
Rangga dan Nazwa telah tiba di salah satu bandara yang ada di Jakarta, mereka segera menuju area parkiran yang ada dibandara itu, dan menuju mobil utusan dari kantor yang sengaja di perintahkan untuk menjemput mereka disana.
Rangga dan Nazwa naik kedalam mobil yang telah menunggu kedatangan mereka, dan segera menuju kantor untuk menyerahkan berkas berkas laporan pekerjaan yang telah mereka selesaikan di kota XX, dan setelah selesai mereka segera kembali menaiki mobil milik Rangga yang memang sengaja ia tinggal di kantor selama perjalanan mereka keluar kota.
Rangga mencegah Nazwa untuk pulang sendiri dan mengatakan bahwa dirinya yang akan menghantarkan Nazwa pulang menuju kediamannya. Selama di dalam perjalanan menuju rumah kediaman kakak sepupunya, Nazwa tampak terlihat hanya berdiam diri, ia larut dalam fikirannya dan memilih membuang wajah, menatap ke arah jalanan lewat jendela kaca di samping tempat duduknya.
Nazwa masih memikirkan tentang bagaimana hubungan dirinya bersama Rangga, setelah hari ini, ia akan kembali menjalanin hari hari seperti biasanya, sama seperti saat sebelum mereka pergi ke kota XX, semua akan kembali seperti sedia kala, Rangga adalah seorang manajer dan Nazwa adalah stafnya, tapi bagaimana dengan hubungan kisah kasih mereka? Akankah seperti biasanya atau mungkin ia akan di perlakukan berbeda layaknya seperti sepasang kekasih pada umumnya? Dan membiarkan orang orang tahu tentang jalinan mereka.
Entahlah, Nazwa sendiri belum tahu akan seperti apa ia akan menjalani hari esok saat di kantor, karena Rangga sendiri tidak pernah membahas masalah itu kepada dirinya. Kini Nazwa hanya bisa berpasrah diri, menerima apapun yang akan terjadi esok hari, Namun satu yang pasti, ia berharap Rangga benar benar tulus dan jujur tentang peraaaannya, dan semua ucapan yang ia katakan bukan sekedar omong kosong, dan tidak akan pernah mengecewakannya.
"Nazwa!" Rangga mencoba memanggil Nazwa yang terlihat masih larut dalam lamunannya itu, bahkan ia tidak sadar bahwa mereka telah tiba di depan rumah kediaman Anton.
Nazwa yang terkejut dengan panggilan Rangga, seketika mengalihkan pandangannya menatap Rangga.
"Kita sudah sampai." ujar Rangga lagi, dan kali ini Nazwa kembali memutar kepalanya untuk melihat keluar jendela mobil.
"Iya, kalau begitu saya permisi pak." jawab Nazwa dengan tersenyum, lalu ia pun terlihat ingin membuka pintu mobil.
"Nazwa!" tiba tiba Rangga kembali memanggil nama perempuan yang ada di sampingnya itu, sebelum Nazwa benar benar membuka pintu mobil dan keluar.
"Iya, ada apa pak?" tanya Nazwa sambil memutar kembali tubuhnya, dan menatap atasannya itu.
"Aku harap kamu tidak lupa dengan hubungan kita, dan secepatnya aku akan menemui orang tua mu." ujar Rangga. Ucapannya terlihat begitu dalam dan tulus.
__ADS_1
Nazwa pun telihat begitu bahagia, senyum indah seketika dengan cepat menghiasi wajahnya yang cantik saat Rangga mengucapkan kata kata itu, kini keraguannya terhadap Rangga segera sirna, dan berganti dengan pebuh keyakinan dan harapan, mereka memang baru pertama kali merasakan apa itu cinta, jadi wajar saja jika mereka berharap baik dalam hubungan mereka kedepannya.
***
Malam terlihat begitu indah, rembulan tampak begitu terang, dengan dihiasi bintang bintang yang bertaburan di atas langit, menambah kebahagiaan suasana hati seorang gadis yang sedang di buay oleh indahnya jatuh cinta. Nazwa duduk di atas kursi yang ada di balkon dalam kamarnya, sebelumnya ia tidak pernah tertarik untuk duduk di situ, karena setelah lelah seharian bekerja biasanya ia akan segera merajut mimpi mimpi di dalam tidurnya, namun kali ini nampaknya Nazwa masih ingin mengenang kebahagiaannya ketika Rangga menyatakan cinta kepadannya saat di pantai.
