
Setelah selesai dengan sarapan mereka, Anton berpamitan dengan istrinya, dan segera turun dari kamarnya, Anton sempat melarang Zahwa yang ingin ikut turun menghantar dirinya, karna Anton tidak ingin Zahwa terlalu sering naik dan turun tangga.
Sebelum berangkat ke kantor polisi, Anton terlebih dulu menitipkan berkas laporan pekerjaan yang telah ia selesaikan kepada Nazwa, dan meminta adik iparnya itu untuk menyerahkan laporan itu kepada Rangga.
"Nazwa!" panggil Anton.
"Iya mas."
"Tolong berikan berkas laporan ini kepada Rangga ya, mas ada urusan sebentar diluar, setelah itu mas akan kekantor untuk metting, tolong katakan kepada Rangga untuk mempersiapkan semuanya." ujar Anton.
"Tapi mas, bukankah pak Rangga sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja karna sedang sakit." jawab Nazwa.
"Mas sudah mendapat kabar darinya, kalau hari ini dia sudah mulai masuk kerja." jelas Anton.
"Baiklah, kalau begitu biar nanti aku sampaikan dengan pak Rangga." jawab Nazwa lalu menerima berkas laporan yang di titipkan oleh Anton.
Anton segera pergi kekantor polisi untuk menemui papanya yang telah sampai terlebih dahulu di sana, mereka pun bertemu dengan komandan yang telah menangani kasus penabrakan istrinya, guna membahas tentang permohonan pembebasan terhadap mama Sarah atas permintaan istrinya.
Anton juga menjadikan dirinya sebagai jaminan, jika suatu saat mama Sarah mengulangi lagi perbuatan kriminal yang sama, semua itu ia lakukan untuk istrinya karna ia tidak ingin Zahwa selalu merasa bersalah.
"Pak Anton, apa anda sudah fikirkan dengan baik baik, perbuatannya hampir saja menghilangkan nyawa istri anda, dan kami juga tidak bisa membebaskannya begitu saja tanpa ada jaminanya, karna ini tergolong tindakan kriminal." jelas komandan itu.
"Saya tahu komandan, tapi saya sudah fikirkan semua ini dengan matang, dan saya bersedia menjadi jaminannya, saya akan pastikan kalau beliau tidak akan lagi melakukan tindakan seperti ini." jawab Anton.
"An, kamu tidak main main nak dengan semua ini, kamu tahu resikonya kan.? Karna perempuan itu bisa saja mengulangi perbuatan yang sama terhadap istri mu." ucap pak Gunawan yang merasa khawatir.
"Yang di ucapkan pak Gunawan benar sekali pak Anton." ucap komandan itu.
"Tidak pa, keputusan ku sudah bulat." jawab Anton lagi.
__ADS_1
"Baiklah pak, kami akan segera membebaskanya setelah melalui beberapa prosedur, dan pak Anton harus menandatangani beberapa berkas sebelumnya sebagai jaminan." ucap komandan itu lagi.
"Baik komandan." jawab Anton dengan penuh keyakinan.
***
Di kantor, setelah tiba di tempatnya berkerja, Nazwa terlihat sedang menunggu kedatangan Rangga di kursi kerjanya, dan setelah melihat kehadiran Rangga, Nazwa segera menghampirinya dan menyarahkan berkas yang dititipkan oleh kakak iparnya.
"Selamat pagi pak Rangga!" sapa Nazwa.
"Selamat pagi Nazwa." jawab Rangga, tidak seperti biasanya hari ini Rangga terlihat begitu manis dengan senyumnya saat menjawab sapaan Nazwa.
"Bagaimana dengan keadaan pak Rangga.?"
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, saya baik baik saja." jawab Rangga.
"Syukur alhamdulillah kalau begitu pak. Oh ya pak, ini ada berkas yang dititipkan oleh pak Anton, beliau bilang akan segera kekantor setelah urusannya selesai, dan pak Anton juga meminta pak Rangga untuk mempersiapkan acara metting." jelas Nazwa.
Tumben sekali pak Rangga terlihat lebih ramah dan manis hari ini. Fikir Nazwa yang masih membayangkan senyum manis di wajah pak Rangga.
"Astaghfirullah hal azim." Ucap Nazwa yang tersadar telah membayangkan senyum manis Rangga di pagi hari.
