Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 50


__ADS_3

Sebelum terbang ke Indonesia, Anton dan Sarah menyempatkan diri untuk pergi ke toko perhiasan, karna bingung harus membelikan oleh oleh apa yang cocok untuk Zahwa, akhirnya Anton memutuskan untuk membelikan istri tuanya itu sebuah kalung berlian, dan sedangkan untuk Sarah, wanita itu hanya meminta di belikan sebuah cincin berlian juga.


Anton dan Sarah sudah tiba di bandara, seperti biasa Anton membawa mobilnya sendiri yang sudah dihantarkan orang kantornya, pulang menuju rumah Zahwa, dan Sarah di jemput oleh supir yang berkerja ke padanya.


Di dalam perjalanan pulang Anton selalu saja mengingat wajah Zahwa, ia sudah membayangkan wajah istrinya yang cantik itu akan menyambutnya saat tiba dirumah nanti.


Saat dalam perjalanan Anton melewati tempat di mana ia membelikan Zahwa batagor dulu dan mengingat betapa lahap istrinya itu menyantap makanan itu, Anton pun memutuskan untuk mampir dan membelikan makanan itu untuk Zahwa, setelah pesanan selesai Anton melanjutkan lagi perjalannanya menuju rumah istri tuanya itu.


Baru saja berjalan sekitar dua puluh menit, lagi lagi Anton melihat gerobak makanan yang di sukai istrinya di pinggir jalan, ia pun memutuskan untuk turun dan membeli rujak buah itu dan kali ini ia membeli dua bungkus rujak buah, karna Anton pun jadi ketagihan saat merasakan makanan asam itu tempo hari bersama Zahwa.


"Mang rujak buahnya ya dua, di bungkus ya Mang." ucap Anton memesan rujak buah itu.


"Pak Anton wijaya kan.?" tanya si penjual buah, hampir tak percaya melihat siapa yang sedang berada dihadapannya dan membeli dagangannya itu.


"Iya, apa mamang mengenali saya.?" tanya Anton kembali. Dan tukang rujak itu pun terkekeh.


"Iya pak, siapa yang tidak mengenali keluarga Wijaya pak.? Keluarga kaya raya tapi sangat dermawan dan juga rendah hati seperti bapak Gunawan Wijaya." ucap tukang rujak itu. Keluarga Anton memang sangat terkenal di kota itu, karna keramahannya jadi banyak orang yang menyukain mereka, meski dengan harta yang melimpah tapi keluarga itu tetap tidak sombong.


"Silahkan duduk pak, biar saya buatkan dulu." ucap penjual rujak itu, lalu menyerahkan sebuah kursi pelastik kepada Anton.


"Trima kasih Mang." ucap Anton sambil menduduk tubuhnya pada kursi yang di berikan sang penjual rujak.


"Mau pedas atau tidak pak.?" tanya si penjual rujak itu lagi.


"Yang sedang saja Mang." jawab Anton.


Tidak sampai lima belas menit, pesanan Anton pun selesai di buatkan.


"Ini pak." ucap si penjual buah dengan menyodorkan kantong plastik berisi dua bungkus rujak buah.


"Trima kasih Mang." ucap Anton sambil menyerahkan uang pembayarannya sebesar seratus ribu kepada sang penjual.


"Wah uang kecil saja pak." Ucap si penjual.

__ADS_1


"Tidak apa apa mang, kembaliannya ambil saja." jawab Anton dengan tersenyum.


"Trima kasih banyak pak Anton, semoga yang sedang ngidam dirumah menyukai rujak ini." ucap penjual itu dengan tersenyum senang. Dan Anton pun terkejut mendengar ucapan tukang rujak buah itu.


Anton pun sudah duduk di bangku kemudinnya, ia jadi tersenyum senyum sendiri mendengar ucapan sang penjual tadi yang mengatakan tentang mengidam.


Zahwa ngidam.? Lucu kali ya.? Batin Anton sambil tertawa membayangkan kalau istrinya itu sedang mengidam sungguhan.


***


Di rumahnya, seperti biasa Zahwa pulang dari toko lebih Awal, ia memasak semua makanan yang di sukai oleh suaminya, lalu membersihkan rumah, dan setelah selesai dengan senua pekerjaan rumahnya Zahwa pun membersihkan diri untuk menyambut suaminya, ia tidak ingin suaminya itu mencium aroma tidak sedap dari tubuhnya.


