
Setelah hampir satu minggu berada di kota XX, akhirnya proyek pekerjaan yang sedang ditangani oleh Rangga pun selesai. Kini mereka sedang mempersiapkan peresmian dan serah terima pekerjaan itu kepada pihak perusahaan Anton, karena Anton sebagai pemilik prusahaan tidak dapat hadir dalam acara itu, maka sepenuhnya Anton menyerahkannya kepada Rangga.
Karana acara yang akan diadakan oleh prusahaan yang bekerja sama dengan prusahaan Anton cukup besar, Rangga pun ingin mempersiapkan dirinya dengan sempurna, dan tentunya ia tidak akan melupakan Nazwa, wanita yang telah ia akui sebagai pencuri hatinya.
"Bersiaplah, kita akan keluar sebentar lagi." pesan itu ia kirimkan kepada Nazwa tepat pukul sepuluh pagi. Dan semenjak menyatakan perasaanya kepada Nazwa, kini Rangga terlihat lebih sering menghubungi Nazwa melalui ponselnya.
"Baik." hanya kata itu yang di jawab oleh Nazwa, meski tidak pernah tahu akan dibawa kemana, tapi Nazwa selalu siap kapan pun ia akan diminta untuk mendampingi atasannya dalam urusan pekerjaan.
Lima belas menit berlalu, setelah Rangga merasa itu waktu yang cukup untuk Nazwa mempersiapkan dirinya, ia pun mengirimkan pesan lagi kepada Nazwa, lalu setelahnya ia keluar dari kamarnya.
Nazwa pun segera keluar dari dalam kamarnya setelah menerima pesan lagi dari Rangga, meski sebenarnya dirinya telah sejak lama menunggu, namun ia tidak ingin keluar dari kamar sebelum ada pesan dari Rangga.
"Kita mau kemana?" tanya Nazwa sambil terus melangkah mengikuti Rangga dari belakang menuju mobil yang terparkir di halaman depan hotel.
"Ikut saja, nanti juga kamu akan tahu." jawab Rangga. Meski sudah tahu bertanya kepada Rangga itu bukan hal yang baik karena tidak akan mendapatkan jawabanya, namun Nazwa masih berusaha untuk mengetahui kemana Rangga akan membawanya pergi.
Mereka menaiki mobil yang berada di parkiran, lalu Rangga membawa mobil itu dengan jecepatan sedang, menuju sebuah pusat perbelanjaan. Setelah Sampai Rangga dan Nazwa pun turun dari dalam mobil lalu segera masuk kedalam pusat perbelanjaan itu.
Rasa penasaran yang menyelimuti diri Nazwa akhirnya menghilang, karena ia telah mengetahui kemana Rangga membawanya, tapi kini timbul pertayaan baru di lubuk hati Nazwa, untuk apa Rangga membawanya ke tempat pusat perbelanjaan itu?
Nazwa merasa jika Rangga ingin membeli sesuatu, maka atasannya itu sepertinya tidak membutuhkan dirinya untuk menemani, karena ia pernah menemani Rangga untuk berbelanja, dan terlihat Rangga tidak membutuhkan pendapat dari Nazwa, meski akhirnya Rangga membeli juga baju pilihan dari Nazwa itu.
"Mau apa kita kemari?" tanya Nazwa yang berjalan beriringan disamping Rangga.
"Membeli sesuatu, memangnya mau apa lagi." jawab Rangga sambil tersenyum kepada Nazwa.
Akhir akhir ini Nazwa hampir tidak pernah lagi melihat wajah dan sikap dingin dari Rangga, bahkan ia selalu di suguhi senyuman hangat dari pria itu, meski laki laki itu tidak pandai bersikap romantis seperti lelaki lain terhadap pasangannya, tapi sikap Rangga setidaknya jauh lebih baik sekarang.
Rangga membawa Nazwa masuk pada sebuah toko pakain wanita bermerk, mereka di sambut oleh seorang pegawai toko, lalu mempersilahkan mereka untuk melihat produk yang mereka jual.
"Silahkan tuan, nona." ujar pelayan itu dengan Ramah, Nazwa pun membalas senyuman perempuan itu.
"Untuk apa kita kesini, bukankah toko ini menjual pakain prempuan?" tanya Nazwa.
"Tentu saja untuk membelinya produk yang mereka jual, memangnya mau apa?" tanya Rangga balik.
"Tapi ini semua pakaian prempuan pak, apa bapak ingin memakai salah satu gaun yang ada disini?" tanya Nazwa lagi, lalu ia sedikit tersenyum karena membayangkan Rangga memakai pakaian wanita.