Bahkan Rasa kebahagia itu semakin bertambah, kala Rangga mengingatkan kembali bahwa mereka adalah sepasang kekasih, dan dirinya akan segera melamar Nazwa, di hadapan kedua orang tuannya yang berada di kampung.
"Nazwa!" sebuah tangan mendarat tepat di sisi bahu Nazwa, membut wanita itu terkejut dan langsung memutar tubuhnya.
"Za." ucap Nazwa masih dengan perasaan terkejutnya, namun ia terlihat melemparkan senyuman kepada Zahwa.
"Kamu ngapain disini? dari tadi aku panggilin tapi kamu gak denger, taunya malah senyum senyum sendiri gak jelas disini." tanya Zahwa.
"Maaf Za, aku tidak mendengar kamu memanggilku." jawab Nazwa dengan perasaan bersalahnya, ia pun menggenggam tangan Zahwa yang ada di atas bahunya.
"Gak ada apa apa Za, beneran kok." dan Nazwa pun sepertinya belum ingin memberitahu perihal hubunganya dengan Rangga.
"Hmm, aku curiga, jangan jangan kamu sedang jatuh cinta ya, pasti terjadi sesuatu selama kamu di luar kota beberapa hari ini?" tuding Zahwa dengan tersenyum.
"Tidak terjadi apa apa Za." ucap Nazwa mencoba meyakinkan, dia benar benar masih ragu untuk bercerita kepada Zahwa.
"Sudah tidak usah berbohong, kamu itu tidak pandai dalam berbohong, kamu cerita saja Na, memangnya kamu tidak percaya dengan aku sepupu mu sendiri?" Zahwa menunjukan wajah pura pura marahnya.
__ADS_1
"Bukan begitu, tapi.." Nazwa seperti kebingungan dan ia tidak punya pilihan untuk tidak bercerita kepada Zahwa.
"Tapi apa? Kamu sudah tidak menganggap aku ini kakak mu, hmm." wajah Zahwa semakin tampak mengintimidasi, membuat Nazwa menyerah.
Akhirnya Nazwa pun memutuskan untuk menceritakan tentang hubungannya dengan Rangga karena ia tidak ingin menutupi hal baik itu terlalu lama, lagi pula Nazwa berharap hubungannya dengan Rangga akan berakhir baik nantinya, jadi untuk apa menutupi kebahagiaannya, toh semua orang pun akan tahu.
Nazwa terlihat menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, Ia membalikan tubuhnya dan menatap Zahwa yang kini telah duduk diatas kursi panjang disampingnya. Dengan perasaan sedikit berdebar akhirnya ia membuka suara.
"Za, mas Rangga menyatakan perasaannya dengan ku, dan dia bilang akan menemui abi dan umi di kampung untuk meminta restu kepada mereka." ujar Nazwa, ia berbicara dengan rauh wajah bahagia, hal itu terlihat dari senyuman yang tidak pernah memudar dari bibirnya saat menceritakan hubungannya itu kepada Zahwa.
"Kamu serius Na?" tanya Zahwa yang masih belum percaya.
"Iya, aku sendiri awalnya tidak yakin, dan berfikir kalau mas Rangga itu cuma becanda, tapi saat tiba dirumah tadi, mas Rangga kembali membicarakan hal itu Za." jelas Nazwa.
"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengannya, kamu sangat beruntung Na, karena walau pun baru sekali melihatnya, tapi aku tahu dia laki laki yang baik dan bertanggung jawab." ucap Zahwa.
"Iya Za, meski pun ia bersikap dingin dan cuek, tapi dia sangat perduli dengan orang lain." jawan Nazwa lagi.
"Kalau begitu, kamu harus segera beri tahu paman dan bibi, jika kalian sudah menemukan waktu yang tepan untuk pergi ke kampung." ujar Zahwa memberi saran kepada adik sepupunya itu.
"Iya Za, tapi tidak sekarang ya, aku masih malu untuk memberi tahu abi sama umi." jawab Nazwa.
"Kenapa harus malu sih, nanti biar aku bantu ya kasih tau paman dan bibi." usul Zahwa.
__ADS_1
"Terima kasih ya Za." ucap Nazwa, lalu ia pun memeluk Zahwa meluapkan kebahagiaan yang tengah ia rasakan.
"Sama sama Na." jawab Zahwa.