
Reyhan dan mamanya tiba di halaman parkir rumah sakit, dengan tergesa gesa mereka turun dari mobil dan segara masuk ke dalam gedung rumah sakit, karna belum mengetahui ruangan perawatan Rangga, mereka pun menanyakan kamar perawatan Rangga kepada suster yang berjaga.
"Maaf sus, kamar pasien atas nama Rangga dimana ya.?" tanya Reyhan.
"Sebentar pak saya cek dulu." jawab suster itu, lalu ia pun mencari tahu melalui data yang ada di dalam komputernya.
"Oh Pak Rangga ada di ruang perawata VIP no 05 pak." ucap susut itu.
"Terima kasih sus."
"Sama sama pak."
Reyhan dan mamanya bergegas menuju kamar perawatan Rangga.
Didalam kamar perawatan Rangga, Nazwa terlihat berdiri mematung sembari menatap wajah Rangga yang terlihat pucat, ia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini terhadap atasannya itu, mengingat beberapa hari ini Rangga terlihat begitu aktif saat bersamanya.
Tiba tiba Rangga terlihat menggerakkan kepalanya berkali kali, karna rasa pusing yang ia rasakan, perlahan ia juga terlihat membuka matanya, dan Nazwa pun mendekatinya, untuk menanyakan keadaan atasanya itu.
"Pak Rangga sudah sadar.?" tanya Nazwa. Rangga pun mencoba melihat kearah Nazwa yang berdiri disampingnya.
"Kenapa dengan ku.?" Rangga kembali bertanya, karna ia benar benar tidak sadar atas apa yang terjadi dengannya.
"Bapak pingsan tadi, tapi dokter bilang bapak tidak apa apa, cuma kelelahan saja." ujar Nazwa, menjelaskan.
''Hmm, terima kasih sudah menjagaku."
"Sama sama pak." jawab Nazwa.
Tidak lama Reyhan dan mamanya sampai di kamar perawatan Rangga, mereka segera masuk dan berlari mendekati Rangga yang terbaring diatas tempat tidur ruang perawatan itu.
"Assalammualaikum." ucap Reyhan dan mamanya dengan berlari mendekati Rangga tanpa ada yang memperhatikan Nazwa.
"Waalaikum salam." jawab Rangga dan Nazwa bersamaan.
"Rangga, apa yang terjadi dengan mu sayang.?" tanya mama Rieta terlihat khawatir, sembari menyentuh wajah keponakannya itu.
"Tante, aku tidak apa apa." ujar Rangga.
"Tidak apa apa, tapi kamu sampai pingsan dan dirawat begini." ujar Reyhan yang sedikit kesal dengan ucapan Rangga, karna ia sangat mengkhawatirkan adik sepupunya itu.
"Mas, aku cuma kelelahan." jawab Rangga lagi.
"Tante kan sudah bilang sayang, kamu berhenti saja dari kantor, agar kamu bisa fokus menjaga kesehatan kamu." ucap tante Rieta.
"Tante aku baik baik saja, aku masih bisa jaga kesehatan ku sendiri tante." ujar Rangga mencoba menenangkan bibiknya itu.
"Eheem..maaf." ucap Nazwa, ia mencoba berbicara, dan berniat untuk berpamitan, karna merasa bahwa Rangga sudah tidak membutuhkan dirinya lagi.
Reyhan dan mamanya mencoba menoleh melihat Nazwa, dan mereka pun terlihat terkejut dan bingung karna melihat sosok Nazwa yang sangat mirip dengan Zahwa.
__ADS_1
"Za, kamu kenapa bisa disini, bukannya kamu sedang dirawat, dimana Anton.?" tanya Reyhan bertubi tubi, ia merasa bingung kenapa Zahwa bisa berada di dalam kamar perawatan Rangga.
"Zahwa.!" Mama Reyhan terlihat mendekati Nazwa.
"Maaf tante, saya bukan Zahwa." jawab Nazwa dan ucapanya itu makin membuat Reyhan dan mamanya bertambah bingung.
"Dia Nazwa, dia staf ku di kantor mas." ujar Rangga.
"Nazwa.?" ucap Reyhan hampir tak percaya.
"I, iya, nama ku Nazwa. Aku adik sepupu dari Zahwa." Jelas Nazwa.
"Ohh, pantas kalian begitu mirip dan terlihat sama cantiknya." jawab tante Rieta, sambil membelai wajah Nazwa, membuatnya tersipu malu.
"Aku Reyhan, aku kakak sepupu dari Rangga." ucap Reyhan mencoba memperkenalkan dirinya, ia pun mengulurkan tangannya kepada Nazwa.
"Maaf, saya Nazwa." jawabnya, ia tidak menyambut uluran tangan Reyhan, tapi menyatukan kedua telapak tanganya dan sedikit menggangkanya ke wajah. Reyhan pun menarik kembali uluran tangannya, ia mengerti dengan apa yang dilakakan oleh Nazwa, karan tidak mungkin bagi Nazwa untuk bersentuhan dengan laki laki yang bukan mukhrimnya.