"Ya tentu saja untuk mu, besok kan acara peresmian, apa kamu mau pakai baju mu itu untuk datang kesana?" jelas Rangga dengan sedikit kesal sambil menunjuk baju yang sedang Nazwa kenakan, ia tahu apa yang sedang difikirkan oleh Nazwa hingga membuat prempuan itu tersenyum.
__ADS_1
"Untuk saya?" Nazwa kembali bertanya, sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Nazwa, jangan buat aku semakin kesal dengan mu." ucap Rangga lagi, namun dengan nada bicara yang lebih pelan.
Nazwa pun bergegas melihat lihat dan memilih pakaian yang ada di dalam toko itu, tapi saat memilih Nazwa pun dikejutkan oleh harga baju yang terdapat di bandrolnya, Nazwa jadi merasa ragu untuk membeli karena ia merasa uangnya tidak akan cukup untuk membeli salah satu pakaian yang ada disana.
Nazwa melangkah mendekat kearah Rangga, lalu ia pun berbicara dengan berbisik bisik kepada Rangga, karena ia tidak ingin ada yang mendengarnya, apa lagi di tempat itu ada beberapa pelanggan lain yang sedang melihat lihat seperti mereka.
"Pak, kita cari tempat lain saja ya, sepertinya tidak ada yang cocok dengan ku." ujar Nazwa kepada Rangga.
"Tidak ada yang cocok? Coba kamu perhatikan lagi sebanyak ini tidak mungkin satu pun tidak ada yang cocok dengan mu, semua baju baju ini terlihat bagus, dan ini toko terbaik yang ada di mall ini." jawab Rangga.
"Tapi, harganya begitu mahal pak, aku tidak mampu untuk membelinya." jawab Nazwa lagi dengan polosnya, ia memilih berterus terang dari pada harus menanggung malu, karena tidak dapat membayar nantinya dihadapan kasir.
Mendengar ucapan Nazwa yang begitu polos, Rangga pun tersenyum di buatnya, ia merasa tingkah Nazwa begitu lucu, namun Rangga sangat senang dengan tingkah prempuan itu, setidaknya karena Nazwa selalu berterus terang, tidak seperti wanita kebanyakan, yang lebih mementingkan penampilan dangan mengabaikan keadaan.
"Aku meminta mu untuk memilih dan mengambil salah satu gaun yang cantik dan cocok untuk kau kenakan, bukan menyuruhmu untuk membayarnya." ujar Rangga yang berbicara dengan berbisik mengikuti tingkah Nazwa.
"Jadi..?" Nazwa kembali bertanya karena belum mengerti maksud Rangga.
"Cepat kau pilih, atau aku akan meninggalkan mu di mall ini sendirian." jawab Rangga dengan masih berbisik, dan sedikit membesarkan kedua bola matanya.
Setelah hampir lama mencari, akhirnya Nazwa menjatuhkan pilihannya pada sebuah gaun untuk wanita berhijab berwarna hijau muda yang terlihat begitu cantik, Nazwa pun segera mencobanya di dalam kamar ganti. Dan selesai memakai gaun itu, Nazwa pun kembali keluar untuk menunjukan kepada Rangga yang tengah duduk di sofa yang disediakan tepat di hadapan kamar ganti itu.
"Pak, ssstt.. pak Rangga!" Nazwa berusaha memanggil Rangga yang terlihat sedang sibuk dengan ponsenya, dengan suara yang begitu pelan karena ia tidak ingin pengunjung lain melihatnya.
Mendengar suara Nazwa yang begitu pelan, Rangga pun mengangkat kepalanya dan mencoba melihat Nazwa yang berada sedikit jauh darinya, karena Nazwa enggak keluar dari ruangan ganti itu. Rangga terpukau melihat Nazwa yang tampak begitu cantik dengan gaun itu, namun ia berusaha sekuat hati untuk menyembunyikan rasa kagumnya itu kepada Nazwa.
Rangga bangkit dari sofanya dan berjalan mendekati Nazwa.
"Bagaimana, apa ini bagus?" tanya Nazwa.
"Ya baju ini memang sangat terlihat bagus, kalau begitu kau pakai ini saja untuk acara besok." ujar Rangga, ia tidak ingin mengatakan bahwa Nazwa terlihat cantik memakai baju itu, jadi ia memilih mengatakan bahwa baju itulah yang sebenarnya terlihat cantik.
Nazwa kembali kedalam untuk mengganti pakaiannya, lalu setelahnya ia memberikan gaun itu kepada salah satu pelayan toko untuk membungkusnya. Selesai membayar baju Nazwa di kasir, Rangga kembali mengajak Nazwa untuk pergi ke toko lain, kali ini gantian Rangga yang mencari pakaian untuk dirinya yang akan ia kenakan besok.
