dari bibir Reyhan yang menyebut nama adik iparnya. Orang yang bersamanya saat terjadi kecelakaan.
Merasa seperti mendengar sebuah suara, mama Rita pun terbangun dan terkejut saat melihat putranya mulai memberikan respon, dan mulai sadarkan diri.
"Rey, kamu sudah sadar nak? Rey ini mama, Rey."
Rasa bahagia itu pun seketika menghampiri mama Rita, ia terlihat menangkupkan kedua tangannya di wajah putra kesayangannya itu, berusaha untuk membuat putranya sadar akan kehadirannya.
"Ma, ma..ma." Reyhan yang mendengar suara mamanya itu pun mencoba untuk menyebut nama mamanya.
"Iya nak ini mama, Rey dengarkan mama nak, mama ada disampingmu sayang."
Air mata mama Rita tak dapat ia bendung, semua itu karna rasa bahagianya atas kesadaran putranya.
"Ma, ma." hanya suara pelan yang mampu terucap di bibir Reyhan.
"Sebentar sayang, mama panggilkan dokter ya."
Mama Rita segera dengan cepat menekan bel yang ada di kamar itu, dan hanya dalam hitungan menit dokter pun datang bersama suster.
"Dok, anak saya sudah sadar dok." ujar mama Rita, saat melihat dokter memasuki ruang rawat putranya.
"Kalau begitu saya periksa dulu ya bu, silahkan ibu tunggu di luat sebentar." ujar dokter.
Mama Rita pun keluar dari ruangan dan melihat dari kaca saat dokter memeriksa keadaan putranya.
__ADS_1
Butuh waktu lima belas menit untuk dokter memeriksa keadaan Reyhan, lalu setelahnya dokter pun kembali keluar dari ruang rawat dan menemui mama Rita.
"Bu, pasien sudah melewati masa kritisnya, namun keadaannya masih begitu lemah membuatnya masih kesulitan untuk membuka mata dan menggerakkan anggota tubuhnya. Jadi tolong beri ia semangat ya bu." Dokter memberikan penjelasan.
"Baik dok." jawab mama Rita.
"Dan satu lagi bu. Tolong jangan ceritakan hal hal buruk kepada pasien, karena itu akan mempengaruhi kembali keadaannya."
"Iya dok, saya mengerti." Jawab mama Rita
"Saya permisi dulu."
"Terima kasih dokter."
"Sama sama bu."
Setelah kepergian dokter, mama Rita kembali kedalam ruangan anaknya, ia mencoba untuk mengajak Reyhan bicara, dan meminta Reyhan untuk menggerakkan jarinya, memastikan apakah putranya itu mendengar apa yang ia katankan.
Cukup butuh waktu yang lama, sampai akhirnya Reyhan membuka matanya. Tante Rita terlihat begitu senang, ia menciumi putranya itu dengan tetesan air mata.
"Ma." ucap Reyhan.
"Iya nak." mama Rita membungkukkan tubuhnya agar bisa mendekatkan dirinya dengan Reyhan.
"Nazwa ma, dimana dia?" Tanya Reyhan dengan terbata bata.
"Nazwa baik baik saja sayang, dia ada di rungan ICU juga." ujar mama Rita.
"Benar dia baik, baik saja ma?" tanya Reyhan lagi.
"Iya sayang, kamu jangan khawatir ya Nazwa baik baik saja." ujar tante Rita yang berusaha menutupi keadaan Nazwa agar putranya itu tidak merasa sedih dan kembali drop.
"Kepala ku pusing sekali." ujar Reyhan sambil memegangi kepalanya.
***
Sementara itu, di dalam ruangan ICU Nazwa, seorang dokter nampak sedang memeriksa keadaan Nazwa, bersama seorang perawat dia nampak sedang sibuk memeriksa pasienya itu.
"Seharusnya pasien sudah menunjukan tanda tanda kesadarannya." ucap dokter itu, namun dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"Tapi semuanya setabil dok, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab suster yang mendampinginya.
"Baiklah, kita tunggu sampai satu hari kedepan, semoga saja pasien memberikan kemajuan untuk kembali pulih. Tapi jika tidak, kita perlu lakukan pemeriksaan lebih lanjut." jawab dokter itu lagi.
"Baik dok." jawab suster yang berada di sampingnya.
"Pantau dengan lebih teliti suster, hidupnya sangat bergantung dengan keberhasilan operasi kemarin, aku berharap semua tidak akan sia sia." ujar dokter.
"Baik dok." jawab suster itu sambing menganggukan kepalanya.
Dokter pun keluar ruangan, dan langsung dihampiri oleh kedua orang tua Nazwa.
"Bagaimana dok, apa putri saya baik baik saja dan sudah sadar?" tanya Uztad Zakaria.
"Sejauh ini, keadaan pasien baik baik saja, namun pasien belum benunjukan tanda tanda akan kesadarannya, kita tunggu saja sampai besok, semoga saja pasien bisa sadarkan diri secepatnya, tapi jika pasien tidak kunjung sadar juga, maka kami akan nelakukan pemeriksaan lebih lanjut." jelas dokter.
