Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 61


__ADS_3

"Apa kau senang.?" tanya rudi, saat ia melihat wajah Sarah yang nampak begitu senang karna seperti baru saja terlepas dari beban masalah yang begitu besar.


"Iya, sekarang aku tinggal menunggu keputusannya saja, setelah itu aku tidak akan lagi membuat perempuan lain merasa menderita karna kehadiranku." Ucap Sarah dengan tersenyum.


"Aku harap ini awal yang baik untuk hidupmu kedepannya." ucap Rudi lagi.


"Trima kasih Rud, kamu sudah menemani ku untuk hari ini." Sarah terlihat melempar senyumnya kepada Rudi.


"Heemm. Bagaimana kalau kita cari makan dulu.?" ajak Rudi.


"Boleh." keduanya pun terlihat masuk ke dalam mobil dan melaju menuju sebuah restoran.


Setelah makan, Sarah meminta Rudi untuk menghantarkan dirinya menuju rumah orang tuanya, karna ia berniat menceritakan keretakan rumah tangganya kepada kedua orang tuanya itu, bagaimana pun orang tua Sarah harus tahu tentang keadaan rumah tangganya dengan Anton.


Usai makan malam, Sarah menceritakan tentang keadaan rumah tangganya dengan kedua orang tuanya, ia pun mengatakan bahwa dirinya sudah mendaftarkan percerain mereka ke pengadilan Agama.


"Sarah, kenapa kamu lakukan itu, tidak seharusnya kamu yang mengalah." ucap mamanya yang terlihat kesal dengan semua tindakan dan keputusan yang di ambil oleh Sarah.


"Ma, selama ini memang akulah yang bersalah, aku yang sudah tidak tahu malu masuk ke dalam rumah tangga mereka." ucap Sarah.


"Tapi bukannya memang istrinya yang memintamu untuk menikah dengan Anton, jadi kalau dia tahu diri, seharusnya Zahwa lah yang bercerai dari Anton." ucap mamanya lagi dengan kesal.


"Sudahlah ma, lagian aku tahu kalau sepertinya sekarang mas Anton sudah tidak mencintai aku lagi." ujar sarah dengan wajah lesunya.


"Laki laki brengsek, semua ini karna Zahwa, mama gak rela Sarah, baru juga menikah kini kamu sudah menjadi janda." ucap mamanya makin kesal.

__ADS_1


"Ma, sudahlah keputusan yang diambil Sarah itu memang sedah benar." ucap papa Sarah yang dari tadi memang terlihat diam.


"Tidak pa, mama tidak terima kalau mereka mempermainkan anak kita." terlihat raut wajah kebencian dari wajah prempuan itu.


***


Anton terlihat sedang melakukan sholat di dalam kamarnya, perkataan mama dan kakaknya memang benar, ia tidak boleh larut terus menerus dalam kesedihan, ia harus berusaha bagaimana caranya agar bisa membujuk Zahwa kembali ke padannya nanti, setelah papanya pulang dari luar negri.


Anton terlihat menangis saat memanjatkan do'a do'anya, ia begitu menyesali semua tindakan yang pernah ia lakukan terhadap Zahwa.


"Ya Allah hamba memohon ampunan dari mu, hamba terlalu banyak melakukan kesalahan terhadap Zahwa, tapi hamba mohon ya Allah, bukakanlah pintu hatinya agar mau kembali lagi kepada hamba, hamba berjanji tidak akan menyakitinya lagi ya Allah, hamba sangat menyayanginya, tolong ya Allah tolong kembalikan Zahwa ke sisi ku." sungguh kata kata yang keluar benar benar dari lubuk hatinya yang paling dalam, Anton pun tak bisa menahan untuk tidak menangis saat mengucapkan do'a yang ia panjatkan.


Setelah selesai sholat, Anton teringat kepada istri keduanya Sarah, ia pun mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Sarah. Bagaimana pun rumah tangganya dengan Sarah harus di perbaiki juga, karna Anton tidak mau, ada ke tidak adilan diantara mereka. Jadi jika ia berusaha untuk membujuk Zahwa kembali, maka ia juga harus bisa membuat Sarah bertahan disampingnya.