Selesai mendapatkan pakaian untuknya, Rangga dan Nazwa keluar dari pusat perbelanjaan itu, lalu ia membawa Nazwa ke sebuah restoran untuk makan siang. Saat menunggu makanan datang, Rangga terlihat memainkan ponselnya, sedangkan Nazwa hanya duduk diam sambil memperhatikan Rangga.
Nazwa masih bertanya tanya kepada dirinya sendiri, apa mungkin Rangga benar benar menyukainya? Sikap dingin dan cuek Rangga selama ini membuat keraguan didalam diri Nazwa tidak pernah hilang, jangankan berbuat romantis, berbicara berdua saja tidak pernah mereka lakukan kecuali saat sedang membicarakan soal pekerjaan, jadi wajar saja jika Nazwa bertanya tanya tentang perasaan Rangga kepada dirinya.
__ADS_1
"Kenapa, aku tampan ya?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Rangga, karena ia mengetahui Nazwa yang sejak tadi sedang memperhatikan dirinya.
Dengan cepat Nazwa pun mengalihkan wajahnya, dan mencoba untuk bersikap tenang, meski sebenarnya ia merasa malu karena Rangga mengetahui ia sedang memperhatikannya.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Rangga lagi yang kini telah menatap melihat Nazwa.
"Tidak, tidak apa apa." jawab Nazwa dengan sedikit gugup.
"Jangan bohong kamu, kamu mengagumi ketampanan ku kan? Itu sebabnya kamu memperhatikan ku sejak tadi." ujar Rangga lagi dengan tersenyum, mencoba untuk menggoda Nazwa.
Belum sempat menjawab pertanyaan Rangga, pelayan pun datang sambil membawa makanan pesanan Rangga dan Nazwa, dan setelah pelayan itu pergi, mereka segera menyantap makan siang mereka. Perasaan lega dirasakan oleh Nazwa, karena ia tidak perlu menjawab pertanyaan dari Rangga, yang sedang menggodanya.
"Nazwa, bagaimana kalau setelah ini kita pergi kepantai lagi, besok setelah acara peresmian itu selesai kita harus segera kembali ke Jakarta." ujar Rangga, sebenarnya tampa harus meminta persetujuan Nazwa, Rangga bisa saja membawa Nazwa kesana, namun kali ini ia ingin meminta persetujuan Nazwa dulu, untuk menghargai perempuan itu.
"Terserah, aku ikut saja." jawab Nazwa, lalu kembali melanjutkan makannya.
Usai makan siang mereka menyempatkan diri mampir sebentar di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat, setelahnya mereka segara menuju tempat yang di inginkan oleh Rangga, dan kini mereka pun terlihat telah berada di pantai yang mereka kunjungi waktu itu.
Entah mengapa Rangga ingin mengulang kembali untuk duduk sambil menikmati pemandangan disekitaran pantai itu, ia merasa sedikit tenang dan juga rasa lelahnya pun menghilang saat berada di pantai itu.
"Apa kamu senang?" tanya Rangga kepada Nazwa yang duduk di atas kursi di sampingnya.
"Iya, terima kasih pak." jawab Nazwa dengan tersenyum.
"Nazwa, bisa kah mulai saat ini kau mengganti panggilan mu itu untuk diriku." ujar Rangga.
"Maksudnya." Nazwa tampak bingung dengan ucapan Rangga, karena ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Rangga.
"Nazwa, meski belum resmi meminang mu dihadapan kedua orang tuamu, tapi bisa kah kau menganggap aku sebagai kekasih mu, aku ingin saat tidak berada di tempat kerja kau menganggap ku bukan sebagai atasan mu, tapi sebagai orang yang kau cintai." jelas Rangga.
Mendengar ucapan Rangga, detak jantung Nazwa terasa kembali berdebar sangan cepat, permintaan Rangga mampu membuatnya sedikit demi sedikit yakin bahwa Rangga benar benar mencintainya. Nazwa terlihat masih terpaku sambil menatap Rangga, dan karena tidak mendapat jawaban dari Nazwa, Rangga pun memalingkan wajahnya menatap prempuan yang ada disampingnya.
"Kenapa diam saja, kamu tidak suka dengan permintaan ku?" tanya Rangga lagi.
"Tidak, bukan begitu." jawab Nazwa yang tersentak kaget lagi.
"Lalu? Apa kamu bersedia merubah panggilan mu itu untuk ku?" tanya Rangga lagi.
"Ba, baiklah. Mas, mas Rangga." jawab Nazwa dengan sedikit ragu ragu, namun Rangga tampak tersenyum bahagia mendengar ucapan Nazwa.
__ADS_1