"Tolong lakukan yang terbaik untuknya dok, dia satu satunya putri kami?" Ucap umi Nazwa.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, tapi semuanya kami serahkan lagi kepada yang maha kuasa, semoga putri ibu segera pulih seperti sedia kala." Jawab dokter itu.
"Aamiin." jawab kedua orang tua Nazwa. Usai berbicara dengan kedua orang tua Nazwa, dokter pun pergi meninggalkan ruangan Nazwa.
"Abi." Dengan raut wajah sedihnya, Umi nazwa pun mendekap suaminya, lalu belaian lembut dari suaminya terasa di atas kepalanya yang di tutupi oleh hijab, mencoba membuat istrinya itu tenang dan sabar menanti kesadaran putri mereka.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
Diruangnya, Reyhan pun terlihat semakin membaik, ia sudah dapat membuka dengan jelas kedua matanya, dan berbicara dengan jelas pula dengan mamanya.
Setelah dokter memeriksanya dan menyatakan kondirinya yang semakin membaik, Reyhan pun di pindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat VIP.
"Ma." Reyhan memanggil mamanya.
"Ada apa sayang?" mama Rita yang sedang menyuapi Reyhan dengan makanan yang diberikan rumah sakit itu pun memandang putranya.
"Ma, di mana papa, kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Reyhan dengan memandang mamanya, ia terlihat menaikan sebelah alisnya menunjukkan kebingungannya karena tidak melihat papanya setelah ia sadar.
Mamanya beralasan bahwa papanya sedang ada urusan di kantor, dan datang di saat ia sedang tertidur.
Tapi tentu saja Reyhan tidak akan percaya begitu saja, karna tidak mungkin papanya masih sibuk mengurus prusahaannya sementara putra mereka terbaring di rumah sakit.
Reyhan tahu sekali bagaimana kekhawatiran papanya saat ia terluka ataupun saat sedang demam. Jadi mustahil sekali saat putra mereka sedang dalam keadaan seperti itu ia masih sibuk memikirkan urusan kantornya.
Semua kebohongan itu sengaja dilakukan mama Rita agar tidak mengganggu kesehatan putranya yang masih belum begitu pulih.
"Pa papa mu masih ada urusan di luar kota Rey, nanti juga pasti akan kemari." jawab mama Rita lagi, ketika Reyhan kembali menanyakan keberadaan papanya.
"Maaa, aku ini sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi, aku tahu benar seperti apa papa, papa tidak akan mungkin meninggalkan dan mementingkan pekerjaan dari pada keluarga. Aku juga tidak melihat Rangga setelah aku sadar, dia pasti disini menemani Nazwa kan ma?" tanya Reyhan yang membuat tante Rita jadi kebingungan karena tidak tahu harus menjawab apa.
Karena tidak dapat memberikan alasan lagi, bahkan raut wajahnya sangat jelas menunjukan bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu, mama Rita pun jadi terdiam.
"Kenapa mama diam saja ma, jawab Reyhan ma?" Reyhan mencoba menggenggam tangan mamanya yang ada di sebelah tangannya.
Mama Rita semakin bingung dangan pertanyaan Reyhan.
"Rey, sebenarnya ada sesuatu yang ingin mama jelaskan, tapi mama tidak mau kamu jadi syok mendengarnya." jawab tante Rita.
"Ma, ada apa sebenarnya? Mama jangan khawatir ya, aku akan baik baik saja, ayo cerita ma." Reyhan yang semakin penasaran, mancoba membujuk mamanya agar mau bercerita.
"Rey, sebenarnya." Ucapan pun terhenti karna tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Maa." Reyhan menggenggam dengan erat lagi tangan ibunya yang mulai terliha berlinang air mata.
"Rey, papa sedang keluar negeri membawa Rangga untuk melakukan pengobatan.'' Dengan berat mama Rita memberitahukan apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada putranya.
Perlaham genggaman tangan Reyhan terlihat merenggang.
"Apa semua ini ada hubunganya dengan kecelakaan ku bersama Nazwa ma?"
Reyhan mulai di selimuti rasa bersalahnya.
"I..iya. Saat pihak kepolisian menelpon mama, Rangga tidak sengaja mendengar, dan membuatnya tidak sadarkan diri. Setelah di bawa kerumah sakit yang sama dengan kalian, dokter bilang Rangga harus segera mendapatkan donor jantung."
Dengan berat dan terpaksa mama Rita memberikan penjelasan kepada Reyhan.
"Lalu bagamana dengan Nazwa ma?" Reyhan kembali bertanya.
Mama Rita kembali menatap mata putranya memberi tahukan kondisi Nazwa.
"Nazwa sampai saat ini belum sadarkan diri nak, bahkan kemari dokter sempat melakukan operasi karena kondisinya yang semakin memburuk."
Kata demi kata pun terucap dengan iringan air mata yang mengalir di pipi mama Rita.
Reyhan mencengkram kepalanya, ia merasakan kepalanya terasa sakit setelah mendengar penjelasan mamanya. Dokter memang sudah memperingati, namum mama Rita tentu tidak dapat menutupi hal itu dari Reyhan.
Karena rasa sakit yang semakit dirasakan oleh Reyhan, dengan segera mama Rita memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya.
__ADS_1