Yang ditunggu tunggu pun Akhirnya sampai, Anton memberikan salam lalu melangkah masuk dengan wajah tersenyum tiada hentinnya.


"Assalamualaikum Za." Ucap Anton.


"Waalaikum salam mas." jawab Zahwa, lalu menghampiri suaminya itu di ambang pintu.


"Apa ini mas.?'' tanya Zahwa penasaran.


"Buka lah." jawab Anton, lalu menyerahkan dua bungkus makanan itu kepada Zahwa.


"Wah..., mas beli batagor dan rujak buah ya.? Trima kasih ya mas." ucap Zahwa dengan tersenyum senang.


"Sama sama, Ayo kita masuk." Ucap Anton lalu tiba tiba merangkul pinggang Zahwa. Zahwa pun melirik tangan suaminya, merasa heran dengan tingkah suaminya itu, meski di dalam hati ia merasa senang dengan tindakan Anton.


"Mas mau makan dulu, atau mandi dulu.?" pertanyaan yang selalu di katakan Zahwa saat menyambut suaminya itu.


"Sepertinnya mandi dulu deh." ucap Anton, lalu berjalan menuju kamar mereka.


Sedangkan Zahwa meletakkan bungkusan makanan yang di bawa Anton ke meja makan, lalu ia pun menyusul Anton ke dalam kamar. Sampai di kamar, Zahwa malah mendapati suaminya itu masih duduk di tapi kasur.


"Za, tolong kemarikan tas kerja ku itu." pinta Anton. Dan Zahwa pun segera mengambilkannya.

__ADS_1


"Ini mas." Zahwa menyerahkan tas suaminya itu dengan masih berdiri di hadapan Anton.


"Kemarilah." ucap Anton sambil memukul pelan kasur, meminta Zahwa untuk duduk di sampingnya.


Anton mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dan menyerahkannya kepada Zahwa.


"Mas, tidak tau harus membelikan mu oleh oleh apa, jadi mas memutuskan untuk membelikan mu ini saja." ucap Anton sambil menyerahkan kotak itu kepada Zahwa.


"Mas...,ini Cantik sekali." ucap Zahwa saat membuka dan melihat kecantikan kalung berlian yang di belikan oleh Anton untuknya, matanya pun nampak berbinar binar.


"Sini mas pakaikan." ucap Anton. Lalu ia mengambil kalung itu, dan berusaha memakaikannya kepada Zahwa. Dan Zahwa pun berusaha membuka hijabnya.


Posisi wajah Anton yang sangat dekat, membuat hembusan napasnya menyentuh leher Zahwa, membuat debaran jantung perempuan itu jadi semakin cepat, ini bukan sentuhan pertama Anton kepadanya, bahkan mereka pernah lebih dekat dari itu, namun entah mengapa kali ini Zahwa merasakan ada yang berbeda dari sentuhan dan hembusan nafas Anton.


"Kau cantik sekali Za." ucap Anton dengan tersenyum dan memandang kecantikan wajah Zahwa setelah memakai kalung itu.


"Trima kasih mas." Ucap Zahwa.


"Kau boleh menyimpannya jika merasa berlebihan untuk memakainnya, nanti aku akan belikan lagi yang lebih cocok untuk kau pakai sehari hari." ucap Anton, dengan masih terus memandangi wajah Zahwa.


"Hmm, iya mas." ucap Zahwa.


"Za, sepertinya kita sudah lama sekali tidak.. Ah lupakan saja, mungkin kau sedang lelah." sebenarnya Anton ingin sekali menyentuh Zahwa lebih jauh, namun entah mengapa ia mengurungkan niatnya, takut jika istrinya itu enggan untuk melayaninya.


"Mas, bukannya mas yang sedang lelah.?" Zahwa memegang tangan suaminya, mencoba menahan Anton yang ingin berdiri dan meninggalkannya. Zahwa merasa melayani suami adalah kewajiban yang harus ia lakukan.


"Jadi boleh.?" tanya Anton lagi kepada Zahwa, dan istrinya itu hanya mengangguk dengan tersenyum malu.


 


Jeng, jeng..


 

__ADS_1


__ADS_2