"Ada apa Nazwa.?" tiba tiba terdengar suara Rina dari balik tubuh Nazwa, ia tanpa sengaja mendengar Nazwa yang beristighfar dan memcoba menanyakan apa yang telah terjadi kepada temannya itu.
"Rina.! Sejak kapan kamu disini.?" tanya Nazwa yang terlihat salah tingkah, ia merasa malu jika Rina mengetahui apa yang baru saja ia fikirkan.
"Aku baru saja sampai, eh tiba tiba denger kamu istrighfar, ada apa Nazwa.?" tanya Rina lagi yang belum mendapat jawaban dari Nazwa.
"Ah tidak ada apa apa, aku lupa kalau aku harus menemui sekertaris pak Anton Rin, ingin menyampaikan pesan dari pak Anton." ujar Nazwa yang mencoba mengalihkan pembicaraan, agar Rina tidak lagi bertanya tanya.
__ADS_1
"Ooh cuma karna itu, aku kira kenapa. Ya sudah sana buruan, sekertaris pak Anton pasti sudah datang." jawab Rina lalu pergi menuju meja kerjanya. Sedangkan Nazwa segera menemui sekertaris Anton untuk menyampaikan pesannya, agar mempersiapkan acara metting hari ini.
Selang dua jam, Anton tiba di kantornya, ia segera menuju ruangan metting karna semua anggota telah menunggunya diruangan itu, wajah ceria tampak jelas diwajahnya karna akhirnya ia berhasih memenuhi keinginan istrinya.
Meski berat harus melepakan mama Sarah dari penjara karna mengingat semua kejahatannya, namun Anton berusaha sabar dan ikhlas melakukan itu semua demi istrinya, ia juga menganggap apapun yang ia lakukan sekarang, adalah sebagai bentuk permohonan maafnya selama ini kepada Zahwa, karna telah menyia nyiakan istrinya itu selama ini.
Metting berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil terbaik, dan lagi lagi Rangga mendapatkan tugas untuk pergi ke kota XX tempat proyek dikerjakan, untuk memantau kembali proyek itu karna memang hampir 90% selesai.
Anton berniat untuk mengutus petinggi kantor lain, mengingat kondisi Rangga yang kurang baik, namun Rangga sendirilah yang mengajukan dirinya untuk pergi, karna merasa bertanggung jawab atas pekerjaan itu.
Setelah banyak pertimbangan akhirnya Anton memberikan izin dan memenuhi keinginan Rangga, dan ia pula berniat untuk memerintahkan Nazwa kembali mendampingi Rangga pergi ke kota XX, karna tidak ingin hal buruk kembali terjadi kepada Rangga, apa lagi mereka bertugas di luar kota.
Rangga memanggil Nazwa untuk menghadap ke ruangannya, dan dengan segera prempuan itu masuk didalam ruangan Rangga memenuhi panggilan atasannya itu.
"Ada yang bisa saya bantu pak.?" tanya Nazwa saat telah berada diruangan manajernya itu, dan duduk dikursi yang ada dihadapan meja kerja Rangga.
"Minggu depan kita akan pergi kembali kekota XX, dan pak Anton meminta agar kamu kembali ikut bersama ku, jadi saya mau kamu membantu saya mengerjakan beberapa laporan." jelas Rangga.
"Pergi kekota XX lagi pa.?" tanya Nazwa terlihat bingung.
"Iya, ada apa memangnya.? Kamu tidak bisa ikut menemani saya.?" tanya Rangga balik.
"Bukan begitu pak, tapi bagaimana dengan keadaan bapak.?" tanya Nazwa.
"Oh jadi kamu menghawatirkan saya.? Kamu tenang saja saya baik saja, dan saya tudak akan merepotkan mu." jawan Rangga dengan senyum tipis dibibirnya.
"Bapak jangan salah paham, saya tidak merasa direpotkan." jelas Nazwa lagi yang merasa jadi salah tingkah, membuat Rangga tertawa melihat tingkah gadis yang ada dihadapannya itu.
"Benarkah, baiklah kalau begitu." jawab Rangga.
__ADS_1
Sadar dengan tingkahnya Nazwa pun menjadi malu, ia menundukkan kepalanya tak mau melihat wajah Rangga yang menetertawakannya.