"Hmm, salam kenal." jawab Reyhan.
"Dan tante mamanya Reyhan, tante Rangga." jelas tante Rieta, Nazwa pun mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, saya permisi dulu tante."
"Kenapa buru buru sekali Nazwa.?" tanya tante Rieta.
"Jadi kalian pergi berdua.?" tanya Reyhan.
"Iya mas." jawab Rangga.
"Sejak kapan kamu berani pergi berdua dengan wanita lain, bukanya selama ini hanya mama dan Linda yang selalu menemani kemana pun kamu pergi." tanya Reyhan menggoda adik sepupunya.
"Mas, aku sudah dewasa, kalian saja yang selalu menganggapku seperti anak kecil." ujar Rangga sedikit kesal.
"Oh jadi sudah merasa bahwa dirimu dewasa sekarang ya." jawab Reyhan.
"Sudah, kalian ini apa apaan tidak malu ya bertengkar dihadapan Nazwa." tante Rieta mencoba melerai mereka yang berdebat tiada habisnya. Sedangkan Nazwa terlihat tersenyum dengan menundukan kepalanya, karna merasa tindakan Reyhan dan Rangga memang terlihat begitu kekanak kanakan.
"Nazwa, tante ucapkan terima kasih ya, karna kamu sudah bersedia menjaga Rangga." ucap tante Rieta.
"Sama sama tante, kalau begitu saya permisi dulu tante."
"Nazwa.!" panggil Rangga, Nazwa pun kembali membalikan tubuhnya saat Rangga memanggilnya.
"Iya pak." jawab Nazwa.
"Kamu mau pulang naik apa.? Bagaimana kalau mas Reyhan saja yang menghantarmu pulang. Mau kan mas ?" ujar Rangga.
"Tidak perlu, saya bisa pulang naik taksi saja." Nazwa pun menolak dengan halus, karna tidak ingin merepotkan orang lain.
__ADS_1
"Tidak apa apa biar saya hantar saja, lagi pula sebentar lagi maghrib, agak lama jika menunggu taksi." ujar Reyhan.
"Bukannya koper mu juga ada didalam mobil ku," sambung Rangga.
"Emmm." Nazwa terlihat bingung.
"Sudah tidak apa apa nak, biar Reyhan menghantarmu, anggap saja sebagai ucapan terima kasih ya." ujar mama Rieta lagi.
"Baiklah tante kalau tidak merepotkan. Saya permisi dulu tante." Nazwa pun menyalami tante Rieta.
"Iya sayang, kamu hati hati ya cantik."
"Iya tante, Assalammualaikum." ucap Nazwa.
"Waalaikum salam." jawab Rangga dan tante Rieta.
Nazwa pun keluar dari ruang perawatan Rangga dengan diiringi Reyhan, mereka berjalan menuju halaman parkir, lalu mengambil koper berisi pakaian Nazwa di dalam mobil Rangga.
"Biar aku bawakan." ujar Reyhan, ia meraih koper Nazwa dan membawanya menuju mobil miliknya.
"Maf pak, biar saya saja." ujar Nazwa yang terlihat mengikuti langkah Reyhan dari belakang.
"Sudah tidak apa apa, ayo masuk." ucap Reyhan lagi yang telah membukakan pintu mobil bagian depan dan mempersilahkan Nazwa untuk masuk ke dalam mobinya
Dengan canggung Nazwa pun masuk kedalam mobil, Nazwa merasa heran dengan sikap Reyhan yang terlihat jauh berbeda dengan sikap Rangga yang begitu cuek.
Reyhan masuk kedalam mobil, malu melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Anton.
"Sudah berapa lama tingga di Jakarta.?'' tanya Reyhan.
"Kurang lebih dua minggu." jawab Nazwa. Terlihat sekali dari tingkah Nazwa, bahwa ia merasa canggung berada di dekat Reyhan.
Karna tahu bahwa Nazwa merasa canggung dengan dirinya, Reyhan pun tak lagi bertanya kepadanya.
Selang beberapa menit, akhirnya Reyhan dan Nazwa pun tiba dirumah Anton.
"Terima kasih pak." ucap Nazwa.
"Jangan panggil aku pak, memangnya tampang ku sudah tua sekali ya.? Panggil saja aku Reyhan." jelas Reyhan.
"Hmm..iya, terima kasih mas Reyhan."
"Sama sama, kalau begitu aku permisi dulu. Assalam mualaiku."
"Waalaikum salam."
Reyhan kembali mengendarai mobilnya dan kembali menuju Rumah sakit, sedangkan Nazwa segera masuk dan menuju kamarnya, Ia pun terlihat duduk di tepi tempat tidurnya, sambil melamun.
"Keduanya memiliki sifat yang benar benar jauh berbeda." Nazwa bergumam kecil sambil tersenyum dan membayangkan tingkah laku kakak adik itu saat berdebat dirumah sakit tadi.
__ADS_1