"Assalamualaikum." ucap Sarah di seberang sana, saat menerima panggilan dari Anton.


"Ada apa menelpon ku.?" tanya Sarah, kini kata kata yang keluar pun tidak lagi menunjukkan kemesraan di antara mereka.


"Tidak apa apa, aku hanya ingin tahu gimana kabar mu.?" tanya Anton.


"Aku baik, oh ya aku sudah mendaftarkan perceraian kita ke pengadilan." ucap Sarah, dan Anton pun terkejut mendengar ucapannya itu.


''Kenapa kamu mengambil keputusan secepat itu Sarah, apa tidak bisa kita perbaiki dulu semua ini, tolong fikirkan lagi Sarah." hati Anton terasa sakit mendengar keputusan istrinya itu, meski merasa tidak ada lagi cinta untuk Sarah, namun bercerai juga bukan perkara yang baik menurut Anton.


"Sudahlah mas, tidak ada yang perlu kita perbaiki lagi, menurutku ini adalah pilihan yang tepat, agar kamu bisa fokus memperbaiki semua kesalahan mu kepada Zahwa, sudah cukup kamu menyakitinya selama ini mas." Ucap Sarah lagi.

__ADS_1


"Hemm, iya kamu benar, aku memang sudah terlalu banyak menyakiti hatinya, tapi apa tidak bisa kita juga memperbaiki rumah tangga kita.?" Anton masih berusaha untuk membujuk Sarah.


"Tidak ada mas, keputusan ku sudah bulat." Sarah benar benar menolak bujukan Anton.


"Kalau begitu apa kamu mau memaafkan aku Sarah.?" ucap Anton lagi.


"Iya mas, aku sudah memaafkan mu, lupakan saja semua yang pernah terjadi, aku doakan agar kalian bisa bersama lagi, dan jangan pernah lagi kamu sia siakan Zahwa mas." ucapan Sarah terdengar benar benar tulus dari dalam hatinya.


"Trima kasih Sarah." ucap Anton lalu mematikan sambungan telponnya.


Meski rasa cintanya terhadap Sarah sudah memudar, namun tetap saja Anton merasakan kesedihan saat Sarah memutuskan untuk berpisah, kenangan yang pernah mereka lalui pun sudah begitu banyak dan juga susah untuk melupakannya begitu saja.


Semoga kamu bisa menemukan laki laki yang lebih baik.


Setelah itu Anton berusaha untuk menghubungi nomer ponsel Zahwa, ia berharap kali ini bisa tersambung, karna ia ingin mengobati rasa rindunya terhadap istrinya itu. Namun uasahanya ternyata hanya sia sia, nomer ponsel Zahwa masih tidak bisa untuk dihubungi, Zahwa benar benar memutus komunikasi antara mereka dan tidak memberi kesempatan Anton untuk mengetahui keberadaannya.


Dimana kamu Za, apa keadaan mu dan anak kita baik baik saja, aku sangat merindukan kalian sayang. Anton kembali menitikan air mata saat membayangkan wajah Zahwa.


***


Di pesantren, Zahwa terlihat sedang mengaji di dalam kamarnya. Dan tiba tiba Zahwa merasakan gerakan dari dalam perutnya, kandungan Zahwa memang sudah hampir memasuki usia empat bulan.


"Alhamdulillah kamu sudah mulai bergerak nak." ucap Zahwa ia terlihat begitu senang, sambil mengusap usap perutnya.


"Papa mu pasti senang nak jika bisa merasakan gerakan mu." kali ini ia terlihat meneteskan air matanya ketika mengingat suaminya Anton.

__ADS_1


"Mas, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk memisahkan kamu dan anak mu, aku hanya ingin kamu menyadari semua kesalahan mu mas." gumam gumamnya sendiri.


__ADS_2